Setelah menempuh perjalanan selama lebih dari 30 menit, Darmawan beserta istri dan sang cucu kini tiba di rumah sakit tempat Nadia melahirkan. Suasana rumah sakit terpantau cukup ramai terutama di bagian poli kandungan. Wajar saja sebab akhir pekan biasanya banyak sekali ibu hamil yang memeriksakan kondisi kesehatannya, mengingat sangat sedikit yang bisa melakukannya saat minggu kerja. Terlebih bagi mereka yang harus berjuang mencari nafkah.
Ana berada dalam gendongan sang kakek, meskipun awalnya ia ingin berjalan sendiri. Namun, Darmawan tidak tega mengingat suasana rumah sakit yang tampak ramai. Selain itu guna mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Ana yang tiba-tiba berlari, misalnya.
Sementara itu, satu tangan Darmawan yang lain tidak lupa menggandeng tangan Kartika. Meskipun usia keduanya tak lagi muda, tetapi kemesraan mereka masih sangat terjaga bahkan Darmawan tidak pernah segan sedikit-pun untuk menunjukkannya di depan umum.
“Kakek, rumah sakitnya besar sekali,” gumam Ana sambil menatap bangunan yang penuh d******i warna putih dan hijau muda tersebut.
Ini memang pertama kalinya Ana mengunjungi pusat layanan kesehatan tersebut sebab selama ini Nadia memang tidak pernah mengajak Ana saat melakukan check up kandungannya. Menurutnya, rumah sakit bukanlah tempat yang baik untuk anak-anak. Ditambah, selama ini Ana memang tidak pernah mengalami sakit serius yang mengharuskannya untuk dibawa ke tempat tersebut.
“Tentu besar, Sayang. karena banyak orang yang datang ke sini.”
Mereka bertiga segera memasuki lift untuk menuju ke ruang perawatan sang putri. Tadi Alvin sudah mengirim pesan mengenai nomor kamar Nadia sehingga Kartika tidak perlu lagi bertanya pada bagian administrasi.
Terlebih dahulu mengetuk pintu kamar Nadia sebelum membukanya. Begitu pintu putih itu terbuka, Ana segera merengek, meminta turun dari gendongan sang kakek.
“Mommy.” Teriakan Ana menggema di seluruh penjuru kamar. Membuat Nadia yang tengah menyusui Arga langsung menatapnya penuh senyuman. Dan tentu saja, membuat Arga yang tengah asyik menikmati makanannya seketika menghentikan aktivitasnya. Berganti dengan menangis.
Nadia menghela napas sambil berusaha menenangkan Arga yang tampak memerah karena tangisannya. Sementara sang pelaku justru berlari untuk menghampiri sang ibu.
“Selamat pagi, Sayang,” sapa Nadia pada sang putri yang kini sedang berusaha menaiki kursi di samping brankar Nadia. Meskipun awalnya kesulitan, tetapi Ana berhasil menaiki benda berkaki empat tersebut dengan usahanya sendiri. Ia bahkan menolak ketika sang nenek hendak membantunya.
“Sayang, jangan berteriak seperti itu, dong. Kan adiknya jadi menangis,” ucap Kartika sembari ikut menenangkan sang cucu kedua yang sudah lebih tenang dan mulai kembali menikmati ASI-nya. Tas bekal berisi sarapan yang ia bawa sudah diletakkan di atas nakas.
Sementara Ana justru menatap lekat wajah Arga yang menurutnya sangat mirip dengan sang ibu. Sama sekali tidak merasa bersalah sedikit pun atas perbuatannya beberapa detik yang lalu hingga membuat sang adik menangis histeris.
“Kenapa Kakak kok lihatin adek kayak gitu?” tanya Nadia usai memberikan ciuman lembut pada dahi Ana.
“Adek seperti Mommy,” jawab Ana sambil menoel pipi tomat milik sang adik. Ana ingat betul wajah kecil Nadia karena di rumah banyak sekali foto masa kecil Nadia yang terpasang. Kali ini apa yang dilakukan Ana sama sekali tidak mengalihkan fokus Arga dari makanannya.
“Iya dong. Adeknya mirip Mommy, kalau Kakak mirip Daddy,” sahut Darmawan sambil membantu Ana yang tampak ingin menaiki brankar Nadia.
“Alvin di mana, Sayang?” sambungnya karena tidak mendapati keberadaan sang putra sejak memasuki rauang rawat tersebut.
“”Daddy-nya lagi ke kantin, Pah. Tadi mau minum kopi apa gimana katanya. Padahal udah Nadia suruh tidur lagi, tapi tetep aja nggak mau.”
“Oh, ya, cucu tampan Nenek siapa namanya?” tanya Kartika sembari memainkan tangan mungil Arga yang tidak dibalut sarung tangan.
“Arga Briandi Syahreza, panggilannya Adek Arga,” jawab Nadia menirukan suara anak kecil.
“Halo Adek Arga,” sapa Ana yang berusaha mencium pipi memerah sang adik. Nadia membantu dengan mendekatkan wajah Arga agar Ana mudah menjangkaunya.
“Kamu sudah sarapan, Sayang?” Nadia menggeleng menjawab pertanyaan sang ibu, membuat wanita paruh baya itu membolakan mata.
“Arga sejak tadi nggak mau lepas, Mah. Tadi baru di taruh sebentar, pas Nadia lagi minum s**u eh bangun lagi.”
Arga yang sudah selesai menikmati makanannya, kini terlelap dalam dekapan sang ibu. Kartika segera menyiapkan sarapan yang dibawanya dan menyuapkannya pada sang putri. Sementara Ana tengah duduk di sofa sambil berceloteh dalam pangkuan sang kakek yang tidak pernah lelah menanggapi seluruh barisan kata yang keluar dari mulut menggemaskan Ana.
Di tengah aktivitas menyenangkan yang saat ini berlangsung, beberapa menit kemudian pintu kamar itu terbuka. Menampilkan wajah Alvin sambil membawa gelas kopi di tangannya. Senyumnya mengembang melihat kehadirang orang –orang tercinta dalam hidupnya.
“Hai, Pah. Hai, Mah.” Alvin meletakkan gelas kopinya di atas nakas. Terlebih dahulu ia menyalami Kartika baru kemudian beralih pada Darmawan.
“Daddy,” panggil Ana sambil merentangkan tangannya. Berharap agar Alvin memeluk dan menggendongnya.
“Selamat pagi, Princess.” Alvin menggendong putri kecilnya, menghujaminya dengan puluhan kecupan yang membuat tawa geli Ana berderai.
“Daddy, berhenti. Kakak geli.” Ana menghindar dan memegang pipi Alvin, menjauhkan bibir sang ayah dari wajahnya.
“Selamat pagi ... Nadiaaa ....” Suara seseorang yang sudah sangat dihapal itu membuat Nadia menyunggingkan senyum. Lily hendak melangkah cepat menuju brankar tempat sang sahabat tengah duduk bersandar, namun seketika sang suami menahan lengannya.
“Jalan yang bagus, bisa?” Nada bicara Bagas yang terkesan tegas itu membuat Lily mengangguk sambil menyunggingkan senyum manisnya.
Lily menghampiri Nadia sementara Bagas lebih terlebih dahulu menyalami Darmawan, baru kemudian menuju Kartika yang baru beberapa detik berlalu sudah duduk di sisi sang suami.
“Pagi sekali sudah sampai, Bagas?”
“Iya, Tante. Tadi memang jadwalnya Mamanya Rendra untuk check up. Kebetulan ketemu Alvin pas lagi beli minum di kantin. Untungnya tadi dapat nomor antrian pertama jadi bisa langsung ikut Alvin buat lihat bayi mereka ke sini,” jawab Bagas dengan lugas, kemudian melangkah mendekati Nadia.
“Ya ampun, ganteng banget keponakan Tante,” seru Lily yang mengagumi wajah tampan bayi merah itu.
“Ganteng, dong. Kan ayahnya ganteng,” sahut Alvin membanggakan diri. Membuat Bagas dan Lily kompak memutarkan bola matanya jengah.
“Kirain udah dikirimin pesan sama bapaknya Ana.” Alvin mendelik tidak terima mendengar ucapan sang istri.
“Enggak, dong. Aku baru kasih kabar cuma ke Mamah, Sayang.” Karena memang sejak kelahiran Ana, Alvin dan Nadia tidak pernah mengundang orang lain ke rumah sakit selain keluarga inti mereka. Jika kondisi Nadia stabil dan sudah diizinkan pulang, barulah mereka akan memberi kabar pada keluarga besar dan para sahabat.
“Ana, adiknya Ana ganteng sekali, ya?” tanya Lily yang melihat ekspresi Ana tampak datar di pelukan sang ayah, bahkan cenderung terlihat bingung.
“Tante, Rendra tidak ikut, ya?” Sedari tadi melihat kehadiran Bagas dan Lily, Ana heran karena tidak ada Rendra yang biasanya akan berada di gendongan sanga ayah.
“Kenapa Kakak mencari Rendra? Kakak kangen, ya?” ucap Alvin menggoda sang putri.
“Enggak ...,” sanggah Ana cepat dengan suara lantang, lantas menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher sang ayah. Entah kenapa ia merasa malu ketika mendengar kalimat penuh godaan dari sang ayah. Beruntung saja hal itu tidak membuat Arga kembali terbangun.
“Rendra sedang bersama kakek dan neneknya, Sayang. makanya tidak bisa ikut.” Bagas yang menjawab rasa penasaran Ana, membuat gadis kecil itu hanya membulatkan mulutnya membentuk huruf O.
“Daddy, Kakak mau dipangku Kakek,” pinta Ana yang langsung diangguki oleh Alvin. Mendengar hal itu, Darmawan langsung membuka tangannya untuk menerima Ana kembali di pangkuannya.
Usai menyerahkan sang putri pada sang ayah, Alvin kembali duduk di samping Nadia. Menyuapi sang istri dengan menu sarapannya yang sempat tertunda.
“Perasaan dulu tuh Kak Alvin dingin banget orangnya. Nggak nyangka bisa romantis juga ternyata,” celetuk Lily sambil menggamitkan tangannya pada lengan sang suami yang berdiri di sampingnya.
“Dingin apanya? Alvin dari dulu tuh aslinya bucin sama Nadia. Pura-pura doang dia,” timpal Bagas yang membuatnya mendapat pelototan dari sang sahabat. Sementara Lily dan Nadia sama-sama tertawa geli melihat interaksi para suami mereka.
“Ngomong-ngomong, siapa namanya, Nad?” Lily masih sibuk memainkan tangan mungil Arga yang terasa begitu lembut.
“Arga Briandi Syahrza, panggilannya Arga.” Alvin menjawab mantap.
“Perasaan anak lo dua-duanya pakai huruf A semua.” Bagas menanggapi jawaban sang sahabat.
“Karena nama gue Alvin,” jawab Alvin penuh percaya diri.
“Trus, namanya Nadia nggak lo cantumin?”
Dengan cepat Alvin menggeleng, “Mukanya udah punya Nadia semua.” Jawaban Alvin dengan nada masam itu membuat ke-empatnya terkekeh.
“Oh, ya. Sekalian aku mau kasih tahu kamu, Nad. Minggu depan, sahabat kamu ini aku bawa pindah ke Singapura. Jadi, ini juga kita sekalian pamit.” Mata Nadia seketika membola mendengar perkataan Bagas.
“Singapura? Pindah? Maksudnya, mau tinggal di sana?” tanya Nadia memperjelas. Sementara Alvin tidak menampakkan reaksi apapun sebab ia memang sudah mengetahui hal itu. Bagas sudah memberitahukan padanya beberapa minggu sebelumnya.
“Yah, kenapa pindah? Kok mendadak?” sambung Nadia dengan polosnya begitu mendapat anggukkan dari Bagas.
“Bukan mendadak, Sayang. Tapi Bagas dapet promosi pekerjaannya di sana,” beri tahu Alvin lembut.
Nadia menghela napas sejenak, “Ya ... sudahlah. Mau bagaimana lagi namanya juga tuntutan pekerjaan. Lagipula, aku tahu kok Lilipet nggak bisa jauh-jauh dari Kak Bagas.”
Kini giliran Lily yang membolakan matanya. Atas ucapan Nadia yang sangat menggoda dan juga panggilan yang sudah lama tidak didapatkannya itu. Sementara Bagas tampak mengulum senyum, merasa di atas awan.
Nadia menggenggam erat tangan Lily yang dibalas serupa oleh sang sahabat. Sangat wajar jika mereka merasa sedikit berat untuk berpisah jauh. Anggaplah ini lebay tetapi memang begitulah adanya. Tentu saja Karena Nadia dan Lily begitu dekat. Bersahabat erat sejak SMP kemudian tinggal 1 atap selama hampir 3 tahun saat sama-sama menempuh Master di Nevada. Ditambah, kedekatan yang semakin terjalin semenjak masing-masing telah menikah karena sang suami yang juga bersahabat.
Lily bergerak memeluk Nadia. Beruntung, Alvin yang mengerti segera membawa Arga ke dalam dekapannya.
“Sehat-sehat di sana, ya. Jangan lupa kasih kabar kalau adeknya Rendra lahir,” gurau Nadia yang berusaha menghalau rasa haru yang mulai menyelimuti perasaannya.
Setelah dirasa cukup sesi berpamitan itu, Bagas mengajak Lily untuk segera pulang. Selain karena hari sudah beranjak siang, Bagas dan Lily juga mengerti jika Nadia masih membutuhkan istirahat untuk pemulihan kondisi tubuhnya. Terlebih, ia nyaris belum tidur sama sekali semenjak melahirkan Arga ke muka bumi ini.
****