9. PULANG

1324 Kata
Setelah menjalani perawatan selama 2 hari di rumah sakit, Nadia akhirnya diizinkan untuk pulang. Saat ini, ibu dua anak tersebut ditemani oleh kedua putra putrinya yaitu Ana dan Arga. Sebab sang suami harus pergi ke kantor untuk menghadiri rapat yang sangat penting. Awalnya, Alvin merasa enggan jika harus meninggalkan istri dan sang anak. Namun pertemuan kali ini benar-benar tidak bisa diwakilkan jadi dia sendiri yang harus turun tangan. Alvin meminta Nadia menunggunya untuk pulang bersama. Ia sudah berjanji pada sang istri kalau rapat hari ini tidak akan lama. Daripada berdebat dengan sang suami, Nadia memilih mengiyakan saja. Oleh sebab itu Nadia melarang Kartika yang hendak mengirimkan sopir keluarga mereka untuk menjemputnya. Sementara Ana sendiri memang sejak kemarin bersikeras untuk menginap di rumah sakit bersama orang tua dan sang adik. Berbagai cara sudah dilakukan oleh para orang tua itu untuk bisa membujuk Ana agar mau pulang bersama kakek dan neneknya. Namun, reaksi yang ditampakkan Ana benar-benar di luar dugaan. "Kenapa Kakak tidak boleh tidur dengan Mommy dan Adek? Kakak kan ingin menemani Adek. Mommy sama Daddy udah nggak sayang lagi sama Kakak," ucapnya sore itu dengan mata yang sudah memerah. Sedetik kemudian, tangis Ana pecah bahkan ia tidak mau di sentuh oleh siapapun. Sekalipun, itu Darmawan. Alvin dan Nadia dibuat terperangah mendengar ucapan jujur nan polos tersebut. Tidak terkecuali, Darmawan dan juga Kartika. Tidak ingin membuat sang putri salah paham atau bahkan merasakan cemburu atas kehadiran sang adik, Alvin memilih mengalah dan mengiyakan saja permintaan putri kesayangannya. Tak perlu menunggu 5 detik, rajukan Ana hilang seketika dan berganti dengan keceriaan. Ana langsung mendekati dan menciumi pipi Arga, hingga mampu membuat orang tua serta kakek neneknya hanya bisa menggeleng pelan. Sambil menunggu kedatangan sang ayah, Ana justru sibuk memainkan jari-jari mungil Arga yang awalnya dibungkus sarung tangan. Namun, sang kakak yang sangat jahil itu melepaskan sarung tangan berwarna hijau dan melemparkannya sembarangan. Arga sama sekali tidak merasa terusik dengan tingkah laku sang kakak. Nadia hanya bisa tersenyum geli melihat betapa antusiasnya Ana terhadap adiknya. "Mommy, kenapa kulitnya Adek merah seperti buah tomat?" Ana menoel-noel pipi lembut Arga hingga membuat bayi tomat itu sedikit terusik. "Karena Adek masih bayi, Sayang. Dulu, Kakak Ana juga merah waktu baru lahir," beritahu Nadia dengan lembut sambil menepis tangan Ana yang hendak kembali menoel pipi menggemaskan milik Arga. "Mommy ...." Ana merajuk sebab Nadia menahan tangannya. "Jangan, Sayang. Nanti Adek menangis, lho. Kakak kan tahu Adek gampang sekali menangis." "Nanti kalau Adek menangis, Mommy tidak bisa tidur, ya?" Ana menyuarakan pendapatnya yang langsung diangguki oleh sang ibu. Saat menginap, Ana beberapa kali melihat ibu dan ayahnya sering bergantian bangun begitu mendengar Arga yang menangis kencang. "Tapi Adek lucu, Mommy. Pipinya Adek lembut seperti pipi Kakak dan Mommy." Ana masih tidak mau berhenti menjahili Arga. Bedanya, kali ini dagu Arga yang menjadi sasaran keisengan tangannya. "Karena Kakak dan Adek anaknya Mommy sama Daddy. Pipinya Daddy juga lembut, 'kan?" Kali ini Nadia memilih mengalah dan tidak lagi menahan tangan Ana. Kalau Arga kembali terbangun dan menangis, yah ... sudah menjadi tugasnya untuk menenangkan. Melihat sang ibu yang tidak lagi berusaha menghalangi keisengan tangannya justru membuat Ana diam dengan sendirinya. Ana menjadi takut sendiri kalau sang ibu sampai marah padanya karena menyebabkan sang adik menangis. Sebagai gantinya, Ana memilih membaringkan kepalanya di atas pangkuan sang ibu. "Mommy," panggil Ana sambil mengusap-usap p****t sang adik di hadapannya. "Ada apa, Sayang?" Nadia menggunakan satu tangannya untuk mengusap kepala sang putri. "Daddy kenapa lama sekali, sih?" Alvin sudah pergi sejak pagi hari dan dari sinar matahari yang memasuki ruang rawat sang ibu, Ana tahu kalau saat ini hari sudah semakin siang. "Daddy kan masih rapat, Kak. Nanti kalau rapatnya sudah selesai, Daddy pasti segera ke sini." "Ada yang kangen sama Daddy?" Suara bariton itu segera membuat Ana terbangun dari tidurnya. Sosok yang sejak tadi ia rindukan sudah berdiri dengan gagahnya dengan bersandar di pintu. "Daddy ...," teriaknya lantas bergerak cepat untuk menuruni brankar sang ibu hingga membuatnya hampir terjatuh. Beruntung, Alvin sangat sigap mengangkap tubuh mungil yang mulai meninggi tersebut. Nadia hampir saja berteriak karena panik melihat Ana yang hampir terjatuh, tetapi kemudian berganti menjadi helaan napas panjang. Ia benar-benar tidak menyangka akan dianugrahi seorang putri yang begitu aktif. "Daddy kenapa lama sekali rapatnya?" Ana menampakkan wajah cemberutnya sambil mengalungkan tangannya pada leher Alvin. Tingkah Ana yang sangat menggemaskan membuat Alvin menghujami banyak kecupan pada wajah manis itu hingga membuat Ana kegelian. "Maaf, ya, Sayang. Rapatnya Daddy tadi nggak lama kok. Tapi jalanannya macet sekali." Usai mengecup ubun-ubun sang putri, Alvin berganti mencium kening sang istri kemudian sang putra. "Maaf ya kalau lama, jalanan macet parah," ucapnya yang langsung diangguki oleh Nadia. "Kita pulang sekarang?" Nadia kembali mengangguk. Sungguh, berlama-lama di rumah sakit adalah sesuatu yang paling tidak ia sukai. Terlebih, dengan keberadaan sang putri. "Daddy, Kakak jalan kaki saja." Ana merangsek untuk turun dari gedongan Alvin. Ucapannya langsung dituruti oleh sang ayah meskipun ada tanda tanya yang tersemat dalam benaknya. "Tumben sekali dia mau jalan sendiri," bisik Alvin yang langsung ditanggapi Nadia dengan isyarat menutup mulut. "Jangan diprotes. Nanti dia malah minta gendong terus, kamu yang repot." "Mommy, Kakak boleh bawa tasnya Mommy?" tanya Ana sambil menunjuk tas berwarna putih di atas nakas. Tas yang sempat tertinggal tetapi Kartika yang membawakannya kemarin. "Boleh, Sayang," jawab Nadia sambil menyerahkan tas berukuran sedang tersebut pada sang putri. Ana menerimanya dengan wajah berbinar dan langsung memakainya seperti ia biasa melihat sang ibu. Tentu saja tubuhnya akan langsung terlihat tenggelam tetapi ia menolak ketika sang ayah hendak memintanya lagi. Bukannya apa, Alvin tidak tega melihat putrinya yang tampak kesulitan berjalan tersebut. "Kakak bisa, Daddy." Ana masih mempertahankan argumennya. Menampilkan raut wajah bersungguh-sungguh. Membuat Alvin pada akhirnya menyerah atas kekeras kepalaan putri cantiknya. Sementara Nadia hanya menahan tawa melihat sifat suami dan anaknya yang pada kenyataannya memang sebelas dua belas tersebut. Keluarga bahagia tersebut berjalan bersama menuju tempat parkir. Sebelah tangan Alvin membawa tas perlengkapan mereka selama menginap, serta sebelah lagi merengkuh tubuh sang istri. Sementara si sulung berjalan tepat satu langkah di depan mereka. Masih dengan kerempongannya dalam membawa tas milik sang ibu yang membuat orang tuanya tak henti tersenyum geli. Sebelum memasuki mobil, mereka sempat berpapasan dengan Randy yang baru saja selesai makan siang bersama sang istri. Namun perbincangan itu tidak berlangsung lama sebab Ana sudah mengeluhkan panasnya cuaca. **** 30 menit adalah waktu yang dibutuhkan untuk mereka sampai ke rumah. Kemacetan yang sempat menjebak Alvin sudah terurai saat kendaraan roda 4 tersebut membelah jalan raya. Bahkan, cenderung sepi sehingga Avin bisa mengemudi dengan tenang. Terlebih, Ana yang sepertinya kelelahan mengoceh kini sudah tertidur. Alvin membantu Nadia untuk turun dari mobil, bersama Arga yang berada dalam gendongannya. Kartika yang mengetahui kepulangan sang putri langsung menyambut dan memapah Nadia berjalan memasuki rumah. Sementara Alvin harus menggendong putrinya yang terlihat sangat lelap. "Ana ditidurkan di kamar kita aja, Sayang," pinta Nadia ketika melihat Alvin hendak melangkah menuju kamar sang putri. "Yakin, nih? Ana tidur sama kita?" Nadia mengangguk dengan yakin. "Aku pengen kita tidur ber-empat." Alvin tersenyum penuh makna, lantas memasuki kamar pribadinya. Membaringkan sang putri di samping putra keduanya yang juga tampak lelap. "Lelah?" Alvin berdiri di samping Nadia. Wanita itu langsung menyandarkan kepalanya pada perut berotot sang suami. "Lumayan. Untung Arga lagi anteng, Jadi aku bisa tidur," jawabnya santai sambil perlahan membaringkan tubuhnya di ranjang. "Oh, ya. Bagas tadi telepon, katanya keberangkatannya ke Singapura dimajukan lusa pagi," ucap Alvin yang kini duduk di sisi Nadia. "Kasihan Ana, belum ketemu sama Rendra. Dia pasti kangen meskipun mereka sering banget berantem," gumam Nadia sambil membelai pipi sang putri. Sejak Bagas dan Lily berpamitan kemarin, Ana menjadi lebih pendiam meskipun tadi pagi keceriaannya sudah kembali. Gadis cilik itu memang mendengar dan mengerti apa yang dikatakan oleh sahabat dari ayah dan ibunya meskipun ia belum sepenuhnya memahami. Atau lebih tepatnya, Ana memang rindu pada Rendra yang baru kali itu tidak datang menyertai orang tuanya. Alvin hanya menanggapinya dengan senyuman. Tangannya perlahan membelai lembut pucuk kepala sang istri. Mengantarkan Nadia ke alam peristirahatannya. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN