Kembalinya Sang Pewaris

1552 Kata
"Bagaimana, Tuan? Bukankah Anda yang menciptakan proyek sebrilian itu? Lalu, mengapa Anda tidak menjelaskan secara lebih detail bagaimana Anda merumuskan dan mewujudkan ide tersebut?" Kerumunan wartawan memenuhi kantor cabang perusahaan Saputra, yang kini difungsikan sebagai kantor utama karena kantor pusat sedang direnovasi. Proyek besar yang menghebohkan dunia bisnis ini menimbulkan banyak pertanyaan. Ide luar biasa yang tak terpikirkan oleh siapa pun itu, beberapa bulan lalu, mendadak membuat perusahaan Saputra yang dipimpin Tuan Dzaka Pratama mengguncang dunia, mengacaukan pasar, dan menarik kembali konsumen dengan margin keuntungan lebih dari 1000% di bulan keempat. Tuan Dzaka tersenyum, menatap wartawan dan para kompetitor yang hadir karena penasaran dengan ide di balik kebangkitan perusahaan yang sempat mati suri itu. Para kompetitor yang tengah kesulitan tentu ingin tahu sosok di balik proyek tersebut. "Terima kasih atas kehadiran Anda semua. Mohon maaf atas ketidaknyamanan tempat ini. Kantor pusat sedang direnovasi. Tentang proyek ini, kami ingin menjelaskan sebaik mungkin. Namun, yang perlu Anda ketahui, saya bukanlah otak di balik proyek fantastis ini." "Haaaa...." Semua tercengang. Wartawan semakin antusias merekam. Jika bukan Tuan Dzaka, apakah Tuan Dzaki? Tuan Daffa telah pensiun karena usia. "Apakah itu Tuan Dzaki?" tanya seorang wartawan. Tuan Dzaka tersenyum, mengambil gelas air, dan mengangkatnya. Ia berdiri, mengangkat gelas lebih tinggi. "Saya bersulang untuk Anda semua. Terima kasih karena Anda masih mengakui keberadaan kami. Perusahaan Saputra yang telah berdiri ratusan tahun tak akan mudah mati." Tuan Dzaka menghabiskan air dalam gelasnya. Ini momen untuk mengingatkan para kompetitor bahwa perusahaan Saputra telah menunjukkan taringnya kembali. "Oh ya, satu hal lagi. PERUSAHAAN KELUARGA SAPUTRA TAK AKAN PERNAH MATI SELAMA GARIS KETURUNANNYA MASIH ADA." Hening. Pernyataan Tuan Dzaka membuat semua orang terdiam. "Tuan, garis keturunan Saputra? Bukankah mereka semua telah meninggal?" tanya seorang tamu, bingung. "Benarkah Anda percaya rumor itu? Bahwa keluarga besar Saputra akan mudah musnah? Lihatlah sekarang. Dengan kerugian yang Anda alami, belumkah Anda menyadari sesuatu?" Deg… Deg… Deg… "Tuan, sepertinya Anda ingin menyampaikan sesuatu yang penting. Mohon jelaskan." Tuan Dzaka menyeringai, berjalan ke depan meja konferensi pers, menatap tajam setiap orang. "Perusahaan Saputra milik mereka yang memiliki darah Saputra, bukan Dzaka atau Dzaki. Kami bersaudara kembar, memiliki darah Saputra, tetapi perusahaan ini murni milik dia yang memiliki darah Saputra." Tuan Dzaka menunjuk ke depan. "Sekarang, mari kita sambut dia, PEMILIK DARAH SAPUTRA yang telah membuat Anda menunggu lama." Hening yang menegangkan. Semua mata tertuju ke pintu. Sebuah mobil berhenti di depan aula. Tuan Dzaki muncul, gagah. Namun, di belakangnya… Ckrek… Ckrek… Ckrek… Kilatan kamera memenuhi ruangan. Semua penasaran dengan pemuda tampan di samping Tuan Dzaki, mengenakan setelan jas hitam elegan. Dengan langkah tegap dan wajah tanpa ekspresi, pemuda itu berjalan bak bintang utama. "Mari kita sambut RIZAL YASA SAPUTRA!" Haaaaa? Banyak yang ternganga. Nama yang seharusnya sudah hilang dari ingatan. Mata biru itu? Hanya keturunan murni Saputra yang memilikinya. Pemuda itu sangat mirip dengan mendiang Tuan Arjun Saputra. Tinggi Rizal 195 cm, seputih Tuan Rifki, dan kecerdasannya seperti Tuan Arjun Saputra. Rizal mengambil mikrofon dari Tuan Dzaka, menatap semua orang. "Saya harap Anda semua sehat. Saya, Rizal Yasa Saputra, menyapa Anda semua dalam keadaan hidup dan sehat. Jangan terkejut, ini bukan hal yang