6. MANJA

1517 Kata
Pagi ini, rencananya Bagas dan Lily akan berkunjung ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungan Lily. Terakhir kali mereka melakukan check up sekitar 3 minggu yang lalu dan dokter menyarankan keduanya untuk kembali lagi hari ini. Itu semua dilakukan guna melihat kondisi Lily sebelum mendapatkan izin untuk naik pesawat terbang. Minggu depan adalah batas waktu terakhir yang didapatkan oleh Bagas sebagai toleransi kepindahannya ke Singapura. Meskipun awalnya merasa berat, tetapi pria itu juga menyadari jika ini merupakan kesempatan yang sangat bagus untuk perjalanan karirnya. Terlebih, ada sang istri yang begitu mendukungnya. Pasangan suami istri itu bermaksud mengajak sang putra untuk ikut serta ke rumah sakit. Namun semalam, orang tua Lily datang dari Bandung. Darius dan Selvina tidak ingin kehilangan momen terakhir untuk membersamai cucu mereka. Bukannya bermaksud terlalu dramatis, tetapi begitu sang menantu membawa putri serta cucu mereka ke Negeri Singa maka kesempatan untuk bertemu juga akan semakin sulit. Dalam artian, pertemuan secara fisik. Rendra sendiri tidak merasa keberatan sama sekali dan justru merasa sangat senang dapat menghabiskan banyak waktu bersama kakek dan neneknya. Mengingat, dia merupakan cucu pertama dan tentu saja kesayangan maka apapun permintaannya pasti akan dipenuhi. Berbeda saat bersama orang tuanya. Bukannya tidak dipenuhi, tetapi begitulah naluri seorang cucu yang begitu dekat dengan kakek neneknya. “Sepertinya untuk beberapa hari ini Rendra bakal dimonopoli sama orang tua kamu, Sayang.,” celetuk Bagas sesaat setelah merapikan rambut istrinya untuk dikuncir kuda. “Aku cuma khawatir nanti pas Rendra pulang, mainannya makin banyak. Pasti dia bakal kekeuh buat bawa itu semua ke Singapura,” balas Lily setelah meredakan tawa gelinya atas ucapan sang suami. “Ya sudah, nanti di apartemen kita siapin 1 kamar khusus mainannya dia.” Mata Lily membola menatap sang suami dari cermin. “Kamu ini ... bukannya di stop malah mau dibikinin kamar khusus. Makin banyak nanti mainan dia, main mulu.” Bagas tersenyum mengulum, mencubit pipi Lily yang mulai sedikit berisi, “Biarlah, Sayang. Rendra ‘kan emang lagi di usia yang tinggi rasa penasarannya. Apalagi dia juga aktif banget. Buat mengasah imajinasi dia supaya pas udah sekolah nggak terlalu bingung mau jadi apa besarnya nanti.” “Tapi dia masih terlalu kecil, Mas. Aku nggak rela anakku cepat besar.” Bagas kembali tersenyum. Jika Lily sudah memanggilnya dengan embel-embel ‘Mas’, itu artinya istrinya akan bersikap sangat manja. “Masa kecil Rendra nggak akan bertahan lama. Mau tidak mau kita juga harus mulai mempersiapkan dia dari sekarang. Siapa tahu cita-cita dan masa depannya mulai terbentuk kalau dia sudah mengasah keinginannya mulai sekarang. Tapi tetap aja kita harus kasih dia batasan,” jelasnya sambil menyolek dagu sang istri yang tampak merenungi ucapannya. “Ya sudah, soal itu kita pikirin nanti. Now, we’re going to the hospital.” Bagas meraih tangan Lily, menggandengnya dengan jemari bertaut. Perasaan Lily terasa begitu menghangat. Pernikahan mereka yang dulunya terkesan hanya sebagai pelarian atas pertanyaan ‘kapan nikah?’, kini menjadi salah satu hal yang paling ia syukuri sepanjang hidupnya. Lily masih mengingat betul bagaimana awal rumah tangga mereka berjalan. Banyak sekali perdebatan dan percekcokan yang bahkan sebetulnya tidak perlu sama sekali. Mungkin karena keduanya masih sama-sama baru mengenal, jadilah mereka membutuhkan proses adaptasi yang berbeda dari orang lain. Bisa dibilang, keduanya juga cenderung acuh satu sama lain. Namun sejak kehamilannya akan Rendra, Bagas seolah berubah menjadi suami yang sangat penyayang dan tentu saja protektif. Sesuai apa yang sudah diduga sebelumnya, mereka tentu saja tidak mendapati keberadaan sang putra di seluruh penjuru rumah. Sudah pasti Darius dan Selvina mengajak Rendra pergi entah ke mana. Mungkin saja ke pusat perbelanjaan. Sebenarnya bukan hanya orang tua Lily yang sangat memanjakan Rendra, Abraham dan Ajeng, orang tua Bagas juga akan sangat memanjakan mereka. Hanya saja keduanya tinggal di kota Malang yang membuat waktu mereka untuk bertemu Rendra menjadi sangat jarang. **** “Mommy ....” Teriakan histeris Ana terdengar menggema di seluruh penjuru rumah. Gadis kecil itu kini sudah berdiri di puncak tangga. Sesuai dugaan Alvin, Ana tentu saja histeris ketika tidak mendapati keberadaan kedua orang tuanya. Sejak ia membuka mata beberapa menit yang lalu, Ana sudah menaruh rasa curiga karena sang ibu tidak membangunkannya. Begitu memasuki kamar kedua orang tuanya, Ana menjadi semakin panik karena tidak melihat tanda-tanda kedua malaikatnya itu ada di dalam kamar. “Daddy ...,” teriak Ana lagi sebab tidak ada seorang-pun yang menjawab teriakannya yang sebelumnya. Tangan mungilnya bergerak mengusap matanya yang mulai memerah dengan air mata yang mulai menggenang. Darmawan yang mendengar teriakan menggema dari sang cucu, buru-buru menaiki anak tangga sambil sedikit berlari. Beruntung saja tadi ia memang sedang berjalan untuk membangunkan Ana, bukan masih di kamar atau melakukan aktivitasnya yang lain. “Selamat pagi, Princess,” sapa Darmawan saat Ana menghambur dalam pelukannya. “Kakek, Daddy sama Mommy-nya Ana di mana? Kenapa Ana ditinggal?” buru Ana dengan suara terisak menahan tangis. “Ssshh ... sshh.” Darmawan mengusap lembut punggung Ana yang terasa bergetar. Jika boleh, ingin rasanya ia menjahili sang cucu, seperti yang selalau ia lakukan, tetapi urung dilakukannya mengingat Kartika pasti akan murka padanya jika sampai ia membuat Ana lebih menangis lagi. “Daddy lagi menemani Mommy di rumah sakit, Kak.” Ana seketika menghentikan isakannya mendengar ucapan sang kakek, “Di rumah sakit? Adiknya Ana sudah lahir, Kakek?” tanyanya dengan wajah penasaran namun sorot matanya tampak berbinar. Darmawan mengangguk pelan dan hal itu membuat Ana seketika bersorak kegirangan sambil bertepuk tangan. Kartika yang sedang menyiapkan sarapan di meja makan bahkan sampai terbengong mendengar teriakan cucu kesayangannya yang seketika berubah menjadi sorakan gembira itu. “Kakek, ayo susul Mommy ke rumah sakit. Ana mau ketemu Mommy sama Adek,” rengek Ana sambil kembali mengalungkan tangannya pada leher Darmawan. “Loh, mau bertemu sama Mommy dan Adek saja? Tidak mau bertemu sama Daddy?” tanya Darmawan menggoda Ana, spontan gadis kecil itu menepuk dahinya dengan telapak tangannya yang mungil. “Oh, iya. Sama Daddy juga, deh,” sahutnya sambil terkikik hingga menampilkan gigi kelincinya. “Kakak mau dimandikan Kakek atau Nenek?” tawar Darmawan saat Ana meminta turun dari gendongannya. Dengan cepat Ana menggeleng, sambil