Tidak perlu menempuh perjalanan terlalu lama, bus yang ditumpangi Rendra dan Marisha telah sampai di halte bandara. Keduanya berjalan beriringan untuk menuju tempat penjemputan. Banyaknya orang yang berlalu lalang sedikit membuat kepala Marisha berdenyut pening. Beruntunglah Rendra mau mendengarkan sarannya untuk memperbaiki penampilannya yang sebelumnya terlihat urakan. Minimal, orang tidak akan berpikir jika Rendra adalah preman yang kehilangan markasnya dan berusaha menculik Marisha. Meskipun tentu saja Rendra menuruti saran sang adik setelah melalui perdebatan yang cukup melelahkan.
"Kenapa gue harus ke sini di jam segini." Rendra hanya tertawa lirih mendengar gerutuan sang adik. Ia sangat tahu bagaimana Marisha yang begitu tidak menyukai keramaian.
"Mama bilang nggak naik pesawat apa, Dek?" tanya Rendra saat kini keduanya sudah memasuki salah satu dari sepuluh bandara tersibuk di Asia tersebut.
"Mau naik apa lagi? Mama kan langganannya pesawat Burung Biru," jawab sang adik dengan asal sambil mengedarkan pandangannya. Marisha sedang mencari minuman kesukaannya karena ia benar-benar kehausan.
"Berarti Mama di Terminal 3. Ya udah kita tunggu di sini aja. Nggak usah sampai ke Terminal 1." Marisha hanya mengangguki ucapan sang kakak. Hingga kemudian ia tersenyum lebar ketika menemukan gerai minuman kesukaannya. Tanpa berpamitan, gadis itu meluncur begitu saja meninggalkan sang kakak yang pastinya sudah sangat hapal dengan kelakuannya.
[Beliin gue 1, yang rasa peach. Gue mau jalan-jalan ke Jewel dulu.]
Bunyi pesan yang dikirimkan oleh Rendra pada sang adik, sementara ia melangkah menuju tempat yang diinginkannya dan selalu dikunjunginya setiap ia ke bandara tersebut. Marisha hanya menjawab dengan simbol 'ok'. Ia sudah tahu dan bukan hal yang sulit untuk menemukan sang kakak ditempat tersebut.
Sambil berjalan, Rendra sibuk memainkan ponselnya, atau lebih tepatnya sedang membuka ruang obrolan grup kelasnya yang ternyata menampilkan cukup banyak pesan.
Saking fokusnya menata layar ponsel, Rendra tidak menyadari keadaan sekitar hingga ia bertabrakan dengan seseorang dan membuat ponsel keduanya sama-sama terjatuh.
"I'm sorry," ucap keduanya secara bersamaan sembari mengambil gawai masing-masing. Barulah mereka sama-sama berdiri dan saling bertatapan.
"Cantik," gumam Rendra lirih namun terdengar begitu jelas di telinga gadis di hadapannya yang kini menampilkan alis bertaut dengan sorot mata heran. Untuk beberapa saat lamanya keduanya saling terdiam dengan Rendra yang tidak lepas menatap lekat iris mata berwarna keabuan tersebut.
"Forgive me, is your phone ok?" tanya Ana memecah kesunyian di antara mereka.
"Ah, it's okay. Never mind. I'm sorry too," balas Rendra dengan kikuk. Ia merasa salah tingkah dengan sendirinya.
"Are you a tourist, Miss?" Rendra memberanikan bertanya meskipun ia sendiri tidak tahu kenapa bisa seberani itu.
"No." Ana menggeleng cepat. "I'm in transit from United Kingdom," sambungnya kemudian. Ana sendiri tidak mengerti kenapa ia dengan mudahnya menjawab pertanyaan orang yang baru dilihatnya dengan segamblang itu. Sesuatu yang bukan dirinya sama sekali selama ini.
"Oh. Then, where is your destination?" Keduanya masih berdiri ditempat yang sama, di mana jutaan orang sedang berlalu lalang di sekitar mereka.
"Jakarta. I'm sorry but i have to go." Bersamaan dengan pamitnya Ana, suara Marisha yang entah bagaimana kerasnya terdengar di telinga Rendra.
"Kak ...." Dari kejauhan Marisha sudah memperhatikan sang kakak yang sedang berpapasan dengan seorang perempuan.
"She is my little sister." Entah kenapa Rendra ingin sekali menjelaskan mengenai sang adik. Ana hanya mengangguk singkat sambil tersenyum tipis, tetapi terlihat begitu manis dan mempesona di mata Rendra.
"Yes i see. Once again, i'm so sorry." Setelah mendapat anggukan dari Rendra, Ana segera berlalu dari tempat itu. Matanya sudah melihat sebuah restoran Jepang dan para cacing di perutnya seolah berteriak semakin kencang meminta untuk segera diisi.
Tanpa sadar, arah pandang Rendra mengikuti ke mana Ana melangkah. Sebuah senyuman tipis terbersit di bibirnya. Ia bahkan sampai melupakan keberadaan sang adik yang kini berdiri di sampingnya dengan memberikan tatapan heran.
"Kenapa? Cantik, ya?" celetuk Marisha frontal yang membuat Rendra serta merta mengalihkan pandangan padanya.
"Cantik lah, orang perempuan," jawab Rendra asal sambil meraih minumannya dari tangan sang adik.
"Ih, alesan. Berarti, kalau gitu aku juga cantik dong?" Pertanyaan Marisha membuat Rendra yang sedang meneguk minumannya tiba-tiba saja tersedak.
"Lo kejam banget sih, Kak. Masa adik sendiri bilang cantik langsung tersedak gitu," sungut Marisha dengan raut wajahnya yang tiba-tiba saja berubah suram. Melihat hal itu sontak saja membuat Rendra menyadari sikapnya yang mungkin saja membuat sang adik tersinggung.
"Eh, bukan. Kakak cuma kaget tiba-tiba kamu ngomong kayak gitu. Tenang aja, kamu itu wanita tercantik ke dua di hidup Kakak, Dek." Sungguh, tersedaknya Rendra bukanlah sesuatu yang ia sengaja. Ia hanya tidak menduga sang adik akan menanyakan hal itu. Tidak ada maksud apapun darinya, apalagi sampai membuat Marisha tersinggung.
"Kedua? Yang pertama siapa?"
"Mama, lah," jawab Rendra dengan bangga sambil mengusap lembut pucuk kepala sang adik. "Maaf, ya," sambungnya yang hanya ditanggapi cengiran oleh saudarinya itu.
"Oke, aku maafin. Sebagai gantinya Kakak harus beliin aku burger." Rendra tersenyum dan mengacak gemas rambut panjang adiknya yang terkuncir kuda.
"Oke."
"Yang paling mahal," ucap Marisha sambil menunjuk sebuah gerai burger dari merek premium. Seketika mata Rendra membola melihatnya.
"Mulai semena-mena ini anak," ucap Rendra sarkas, namun tak urung tetap melangkahkan kakinya untuk memenuhi permintaan sang adik.
Suasana yang cukup ramai membuat Rendra harus mengantri cukup lama demi memenuhi permintaan sang adik. Yang membuat lama, proses pembuatan burger itu benar-benar sangat fresh. Roti, daging dan segala macam kondimennya disiapkan begitu ada pesanan. Mereka bahkan harus menunggu hingga 30 menit sampai akhirnya pesanan Rendra siap. 1 burger paling premium dengan harga yang paling mahal, sesuai dengan permintaan Marisa. Tidak lupa 1 sandwich kegemaran Rendra sendiri.
Setelah itu barulah keduanya kembali menuju ruang tunggu Terminal 3 sebab sang ibu sudah memberi kabar jika saat ini tengah mengantri bagasi. Saat melintas di depan sebuah restoran makanan Jepang, Rendra teringat gadis yang ia tabrak tadi memasuki restoran tersebut. Secara spontan, Rendra menoleh ke arah dalam dan entah harus bagaimana mengatakannya, ia menjadi gugup sendiri ketika matanya ternyata bertemu pandang dengan gadis itu.
"Cie, Abang gue lagi kesengsem. Sayang, nggak sempat kenalan tadi," ledek Marisha yang berjalan 1 langkah terlebih dahulu. Renda yang merasa gemas lantas mengejar sang adik dan meraih bahunya.
"Lo emang paling semangat untuk urusan ngeledekin gue." Keduanya saling tertawa.
****
Di lain tempat, Ana sedang memanjakan lidahnya dengan menikmati Cheese Creamy Udon pesanannya. Tidak lupa berbagai macam makanan pendamping seperti tempura dan Gyoza yang berisi daging ayam cincang dengan udang. Kedua orang tuanya sangat menyukai makanan khas Jepang terutama sang ibu, dan hal itu menurun pada Ana. Lezatnya kudapan yang ia rasakan membuat Ana kembali memesan untuk dibawa pulang. Anggaplah ini berlebihan, karena Ana memang seberlebihan itu untuk urusan makanan. Terlebih menurut karyawan, restoran itu hanya ada di 2 tempat. Restoran utamanya berada di Narita Airport dan yang kedua tentu berada di Changi Airport.
Di tengah acara makannya, Ana yang duduk tak jauh dari pintu masuk restoran tiba-tiba saja menoleh ke arah luar. Alangkah terkejutnya gadis itu ketika pada saat yang bersamaan, laki-laki yang tadi bertabrakan dengannya melintas dan entah kebetulan atau tidak juga sedang menoleh ke arahnya. Ana yang merasa salah tingkah sendiri lantas memalingkan wajahnya ke arah lain.
