Mobil berhenti mendadak. Rizal, di bangku belakang, tersentak, tetapi untungnya terhindar dari benturan keras.
"Ada apa?" tanyanya.
"Maaf, Tuan. Kecelakaan di depan. Jalanan macet," jawab supirnya. "Kita hampir terlambat, Tuan."
Rizal melihat ke luar. Hari sudah hampir gelap, dan ia belum sampai tujuan.
"Bagaimana kalau kita balik dan ke rumah Tuan Pratama saja? Sudah mulai gelap," usul supirnya.
Rizal memegangi kepalanya. Ia sudah lelah dan bingung.
"Tapi, apakah Paman Dzaka bisa menunggu?" tanyanya.
Supir mengangguk. "Tuan memang meminta saya tak memaksa. Kita bisa datang besok pagi."
Rizal setuju. Ia juga lelah. Supir pun memutar mobil.
"Saya akan mengambil jalan alternatif, Tuan. Macetnya parah. Kalau kita tetap di sini, akan terjebak," kata supir.
Mobil memasuki kawasan pemukiman. Rizal berharap bisa cepat sampai ke rumah Paman Dzaka—atau lebih tepatnya, kejutan untuk Paman Dzaka yang tak tahu kedatangannya. Pulang setelah dua puluh dua tahun, hanya Dzaki yang tahu. Ada alasan penting yang membawanya kembali, dan ini momen yang sangat ia nantikan.
Hampir sampai, supir berhenti lagi.
"Tuan, itu Paman Dzaka."
Rizal melihat Paman Dzaka bersitegang dengan seseorang di pinggir jalan.
"Periksa apa yang terjadi," perintah Rizal.
Walau lama di luar negeri, Rizal tak melupakan wajah keluarganya. Nyonya Nana selalu memberinya kabar. Meski tak pernah video call, ia bisa mengenali keluarganya.
Rizal memakai kembali masker dan topinya. Ia ingin tetap menyamarkan identitasnya sampai acara besok.
Bruukk!
Rizal tersentak. Supirnya dipukul hingga jatuh. Lebih dari enam orang menyerang supirnya. Ajudan Arthur tak ada bersamanya, jadi Paman Dzaka harus menghadapi mereka sendiri.
Rizal turun, mengenakan jaket tebal untuk menyamarkan diri.
Buuaakk! Brruukkkk!
Seseorang terpelanting. Rizal bergerak cepat, lincah dan kuat. Ia melumpuhkan para penyerang satu per satu dengan gerakan yang terlatih dan mematikan. Salah satu penyerang bahkan tewas karena sayatan di leher.
Melihat kemampuan Rizal, para penyerang lainnya kabur.
Paman Dzaka mendekati Rizal, terkesan dengan kemampuan bertarungnya yang mengingatkannya pada seseorang.
"Nak, terima kasih," kata Paman Dzaka.
Melihat mata biru Rizal, Paman Dzaka tersentak.
"Kau…"
Paman Dzaka langsung mengerti. Ia mengajak Rizal masuk ke mobil. Supirnya membantu supir Rizal yang terluka.
Di dalam mobil, Rizal melepas topi dan maskernya.
"Kau benar-benar mirip dengannya," kata Paman Dzaka.
"Paman…"
Paman Dzaka tersenyum, mengusap wajah Rizal dengan penuh rindu.
"Bagaimana kabarmu? Kenapa kau kembali tanpa memberi tahu, Rizal?" tanya Paman Dzaka, suaranya bergetar.
Rizal memeluk Paman Dzaka erat. Ia merasakan kerinduan yang mendalam. Dari Rizal, Paman Dzaka mencium aroma kakak Rizal yang telah tiada.
"Wajahmu mirip sekali dengan kakekmu. Nyonya Titah akan sangat bahagia melihatmu kembali," kata Paman Dzaka.
Rizal mengangguk. Ia tahu siapa yang dimaksud Paman Dzaka.
....
"Hiks… Kau benar-benar Rizal? Cucuku?" Nyonya Titah histeris melihat Rizal. Wajah yang dirindukannya selama ini kembali di hadapannya. Tuan Daffa juga gembira, berharap kesehatan istrinya membaik dengan kepulangan Rizal.
"Kakek, Paman Dzaki…"
"Kakek sudah tahu, Paman Dzaki sudah memberi tahu."
Rizal mengangguk, bahagia bisa berkumpul kembali dengan keluarganya.
"Nenek harus istirahat. Rizal mau membersihkan badan."
"Baiklah sayang, kau pasti lelah."
Diperlakukan dengan lembut, Rizal merasa kembali ke kehidupan aslinya. Nyonya Titah sangat menyayanginya. Dalam hati, Rizal berjanji akan mengembalikan senyum keluarganya.
"Kak…" Azzam muncul.
"Kau, Zam?"
"Yes, of course."
Rizal menepuk pundak Azzam.
"Kak, kau mirip Tuan Arjun muda, tampan…"
"Benarkah?"
"Ya, Nenek selalu bilang begitu. Wajahmu mengingatkan pada Tuan Rifki, tapi sangat mirip Tuan Arjun. Dan perangai… mirip Tuan Buaya Besar itu!"
Plakk! Azzam meringis, kepalanya dipukul Nyonya Amanda.
"Jangan bicara sembarangan! Siapa yang kau maksud Buaya Besar?" bentak Nyonya Amanda.
"Mas Rizal, dia seperti Buaya Besar."
Rizal berpikir: tadi dia memanggilku Kakak, sekarang Mas?
Nyonya Amanda melotot. Azzam melindungi kepalanya.
"Ampun, Ma, ampun!"
"Tahu takut? Dasar!"
Ekspresi Nyonya Amanda berubah saat menatap Rizal. Wajahnya selembut ibu peri. Ia membelai wajah Rizal.
"Matamu benar-benar milik Gen Saputra, sayang."
Rizal mencium punggung tangan Nyonya Amanda, lalu memeluknya.
"Tante, semoga sehat selalu," lirih Rizal.
"Azzam, kau harus membantu kakakmu mulai sekarang," kata Tuan Dzaka, bergabung dalam reuni keluarga.
"Haa?"
"Apa? Jangan melotot begitu."
"Membantu Mas Rizal? Yang benar saja, Pa."
"Ck, anak ini memang!"
"Bukan begitu, Pa. Azzam takut menyusahkan Mas Rizal."
"Kau hanya perlu mengikutinya, belajar darinya. Lihat bagaimana dia menyelesaikan tugas dengan baik, bahkan proyek fantastis itu."
"Tapi, Pa…"
Azzam terdiam, mengangguk setuju setelah Nyonya Amanda menatapnya.
"Baiklah… Azzam akan mengikuti Mas Rizal ke mana pun. Iya kan, Mas?"
Azzam berdiri di samping Rizal, menghindari tatapan ibunya.
"Baiklah, kau bisa ikut."
Rizal ingin bicara empat mata dengan Tuan Dzaka. Tuan Dzaka meminta Nyonya Amanda untuk pergi.
Rizal meraih lengan Tuan Dzaka. Ia memberikan sesuatu ke tangan pamannya.
"Rizal tahu Paman ahli menyelidiki. Karena suatu hal, Paman tak bisa menyelidiki kejadian itu lagi, kan?"
Tuan Dzaka berdesir darahnya. Selama dua puluh dua tahun, ia kesulitan menyelidiki kasus itu karena minim bukti.
"Apa ini, Nak?" tanya Tuan Dzaka, melihat kepingan benda yang diberikan Rizal.
"Paman, mungkin dengan ini Paman bisa menemukan dalangnya. Kepingan ini… adalah hal terakhir yang Rizal ingat."
Tangan Tuan Dzaka bergetar. Ia menemukan secercah harapan.
Rizal membisikkan sesuatu ke telinga Tuan Dzaka.
"Paman, Papa belum mati."
"A-apa?"
"Kau sadar dengan ucapanmu ini, Nak?"
Rizal mengangguk, berjalan ke balkon lantai dua. Tuan Dzaka mengikutinya, berdiri di samping Rizal yang menatap bulan purnama pasca hujan.
"Paman, waktu kecil Mama selalu bilang, kalau suatu saat Mama tak ada, tataplah bulan saat rindu."
Tuan Dzaka mendongak.
"Kau merindukan Mamamu?"
Rizal mengangguk. "Mama bilang, aku punya wajah Tuan Arjun. Gen Saputra kuat dalam darahku. Mata biru yang indah, kecerdasan otak. Tapi, Paman tahu, apa yang paling kubenci dari Gen Saputra ini?"
"Apa itu, Nak?"
Rizal menggulung lengan kemeja, memperlihatkan bekas luka bakar pada Tuan Dzaka.
"Paman, ini luka yang diberikan Papa."
Tuan Dzaka terkejut. "Tapi, Nak, bagaimana bisa? Aku sudah menyelidiki orang dalam peti mati Tuan Rizky."
"Paman percaya karena liontin berbentuk hati itu?"
Tuan Dzaka tersentak. "Bagaimana kau tahu?"
"Apakah Paman pernah menyelidiki keaslian kalung itu?"
Tuan Dzaka mengangguk. "Aku bahkan menyimpannya untukmu."
"Kalau begitu, aku tak membutuhkannya, Paman. Itu memang buatan keluarga kita, tapi bukan kalung Papaku."
"Rizal, sebenarnya apa yang kau ketahui?"
Rizal menatap bulan, matanya intens.
"Yang Paman simpan itu milik adikku yang belum lahir. Kalung Papaku bertuliskan 'Rakta'."
"Rakta artinya merah, darah. Darah dalam ukiran itu berarti darah dalam tubuh kita tak akan mudah hilang."
Tuan Dzaka bingung. Jika Tuan Rizky masih hidup, di mana dia selama ini?
"Paman, saat kuziarah, kubawa satu buket bunga. Makam di samping Mamaku kubiarkan kosong. Karena itu bukan makam Papa. Rizky Saputra masih hidup, Paman."
Tuan Dzaka menepuk punggung Rizal, suaranya bergetar menahan emosi.
"Ceritakan penglihatanmu saat kejadian itu. Semoga itu membantu Paman menemukan sesuatu."
Rizal terdiam, menatap langit. Wajahnya yang tegas berubah sendu saat ia menggali kembali memori yang sengaja ia pendam.
"Aku tak sepenuhnya ingat, Paman. Kejadian itu terjadi saat aku tertidur."
Drap… drap… drap…
Rizky menepuk-nepuk pipi Rizal yang tertidur pulas, panik.
"Rizal, bangun sayang."
Puk… puk…
"Rizal… Rizal…"
Mata Rizal (8 tahun) terbuka. Ia menggeliat. Rizky menariknya.
"Papa… kenapa banyak asap?"
Uhuk… uhuk… uhuk…
Asap memenuhi ruangan, Rizal sesak napas.
"Ssssttt…" Rizky meminta Rizal diam. Ia menutup kepala Rizal dengan handuk basah, lalu menggendongnya dan pergi.
Grep! Seseorang menarik Rizky.
"Pa…"
Itu Satria, ayah mertua Rizky.
"Tasya…"
Rizky mengerti. Ia meminta Satria membawa Tasya pergi.
Rumah keluarga Saputra kacau. Banyak anggota keluarga yang tewas.
"Cepat!"
Rizky mempercepat langkah, Satria menarik tuas untuk membuka jalan rahasia.
Greeettt… Jalan rahasia terbuka. Rizky membawa Rizal menuju jalan itu. Tasya sudah menunggu.
Sreeettt!
"Aarrghh!" Rizky mengerang, punggungnya terkena senjata tajam musuh. Mereka ketahuan!
Rizky memberikan Rizal pada Tasya. Satria melawan musuh sendirian.
"Bawa anak kita pergi! Di ujung jalan ini, ada yang menunggu!" perintah Rizky.
"Tidak! Mereka banyak, kita sedikit!"
"Cepat pergi, Cha! Kalian harus selamat!"
Tasya menolak, perutnya yang besar menarik-narik Rizky. "Kau harus ikut!"
"Papa terjebak! Aku harus menyelamatkannya!"
Tasya bimbang. Rizky mendekati Rizal.
"Nak, bawa ini," kata Rizky, memberikan kepingan benda pada Rizal.
"Apa ini, Pa?"
"Berikan pada Paman Dzaka. Dia akan tahu."
"Tapi, Pa…"
Rizky memeluk Rizal. "Papa akan mengajakmu bermain setelah ini."
Rizal mengangguk, menyimpan benda itu.
"Jaga Mama," kata Rizky.
Ayah dan anak itu saling menatap. Rizky berlari meninggalkan Tasya dan Rizal yang menjerit.
"Ma, kita harus pergi!"
Rizal menarik lengan Ibunya, menangis karena Tasya menolak.
"Rizky! Rizky!"
Duuaaarrr! Ledakan terjadi. Asap hitam membatasi jarak pandang.
"Rizky…"
Tasya memastikan Rizal tak terluka. Kakinya sendiri terluka.
"Sayang, cepat pergi! Merangkaklah keluar melalui lubang itu. Jalan rahasia sudah hancur!"
"Tapi, Ma… Mama bagaimana?"
Rizal menolak.
Sreeettt!
"Aaaaa…" Rizal menjerit, Tasya menggores lengannya dengan batu tajam yang panas. Luka bakar dan goresan terasa menyakitkan.
Tasya mengusap darah, mengoleskannya ke kepala Rizal.
"Sayang, luka ini akan mengingatkanmu tentang Mama. Tentang kejadian ini. Sekarang pergi, Mama sudah membawa darahmu. Mama akan menahan mereka. Rizal harus hidup."
"Ma… tapi…"
Tasya panik, ada orang berlari ke arah mereka. Ia mendorong Rizal ke reruntuhan jalan rahasia. Rizal pingsan karena terbentur. Tasya menutupi Rizal dengan puing-puing.
…"Setelah itu semuanya gelap, Paman. Itu terakhir kali kulihat Mama hidup."
"Mengapa kau yakin Papamu masih hidup?"
"…'Ma… Mama… Mama di mana?'" Uhuk… uhuk… uhuk… Asap hitam membuat Rizal sesak napas. Hanya kepalanya yang tak tertimbun.
Rizal susah payah keluar. Ia tak melihat siapa pun. Itu lantai tiga, semuanya terbakar.
"Argh!" Rizal mengerang kesakitan.
"Siapa itu!" Suara pria dewasa.
Rizal membuka penutup lubang angin, terjun ke bawah melalui pipa.
Bruuukkk!! Kakinya patah. Ia menahan sakit, merayap mengikuti pipa. Cahaya di luar adalah jalan keluar.
Berdarah-darah, Rizal mencapai cahaya.
"Paman, orang pertama yang kulihat adalah Papa."
"Lalu? Apa yang terjadi?"
"Papa terluka parah. Kakek Satria menarik-narik tubuh Papa."
"Jadi? Kau yakin Papa masih hidup?"
"Kakek melindungi Papa. Menyeret Papa yang terluka parah."
"Papa tak mati, Paman. Kakek menyelamatkannya."
"Tapi, aku bisa memastikan Ajudan Satria gugur, Nak."
"Ya, Kakek mati untuk Papa."
"Lalu, siapa orang dalam peti mati itu?"
Rizal menggeleng.
"Aku pingsan karena kelelahan dan luka. Tapi…"
"Tapi apa, Nak?"
"Sebelum mataku menutup, kulihat seseorang membawa tubuh Papa pergi."
"Siapa?"
Rizal menggeleng. "Orang itu pernah bekerja di rumah."