mengejutkan. Bukankah keluarga kami selalu penuh kejutan? Gen keluarga Saputra mengalir dalam darah saya. Saya senang bisa menyapa Anda semua, termasuk yang menyaksikan dari layar kaca. Apa kabar? Baik-baik saja?" Rizal mengembalikan mikrofon, duduk di samping Tuan Dzaki. "Kau hebat, Nak," bisik Tuan Dzaki. Rizal tersenyum singkat, matanya mengamati orang-orang di sekitarnya. Dia telah kembali sebagai Rizal Yasa Saputra, yang dianggap telah tiada. Siapa yang dicarinya? Matanya terus berkeliling. ---- Braaakkk!! "Aduh! Kau ini apa-apaan? Tidak lihat orang sebesar ini sampai ditabrak begini!" "Ouh, maaf-maaf. Ceroboh sekali!" "Sudah-sudah, biarkan saja. Ambil saja makanan yang baru. Itu sudah kotor." "Tapi…" "Sudah, cepat! Ini sudah waktunya minum obat." "Baiklah." Ia menyesal lagi-lagi menumpahkan makanan berharga itu. Bagaimana tidak berharga? Di dalamnya ada obat herbal mahal. Semua tumpah ke lantai. "Ah, gawat! Sudah terlambat." Drap… Drap… Drap… Cklek…. "Maaf, lagi-lagi aku menumpahkan makananmu." "Sedang menonton apa? Sepertinya serius sekali?" Wanita itu ikut melihat tayangan televisi. Berita yang viral sejak kemarin. "Kau sepertinya tertarik sekali. Hmm, Tuan Muda itu tampan." "Eh, tapi… Ternyata dia juga bermata biru sepertimu." Mata biru yang sama. Di layar televisi kecil di sebuah ruangan sempit di panti sosial sebuah kota kecil, seorang pria paruh baya meneteskan air mata. Perawatnya heran. "Apa kau mengenal pria muda itu?" SATU BULAN KEMUDIAN Hujan deras mengguyur pagi itu. Kantor pusat, yang baru saja selesai direnovasi, beroperasi normal. Meskipun aktivitas karyawan tetap berjalan selama renovasi, hari ini menandai hari pertama Rizal bekerja di perusahaan keluarga. Tidak ada sambutan khusus; Rizal sendiri telah melarangnya. Kehadiran atau ketidakhadirannya seakan tak berpengaruh pada rutinitas kantor. Faktanya, Rizal telah tiba sejak pagi buta, jauh sebelum karyawan lain. Ketidaksabarannya untuk menduduki kursi CEO—impian sejak kecil—telah mendorongnya datang lebih awal. Rizal, generasi keempat keluarga Saputra, mengikuti jejak leluhurnya: Tuan Besar Saputra, Rizky Putra Saputra, Rifki Putra Saputra. Kursi CEO itu sarat sejarah, penuh keringat dan kerja keras para pendahulunya. "Paman bisa kembali kepada Paman Dzaka. Dia lebih membutuhkan Paman," kata Rizal kepada Arthur, ajudannya. Meskipun menganggap Arthur seperti ayah, Rizal tetap memanggilnya "Paman," berbeda dengan Nyonya Nana yang ia panggil "Ibu." "Tapi kewajibanku mendampingimu," jawab Arthur. Rizal tersenyum, tatapannya sendu. "Paman, saat aku tiba di negara ini, aku melihat Paman Dzaka kesulitan melawan lebih dari dua orang. Aku sudah dewasa dan bisa menjaga diri sendiri. Nanti, aku akan mencari ajudan yang setangguh Paman. Kembalilah kepada Paman Dzaka. Bukankah itu janji profesional Paman?" Arthur terdiam. Seminggu setelah kembali, ia belum banyak berbincang dengan majikannya. Rizal mengerti isi hatinya. Arthur adalah milik Tuan Dzaka. "Pergilah, Paman. Jika membutuhkan bantuan, aku akan memanggilmu." Kata-kata Rizal akhirnya menggerakkan Arthur. Ia rindu mengabdi kepada sahabat sekaligus majikannya. Dengan pelukan perpisahan, Arthur pergi menemui Tuan Dzaka. Rizal termenung di balik jendela ruangannya, memandang gedung pencakar langit. "Aku telah mencapai ruangan ini, pah. Di mana papa sekarang? Aku sudah banyak mencari, tapi papa tak ada di mana pun. Papa masih hidup, kan? Papa berjanji akan mengajakku bermain. Sekarang, aku tak menginginkan itu lagi. Aku hanya ingin papa ada di sini," gumam Rizal, sedih. Keberadaan ayahnya, Tuan Rizky, yang tak diketahui, membuatnya khawatir. Sejak kembali, ia tak pernah berhenti mencari. Ia percaya Tuan Rizky masih hidup, menunggunya. ---- Hujan semakin deras, membasahi karyawan yang menggunakan sepeda motor. "Ck, kerja pakai motor, hujan lagi. Sebal!" gerutu seorang wanita muda, mengusap tubuhnya dengan tisu. Sebuah pasangan kekasih, Garen dan Lana, masuk dengan riang, mengenakan jas hujan merah motif hati. "Duh, Adindaku basah. Kasihan," kata Garen. "Nanti kalau aku sakit, bagaimana?" tanya Lana. "Jangan! Siapa yang akan menyemangatiku kalau kamu sakit?" "Sayang..." "Nanti kuberi obat. Kalau pusing, kabari aku." "Iya, sayang." Wanita muda yang sebelumnya mengeluh tampak kesal melihat kemesraan mereka. "Apa! Panggil-panggil 'Adinda'! Jas hujan jamet! Sakit mata!" "Dih, siapa yang memanggilmu? Aku memanggil Adinda, bukan Tasya Adinda!" "Tetap saja! Nanti dikira kamu ngefans sama aku!" "Heh, Tasya Adinda! Siapa yang mau ngefans sama cewek galak, ceroboh, dan suka ngegas? Cowok mana yang mau dekat!" "Garen!" Seorang rekan kerja melerai mereka. Garen dan Tasya, selalu bertengkar, bahkan memperebutkan perhatian Lana, teman mereka. "Sudah! Ini kantor, bukan ring tinju! Berhenti memperebutkan Lana!" Tasya Adinda, 22 tahun, magang di perusahaan Saputra sejak SMA. Dari admin kecil, ia menjadi staff marketing andal. Trik marketingnya membawa proyek Saputra ke pasar internasional. Meskipun belum lulus kuliah, ia mampu bersaing dengan seniornya dan akan diangkat menjadi karyawan tetap akhir tahun ini. Lana menarik Tasya. "Daripada berdebat di sini, lebih baik berdebat dengan Miss Erine." Tasya berhenti. "Kenapa aku harus berdebat dengannya?" "Wakili kita semua, Sya." "Mengapa? Pekerjaanku baik-baik saja." "Tasya cantik, bukan kamu. Tapi kami! Dia menindas kami lagi!" "Dia mana berani menindasmu? Yang ada malah digertak Pak Jonathan." "Jangan bawa-bawa dia!" Lana terkekeh melihat Tasya salah tingkah. Tasya memang risih. "Aku ke toilet sebentar," kata Tasya, lalu pergi setelah absen. Di toilet, Tasya merapikan penampilannya. Bekerja di perusahaan besar seperti Saputra menuntut penampilan profesional, terutama di departemen yang sering bertemu klien. Ia merias wajahnya sederhana, cukup untuk membuatnya percaya diri. "Ck, berapa pun lapisan make up, tetap saja wajahmu jelek," sindir seseorang. Tasya menoleh. Miss Erine berdiri di belakangnya, dengan ekspresi tidak suka. Perseteruan mereka terkenal Erine mencintai Jonathan, Jonathan mencintai Tasya. Erine adalah atasan Tasya, dan bawahan Jonathan. "Cih, kunti pohon belimbing hulu," kata Tasya. "Kutu busuk!" balas Erine. "Berhias pun, Jonathan tetap menyukaiku. Mau tahu kekuranganmu? Wajahmu banyak milia hitam, jerawat batu. Make up tebal malah membuatmu terlihat lebih tua lima tahun." Erine melotot. Perkataan Tasya menusuk, meskipun ada benarnya. "Jonathan suka wajah natural sepertiku. Jangan marah," goda Tasya. Erine ingin marah, apalagi ada dua orang menunggu giliran di depan cermin. Ia malu. "Beraninya kau!" Srrrooootttt!!! Erine menyemprotkan parfum ke mata Tasya. Perih dan menyakitkan. Tasya tak bisa melihat. "Awas kau, Erine, kunti pohon belimbing hulu menyebalkan!" Tasya berlari ke bilik toilet, mengambil air di ember, lalu mengejar Erine. "Kujadikan kau natural! Riasan kunti jelekmu tak cocok!" Erine menunggu di depan pintu. Saat Tasya keluar, Erine menjulurkan kaki. Dugh! Tasya terpelanting. Ia membuka mata dan melihat pemandangan tak terduga. "Minggir, bodoh!" Bruuuaakk!! Tasya menabrak seseorang dan jatuh di atasnya. Ia basah kuyup. "Tasya! Gadis bodoh!" Itu Garen. Tapi yang terjatuh bersama Tasya bukanlah Garen, melainkan CEO baru mereka. "Mati aku..." batin Tasya, menyadari siapa yang ia timpa. Mata biru tajam namun memikat itu menatapnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN