Antara Cinta, Hutang, dan Dendam

1095 Kata
"Mati aku... mati aku... mati aku! Ah!" "Bodoh! Bodoh! Bodoh!" "Semua kerja kerasku... Kyaaa! Apa mungkin aku dipecat?!" Sejak pagi, Tasya gelisah di tempat kerja. Insiden dengan pria penting itu membuatnya cemas karirnya akan berakhir. "Sudahlah, jangan dipikirkan. Itu 'kan tidak sengaja?" bisik Lana, berusaha menenangkan sahabatnya. Namun, Tasya tetap ketakutan. "Lana... aku takut dipecat. Hiks." "Siapa yang berani memecat karyawan andalan seperti kamu? Jangan lupa, kamu marketing terbaik di sini." "Tetap saja, dia itu Tuan Rizal Yasa Saputra! Huwaaaa..." "Cup... cup... Jangan cemas. Paling banter juga diskors." "Tidak! Kalau aku diskors, dari mana aku dapat uang untuk Ayah?" Lana memeluk Tasya. Serangan panik Tasya tidak boleh dibiarkan. "Hahaha, kukira wanita jagoan. Ternyata, harimau bisa jadi hamster juga." Tasya jengah mendengar ejekan Erine. Sialnya, pahlawan yang biasa membelanya sedang dinas di luar kota. Tasya harus menelan semua ini sendirian. "Hai, Adinda..." Saat Erine mengejek Tasya, Garen tiba-tiba menyapa Lana. "Eh, Kakanda? Ngapain di sini?" tanya Lana, terkejut melihat Garen muncul di jam kerja. "Kangen," jawab Garen dengan nada manja. "Uh, Kakanda. Sweet banget, sih." Brak! Tasya menggebrak meja, merasa jengah. "Kalau mau pacaran, di luar saja!" gerutu Tasya kesal. Garen terlonjak, menatap Tasya dengan risih. "Woy, kubis siomay! Cepat ke ruangan Tuan Rizal. Ditunggu!" Tasya mendongak, menatap Garen dengan mata menyipit. "Tidak salah? Mungkin maksudmu personalia." "Apa sih? Jelas-jelas Tuan Rizal ingin kamu ke ruangannya. Meragukanku? Aku ini asisten CEO sekarang!" seru Garen bangga. Tentu saja bangga. Dari lima orang yang diseleksi, dialah yang lolos menjadi tangan kanan CEO SAPUTRA. Bekerja di bawah Tuan Rizal Yasa Saputra adalah kebahagiaan tersendiri. Brak! Kali ini Garen yang menggebrak meja. "Hello! Dengar tidak?!" "Hehehe, Kakanda... Tasya pasti dengar, kok. Hanya butuh waktu untuk ke sana," bela Lana. Garen langsung melunak jika itu Lana. "Kalau begitu, Dinda ingatkan dia, ya. Lima belas menit adalah batas Tuan Rizal menunggu." Garen pergi setelah menyampaikan pesannya. Tasya terdiam, tak tahu harus berkata apa. "Sya, sadarlah. Lebih baik datang sekarang dan minta maaf langsung jika ada kesempatan." Tasya lemas. Ia tak pernah membayangkan akan melakukan kesalahan fatal seperti ini, apalagi saat masih menjadi karyawan magang. Huhuhu.... Krik... Krik... Krik... Lutut Tasya gemetar, bukan hanya karena takut, tapi juga lelah berdiri. Hampir dua jam ia berdiri tegap di hadapan Rizal, yang sibuk dengan pekerjaannya. "Apa dia sedang balas dendam? Kakiku pegal sekali," batin Tasya, menahan sakit yang menyerang. Ia tak berani bersuara, apalagi melihat wajah Rizal yang menunjukkan ketidaksukaan. Wajah datar tanpa ekspresi, hanya ada ketegangan dan aura ingin mengajak baku hantam. Tasya memejamkan mata demi keseimbangan. Kakinya mati rasa. "T-tuan..." Tasya berusaha menegur Rizal. "Apa yang bisa saya lakukan? Tuan belum mengatakan hukuman apa yang pantas saya dapatkan. Maaf sekali lagi atas kejadian itu." Rizal menoleh. Suara bergetar Tasya terdengar tak enak. "Memangnya, kesalahan seperti itu, hukuman apa yang pantas kamu dapatkan?" Deg... Suara bariton itu mendebarkan. Tatapan tajam dari mata biru itu menyerang mentalnya. "T-tuan... Saya..." "Berapa pesangon yang kamu inginkan?" Rizal menyela. "Ha? Pesangon?" "Ya." Tasya mencerna pertanyaan itu. Ia ambruk ke lantai. Rizal terkejut, berlari menghampirinya. "Kamu ini..." Rizal memeriksa keadaan Tasya. Ia khawatir jika ada yang pingsan di hari pertamanya pindah ruang kerja. Kesialan jika itu terjadi. "Kamu tidak apa-apa?" tanya Rizal. Tasya menatap Rizal. "Tuan, saya..." "Aku hanya menggertakmu. Aku tidak akan memecatmu. Bangunlah, aku tidak ingin ruanganku mendapat kesialan di hari pertama." "Ah..." Tasya tercengang. Jadi, ia diundang bukan untuk dipecat? Syukurlah... "Masih belum berdiri juga?" Tasya terlonjak, mencoba bangkit. "Aargh!" Ia tak bisa. Kakinya tak bisa digerakkan. "Ada apa?" "Tuan, kakiku kesemutan." "Hah?" Tasya tersenyum kecut. Memang itu yang terjadi. Bukan karena ingin pingsan. Tok... Tok... Tok... Cklek... Garen masuk setelah mengetuk pintu dan terkejut melihat Tasya bersimpuh di hadapan Rizal. "Tuan..." Garen mengira Rizal sudah mengambil keputusan tentang Tasya. Ia ikut bersimpuh. "Tuan, mohon jangan pecat Tasya. Meski kadang otaknya terganggu, kinerjanya sangat baik. Dia marketing cerdas dan berprestasi. Mohon pertimbangkan lagi..." "Reno..." Tasya memotong. "Sssttt, diamlah." "Tuan, dia anggota marketing yang mengantarkan proyek itu sukses besar. Mohon pertimbangkan lagi jika ingin memecatnya." Rizal memijat kening, lalu menunjuk Garen tak percaya. "Bangun! Apa-apaan ini?" "Tuan, mohon. Tasya gadis malang. Bekerja untuk keluarganya yang miskin. Saya saksinya, dia karyawan yang baik." "Garen, bangunlah..." lirih Tasya. Garen memberi kode agar Tasya diam. "Dasar bodoh, aku sedang membantumu!" "Hentikan! Bangun!" titah Rizal. "Tapi Tuan, Tasya..." "Bangun!!" Garen cepat berdiri saat Rizal hampir kehilangan kesabaran. Ia takut pekerjaannya terancam jika melawan lagi. Rizal menghampiri Tasya, berjongkok di sampingnya. Grep... Tasya terlonjak saat tangan Rizal menyentuh kakinya. "Kyaaaaaa..." Tasya menjerit keras saat kakinya ditarik. Sakit sekali rasanya. "Jadi, kamu kesemutan?" tanya Garen kesal. "Ya, iya." "Hish, kamu ini!!" Tasya melindungi diri saat Garen terlihat ingin memukulnya. "Kenapa tidak bertanya dulu? Langsung sujud begitu. Malu bertanya sesat di jalan." "Aku benar-benar ingin menendangmu, Sya!! Argh!! Mau taruh di mana wajahku ini, hah?!" "Hahaha, lihat di sana ada tong sampah. Sepertinya muat kalau kepalamu masuk," bisik Tasya. "Setelah ini, aku janji tidak akan membelamu lagi. Bodo amat!!" "Tanpa dibela pun, aku masih bisa hidup, Ren. Sabar ya. Bye bye..." Garen mendengus kesal. Sikap Tasya membuatnya naik darah. Sementara itu... Rizal termenung, memikirkan ekspresi Tasya saat melihat bingkai foto keluarganya. "Apa dia tahu sesuatu tentang keluargaku?" gumam Rizal. "Kau harus memperhatikan keadaan sekitar Garen. Jangan hanya karena bisikan hati, kau tidak bisa mendefinisikan maksud orang lain." "Baik, Tuan. Maafkan saya." "Sepertinya kalian sangat dekat. Apa ada hubungan di antara kalian berdua?" tanya Rizal pada Garen. "Saya dengannya? Tidak mungkin, Tuan. Dia bersahabat dengan Lana. Saya hanya menjaga perasaan Lana yang mudah cemas." Rizal mengangguk, melirik Tasya yang menunduk menyembunyikan wajah tegangnya. "Kau, kemarilah..." titah Rizal menunjuk Tasya. "S-saya?" "Siapa lagi?" Garen mendorong Tasya mendekat ke sisi Rizal. Sreeettt... Rizal menyodorkan dokumen dengan map hijau yang pasti penting. "Katanya, kau marketing terbaik bulan lalu. Sebagai hukuman, pelajari dokumen ini. Setelah paham, pergi ke PT Bara Utama Investama untuk melakukan kerja sama." "PT Bara Utama Investama, Tuan? Itu terlalu sulit untuk karyawan sepertiku." Brak!! Tasya dan Garen terkejut saat Rizal menggebrak meja. "Aku tidak mau alasan. Anggap saja itu tantangan kerja. Kalau tidak, kau bisa mulai menyebarkan CV-mu ke perusahaan lain," ancam Rizal. Dengan berat hati, Tasya mengambil dokumen itu. Seperti bersiap masuk ke jurang. Datang ke PT Bara Utama Investama sama saja bunuh diri. Perusahaan mandiri itu seolah tak butuh kerja sama dengan siapa pun. Kini, Tasya harus memutar otak. Mata Tasya terhenti pada bingkai foto keluarga Rizal. Samar-samar, ia seperti mengenali seseorang di potret lama itu. "Ada apa? Apa kau mengenal mereka semua?" tanya Rizal tiba-tiba. "Ah, saya? T-tidak, Tuan. Saya akan mempelajari dokumen ini." Rizal mengangguk, membiarkan mereka pergi setelah menceramahi mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN