"Maaf, Pak Adhitama yang terhormat, jika saya lancang ikut campur urusan rumah tangga Anda, tapi saya tidak bisa diam saja, saat melihat seorang wanita disakiti seperti ini." ujar Gavin dengan suara dingin, dalam, dan penuh wibawa. Tangannya mencengkeram, pergelangan tangan ayah Forza dengan sangat kuat.
Ya, tangan yang menahan tamparan itu adalah tangan Gavin. Sejak tadi, ia berdiri di belakang Forza, siap menjadi perisainya.
"Pak Gavin? Anda... kenapa bisa ada di sini?" tanya Ayah Forza terkejut bukan main, melihat kehadiran Gavin. Wajahnya langsung pucat, ia mengenal Gavin sebagai putra dari rekan bisnisnya yang paling besar.
"Saya datang bersama putri Anda, Forza." jawab Gavin, tatapannya tajam menusuk, ia melepaskan cengkeraman tangannya dengan kasar.
"Maafkan saya, Pak. Tadi saya tidak melihat Anda, maaf karena Anda harus melihat semua ini. Ini hanya masalah keluarga kecil." Ayah Forza merasa tak enak hati dan langsung mencoba merendahkan suaranya.
"Nggak masalah, Pak Adhitama. Tapi saya sangat kecewa, karena Anda dengan mudahnya main tangan, menyakiti istri dan barusan hampir saja menyakiti putri Bapak sendiri di depan saya." Gavin benar-benar kecewa, untung saja ada dia, sehingga gadisnya bisa selamat dari tamparan itu.
"Saya memang salah, Pak Gavin, saya khilaf. Saya bingung, karena Ibu Lusiana menginginkan rumah ini untuk dijadikan rumah singgahnya, jika sedang di Jakarta. Saya tidak bisa menolak, karena beliau sahabat dari istri kedua saya dan juga investor di perusahaan saya, sama seperti Bapak." Ayah Forza menundukkan kepalanya, bingung harus bagaimana, ia mencoba mencari pembenaran.
"Jadi, Bu Lusiana yang ingin rumah ini? Kalau begitu tolong sampaikan padanya saya ingin bertemu. Kira-kira ada waktu kapan? Nanti Pak Adhitama bisa hubungi saya untuk waktu dan tempatnya." pinta Gavin dengan nada perintah, bukan permintaan.
"Maaf, kalau boleh tahu untuk apa ya, Pak?" tanya Pak Adhitama hati-hati.
"Nanti Bapak juga akan tahu, saya minta Bapak jangan lagi meminta untuk menjual rumah ini. Biarkan rumah ini menjadi peninggalan mertua Bapak untuk istri dan anak Bapak, anggap ini permintaan pribadi saya." ucap Gavin tegas, tak bisa dibantah.
"Baik, Pak. Baik, saya janji tidak akan membahasnya lagi." jawab Pak Adhitama cepat.
"Permasalahannya sudah selesai ya, Pak Adhitama. Saya selaku Ketua RT meminta sama Bapak untuk bicara baik-baik, tak perlu ribut seperti ini, apalagi sampai menyakiti, kasihan anak-anak." kata Pak RT yang sedari tadi mencoba menjadi penengah.
"Maaf Pak RT, kalau begitu saya permisi dulu. Pak Gavin, saya permisi dulu, nanti saya kabari jika sudah bertemu dengan Ibu Lusiana." kata Ayah Forza lalu bergegas keluar dengan wajah malu.
Gavin hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, "Saya juga permisi, Nak Forza. Obati luka bunda kamu ya, kasihan." pamit Pak RT.
"Iya, Pak, terima kasih banyak sudah menolong bunda saya," kata Forza dengan suara bergetar menahan tangis.
Setelah Ayah Forza dan Pak RT keluar, rumah itu menjadi sunyi. Hanya terdengar isak tangis pelan Bunda Forza. Forza segera berlari ke dapur.
"Za, ambil air hangat buat bersihin luka Bunda kamu, sekalian sama kotak P3K, saya bantu obati lukanya," kata Gavin dengan lembut, berbeda jauh dari nada dinginnya pada ayah Forza tadi.
Forza hanya menganggukkan kepalanya dan segera ke dapur, mengambil air hangat di baskom kecil dan juga kotak P3K dari lemari.
"Maaf Pak, jika penyambutannya seperti ini. Jadi berantakan begini, Bapak salah satu investor ayahnya Forza, ya?" Bunda Forza membuka pembicaraan, karena beliau benar-benar tak enak hati, melihat seorang dosen melihat aib keluarganya.
"Gavin saja Bu, panggil saja saya Gavin, nggak usah pakai Pak. Lebih tepatnya orang tua saya yang berinvestasi, Bu. Saya hanya menjalankan perintah orang tua saya saja, jika sedang ada rapat. Jadi jangan panggil saya Pak," jawab Gavin sambil tersenyum hangat dan duduk di samping Bunda Forza untuk membersihkan lukanya dengan kapas, tangannya sangat hati-hati.
"Nak Gavin ini apanya Forza?" tanya Bundanya lagi, penasaran.
"Pak Gavin, dosen Forza, Bun," jawab Forza sambil berjalan mendekati bundanya, membawa baskom.
"Oh, Pak Dosen kamu, Za. Aduh, Ibu jadi makin nggak enak ini, karena datang ke sini malah melihat kejadian seperti ini," kata Bunda Forza.
"Nggak apa-apa kok, Bu, Ibu santai saja. Anggap saja saya anak Ibu sendiri, mari saya bantu obati lukanya dulu," jawab Gavin.
"Za, buatkan minum buat Nak Gavin," perintah bundanya pada Forza.
Forza melangkah ke dapur untuk membuatkan minuman. Tak butuh waktu lama, dia keluar dengan segelas teh manis hangat dan beberapa potong kue.
"Silakan diminum, Pak Gavin. Maaf seadanya, cuma ada ini." Forza menyuguhkan minuman dan camilan dengan wajah masih sembab.
"Terima kasih, Forza," jawab Gavin tersenyum. Senyum yang tulus itu membuat Forza salah tingkah, entah kenapa sekarang setiap melihat Gavin tersenyum, rasanya ada sesuatu yang beda, respons tubuhnya sangat berlebihan, jantungnya berdebar kencang.
"Za, kamu siapkan meja makan, ya. Kita makan siang bareng. Nak Gavin pasti belum makan siang." kata bundanya.
"Pak Gavin nggak bisa Bun, karena mesti berangkat ke RS, sekarang saja sudah terlambat," potong Forza cepat sebelum Gavin menjawabnya, ia takut merepotkan.
"Benar, Nak Gavin? Apa nggak bisa sebentar saja ikut makan siang? Ibu sudah masak opor ayam kesukaan Forza." tanya Bunda Forza dengan harap.
"Kalau Ibu yang meminta, Gavin bisa, Bu. Mana mungkin Gavin menolak permintaan seorang Ibu, justru saya senang sekali." Gavin tersenyum dan melirik ke arah Forza yang kini tengah cemberut karena rencananya gagal.
"Ibu tinggal ke atas sebentar ya, mau panggil Firza dan Fahri. Forza, temani Nak Gavin dulu," perintah sang bunda yang dijawab dengan anggukan.
Tinggal berdua di ruang tamu, suasana menjadi sedikit canggung.
"Kamu kenapa? Kayaknya nggak suka banget saya makan di sini." selidik Gavin, yang langsung mendapati mata indah Forza menatapnya tajam.
"Perasaan Bapak saja kali, saya cuma bantu Bapak biar bisa datang ke RS tepat waktu. Kalau makan dulu di sini kelamaan kan, kasihan pasiennya." kilah Forza.
"Nggak usah khawatir, saya pasti datang tepat waktu, kan masih lama, saya masuk malam." jawab Gavin tersenyum jahil.
"Bukannya siang tadi Bapak bilang masuk siang?" tanya Forza bingung.
"Kata siapa siang?"
"Tadi, waktu di ruangan Bapak?"
"Saya nggak bilang saya masuk siang, saya hanya bilang rumah kamu satu arah sama rumah sakit." jawab Gavin santai, "Kamu perhatian banget sih, Za, sampai khawatir saya telat ngesift," Gavin tersenyum jahil, membuat Forza makin salah tingkah dan pipinya memerah.
"Nggak usah GR deh, Pak."
"Nggak apalah GR sama kamu ini, bukan sama yang lainnya. Saya suka, kamu perhatian sama saya," goda Gavin.
Setelah makan siang yang hangat bersama Firza dan Fahri yang langsung akrab dengan Gavin, mereka duduk di ruang keluarga, Forza mencuci piring.
"Nak Gavin, Ibu titip Forza ya kalau di kampus. Dia itu keras kepala." kata Bunda Forza sambil menatap Gavin dalam.
"Insya Allah Bu, pasti saya jaga," jawab Gavin.
"Dulu dia gadis yang ceria, selalu tersenyum bahagia. Semua berubah saat ayahnya berulah, Forza berubah menjadi gadis yang pendiam dan sulit ditebak. Dia juga sepertinya tidak tertarik untuk menikah, mungkin trauma melihat kedua orang tuanya seperti ini." Bunda Forza membuka obrolan tentang luka terdalam Forza, "Forza paling menyukai musik, dia suka bernyanyi sambil memainkan biola. Ibu paling suka saat dia bermain biola, sayangnya, biola kesayangannya sudah hancur karena dibanting ayahnya."
Gavin terdiam, hatinya terasa sesak mendengar itu, Ia baru tahu kalau Forza bisa memainkan alat musik dan juga bisa bernyanyi. Padahal setiap ada acara di kampus, Forza tidak pernah tampil. Waktu PKKMB dihukum karena telat datang, saat disuruh nyanyi malah tidak bisa dan lebih memilih lari keliling lapangan, ternyata itu semua topeng.
"Maaf Bu, kalau boleh tahu Forza kerja di mana selain kuliah?" tanya Gavin.
"Di cafe Nak, tapi bukan cuma satu cafe. Dia juga ngajar privat piano, dari privat itu hasilnya lumayan karena muridnya anak orang kaya. Dia juga bekerja sebagai penerjemah, dia tulang punggung kami," jelas Bundanya dengan mata berkaca-kaca.
Gavin, menatap Forza yang baru saja keluar dari dapur dengan penuh kagum, gadis yang ia sukai adalah gadis hebat dan mandiri.
Saat ini hanya tinggal mereka berdua, Bunda Forza pamit untuk istirahat, Gavin mulai memberanikan diri bicara.
"Za, saya mau minta izin sama kamu, boleh?" tanya Gavin, menatap mata Forza lekat.
"Izin? Untuk apa?"
"Untuk bisa lebih dekat lagi, bukan dekat antara dosen dan mahasiswinya, tapi antara pria dan wanita, apa boleh? Saya serius sama kamu, Za."
Forza terdiam lama, lalu ia menjawab dengan suara pelan tapi tegas, "Nggak usah, Pak, saya nggak kasih izin, karena saya nggak mau terlalu dekat dengan pria mana pun, apalagi sampai menjalin hubungan. Saya tak percaya laki-laki, saya nggak percaya cinta, kalau Bapak ada rasa, sebaiknya segera buang rasa itu."
Gavin tersenyum, tidak kaget, "Kamu benar, Za. Saya memang ada rasa sama kamu, sejak pertama kita bertemu. Saya ingin menikahi kamu Za, saya tahu ini mendadak."
"Maaf saya nggak bisa, Pak," jawab Forza.
"Baiklah kalau begitu, mari kita buktikan, Za," kata Gavin penuh keyakinan.
Belum sempat Forza menjawab, dari arah pintu depan datang seseorang yang langsung masuk tanpa mengetuk, dengan suara lantang.
"Sore Forza! Sore Bunda! Sudah siap belum?"
Gavin yang masih duduk langsung menatap tajam pria itu. Tatapannya berubah kembali dingin, penuh cemburu dan tidak suka. Tatapan yang sangat berbeda dari tatapan lembutnya pada Forza.