Seorang pemuda tampan dengan tubuh tegapnya yang menyerupai Suho EXO melangkah dengan cepat untuk menghindari seorang gadis yang selalu saja mengejarnya. Seragamnya yang sudah tidak beraturan menandakan ia baru saja selesai berlatih basket. Jam sekolah sudah berakhir namun ia memilih untuk melakukan latihan bersama beberapa orang kawannya meskipun sebenarnya tidak ada jadwal latihan.
Tujuan utamanya saat ini adalah sesegera mungkin ia harus sampai di apartemennya. Ah, bukan hanya apartemennya sebenarnya tetapi apartemennya dengan sang adik yang masih duduk di kelas 1 SMA. Ia memang hanya tinggal berdua dengan sang adik di negara kecil yang terletak di ujung Semenanjung Malaya tersebut. Orang tua mereka sudah pulang dan kembali bekerja di Indonesia semenjak beberapa tahun yang lalu.
"Makanya, dari awal udah dibilangin jangan deket-deket sama itu cewek. Dikejar sampai akhirat tahu rasa lo." Terdengar sebuah suara yang sudah sangat ia hapal, sangat menyebalkan.
Pemuda itu lantas menolehkan kepalanya ke arah kanan. Seorang gadis dengan seragamnya yang tentu saja masih rapi, namun wajahnya tertutup oleh sebuah buku astronomi. Keduanya sedang berada di halte bus yang biasa mereka tumpangi untuk sampai ke apartemen.
"Lo itu bisanya ngomel melulu. Sekali-kali bantuin Abang kenapa Dek?" jawabnya dengan bersungut-sungut. Dengan cepat ia menyambar buku sang adik dan hal itu tentu saja membuat gadis berkacamata itu membolakan mata karena terkejut.
"Abang, buku gue." Gadis itu berusaha meraih bukunya yang sialnya diacungkan setinggi-tingginya oleh sang kakak.
"Minta yang bagus, Dek. Nanti Abang kasih," ucap sang kakak dengan senyum jahilnya. Bukannya menuruti ucapan saudaranya, gadis setinggi 165 cm itu memilih mencubit keras pinggang sang lelaki hingga membuatnya mengaduh. Buku yang dipegangnya pun terjatuh.
"Sukurin."
"Ya Tuhan, gue punya adek kejam bener sih tangannya," ibanya sambil mengusap pinggangnya yang terasa panas dan geli secara bersamaan. Sementara sang pelaku hanya mencibir dengan acuh.
Tidak lama kemudian, sebuah bus trans berhenti dan keduanya segera memasuki moda tranportasi umum tersebut. Sang lelaki tentu saja menyilakan sang adik untuk terlebih dulu memasuki bus.
Sepasang kakak beradik itu ialah Narendra Azka Syarif dan Marisha Azkia Syarif. Dua bersaudara yang bsa dibilang tidak pernah sekali pun merasakan kerukunan. Rendra yang sangat jahil selalu saja menggoda Marisha yang begitu acuh. Namun, rasa sayang mereka sebagai saudara tidak perlu diragukan lagi. Rendra selalu ada untuk Marisha, demikian pula Marisha yang selalu menemani sang kakak. Karena memang setiap Rendra pergi ke manapun, ia akan selalu mengajak Marisha. Pengecualian, jika ia dan sang adik memiliki agenda berbeda.
Setiap hari keduanya selalu berangkat ke sekolah dan pulang bersama-sama. Bukannya apa, seorang gadis yang selama ini selalu mengejar Rendra embuat Marisha jengah. Dan Marisha selalu bisa menjauhkan sang kakak dari gadis genit yang menurutnya menjijikkan tersebut.
Perempuan yang dimaksud oleh Marisha bernama Angelin, seorang ketua tim pemandu sorak yang begitu menggilai Rendra. Sejak dulu, sudah menjadi tradisi di sekolah mereka jika sang ketua basket pasti berpacaran dengan ketua pemandu sorak. Dan, tradisi itu terputus oleh Rendra yang memang sejak awal hanya menganggap Angelin sebagai teman dan tidak lebih.
Rendra dan Angelin berada dalam 1 kelas dan seringkali terlibat dalam kelompok belajar yang sama. Hal itulah yang membuat Angelin merasa leluasa untuk bisa mendekati Rendra padahal Rendra sudah berulang kali menolaknya. Angelin bahkan pernah hampir mengikuti Rendra ke apartemennya tetapi Marisha justru mengajak Rendra untuk turun di halte yang terletak cukup jauh. Keduanya pun akhirnya berhasil mengecoh gadis agresif itu.
Awalnya, Bagas dan Lily hendak mengajak Marisha untuk pulang ke Indonesia dan bersekolah di Jakarta saja. Namun, Rendra menolak keras keinginan sang ayah sebab ia yang saat itu duduk di kelas 1 SMA tidak ingin pindah. Rendra mengatakan akan pindah ke Indonesia saat menempuh pendidikan tinggi nanti.
Secara bersaman, Marisha juga masih ingin bersekolah di Singapura karena ia sudah memiliki beberapa teman dekat. Marisha merupakan orang yang cukup introvert dan sulit beradaptasi dengan orang dan lingkungan baru, terlebih jika sejak awal dia sudah merasa tidak cocok. Akhirnya, Bagas dan Lily membiarkan saja kedua anaknya tinggal bersama tetapi selama beberapa bulan sekali mereka akan menjenguk kedua anaknya itu baik bergantan maupun bersama.
Dan sudah bisa dipastikan, keadaan apartemen akan selalu penuh dengan tawa usil Rendra yang terkadang bergantian dengan teriakan kesal dari Marisha.
"Mama tadi bilang, katanya jam 4 nanti pesawatnya landing. Kita jemput nggak, Kak?" Seacuh apapun Marisha pada dunia luar, ia tetap menyadari posisinya sebagai seorang adik. Dan ada kalanya mereka seperti ini, Marisa yang menghormati Rendra sebagai saudara tuanya.
"Mama sama Papa kesini?" Rendra yang awalnya asyik memperhatikan jalan raya lantas menoleh pada sang adik.
Marisha menggeleng pelan, "Sendirian katanya. Kata Mama, Papa ada kerjaan apa gitu sama sahabatnya."
Rendra mengangguk-anggukkan kepalanya sambil melihat arloji yang bertengger di pergelangan tangannya. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 3 sore. "Ya udah. Kita langsung ke bandara aja. Sekalian jemput Mama," putusnya pada akhirnya.
Sebenarnya, tanpa dijemput pun Lily tidak akan mempermasalahkan. Namun Rendra selalu melakukan hal itu jika sang ibu berkunjung sendirian. Toh, jarak dari sekolah maupun apartemen menuju bandara tidak terlalu jauh. Hanya sekitar 20 menit dengan menggunakan bus umum. Dan kebetulan, searah.
"Sekalian dari bandara nanti mampir belanja dulu. Kulkas kita kosong." Rendra melirik dengan penuh makna pada sang adik.
"Dari kemarin diajakin ke supermarket nggak mau. Bilang aja mumpung ada Mama, 'kan? Mama yang bayar ntar." Ucapan frontal sang kakak membuat Marisha tersenyum sangat manis.
"Kakak emang yang terbaik," pujinya yang ditanggapi decihan lirih oleh saudara tuanya itu.
Sambil menunggu kendaran itu sampai di bandara, keduanya melalui waktu dengan mengobrol. Membicarakan banyak hal yang terjadi hari ini di kelas masing-masing. Selalu seperti itu, karena mereka hanya memiliki satu sama lain di negeri perantauan tersebut.
****
Seorang gadis berambut kecoklatan tampak berjalan santai sambil menempelkan ponsel di telinga kirinya. Matanya mengamati keadaan bandara yang terlihat sangat artistik di matanya. Sambil melangkah pelan menuju ke sebuah tempat hiburan yang juga terletak di area bandara, ia sedang mencoba menghubungi sang ibu.
Setelah mencoba selama 3 kali, akhirnya terdengarlah suara dari malaikat hidupnya tersebut.
"Halo, Sayang. Maaf, ya. Mommy lagi di ruang meeting sekarang. Kamu sampai mana sekarang? Udah di Soetta?"
"Apa Ana ganggu Mommy?" tanyanya dengan hati-hati. Jauh di sana, sang ibu spontan menggeleng.
"Bukan begitu. Tapi Mommy minta maaf karena baru menjawab telepon kamu. Kamu lagi di mana sekarang?"
Terdengar helaan napas lega, gadis itu takut mengganggu kesibukan sang ibu. "Ana masih di Changi, Mom. Pesawat Ana transit 3 jam di sini dan Ana bingung mau ngapain," jawabnya dengan nada memelas di akhir kalimatnya.
Terdengar suara tawa kecil dari ponselnya, "Mommy kira ada apa, Kak. Ya kan kamu bisa pergi ke mana dulu, gitu. Ke mall kek, makan atau apapun yang menurut kamu menyenangkan," ucap Nadia memberi saran.
Ana tampak berpikir sebentar untuk mencerna ucapan sang ibu, "Sore-sore gini ke Marina Bay okelah ya Mom."
"Oke aja, Kak. Memang siapa yang melarang. Tapi jangan sampai lupa waktu, ya. Soalnya makin malem biasanya makin bagus."
"Mommy ...." Ana menyeru membuat sang ibu tertawa geli.
"Ya sudah, Mommy lanjut meeting dulu, ya. Kamu hati-hati di sana."
"Iya, Mommy. Mommy meeting bersama Daddy?"
"Udah pasti, dong. Yang punya kantor kan Daddy kamu." Gadis itu terkekeh mendengar nada bicara sang ibu.
"Ya udah, salam buat Daddy ya, Mom. Bye, love you."
"Love you too, Honey," ucap Nadia membalas pamit sang putri. Wanita itu bergegas kembali memasuki ruang rapat.
Sementara Ana terlebih dahulu memilih berjalan-jalan di sebuah tempat hiburan bandara. Jewel Changi Airport namanya, sebuah taman hiburan yang mengusung konsep alam. Begitu memasuki area seluas kurang lebih 135 meter persegi tersebut, mata pengunjung akan langsung dimanjakan oleh pemandangan serupa hutan tropis. Bahkan, ada air mancur yang membuat suasana terasa semakin sejuk.
Gadis itu adalah Ana. Ia baru saja pulang dari Wales, United Kingdom untuk mengikuti program pertukaran pelajar dari sekolanya dengan Kementerian Luar Negeri dan Kedutaan Besar Inggris. Ana tingal di Wales selama kurang lebih 7 bulan atau 1 semester. Selama rentang waktu itu, Ana tidak pernah sekali pun pulang ke Indonesia karena memang tidak ada jadwal libur sepanjang itu.
Ana yang pada saat itu duduk di peringkat 2 paralel sebenarnya sangat enggan untuk mengikuti program tersebut. Meskipun dikarunia otak cerdas, Ana hanya ingin belajar secara normal dan biasa-biasa saja. Ditambah, ia belum pernah sekali pun menjalani kehidupan yang jauh dari keluarganya. Namun beberapa gurunya terus memberikan pengertian yang membuat Ana sedikit terpaksa untuk ikut serta. Ia bahkan mengikuti tahap seleksi wawancara dengan asal-asalan. Bukannya Ana bermaksud meremehkan program yang menjadi impian jutaan anak Indonesia tersebut, tapi sekali lagi, Ana melakukannya demi rasa hormatnya pada para gurunya.
Saat pengumuman hasil seleksi, Ana justru dinyatakan lolos bersama 24 siswa lainnya dari seluruh Indonesa. Teman 1 sekolahnya yang bernama Charlotte yang sejak awal sudah sangat berambisi dan mempersiapkan diri dengan baik justru tidak lolos seleksi. Ana sendiri tidak tahu apa penyebabnya.
Seharusnya, Ana pulang sejak seminggu yang lalu bersama dengan rombongan pelajar yang juga mengikuti program serupa dari seluruh pelosok negeri. Namun, Ana memilih untuk 'berlibur' dulu selama sepekan di London dan hanya beberapa barang miliknya yang pulang terlebih dulu ke Tanah Air. Pihak pelaksana program mengizinkan tetapi tentu saja tidak memfasilitasi apapun karena sudah berada di luar agenda. Ana tetap bisa menikmati waktu berliburnya di London tentu karena Alvin sangat memanjakannya.
Usai menghabiskan waktu selama beberapa saat untuk menikmati suasana Jewel Changi Airport tersebut, Ana yang merasa lapar lantas melangkahkan kakinya untuk menuju ke cafetaria ataupun restoran yang tersebar di berbagai sudut luar bandara.
Sepertinya Ana akan membatalkan saja niatnya untuk mengunjungi Marina Bay yang menjadi spot favorite para pelancong saat mengunjungi Negeri Singa tersebut. Ana mungkin akan menghabiskan waktunya untuk makan dan berburu jajanan apapun sambil berkeliling bandara nantinya.
Karena terlalu asyiknya memperhatikan keadaan di sekitarnya sembari mengambil gambar menggunakan ponselnya, Ana tidak menyadari ada seseorang yang juga tengah melangkah berlawanan arah dengan dirinya. Sama seperti Ana, orang tersebut juga tidak terlalu memperhatikan langkahnya sebab ia sedang berbalas pesan hingga membuat keduanya bertabrakan.
Dug!
Kedua ponsel mereka sama-sama jatuh ke atas lantai yang untungnya dilapisi karpet tebal.
****