Gadis itu memegang dadanya yang terasa berdetak lebih kencang. Ana tidak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Ia belum pernah merasakan jatuh cinta ataupun suka terhadap lawan jenis. Hanya pernah sekali itupun sebatas rasa kagum ketika ia pertama kali memasuki bangku SMA. Kagum pada sosok sang Ketua OSIS dan hal itu merupakan sesuatu yang sangat wajar dirasakan oleh siswa baru.
"Please, Ana. Cowok di Indonesia itu berjibun. Lo nggak perlu merasa apapun sama cowok produk luar," monolognya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.
Saat ia menghabiskan minumannya, ternyata makanan yang ia pesan untuk dibawa pulang telah siap. Gadis itu melirik arlojinya dan seketika tersenyum meringis mengingat waktu yang ia habiskan untuk makan ternyata cukup lama, lebih dari 30 menit.
"Jadi ke Marina Bay nggak ya, enaknya?" tanyanya pada dirinya sendiri. Masih ada waktu sekitar 2 jam sebelum pesawatnya bertolak menuju Jakarta.
Setelah menimbang selama beberapa saat, Ana akhirnya memutuskan untuk tetap berada di bandara saja. Menurut halaman website yang sempat ia akses sebelumnya, ada banyak area yang bisa ia jelajahi di bandara seluas 13 kilometer persegi tersebut.
Lain Ana, lain pula Rendra. Bersama sang adik, laki-laki itu kini sudah bertemu dengan wanita tercantik dalam hidupnya. Secara bergantian Lily memeluk kedua anaknya dan tak membutuhkan waktu lama keduanya segera memasuki taksi yang akan membawa mereka menuju apartemen.
"Wajah Kakak kamu kelihatan bahagia banget, Dek?" sindir Lily dengan mengulum senyum. Sejak tadi, Rendra nyaris seperti orang gila yang tersenyum sendiri. Ia mengira hal itu karena Rendra menyambutnya, tetai hingga di dalam taksi pun putranya itu masih saja tersenyum.
"Habis kerasukan paling, Ma." Marisha menjawab sekenanya, meskipun ia sangat mengetahui apa yang membuat kakaknya terlihat seperti pasien rumah sakit jiwa yang sedang kabur.
"Hah? Emang di sini masih ada arwah penasaran?" balas sang ibu yang menangkap maksud jahil putrinya.
"Ada, Ma. Cantik banget sampai bikin kakakku yang tampan ini jadi seperti orang gila."
"Terusin aja kalian, ya," sahut Rendra sewot tanpa memandang ibu dan adiknya yang duduk di kursi belakang.
Kedua wanita berbeda generasi itu tertawa geli melihat salah tingkahnya si sulung.
"Tapi sayangnya, Ma. Sepertinya wanita cantik itu bukan orang sini, jadi kasihan sama Kak Rendra yang kelihatannya being love at the first sight. Mana tadi pakai lihat-lihatan lagi waktu di restoran." Marisha masih belum mau berhenti menggoda sang kakak hingga membuat Rendra serasa ingin menelannya mentah-mentah.
"Astaga, gue punya adek gini amat."
"Lo katanya mau mampir ke supermarket. Udah bikin catetan belanja?" sambungnya ketika melihat sang adik yag sepertinya masih ingin menggodanya.
"Jangan salah tingkah gitu dong, Abang." Marisha mengeluarkan jurus rayuannya, sementara tawa sang ibu berderai lepas melihat perdebatan anak-anaknya. Lily bisa membayangkan, pasti keadaan apartemen akan sangat ricuh. Di dalam taksi saja keduanya seperti itu apalagi jika berada di rumah.
Melihat sang kakak yang mulai menampakkan raut wajah tidak bersahabat membuat Marisha mengurungkan niatnya untuk kembali menggoda Rendra. Gadis itu mengangguk pelan sambil mengacungkan ibu jarinya. Rencana untuk berbelanja di supermarket di dekat bandara akhirnya batal dan berganti di supermarket yang dekat dengan apartemen mereka.
"Mama, kita belanja dulu ya sebelum pulang." Marisha menatap sang ibu sambil mengerjapkan matanya beberapa kali. Tak lupa senyuman manisnya juga ditampakkan.
Lily yang sudah mengetahui maksud ucapan sang putri hanya mencibir sambil merotasikan matanya dengan dengah. Sementara di depan, Rendra tertawa terbahak melihat reaksi yng ditampilkan oleh ibunya itu.
"Sha sendiri yang punya ide itu, Ma."
****