melangkah kembali menuju ke kamarnya Ana menjawab dengan penuh keyakinan. “Kakak mandi sendiri saja, Kek. Ana ‘kan sudah besar.” Darmawan tersenyum simpul. Ana memang cerminan dari kedua putra putrinya. Ia tahu Alvin dan Nadia tidak pernah memaksakan Ana untuk menjadi dewasa lebih cepat. Namun semua itu merupakan dorongan alamiahnya sendiri. Ana sudah rapi dengan mengenakan pakaian yang sudah tersedia di atas sofa. Gadis cilik itu tersenyum senang karena itu merupakan pakaian kesukaannya. Setelahnya, dengan riang Ana keluar dari kamar dan perlahan menuruni satu per satu anak tangga. Disambut oleh sang nenek yang sudah memegang sisir, bersiap untuk merapikan rambutnya. Usai mandi dan sarapan, pasangan suami istri itu bersama sang cucu kini sedang dalam perjalanan menuju ke rumah sakit. darmawan memilih mengendarai sendiri mobilnya tanpa sang sopir sebab semalam juru kemudinya itu baru sampai di rumah menjelang dini hari, terlebih ini merupakan akhir pekan. Jadi hari ini sang sopir memiliki hak sepenuhnya untuk beristirahat. Darmawan tidak ingin mengeksploitasi tenaga orang-orang yang bekerja padanya. Sepanjang perjalanan, mobil sedan itu dipenuhi oleh suasana menyenangkan. Tentu saja hal itu tidak lepas dari celotehan Ana yang bahkan belum berhenti sejak mereka menikmati sarapan di meja makan. Darmawan bahkan harus menahan tawa melihat sang istri yang sudah mulai kerepotan dalam menjawab dan menanggapi berbagai macam kalimat yang meluncur dari mulut mungil Ana. “Nenek, adiknya Ana sekarang lagi ngapain ya? Kok belum diajak pulang sih sama Daddy? Memangnya Mommy sampai kapan harus tidur di rumah sakit?” cecar Ana sambil tak henti menikmati alpukat potong dalam wadah di pangkuannya. Alpukat adalah salah satu buah yang menjadi kegilaan Ana. “Mungkin adiknya Ana sekarang lagi tidur. Nanti kalau kondisinya Mommy sama adiknya Ana sudah sehat, pasti diajak pulang, Kak,” jawab Kartika sembari mengulurkan tisu untuk mengusap bibir Ana yang sedikit belepotan. “Loh, memangnya sekarang Mommy sama Adik lagi nggak sehat ya, Nek? Iya, Kakek?” Bibir Darmawan terasa berkedut mendengar Ana yang sama sekali belum mau berhenti menyuarakan apa yang ada dalam benaknya. “Bukan begitu, Sayang. Tapi setiap bayi yang baru lahir harus di periksa dulu oleh dokter selama beberapa saat. Supaya kalau adik dan Mommy-nya Ana merasa sakit, dokter bisa langsung mengobati,” jelas Darmawan, berusaha menyampaikan dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh cucunya itu. “Lalu dulu, apa Ana juga tidur di rumah sakit? Lama tidak Ana dan Mommy di rumah sakit dulu? Kakek, Nenek?” Darmawan dan Kartika kompak mengangguk. “Ana dulu tidur di rumah sakit selama 3 hari, Sayang,” sahut Kartika lembut. “Hah? 3 hari?” Ana mengurungkan niatnya untuk kembali menyuapkan potongan buah ke dalam mulutnya. “Jadi Mommy sama Adek juga akan tidur di rumah sakit selama 3 hari, Nenek? Bersama Daddy? Lalu siapa yang menemani Kakak? Kakak mau ikut tidur di rumah sakit saja,” argumen Ana yang mampu membuat kakek dan neneknya hanya bisa menggeleng pelan sambil mengulum senyum. Perjalanan menuju rumah sakit yang masih harus menghabiskan waktu selama beberapa menit itu kembali dihiasi dengan berbagai macam pertanyaan Ana mengenai apa yang ia lihat di sepanjang jalan. **** 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN