Begitu pesawat yang ditumpanginya menapakkan roda di landasan pacu, hal pertama yang ada dalam pikiran Alvin ialah menjemput putrinya yang ia yakin belum pulang dari sekolah. Maka begitu selesai dengan urusan bagasi dan imigrasi, Alvin segera menyetop taksi untuk membawanya ke TK tempat Ana bersekolah.
Suasana jalanan sudah cukup padat ketika sedan putih itu mulai menyusuri jalan raya. Seolah teringat akan sesuatu, Alvin lantas merogoh ponselnya di dalam tas untuk melihat barangkali sang istri meninggalkan pesan yang belum sempat ia baca.
Senyumnya terulas sempurna saat melihat sebuah foto yang dikirimkan oleh Nadia, sepertinya terkirim saat pesawatnya sudah mengudara. Alvin memang selalu mematikan ponselnya ketika berada di pesawat meskipun ada regulasi yang menyatakan boleh menyalakan ponsel dalam keadaan airplane mode.
Tampak kedua anaknya yang sepertinya sedang tertawa di jok belakang. Ana duduk di kursi penumpang sementara Arga ditempatkan di carseat. Sepertinya Nadia mengemudikan mobil sendiri untuk pergi ke kantor hari ini. Alvin tidak akan menyesali keputusannya untuk menjemput Ana terlebih dahulu di sekolah. Setelah itu, ia akan membawa sang putri menuju kantor.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang akibat kemacetan yang ditimbulkan oleh pembangunan jalan, kendaraan beroda 4 itu akhirnya sampai di sebuah sekolah Taman Kanak-kanak yang juga terletak satu komplek dengan Sekolah Dasar, SMP dan juga SMA. Sebuah lingkungan sekolah yang seolah menjadi flashback baik untuk Alvin maupun Nadia.
Yang membuat Ana akhirnya bersekolah di lingkungan itu bukanlah kedua orang tuanya, melainkan kakek dan neneknya. Darmawan dan Kartika sudah mengetahui bagaimana kualitas sekolah tempat para anak mereka menuntut ilmu tersebut. Maka,keduanya tidak ingin kepintaran sang cucu yang sejauh ini berada di atas rata-rata itu terabaikan begitu saja. Memang, semua sekolah pada dasarnya sama saja. Tetapi, kenapa harus memilih yang biasa aja kalau bisa menjadi yang luar biasa.
Alvin meminta sopir taksi itu untuk menunggu sebentar. Jika melihat jam tangannya, searusnya jam pulang sekolah Ana hanya tinggal beberapa menit lagi. Sambil menunggu, Alvin memutuskan untuk membeli jajanan kesukaannya yang terletak tak jauh dari gerbang utama sekolah tersebut. Telur gulung, makanan yang dulu selalu membuatnya harus mengalah total dari Nadia. Penjualnya pun masih sama, hanya sekarang usianya terlihat semakin senja. Mungkin, tidak jauh berbeda dengan usia ayahnya.
Tentu saja apa yang dilakukan Alvin membuat beberapa ibu-ibu muda yang juga tengah menjemput anaknya menjadi cukup heboh. Sebab, sangat jarang sekali ada pria yang menjemput anaknya apalagi sampai turun dari mobil dan membeli jajanan kecil seperti itu. Terlebih, dengan visual wajah Alvin yang setampan itu. Dan seperti biasa, pria itu tentu saja tidak ingin memusingkan hal semacam itu.
"Bapak." Suara seseorang mengalihkan fokus Alvin dari rombong kecil di hadapannya. Pria itu segera menoleh ke sumber suara, yang ternyata adalah sopir kantornya yang baru berusia 30 tahun.
"Pak Arif."
"Bapak kok tidak mengabari kalau sudah pulang. Kan saya bisa jemput Bapak dulu di bandara."
Alvin tersenyum sekilas, tidak ingin juru kemudinya itu merasa bersalah karena tidak menjemputnya. "Nggak usah, Pak. Saya emang niatnya mau sekalian jemput Ana habis itu nanti ke kantor. Pak Arif ke sini pakai mobil kantor?"
"Tidak, Pak. Saya menggunakan mobilnya Bu Nadia."
"Oh, kalau begitu tolong barang saya yang ada di taksi putih itu diambil aja, Pak. Cuma ada koper, tas kerja saya sama paper bag warna biru. Sama sekalian ini untuk ongkos taksinya," ucap Alvin menunjuk sebuah taksi tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini dan mengambil beberapa lembar uang seratus ribuan dari dompetnya
"Baik, Pak."
Begitu jajanan yang ia pesan siap, saat itu juga terdengar bel tanda berakhirnya jam sekolah. Alvin masih berdiri di tempatnya karena menurutnya, itu tempat yang paling cocok dan Ana tetap akan bisa melihatnya.
Gadis kecil itu berjalan dengan riang bersama seorang teman laki-lakinya. Keduanya membicarakan materi tentang pembuatan kerajinan yang mereka dapatkan di kelas hari ini. Tadi saat di kelas, Ana sempat merasa kesal karena Ardit menjatuhkan hasil karyanya meskipun tidak secara sengaja. Sebagai gantinya, Ardit akhirnya membantu Ana menyusun karya itu lagi dan ternyata menjadi lebih cantik dari sebelumnya. Rasa kesal Ana pun akhirnya menghilang.
"Ana, kamu pasti dijemput sopir, ya?" Dengan peuh semangat, Ana mengangguk.
"Iya, Ardit. Soalnya Mommy-nya Ana harus bekerja, Daddy juga. Tapi, sopirnya Ana mana, ya?" Gadis itu kini celingukan mencari keberadaan mobil yang biasa menjemputnya. Sementara Ardit sudah melambaikan tangan pada sang ibu yang juga baru keluar dari mobil.
"Mama, kita tunggu Ana dulu, ya. Katanya belum dijemput," pinta Ardit yang langsung diangguki oleh sang ibu. Ana menatap Ardit dengan senyum mengembang.
"Terima kasih, Ardit. Terima kasih, Tante." Pandangan Ana kemudian beralih ke salah satu sudut, gadis cilik itu membolakan mata seolah tidak percaya begitu melihat sesosok tampan yang tengah tersenyum sangat manis padanya.
"Daddy ...," teriaknya dengan penuh semangat. Sontak saja Alvin tertawa renyah mendengar teriakan sang putri yang seketika membuatnya menjadi perhatian umum.
"Ardit, Ana sudah dijemput Daddy. Da-da," pamitnya sambil melambaikan tangan yang dibalas serupa oleh sang teman.
"Daddy ...." Gadis kecil itu kembali berteriak hingga sampai di pelukan sang ayah yang kini berjongkok di hadapannya.
"Halo, Princess. Daddy kangen banget sama Kakak," ucap Alvin sambil mengecupi pucuk kepala hingga wajah Ana yang membuat putrinya itu keglian.
"Daddy, stop it. Kakak geli." Ana berusaha menjauhkan wajah sang ayah.
"Kakak juga kangen sama Daddy," sambungnya lantas melingkarkan lengannya pada leher sang ayah. Dengan Ana yang berada dalam gendongannya, Alvin segera memasuki mobil yang baru saja berhenti di sebelahnya.
"Daddy beli apa?" Ana meraih bungkusan yang ada di samping Alvin. Keduanya sudah berada di dalam mobil untuk menuju ke kantor.
"Kakak minta, boleh?"
Alvin mengangguk dan tersenyum, "Boleh, Sayang. Tapi jangan dihabiskan, ya. Karena itu juga untuk Mommy."
Ana mengangguk dan dengan penuh semangat ia mulai memakan jajanan kesukaan ayah dan ibunya tersebut. Sambil makan, Ana juga bercerita mengenai kegiatannya selama Alvin tidak ada di rumah. Alvin tentu saja mendengarkan dan menanggapinya dengan antusias meskipun apa yang diceritakan oleh Ana saat ini sama persis dengan apa yang sudah dia ceritakan kemarin-kemarin melalui telepon.
Setelah melalui perjalanan selama sekitar 30 menit, mereka akhirnya tiba di kantor Alvin. Pria itu memilih menggendong sang putri sementara Ana membawa makanan yang tadi dibeli oleh sang ayah. Jika ia nekat membiarkan Ana berjalan, bukan tidak mungkin gadis cilik itu akan berlarian ke sana ke mari. Alvin sudah sangat merindukan istri dan anaknya yang satu lagi.
Alvin segera menuju ke ruangan Nadia. Namun dahinya sukses mengerut ketika ia tidak mendapati keberadaan wanitanya di ruangan yang berdominasi warna putih tersebut. Sementara Arga tngah tertidur di dalam box bayi yang terletak tak jauh dari meja kerja istrinya. Terlebih dahulu Alvin menurunkan Ana dari gendongannya dan mendudukkan sang putri di sofa. Pria itu kembali keluar ruangan untuk bertanya pada sekretaris istrinya.
"Bu Nadia di mana?"
"Di ruangannya tidak ada, Pak?" Saras bertanya balik.
"Kalau ada, saya nggak mungkin nanya, Saras." Jawaban sarkas Alvin membuat Saras tersenyum kikuk.
"Maaf, Pak Alvin. Saya juga sebenarnya baru saja kembali dari rapat dengan tim pengembangan."
Alvin menghela napas sejenak. Namun sedetik kemudian ia seperti mendengar suara sepatu mendekat. Firasatnya mengatakan jika itu merupakan bunyi langkah sang istri.
"Kalau itu Nadia, jangan bilang kalau saya sudah sampai," ucap Alvin sambil berlalu, kembali memasuki ruangan Nadia. Saras mengangguk patuh tetapi Alvin sama sekali tidak melihat hal itu.
Sesampainya di dalam ruangan, Alvin memberikan isyarat kepada Ana agar tidak berbicara apapaun saat sang ibu memasuki ruangan nanti. Ana yang mengerti kejahilan Alvin hanya terkekeh sambil mengacungkan ibu jarinya. Dan kini Alvin sudah bersembunyi di balik pintu tinggi tersebut dan ia bisa memastikan Nadia tidak akan mengetahui keberadaannya.
Ternyata dugaan Alvin memang benar jika itu adalah Nadia. Wanita itu sedikit terheran melihat sekretarisnya yang masih saja berdiri.
"Kamu ngapain masih berdiri?"
"Eh, Bu Nadia." Saras sedikit terjengkat karena kaget.
"Ini orang kenapa sih?" lirih Nadia yang ditanggapi senyuman oleh sang sekretaris.
"Nggak, Bu. Saya baru aja sampai, baru mau duduk eh ada Bu Nadia," jawabnya diplomatis yang membuat Nadia hanya menggeleng pelan.
"Memangnya Bu Nadia habis dari mana?" Nadia mengangkat bungkusan berisi makanan untuk makan siangnya bersama anak-anaknya nanti. Ia bisa memprediksi mungkin beberapa menit lagi Ana akan sampai dari sekolahnya.
Wanita itu kembali melangkah memasuki ruangannya. Mata indahnya seketika membola begitu melihat keberadaan sang putri yang tengah terduduk manis di sofa. Bukan hanya itu, namun sesuatu yang kini memasuki mulut Ana juga menarik perhatiannya.
"Kakak, kapan sampai, Sayang?" tanyanya usai menutup pintu dan melangkah mendekati sofa. Sementara yang ditanya hanya menjawab dengan senyuman manis dan itu tentu saja membuat Nadia terheran-heran.
"Sayang, kalau Mommy bertanya itu dijawab, Nak," tegur Nadia dengan suara yang sedikit tegas, namun Ana sama sekali tidak takut dan justru ia tertawa semakin keras.
"Ana ... Akh ...." Belum sempat Nadia menyelesaikan ucapannya, wanita itu menjerit ketika sepasang lengan kokoh melingkari pinggang dan pundaknya. Namun hanya sekian detik, ia akhirnya mengetahui siapa pelaku tersebut. Tentu saja aroma parfum sang pemilik yang sangat familiar menusuk indera penciuman Nadia.
"Ya ampun, Sayang. Kamu tuh jahil banget, sih." Nadia membalikkan tubuhnya untuk menghadap sang suami. Alvin memberikan senyuman termanis miliknya tetapi justru Nadia membalasnya dengan sebuah cubitan di pinggang yang mampu membuatnya mendesis.
"Awh, Sayang. Sakit, Mommy," rajuk Alvin dengan ekspresi wajah memelas. Sementara Ana hanya terkikik geli melihat apa yang terjadi di antara orang tuanya.
"Makanya, jangan jahil. Kalau aku jan ...." Belum sempat Nadia menyelesaikan ucapannya, Alvin sudah terlebih dulu membungkam bibirnya dengan sebuah ciuman yang begitu manis. Tentu saja karena Alvin sudah sangat merindukan wanitanya tersebut.
Adegan dewasa yang terjadi di hadapannya sontak saja membuat Ana membolakan matanya. Namun kemudian ia segera menutup indera penglihatannya tersebut meskipun mulutnya masih sibuk mengunyah telur gulung di hadapannya.
"Daddy ...." Ana menjerit dengan cukup kencang. Jeritan yang mampu membuat Arga seketika terbangun dari tidur lelapnya dan langsung saja mengeluarkan tangisan yang tidak kalah kencang dari teriakan sang kakak.
Nadia segera melepaskan paksa penyatuan bibir mereka sekalipun Alvin masih berusaha menahannya. Karena kesal, ia akhirnya kembali mencubit potongan roti sobek milik sang suami yang dibalut kemeja hitam tersebut. Cukup kencang sehingga membuat Alvin mengaduh dan kesempatan itu digunakan Nadia untuk menghampiri putranya yang masih menangis kencang.
Sementara Nadia masih berusaha menenangkan Arga yang terkaget, Alvin menghampiri Ana untuk meminta maaf kepada sang putri. Sebenarnya, ia dan Nadia seringkali saling mencium meskipun berada di hadapan anak-anak mereka. Namun hanya sebatas kecupan singkat, bukan ciuman yang menggebu seperti apa yang baru saja terjadi. Tentu saja wajar jika hal itu membuat Ana terkejut.
Alvin menghampiri Nadia dan mengambil alih Arga dari gendongan sang istri. Balita tampan itu langsung terdiam begitu melihat wajah sang ayah. Tak butuh waktu lama, Arga sudah kembali tenang sementara sang ibu kini duduk di sofa bersama kakaknya dan sedang menikmati makanan yang dibawa oleh Alvin.
"Beli di mana ini?"
"Di mana lagi? Ya di depan sekolah kita lah." Alvin menjawab dengan rotasi mata jengah sambil duduk di sebelah sang istri. Masih dengan Arga yang berada dalam gendongannya.
Mendegar jawaban acuh sang suami membuat Nadia mengulum senyum. Teringat akan kenangan masa kecilnya bersama Alvin di sekolah itu. Kenangan yang indah yang terkadang membuatnya tersenyum sendiri seperti orang gila.
"Jauh-jauh ke Jepang, pulangnya tetep aja bawanya telur gulung." Raut wajah Alvin seketika berubah kikuk mendengar sindiran istrinya. Demikian juga Ana yang ikut tertawa geli mendengar celetukan sang ibu.
"Kan, kearifan lokal, Sayang. Hhh."
****