11. SEBERSIT DOA

1536 Kata
Tawa ceria terdengar meramaikan rumah dua lantai tersebut. Suara jeritan sang adik yang bergantian dengan tawa puas dari sang kakak hingga membuat sang ibu yang tengah menyiapkan sarapan hanya bisa menghela napas panjang. Entah sejak kapan si sulung sudah berada di kamar orang tuanya. Yang pasti, menggoda Arga kini menjadi satu aktivitas harian yang rutin dilakukan Ana setap pagi. Masih mengenakan piyama tidurnya, Nadia menghampiri kedua putra putrinya dengan membawa nampan yang berisi 2 gelas s**u. Terlihat Ana yang juga masih mengenakan piyamanya saat ini sedang mendusel-duselkan wajahnya pada perut sang adik hingga membuat bayi berusia 1,5 tahun itu tertawa kegelian. Belum menyadari kedatangan sang ibu yang berdiri di ambang pintu, Ana kembali berbuat jahil dengan mengambil mainan bola kecil milik sang adik. Tentu saja Arga akan merengek sambil berusaha meraih mainan yang dijauhkan dari jangkauannya oleh sang kakak. Bahkan, kakinya mulai menendang-nendang ke segala arah sebagai tanda jika bayi itu sudah mulai merasa kesal. "Ehhem ...." Suara merdu itu membuat kedua balita itu memalingkan wajahnya. Ana tersenyum dengan wajah tanpa dosa sementara Arga merengek sambil mengulurkan tangannya pada sang ibu. Nadia meletakkan nampan tersebut di atas meja dan segera meraih Arga ke dalam gendongannya. Sementara Ana menuruni ranjang dengan sendirinya untuk mengambil minuman wajibnya setiap pagi. "Adek digodain lagi ya sama Kakak," ucap Nadia sambil menciumi tangan mungil Arga beberapa kali, membuat balita itu kini tidak jadi menangis dan malah tertawa. "Mommy, ini susunya Adek," kata Ana sambil mengulurkan botol kecil berisi s**u putih. Sudah beberapa minggu ini, Nadia memang mulai memberikan Arga tambahan s**u formula sebangai pendamping ASI mengingat ia juga sudah kembali bekerja. "Terima kasih, Kakak Ana." Nadia menirukan suara anak kecil seolah Argalah yang menanggapi perkataan sang kakak. "Adek lucu sekali. Kalau menangis, wajahnya merah," canda Ana sambil menoel pipi Arga. Bagian wajah sang adik yang begitu ia sukai karena mirip seperti bakpao, makanan kesukaannya. "Kalau adiknya sedang minum, jangan diganggu ya, Sayang. Takutnya nanti Adek tersedak," ucap Nadia memberi pengertian. Ana mengangguk patuh, kini ia memilih duduk di samping sang ibu memperhatikan adiknya yang sibuk menyesapi botol minumannya. Diperhatikan dengan intens oleh sang kakak justru membuat Arga menghentikan aktivitas minumnya. Arga malah mengulurkan botol miliknya yang masih berisi separo minumannya. Bayi itu mengira sang kakak ingin meminta minumannya, terlebih raut wajah sang kakak terlihat sangat serius di matanya. "Kak Ana nggak minta kok. Ini buat Adek Arga saja," ucap Ana sambil mengembalikan botol minuman Arga. Arga kembali memasukkan ujung botol tersebut ke dalam mulutnya dan menyesapnya hingga habis tak bersisa. Nadia tersenyum haru melihat betapa dekat dan kuatnya ikatan yang terjalin antara Ana dan Arga. Sebagai orang tua, tidak ada yang lebh membahagiakan selain melihat para buah hatinya tumbuh dengan sehat dan ceria serta sangat dekat. Dalam hati ia berdoa, semoga kedua anaknya hidup rukun dan selalu saling menyayangi seumur hidup mereka. "Mommy, Daddy masih lama pulangnya?" tanya Ana sambil menautkan jarinya dengan jari telunjuk Arga. Nadia menggeleng pelan, "Mungkin nanti siang Daddy pulang, Sayang. Sekarang, Daddy masih mampir dulu ke tempatnya Om Bagas." "Om Bagas?" Ana membeo. "Jadi, Daddy bertemu dengan Rendra, Mommy?" sambungnya kemudian. Nadia mengangguk pelan sebagai jawaban, "Kenapa? Kakak kangen ya sudah lama tidak bertemu Rendra?" Selama 4 hari ini Alvin berada di Jepang untuk membahas sebuah kerjasama dengan salah satu perusahaan farmasi asal Negeri Sakura tersebut. Semalam sebelum tidur, Alvin sudah menghubunginya dan mengatakan akan mampir terlebih dulu ke Singapura untuk membicarakan beberapa hal dengan sahabatnya tersebut. Dengan cepat Ana menggeleng, "Enggak, Rendra kan jahil sama Kakak." "Yang betul?" Awalnya Nadia berniat bertanya dengan serius, tetapi nada jawaban serta raut wajah Ana yang terlihat malu-malu membuatnya ingin menggoda putri cerewetnya itu. "Mommy ...." Ana mengeluarkan rajukan andalnnya jika sudah merasa kelewat malu pada sang ibu. Mendengar suara khas Ana membuat tawa geli Nadia berderai. "Ya sudah, karena sekarang sudah siang berarti waktunya Kakak mandi, ya. Biar Mommy siapkan bajunya." Dengan Arga yang masih berada dalam gendongannya, Nadia menggandeng tangan Ana untuk melangkah menuju kamar gadis kecil itu. "Mommy, hari ini Kakak mau diantar Mommy ke sekolah," pinta Ana sambil menatap sang ibu penuh harap. Nadia segera mengangguk, menyanggupi permintaan sang putri. "Iya, hari ini Mommy akan antar Kakak ke sekolah. Tapi nanti pulangnya Kakak dijemput pak sopir, ya?" jawab dan tanya Nadia berurutan. "Kakak boleh ke kantornya Mommy?" Sekali lagi Nadia mengangguk. Hari ini wanita itu memang berecana untuk membawa Arga ke kantor. Dan sudah pasti Ana juga akan meminta untuk ikut serta. Nadia sama sekali tidak merasa keberatan mengingat pekerjaannya hari ini juga tidak terlalu banyak. "Mommy, Kakak boleh menelpon Daddy?" tanya Ana sebari menikmati nasi goreng ayam buatan sang ibu. Jika boleh, ingin rasanya Nadia menolak permintaan sang putri. Bukannya apa, Nadia tidak mau mengganggu quality time antara sang suami dengan sahabatnya tersebut. Namun, melihat ekspresi wajah Ana membuatnya sungguh tidak tega. Terlebih, puppy eyes milik Ana yang terlihat sangat memohon. "Iya, boleh. Tapi nanti dulu, ya. Sekarang Kakak habiskan dulu makanannya." Dengan penuh semangat Ana mengangguk. Gadis cilik itu lantas menuruni kursi hingga membuat sang ibu terheran. Rupanya, Ana melangkahkan kaki untuk berpindah ke sebelah Kartika, "Nenek, Kakak mau di suapi sama Nenek," pintanya manja. "akak ...." Nadia menegur. "Mommy kan lagi nyuapin Adek. Nanti kalau Kakak minta disuapin Mommy, Kakak akan telat ke sekolah," jawabnya polos yang mmembuat kepala sang ibu tiba-tiba saja terasa gatal.  Kartika dan Darmawan saling tersenyum geli, tapi tak urung tetap mengiyakan permintaan sang cucu kesayangan. **** Sementara di negeri seberang, Alvin baru saja menikmati sarapannya bersama sang sahabat. Mereka memilih untuk menikmati makan pagi di sebuah kafe yang terletak tidak jauh dari Terminal 3 Changi International Airport. Tidak ada hal yang begitu penting, sekadar beberapa obrolan ringan sebagai pelepas rindu mengingat keduanya sudah satu tahun lebih tidak bersua. Awalnya, Bagas menawari Alvin untuk menikmati sarapan di apartemennya. Namun Alvin menolak dengan alasan jeda penerbangannya tidak selama itu. Pesawat yang ditumpanginya dari Tokyo mendarat pukul 6 pagi waktu Singapura dan akan bertolak menuju Jakarta 2 jam kemudian. Merasa alasan yang diutarakan sang sahabat begitu masuk akal, Bagas akhirnya mengiyakan saja. Sejatinya, alasan utama Alvin bukan hanya kerena jadwal pesawatnya. Lebih kepada, Alvin merasa tidak enak jika harus berkunjung ke rumah orang lain sepagi itu, sekalipun itu kediaman sahabatnya. Tentu saja karena mereka sudah memiliki keluarga masing-masing. Terlebih, Alvin juga tidak ingin merepotkan Lily yang pada dasarnya baru saja memiliki seorang bayi. "Ditinggal bapaknya 4 hari nelpon mulu si Ana, ya," celetuk Bagas sambil menikmati kopinya. Alvin yang baru saja memutuskan panggilan dari sang putri lantas mengulum senyum. "Waktu gue baru sampai Jepang kemarin, sehari ada kali 10 kali ini anak nelpon mulu. Udah ditanyain kapan pulang aja," balas Alvin setelah menyesap teh panasnya. "Ngomong-ngomong, gimana kabar adeknya? Udah umur berapa sekarang jagoan lo?" "Berapa ya?" gumam Alvin dengan pandangan menerawang. "Lo mau bilang kalau lo nggak tahu umur anak lo sendiri?" Tanpa rasa berdosa, Alvin hanya tersenyum lebar. "Gue bisa bayangin apa jadinya kalau Nadia tahu, kakaknya ini nggak inget umur anaknya sendiri." Bagas menampilkan smirk jahilnya. Membuat Alvin sontak melemparinya dengan kulit kacang. "Bisa gue pastikan kalau malam itu juga gue pasti bakal tidur sendirian." Bagas terkekeh mendengar dumalan Alvin. Sebab, ia sendiri sudah pernah merasakan hal tersebut. Gara-garanya, Bagas lupa ketika Lily meminta untuk ditemani ke rumah sakit. Hari itu merupakan jadwal imunisasi Marisha, putri kedua mereka. Bagas dengan entengnya menjawab, seharusnya belum waktunya Marisha menjalani imunisasi. Langsung saja Lily mengetes ingatan Bagas mengenai umur sang putri. Dan, bisa ditebak. Pria itu sudah pasti lupa dan berujung ia harus tidur sendiri di kamar Rendra malam harinya karena sang istri yang sangat kesal. "Persahabatan mereka udah terlalu dekat, sih. Nggak heran kalau pola pikirnya juga hampir-hampir mirip." Alvin mengangguk, membenarkan ucapan Bagas. "Menurut lo, kalau kita saling bersahabat, anak-anak kita juga pada bisa sahabatan enggak?" Alvin tampak berpikir sebentar, "Gue nggak yakin sih Ana sama Rendra bisa sahabatan. Orang tiap ketemu berantem mulu." "Lo nggak ada rencana mau jodohin anak kita, 'kan?" sambung Alvin menyelidik. Dengan percaya diri, Bagas mengelak. "Kita lihat aja nanti. Anak siapa yang bakal jatuh cinta duluan?" "Mereka masih kecil, Gas." Pria itu melotot tajam pada sang sahabat. Ingin rasanya Alvin menampol ubun-ubun sahabatnya itu. "Gue nggak ngomongin mereka di masa sekarang, Alvino." "Tapi, ya ... kalau dua-duanya saling suka, mau gimana lagi." Bukan tanpa alasan Alvin akhirnya mengeluarkan kalimat tersebut. Sebab, ia sendiri bisa melihat bagaimana sang putri yang tampak begitu kehilangan Rendra. Entahlah ini hanya dugaannya saja, atau memang putrinya itu sudah menjadi dewasa lebih cepat. Tidak jauh berbeda dengan Alvin, Bagas sendiri juga melihat hal yang sama terjadi pada sang putra. Entah sudah beberapa kali Rendra menanyakan kapan akan pulang ke Indonesia. Bagas kemudian menggodanya dengan mengatakan jika Rendra pasti merindukan Ana. Di luar dugaan, jika dulu Rendra akan bersikap malu-malu kucing, maka kini ia sudah berani jujur bahwa ia memang rindu pada Ana. Kejujuran yang membuat orang tuanya entah harus bersyukur atau bingung mendengarnya. Usai menikmati sarapan pagi dengan obrolan ringan yang mampu mengusir rasa rindu mereka, sepasang sahabat itu kemudian berpisah. Alvin segera memasuki bandara sementara Bagas harus kembali ke rumah untuk mengantarkan Rendra ke sekolah sebelum berangkat ke kantor. Tidak ada seorang pun yang mengetahui, jika ucapan spontanitas mereka mungkin saja telah menjadi doa yang melangit dan bisa saja menjadi kenyataan di kemudian hari. 'Who knows?' ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN