"Kau yakin tidak butuh bantuan?" tanya Lana, matanya menatap Tasya yang fokus pada layar komputer.
Tasya mengangguk singkat, tak acuh meski senja mulai merayap masuk dari balik jendela. "Kau pulang saja. Kau juga pasti lelah."
"Tapi, Sya, ini sudah senja. Bisa kau lanjutkan besok, kan?"
"Tidak bisa, Lana. Aku tidak bisa menunda yang satu ini. PT Bara Utama Investama... kau tahu sendiri, kan?"
"Baiklah, kalau begitu aku temani saja."
Tasya tersenyum tipis, lalu menekan Ctrl+S sebelum menoleh. "Kau ada janji dengan Garen, kan? Dia senang sekali tadi pamit duluan. Sana, pulang dan bersiap. Kekasihmu sudah menunggu."
"Iya, tapi..."
"Sudah, lagipula aku tidak sendirian di sini. Lihat, banyak juga yang lembur. Aku akan pulang tiga puluh menit lagi."
Lana merasa cemas. Tidak biasanya Tasya lembur. Tasya bukan tipe yang suka menambah jam kerja. Ia lebih suka pulang tepat waktu untuk beristirahat.
Namun, Lana juga sudah berjanji pada Garen. Ia tak ingin mengecewakan kekasihnya hanya karena terlalu mengkhawatirkan Tasya.
"Baiklah, aku pergi. Kau harus cepat pulang. Jangan terlalu lelah, Sya."
"Janji."
Lana memeluk Tasya sekilas, lalu beranjak pulang.
Tasya tersenyum kecil, tahu bahwa sahabatnya itu sangat khawatir.
Sebenarnya, ini bukan pertama kalinya ia pulang terlambat. Saat proyek mega-fantastis itu dikerjakan, hampir dua bulan ia selalu pulang larut malam. Untungnya, tempat tinggalnya tidak jauh dari kantor, jadi ia bisa sedikit santai meski hari sudah gelap.
"Yang benar saja. Aku harus berurusan dengan perusahaan introvert itu. Ini sama saja dia mengusirku secara halus," gumam Tasya, kesal.
Drrrtt... Drrrrtt... Drrrrtt...
Tasya terlonjak kaget saat ponselnya bergetar, tanda panggilan masuk.
"Halo..."
"Halo, Neng..."
Tasya langsung duduk tegak. Nada suara Bibinya yang mendayu-dayu itu bukan pertanda baik.
"Kenapa, Bi?"
"Neng, Bapak ngedrop."
Deg. Benar, firasat memang tak pernah bohong. Ia benci harus menerima kabar buruk seperti ini, apalagi bukan dari keluarganya sendiri.
"Bibi lihat Ayah dibawa ke rumah sakit?" tanya Tasya.
"Bibi lihat Bu Laila di apotek tadi. Sepertinya Pak Hengky memang sudah lama ngedrop."
"Apotek?"
"Neng Tasya bisa pulang? Kasihan Bapak, Neng."
"Oh, iya, Bi. Tasya pulang sekarang."
Nut... Nut... Nut...
Brak! Tasya menggebrak meja, meluapkan kekesalannya. Ia bekerja keras membanting tulang demi ayahnya, tetapi keluarganya seolah mempermainkannya.
Tasya memijat keningnya yang tiba-tiba berdenyut nyeri. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri.
Setelah beberapa saat, ia memutuskan untuk membereskan pekerjaannya. Ia harus segera kembali, demi ayahnya yang mungkin sangat mengharapkannya saat ini.
Perlahan, Tasya menghampiri meja Erine, yang juga masih berada di kantor. Ia berdiri di hadapan atasannya itu dengan lesu.
"Ada apa? Aku tidak suka ekspresimu itu," tanya Erine, menatap Tasya dengan tajam.
"Maaf, Bu. Tapi, saya ingin mengajukan cuti selama enam hari. Apakah bisa?"
"Enam hari? Kau pikir ini perusahaan milik nenekmu?!" Erine mencibir, meremehkan permintaan Tasya.
"Tapi, saya benar-benar harus pergi." Tasya mencoba menjelaskan, suaranya sedikit bergetar.
"Bagaimana dengan tugasmu? Seminggu bukan waktu yang cukup untuk perusahaan sekelas PT Bara Utama Investama." Erine bersedekap, menantang Tasya.
"Saya hampir menyelesaikannya."
"Sehari. Hanya itu cuti yang bisa kuberikan," ucap Erine tanpa menatap Tasya, fokus pada layar komputernya.
Tentu saja Tasya menolak. Setidaknya, ia membutuhkan delapan jam untuk perjalanan pulang pergi dari tempat kerjanya ke kampung halamannya. Cuti satu hari hanya akan membuatnya kelelahan di jalan.
"Cuti adalah hak setiap karyawan, kan? Kenapa saat yang lain mudah mendapatkan cuti, Anda sebagai atasan justru mempersulit saya? Apa ada motif lain?" Tasya memberanikan diri bertanya, menyuarakan kekesalannya.
Brak! Erine menggebrak meja, jengkel dengan keberanian Tasya yang tidak menghormatinya sebagai atasan.
Saat itu, ponsel Tasya berdering. Sebuah pesan masuk dari Bi Inah.
[Bi Inah : Neng, Bapak dibawa ke rumah sakit sama Bibi. Mamah jeung si Laili nggak ada di rumah.]
Hatinya semakin perih. Tidak ada yang peduli pada ayahnya di rumah. Ibu dan adik tirinya benar-benar keterlaluan. Ia bersusah payah bekerja untuk biaya pengobatan ayahnya, tetapi mereka malah menyalahgunakan uang itu untuk kepentingan pribadi.
"b*****h sekali mereka ini..." gerutu Tasya, emosinya semakin memuncak.
Brak!
Erine kembali menggebrak meja, merasa diabaikan oleh Tasya.
Tasya, yang sudah tersulut emosi, semakin kesal. Ia merogoh sesuatu dari dalam tasnya dan menyodorkannya pada Erine.
"Ini surat pengunduran diri saya. Saya tidak peduli lagi pada semuanya."
Setelah mengucapkan kata-kata itu, tanpa menunggu jawaban dari Erine, Tasya berbalik dan melangkah pergi. Meninggalkan Erine yang tampak marah besar.
"Jika kau keluar dari pintu ini hari ini, kuanggap kau benar-benar mengundurkan diri, Tasya!" teriak Erine, berusaha menghentikan Tasya.
Namun, Tasya tidak peduli lagi. Kondisi ayahnya adalah prioritas utamanya saat ini. Ia harus mengurus keluarganya saat itu juga.
"Kau dengar atau tidak?! Kau akan menyesal jika benar-benar keluar!" seru Erine, semakin geram.
Benar-benar hari yang melelahkan. Otaknya sudah bekerja keras seharian ini demi dokumen kerja sama dengan PT Bara Utama Investama. Jika tahu akhirnya akan seperti ini, mungkin Tasya tidak akan bekerja sekeras ini.
"Biarlah Erine yang melanjutkannya. Aku sudah tidak peduli lagi. Padahal, tinggal memasukkan hal terpenting dari hasil penelitianku. Tapi... sudahlah," batin Tasya, pasrah.
Tak ingin terus berkutat dengan pikiran yang memusingkan, Tasya memutuskan untuk memejamkan mata. Perjalanan masih panjang, dan ia butuh istirahat. Namun, pejam matanya tak sepenuhnya membawa ketenangan. Di benaknya, hanya ada wajah ayahnya yang terbaring tak berdaya, bersanding dengan bayangan menyebalkan dua benalu yang tak henti-hentinya menyusahkan hidupnya.
Waktu berlalu tanpa terasa. Ketika Tasya terbangun, samar-samar ia mendengar pengumuman bahwa perjalanan sebentar lagi akan berakhir. Tinggal beberapa kecamatan lagi, ia akan menginjakkan kaki di kampung halamannya.
Kampung halaman yang sebenarnya tak lagi ingin ia singgahi. Sebuah tempat yang menyimpan terlalu banyak kenangan buruk, di mana ia kehilangan orang-orang yang sangat ia cintai, satu per satu. Saksi bisu perjuangannya sejak kecil. Sejak bayi, ia kehilangan ibunya. Kemudian harus menyaksikan ayahnya menikah lagi dengan wanita yang kini menjadi ibu tirinya. Dan kini, ia harus menghadapi kenyataan pahit kehilangan satu per satu sanak saudara yang dulu begitu peduli padanya.
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Bi Inah masuk :
[Bi Inah : Neng, Bapak di ruangan Mawar Melati No 21 lantai enam.]
Tasya termenung sejenak. Ia memutuskan untuk langsung menuju rumah sakit. Tidak ada gunanya singgah di rumah yang sudah pasti hanya akan mempertemukannya dengan dua wanita yang selalu menguras emosinya.
Semburat mentari pagi mulai menembus tirai jendela bus. Hari telah berganti, membawa serta berbagai suasana hati yang berkecamuk dalam dirinya.
"Lana, kau sudah dengar belum?" Rasiwi menghampiri meja kerja Lana dengan nada berbisik.
"Dengar apa?" Lana mengangkat wajah, bingung.
"Katanya, Tasya mengundurkan diri kemarin."
Lana terkejut. Bagaimana bisa ia mendengar berita penting seperti ini bukan dari Tasya langsung? "Kau bercanda? Mungkin dia hanya cuti karena ayahnya sakit. Statusnya juga di rumah sakit, kan? Mungkin penyakit Papanya kambuh."
Rasiwi menggeleng. "Sudah jadi perbincangan hangat, kok. Awalnya, Tasya memang minta cuti enam hari karena ayahnya sakit. Tapi, Miss Erine tidak mengizinkannya. Malah, cuma memberi cuti sehari."
"Yang benar kau?" Lana tak percaya.
"Sumpah, Lana. Tasya marah, kayaknya. Akhirnya, dia malah menyerahkan surat pengunduran diri."
"Gila ya, si Erine!" Lana mengepalkan tangan, emosi.
Rasiwi segera menenangkan Lana. "Jangan, Lana. Lebih baik kau diam saja sekarang. Lagipula, aku yakin Tasya akan balik lagi, kok."
"Kenapa kau begitu yakin? Kau tahu sendiri, kan, Erine itu orang seperti apa."
"Ssstt, kau lupa? Tasya, kan, punya proyek besar dari Tuan Rizal. Mana mungkin Erine bisa melanjutkannya."
Lana segera menyalakan komputer di meja kerja Tasya. Ia mengecek laporan perencanaan yang seharusnya sudah hampir rampung. "Hm, kau benar. Poin pentingnya belum Tasya cantumkan. Dia memang pintar."
"Sudah kubilang apa. Kita tunggu saja. Mungkin Miss Erine yang akan kena batunya kali ini. Siapa lagi yang bisa melakukan ini selain Tasya? Menaklukkan PT Bara Utama Investama itu sulit. Sepuluh orang seperti Erine belum tentu bisa menjadi seorang Tasya."
"Baiklah, baiklah. Kalau begitu, aku akan duduk tenang menyaksikan tontonan menarik ini. Tinggal menghitung waktu saja. Erine pasti akan mendapatkan balasannya."
Meski begitu, Lana tetap merasa cemas pada sahabatnya itu. Pesan-pesan yang ia kirim sejak kemarin belum juga dibalas oleh Tasya. "Sya, balas pesanku. Kau ini selalu saja membuatku khawatir."
Grep...
Tasya yang sedang tertidur pulas terkejut ketika lengannya ditarik dengan kasar. Nyawanya yang belum sepenuhnya terkumpul langsung memicu emosi ketika ia menyadari Bu Laila dan Laili, putrinya, berdiri di hadapannya. Dua wanita yang paling tidak ingin ia lihat saat ini.
"Kau ini apa-apaan, hah?!" gerutu Tasya sambil menatap Laili dengan tajam.
"Bagi duit. Aku mau ke salon." Laili memasang wajah tanpa dosa.
"Mau duit, ya, kerja, lah! Kalau cuma ongkang-ongkang kaki, mana bisa punya duit kau!" Tasya membalas dengan ketus.
Laili kesal dan langsung merengek pada Bu Laila, yang tampaknya juga kesal dengan jawaban Tasya pada putrinya. "Asal kau tahu, ya, utang Ayahmu itu banyak. Mau dibayar pakai apa, hah?!"
Tasya menghela napas panjang, berusaha bersabar menghadapi Bu Laila yang tidak pernah berubah. Ia tidak ingin membuat keributan di ruangan itu. Pak Hengky baru saja terlelap beberapa jam lalu setelah mengerang kesakitan sepanjang malam. Dan Tasya sendiri baru tertidur pulas satu jam yang lalu sebelum dibangunkan paksa oleh Laili.
"Kau mau ke mana, hah?!"
Bu Laila dan putrinya terus mengejar Tasya yang mencoba kabur dari hadapan mereka. Mereka berdua memang tidak pernah menyerah jika itu berkaitan dengan uang. Laili, yang gemar bergaya hidup mewah, tidak ingin kalah dari teman-temannya. Karena itu, ia terus merengek pada Bu Laila agar Tasya segera memberinya sejumlah uang.
"Tasya!"
Tasya berhenti. Ditempeli oleh mereka berdua membuatnya merasa sangat jengah. "Apa? Aku sudah tidak bekerja. Puas kalian?"
"Apa? Nggak kerja?" Bu Laila terlonjak kaget.
"Ya, aku dipecat. Jadi, kalau anakmu ingin uang, suruh dia kerja!"
"Ma...." Laili merengek, kesal.
"Putriku mana bisa bekerja sepertimu. Takdirnya itu menjadi tuan putri, bukannya b***k korporat."
"Terserah, deh. Malas aku sama kalian. Lebih baik kalian pergi saja."
Tasya ingin segera beranjak dari hadapan mereka. Namun, Bu Laila tampak enggan menyerah sebelum Tasya mengeluarkan simpanannya untuk Laili. "Kalau begitu, kau harus membayar semua utang Ayahmu di rumah. Rentenir sudah meneror kami."
"Rentenir? Hahaha, sejak kapan Papaku dekat dengan orang seperti itu?" Tasya tertawa sinis.
"Hahaha, kau bodoh atau apa? Tentu saja kami yang meminjam uang itu atas nama Ayahmu." Laili tergelak.
"Kau!" Tasya menatap Laili dengan marah.
"Apa? Kalau kau tidak segera membayarnya, mungkin rumah itu akan segera disita," bisik Laili pada Tasya. "Kecuali, kalau kau mau menikah dengan Juragan Seno, maka semua utang Ayahmu itu akan lunas seketika."
Tasya menatap tajam ke arah Laili yang terus bersikap angkuh padanya. Bagaimana bisa ia selama ini selalu bersabar menghadapinya? Saudara tiri yang tak akan pernah bisa akur dengannya.
"Jangan mimpi! Kalau kau mau, kenapa kau tidak menawarkan dirimu sendiri? Bukankah dengan begitu kau akan mendapat uang yang banyak? Lagipula, kau sepertinya lebih cocok untuk urusan pernikahan itu. Dasar murahan!"
Laili kesal ketika Tasya terus membuatnya malu di hadapan orang-orang di rumah sakit itu. "Lihat saja pakaian yang kau gunakan ini sekarang. Bukankah sudah mirip BH-nya Cleopatra?"
"Tasya!" Bu Laila membentak Tasya.
"Jangan berteriak padaku! Aku sudah benar-benar muak padamu. Pergi dari hadapanku!"
Laili marah dan kembali pada ibunya yang terus mengawasi setiap kebutuhan dan keinginannya. "Ma, nikahkan saja dia dengan Juragan Seno!"
Tasya belum sempat menjawab lagi sebelum tiba-tiba ada panggilan masuk dari nomor tak dikenal. Karena khawatir salah seorang sahabatnya di ibu kota, ia pun mengangkat panggilan itu. Namun, saat Tasya melihat profil yang berusaha tersambung dengannya, ia hampir saja menjadi gila. "Untuk apa orang ini meneleponku?"