Mentari pagi tampak begitu terang, sangat berbanding terbalik dengan guyuran hujan yang semalam membasahi bumi. Hari yang baru untuk memulai aktivitas baru. Seolah, semesta ikut menyuntikkan semangat baru bagi seluruh penghuni alam raya.
Pagi ini, terjadi kesibukan yang cukup menghebohkan di kediaman Bagas dan Lily. Jam 8 nanti, ketiganya harus sudah berada di Soekarno Hatta International Airport untuk bertolak ke negeri seberang. Kekosongan yang terjadi di perusahaan Singapura membuat Bagas harus segera mengisinya. Jika terlalu lama dibiarkan kosong, khawatir akan teradi hal-hal yang tidak diharapkan.
Sejak 3 hari yang lalu, Darius dan Selvina memilih menginap untuk menemani sang anak dan menantu serta cucu mereka. Sementara Abraham dan Ajeng baru datang kemarin siang dari Malang. Semalam, mereka sudah mengadakan acara makan malam keluarga yang hangat. Sekali lagi, Bagas melakukan hal tersebut karena ia memang tidak tahu sampai kapan akan bertugas di Singapura.
Meskipun jarak antara Jakarta dan Singapura hanya memakan waktu maksimal 1,5 jam perjalanan udara, tetap saja mereka tidak akan seleluasa seperti sebelumnya. Terutama karena faktor kesehatan, Darius tidak boleh terlalu lama dan sering menaiki moda transportasi burung besi tersebut.
Kini, keluaga besar itu sudah selesai dengan acara sarapan paginya. Barang-barang mereka juga sudah diletakkan di dalam mobil. Tidak banyak yang mereka bawa sebab beberapa barang lain sudah terlebih dahulu dikirimkan melalui layanan ekspedisi. Beruntung, apartemen yang dipersiapkan oleh perusahaan sudah memiliki fasilitas rumah tangga yang sangat lengkap mulai dari mesin cuci, oven hingga microwave sehingga Bagas dan Lily tidak perlu merasa kerepotan dan kebingungan mengenai perabotan besar tersebut. Hanya tinggal perabotan kecil yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan mereka.
Sementara untuk rumah kenangan mereka akan tetap dijaga dan dirawat oleh orang kepercayaan Darius. Bahkan Darius dan Abraham sepakat untuk menengok rumah putra putri mereka setiap beberapa bulan sekali.
"Are you okay?" tanya Bagas pada sang istri yang sepertinya enggan mengalihkan pandangan dari rumah kesayangan mereka.
Lily menoleh pada sang suami dan menampilkan senyum manisnya, "I'm fine, Mas. It's okay. Yang sepertinya nggak seberapa oke malah anak kamu, nih," sambungnya sambil menunjuk sang putra dengan dagunya.
"Kakak, ada apa, Sayang?" Bagas mengalihkan fokusnya pada Rendra. Ia menyadari kalau beberapa waktu belakangan ini, Rendra terlihat lebih pendiam.
"Rendra belum bilang sama Ana kalau Rendra mau pindah, Pa," jawabnya lirih dengan kepala tertunduk. Pengakuannya sontak membuat kedua orang tuanya kini saling bertatapan dengan berbagai macam pikiran dalam benak masing-masing.
"Rendra kangen ya ... belum bertemu Ana sama sekali." Kembali, dengan pelan Rendra membenarkan ucapan sang ibu.
Bagas menghela napas pelan, entah kenapa rasanya ia tidak tega melihat kesedihan sang putra. Bagas mengakui jika Ana dan Rendra memang sangat dekat. Terlepas dari perkara mereka yang sering kali bertengkar dan saling menjahili, nyatanya kedekatan itu tidak bisa diabaikan begitu saja. Bisa dibilang, Ana merupakan salah satu teman perempuan yang paling dekat dengan Rendra mengingat Rendra memang sebelas dua belas dengannya untuk urusan pertemanan dengan lawan jenis.
"Kalau kita mampir ke rumah Nadia dulu, keburu nggak, Mas?" Lily berusaha mencarikan jalan keluar sebab ia juga tidak tega mendengar pengakuan sang putra yang entah bagaimana terasa begitu menyesakkan.
Bagas terpaksa menggeleng karena memang sudah tidak ada waktu lagi bagi mereka. Membuat Rendra yang sebelumnya mendongak menatap sang ayah, kini kembali menunduk. Jika saja sedang tidak berada dalam suasana sensitif seperti ini, ingin sekali rasanya Bagas menggoda Rendra. Namun tentu saja niat tersebut diurungkannya sebab ia tidak mau sang putra menjadi malu. Ditambah lagi, istrinya yang cantik itu pasti akan mengamuk jika sampai ia menggoda sang putra.
"Em ... Papa coba telepon Om Alvin dulu, ya, Kak. Siapa tahu Ana-nya sudah bangun." Kembali bersemangat, dengan cepat Rendra mengangguk.
Bagas segera meraih benda pipih di sakunya untuk men-dial nomor sang sahabat. Pada panggilan pertama belum ada jawaban, Bagas mengulangi lagi dan pada panggilan kedua barulah Alvin menjawanya.
Nun jauh di sana, Alvin tengah terheran-heran karena mendapat pangilan video dari sahabatnya itu. Seumur-umur, baru kali ini Bagas melakukan video call.
"Ya, halo." Suara Alvin yang sarat akan nada heran itu yang pertama kali terdengar. Jangan lupakan dahinya yang sukses mengerut atas panggilan yang sama sekali tidak ia duga tersebut.
"Halo, Vin. Lo masih di rumah atau udah berangkat ke kantor?" balas Bagas to the point.
"Gue masih di rumah. Ada apa? Lo sendiri di mana? Udah berangkat ke bandara?" Di layarnya, Bagas bisa melihat jika Alvin tengah berusaha menenangkan sang putra yang sepertinya hendak menangis.
Sementara Rendra yang terlihat antusias ikut memperhatikan ponsel sang ayah.
"Gue perjalanan ke bandara. Tapi Rendra sedih karena belum pamitan sama Ana. Anak gadis lo udah bangun?" Bagas bisa melihat dan mendengar Alvin menghela napas.
"Boro-boro. Lo lihat sendiri deh," ucapnya sambil mengarahkan kamera belakang pada wajah sang putri yang tertidur dengan sangat lelap.
Layar ponsel hitam itu kini dipenuhi oleh wajah polos Ana yang tampak cantik dan menggemaskan. Tanpa sadar, tangan mungil Rendra mengusap layar ponsel sang ayah. Meskipun terlihat tersenyum tetapi sejujurnya Rendra benar-benar sedih karena tidak bisa berpamitan secara langsung dengan temannya itu. Bagas dan Lily kembali hanya bisa saling pandang melihat sikap sang putra.
"Rendra, nanti Om Alvin akan sampaikan sama Ana kalau Rendra telepon." Hanya suara Alvin terdengar tetapi Rendra tidak terlalu mendengarkan. Ia hanya berfokus pada wajah Ana.
Tidak lama kemudian, Rendra kembali menyerahkan ponsel sang ayah pada pemiliknya. Semakin lama ia melihat Ana, perasaannya menjadi semakin sedih. Rendra berharap, Ana masih mau berteman dengannya meskipun sekarang mereka harus berjauhan.
Suasana di dalam mobil kembali hening hingga mereka sampai di bandara. Rendra turun mendahului orang tuanya lantas menghampiri kedua kakek dan neneknya. Raut wajah bocah itu sudah terlihat lebih ceria dan untuk itu Bagas dan Lily merasa sangat bersyukur.
"Anak kita harusnya masih terlalu kecil untuk suka sama lawan jenis. Tapi sepertinya, dia udah punya perasaan itu," ungkap Bagas jujur yang membuat pinggangnya mendapat hadiah cubitan dari sang istri.
"Mereka masih terlalu kecil, Mas. Jangan ngadi-ngadi kamu ah." Sambil tersenyum mengulum, Bagas mengusap pinggangnya yang terasa panas.
"Kamu kayak nggak ngerti aja gimana anak zaman sekarang, Sayang." Kembali, Bagas menyuarakan apa yang ada dalam benaknya.
"Huss, udah jangan bahas itu lagi. Besok-besok aja bahas soal masalah orang gede semacam itu."
"Besok kapan, Sayang?" tanyanya dengan smirk yang terlihat begitu menyebalkan di mata Lily.
"Kalau Rendra udah 17 tahun. Awas kamu ya, jangan ajarin Rendra jadi playboy macam kamu," jawab Lily acuh dengan tatapan penuh intimidasi. Mendengar hal itu membuat Bagas sontak membolakan matanya.
"Siapa yang playboy? Enak aja. Aku itu laki-laki paling setia yang pernah ada di muka bumi ini, Sayang," jawabnya pongah, lantas mencuri satu ciuman dari pipi Lily yang sudah semakin chubby.
Lily hanya bisa menepuk dahinya pelan, "Untung cinta," batin wanita itu bermonolog.
"Barang-barang kalian sudah aman? Tidak ada yang tertinggal?" tanya Abraham dengan Rendra yang berada dalam gendongannya.
"Udah semua, Pa. Kalau ada yang tertinggal, tinggal kirim ekspedisi aja." Bagas menanggapi santai ucapan sang ayah.
Sementara Lily sedang bergantian berpelukan dengan ibu dan ibu mertuanya.
"Nanti sampai sana jangan lupa langsung periksa ke dokter, ya," peringat Ajeng sekali lagi. Lily mengangguk mematuhi ucapan sang ibu mertua. Sejak tiba kemarin, entah sudah berapa ratus kali Ajeng memberikan nasihat tersebut.
"Iya, Mama. Nanti Lily sama Mas Bagas langsung ke rumah sakit kalau nggak jetlag." Dalam hati, Lily sangat tidak yakin akan hal itu sebab ia termasuk orang yang mudah mengalami jetlag, bahkan tergolong cukup ekstrem.
Acara berpamitan itu tidak berlangsung lama hingga pendengaran mereka menangkap pengumuman bagi para penumpang pesawat burung biru agar segera memasuki pesawat. Bagas segera mengambil alih Rendra dari gendongan sang ayah dan menggandeng sang istri untuk kemudian menuju pesawat yang akan membawa mereka memulai kehidupan yang baru.
****
"Telepon dari siapa, Sayang?" tanya Nadia yang baru saja keluar dari kamar mandi. Alvin segera bangkit untuk membantu sang istri berjalan menuju ranjang.
"Bagas. Rendra sedih katanya karena nggak sempat pamitan sama Ana." Sambil tersenyum, Nadia kini duduk di samping sang putri.
"Ana-nya juga dari kemarin uring-uringan terus. Nggak tahu kenapa. Apa mungkin dia tahu kalau Rendra mau pindah?" Alvin mengendikkan bahunya beberapa kali.
"Mungkin aja dia denger omongannya Bagas sama Lily waktu di rumah sakit kemarin." Alvin menyodorkan gelas berisi cairan berwarna cokelat yang menjadi minuman wajib Nadia sejak hamil.
"Bisa jadi," balas Nadia lantas perlahan meneguk minumannya tersebut. "Mereka udah berangkat?" sambungnya begitu usai menandaskan acara minum susunya.
"Udah, sih. Tadi waktu telepon katanya udah on the way ke bandara."
"Ana, Rendra. Tiap ketemu berantem terus, giliran mau berpisah sedih juga akhirnya," gumam Nadia sambil mengusap lembut pucuk kepala Ana.
"Kayak kita dulu, ya," celetuk Alvin dengan senyum jahilnya. Kali ini Nadia justru mendengkus sambil mencebikkan bibirnya.
"Itu mah kamu yang ninggalin aku," sahutnya acuh teringat saat-saat yang paling tidak menyenangkan dalam hidupnya tersebut. Hari di mana Alvin memutuskan untuk pergi ke Paris, meninggalkannya.
"Bukan meninggalkan, Sayang." Alvin berkilah.
"Lalu?" Mata Nadia melotot tidak terima. Padahal, jelas-jelas Alvin meningalkannya dengan alasan belajar di Negeri Napoleon Bonaparte tersebut.
"Menjauh untuk mendekat." Alvin mengecup cepat pipi Nadia untuk mengendalikan rasa sebal yang nampaknya mulai melingkupi hati sang istri.
Atas tingkah dan ucapan sang suami, Nadia hanya berdecak pelan, "Alesan."
****