Setelah menempuh perjalanan selama hampir 1 jam, akhirnya Bagas dan Lily tiba di kediaman mereka. Sebelum turun dari mobil, Lily menatap lekat rumah penuh kenangan di hadapannya itu. Rumah hangat yang menjadi saksi perjalanan dan tumbuhnya cinta di hati mereka masing-masing. Rumah yang sebentar lagi akan ia tinggalkan, meskipun tidak selamanya. Namun tetap saja, bangunan itu memiliki sejarah tersendiri untuknya dan sang suami.
“Ada apa, Sayang?” tanya Bagas yang sejak tadi memilih diam. Lebih tepatnya, mengamati perubahan raut wajah sang istri.
“Nanti kalau kita tinggal di Singapura, berapa lama sekali kita bisa pulang ke rumah ini, Mas?” Lily tidak bisa menyembunyikan perasaannya sedikit pun pada prianya itu.
Bagas melepas seatbelt miliknya dan Lily. Lantas merengkuh tubuh wanita itu ke dalam pelukannya. Perasaan Lily semenjak hamil memang sangat sensitif dan cenderung mudah merasakan haru. Bagas tidak menyalahkan hal itu, sebab pada kenyataannya ia sendiri juga merasa haru untuk meninggalkan rumah yang ia beli sebagai hadiah pernikahannya untuk Lily, meskipun pada saat itu mereka belum memiliki rasa saling cinta. Rumah yang ia beli dengan menggunakan hasil jerih payahnya sendiri. Ditambah lagi, ia sendiri belum tahu sampai kapan keluarga mereka akan menetap di negeri seberang.
“Kita pasti bisa pulang ke sini meskipun nggak bisa setiap saat, Sayang. Mungkin setahun 1 atau 2 kali.” Di saat seperti ini, lebih baik Bagas mengiyakan saja perkataan dan permintaan sang istri. Daripada ia salah menjawab dan justru akan membuat mood Lily semakin memburuk.
“Kita masuk, yuk? Kita masih harus berkemas, ‘kan? Siapa tahu Rendra udah pulang.” Lily mengangguk lantas mendongakkan wajahnya. Bagas memberikan senyum yang mampu menenangkannya, serta kecupan lembut pada keningnya.
Dengan jari-jemari yang saling bertaut, keduanya melangkah memasuki rumah. Namun langkah Lily kembali terhenti ketika menapaki anak tangga di depan pintu.
“Kenapa, Sayang?”
“Kamu tahu nggak apa yang bikin makin berat?” Sebagai respon atas pertanyaan istrinya, Bagas menggeleng dan menaikkan sebelah alisnya.
“Bunga-bungaku.” Pria itu tak kuasa menahan senyum gelinya. Tanpa berniat menjawab, Bagas kembali merengkuh pundak wanitanya dan melanjutkan langkah mereka yang sempat tertunda untuk memasuki rumah.
“Nanti di atap apartemen, kita bikin kebun bunga lagi buat kamu,” jawab Bagas asal, membuat Lily memutarkan bola matanya jengah.
“Ya kali, Mas.” Keduanya tertawa geli.
“Sepertinya Rendra belum pulang, Mas,” gumam Lily begitu mengamati keadaan rumah yang masih sangat sepi. Jika Rendra sudah pulang, pasti putranya itu akan segera menghampiri begitu mendengar suaranya.
“Coba kamu telepon Mamah, Mas. Jam tidur siang Rendra harus sudah ada di rumah. Aku nggak mau dia nggak tidur siang,” sambungnya sembari melangkah menuju kamar mereka. Bagas mengangguk dan dengan cepat men-dial nomor ponsel ayah mertuanya.
Begitu panggilan terhubung, Bagas tahu jika sang mertua masih mengajak Rendra bermain di Timezone. Bagas segera menyampaikan apa yang menjadi permintaan sang istri. Darius yang mengerti tentu saja menyanggupi permintaan menantunya karena ia sendiri sudah berniat untuk mengajak istri dan cucunya segera pulang setelah jam makan siang. Darius sangat paham bagaimana putrinya dan ia sangat tidak tega membuat putri kesayangannya itu merajuk.
Setelah mendapat kepastian dari ayah mertuanya dan menutup telepon, Bagas kini menyusul Lily. Ternyata istrinya itu sedang memeriksa barang-barang yang akan mereka bawa untuk pindahan. Serta barang-barang yang kemungkinan besar akan diberikan pada orang lain karena tidak mungkin dibawa ataupun ditinggalkan begitu saja.
Cukup lama keduanya melakukan hal itu. Hingga jam makan siang tiba, Bagas segera mengajak wanita tercintanya itu untuk segera menyantap hidangan mereka. Pria itu begitu cerewet jika menyangkut urusan kesehatan sang istri, terlebih saat ini ada nyawa lain yang tengah bersemayam di rahimnya. Baru saja hendak menyantap makan siangnya, ternyata Darius, Selvina serta Rendra tiba di rumah karena Rendra menolak untuk makan siang di luar. Jadilah mereka berlima akhirnya menikmati makan siang bersama.
****
“Mama sama Papa tadi habis pergi, ya?” Rendra sudah berada di kamar pribadinya ditemani oleh sang ibu. Sementara Bagas masih berada di ruang tengah untuk berbincang dengan ayah mertuanya.
Tadi saat makan siang, Bagas dan Lily memang belum berganti pakaian. Oleh sebab itu Rendra langsung mengetahui jika kedua orang tuanya baru saja pergi ke suatu tempat.
“Iya, Sayang. Mama tadi ke rumah sakit di antar Papa. Memeriksakan keadaan adiknya Rendra.” Lily mengusap lembut rambut sang putra. Berharap sentuhannya mampu membuai malaikat kecilnya itu.
Rendra yang awalnya berbaring dengan posisi normal, lantas mengubah posisinya menjadi berbantalkan paha sang ibu. “Kakak sayang adik,” ucapnya sambil membenamkan wajah ke perut sang ibu.
Ucapan Rendra membuat Lily merasa terharu. Usahanya dan sang suami untuk selalu melibatkan Rendra sebelum mengambil keputusan nampaknya membuahkan hasil. Sebelum melakukan program kehamilan anak kedua mereka, keduanya terlebih dahulu meminta pendapat Rendra karena biar bagaimana pun kehadiran anggota keluarga baru akan terasa sangat aneh untuk anak pertama.
Awalnya Lily merasa khawatir jika Rendra keberatan untuk memiliki adik. Bukannya apa, Lily hanya tidak ingin sang putra merasa kesepian nantinya karena tidak memiliki saudara seperti dirinya. Sekaligus memiliki saudara akan lebih membuat jiwa sosialnya lebih mudah terbentuk. Terlebih karena usia Rendra yang belum terlalu besar. Lily takut jika terlalu lama menunda untuk memiliki momongan kedua, akan membuatnya kurang bisa memperhatikan sang putra yang akan memasuki usia sekolah. Jadi, sebelum usia Rendra menginjak 5 tahun, menurutnya adalah keputusan yang tepat untuk memberikan Rendra seorang adik.
Nyatanya, kekhawatiran Lily menguap begitu saja begitu sang putra mengatakan mau memiliki seorang adik. Yang lebih lucu, Rendra mengatakan memang sudah lama ingin memiliki adik. Apalagi saat melihat banyak teman sebayanya yang memiliki adik dan menurutnya itu menyenangkan. Tetapi ia tidak tahu bagaimana caranya memiliki adik. Ia juga tidak berani mengungkapkan pada orang tuanya. Sejak saat itu, Bagas meminta Rendra agar selalu mengatakan apapun yang ada di dalam benaknya kepadanya dan sang istri. Bagas tidak ingin Rendra menjadi anak yang tertutup bahkan sampai tidak bisa bercerita pada orang tuanya.
“Kami juga sayang sama Kak Rendra.” Lily membalas sambil merangkum wajah sang putra.
“Mama ....”
“Ada apa, Sayang?”
“Adiknya Rendra laki-laki atau perempuan?” Rendra mengusap lembut perut sang ibu.
“Mama dan Papa belum tahu, Sayang. Nanti kalau sudah lahir, pasti kita tahu.” Rendra mengangguk pelan tanda mengerti.
“Memangnya, Kakak ingin punya adik laki-laki atau perempuan?” sambung Lily penasaran.
“Perempuan, Ma.”
“Kenapa ingin perempuan, Sayang?” Dahi Lily sukses mengerut mendengar harapan dari putranya itu. Di saat banyak anak laki-laki yang juga menginginkan adik laki-laki, Rendra justru menginginkan adik perempuan.
“Karena cantik. Rendra kan tidak bisa menjahili Ana, Ma. Tapi kalau di rumah kan ada adik.” Tawa geli Lily berderai mendengar pengakuan polos sang putra. Ia jadi membayangkan, pasti rumahnya akan sangat ramai nantinya mengingat Rendra sangat jahil. Terhadap Ana saja ia begitu suka menggoda apalagi pada adiknya kelak.
“Oh iya, adiknya Ana sudah lahir, Sayang. Tadi Mama dan Papa juga menjenguk Tante Nadia.” Mendengar ucapan sang ibu, serta merta Rendra terbangun dari pembaringannya.
“Kok Mama tidak mengajak Kakak?” tanyanya dengan wajah cemberut. Segera Lily kembali merangkum wajah sang putra yang sepertinya hendak merajuk tersebut.
“Maafkan Mama, Sayang. Mama juga tidak tahu kalau Tante Nadia sudah melahirkan. Tadi saja Mama dan Papa bertemu Om Alvin waktu membeli minum,” beri tahunya dengan lembut.
Meskipun didera rasa kecewa, Rendra tidak bisa berlama-lama marah pada sang ibu. Selain karena ia memang tidak bisa marah kepada Lily, Rendra juga tidak tega melihat wajah lembut cinta pertamanya tersebut. Apalagi Rendra juga menyadari kalau ia tadi tengah pergi bersama kakek dan neneknya.
“Adiknya Ana perempuan, Ma?” Rendra kembali membaringkan tubuhnya di pangkuan sang ibu.
“Laki-laki, Sayang.” Rendra tampak mendesah pelan. Sudah beberapa minggu ini ia tidak bertemu dengan Ana. Membuatnya rindu pada gadis cilik yang selalu saja dijahilinya tetapi tidak pernah marah padanya terlalu lama.
“Kakak kangen ya pasti sama Ana.” Entah sejak kapan, Bagas ternyata sudah memasuki kamar tersebut dan berdiri bersandar di pintu.
“Enggak ...,” sahut Rendra dengan lantang namun malu-malu. Tentu saja ia malu dibilang ‘kangen’ pada Ana. Meskipun pada kenyataannya, memang demikian.
“Yang betul? Kakak tidak berbohong?” Bagas melangkah mendekat sambil tetap menggoda sang putra. Laki-laki itu meraih tubuh sang putra dan membaringkannya di atas tubuhnya yang kini sudah duduk bersandar di ranjang.
Hampir saja Rendra berbalik menyetujui ucapan sang ayah karena mendengar kata berbohong. Namun Lily sudah menengahi agar Rendra segera tidur siang.
“Sudah, Mas. Jangan digoda terus. Kalau Rendra ngambek terus nggak mau tidur siang, kamu yang aku hukum.”
Mendengar pembelaan dari sang ibu dan melihat raut masam ada wajah sang ayah membuat Rendra terkikik geli. Bagas sangat tahu hukuman apa yang dimaksud Lily jika ia sampai membuat sang putra merajuk. Lily tidak akan mau disentuh saat malam meskipun hanya sekadar pelukan, dan hal itu akan sangat menyiksanya,
“Iya, deh. Papa nggak akan godain Kakak lagi. Jangan hukum Papa, ya, Mama,” pintanya dengan sorot mata ‘ngalem’.
“Sekarang Kakak tidur siang, ya. Papa dan Mama akan menemani Kakak,” sambungnya sambil membelai belakang kepala Rendra yang mulai menguap. Rendra mengangguk sambil memejamkan mata. Sementara satu tangannya bergerak mengusap perut sang ibu. Tangan Lily ikut menepuk-nepuk pelan p****t sang putra.
“Kamu juga harus tidur, Sayang.” Bagas juga mengusap lembut lengan sang istri yang kini bersandar manja di bahunya.
“Iya, Papa,” balas Lily setelah mengecup pipi sang suami lantas kembali membenamkan wajahnya pada d**a bidang prianya, berhadapan dengan sang putra.
****