He Is Mr Bossy

1436 Kata
Zahra menghela napas untuk ke sekian kali. Diangkatnya sambungan telepon yang terhubung dengan ruangan GM. Sudah dua minggu semenjak Davie datang sebagai GM baru. Semenjak itu pula hidupnya yang tenang di kantor ini berubah seperti di neraka. Bagaimana tidak, Bos barunya selalu marah-marah setiap waktu jika laporan yang dibuat salah sedikit saja. Dan kali ini entah kesalahan apa lagi yang ia perbuat.  "Iya, Pak," "Cepat ke ruangan saya!" ujar suara di seberang dengan nada tegas. Zahra mengembuskan napas begitu telepon ditutup begitu saja, lalu ia bangkit dan masuk ke dalam ruangan GM. "Maaf, ada apa ya, Pak?" tanya Zahra dengan nada takut-takut. Laki-laki yang ditanya masih terlihat serius dengan dokumen di tangan. "Coba lihat!" Davie berkata dengan nada dingin, sembari melemparkan dokumen tepat di depan mejanya. Zahra meraih dokumen itu dan meneliti laporan yang ia buat. Sepertinya tak ada yang salah menurut Zahra. Dokumen tersebut berisi laporan hasil kunjungan mereka di hotel cabang Bandung dua hari lalu. "Bagaimana bisa kamu melewatkan poin penting yang harus ditambahkan pada laporan ini?! Saya sudah menyuruh kamu untuk mencatat laporan keuangan dengan membuatnya jadi diagram 'kan?!" Nada suara Davi sedikit meninggi, Zahra terlonjak kaget, ia hanya bisa menunduk takut-takut. Bagaimana bisa Davie marah hanya gara-gara masalah sepele, bicara baik-baik kan bisa. Batin Zahra merutuki kelakuan bosnya. Waktu ternyata benar-benar telah merubah sosok Davie. Tak ada lagi Davie si wajah tampan dengan senyum jenaka dan ramah. Yang berada di depannya adalah Davie dengan wajah datar dan selalu bersikap dingin serta memarahinya hanya karena masalah sepele. Dan sialnya lagi, mereka harus bertemu di satu kantor yang sama. "Ma-maafkan saya, Pak. Ini akan segera saya perbaiki." Setelah mengatakan itu, Zahra cepat-cepat melangkah keluar. "Zahra!" Tangannya yang hendak memutar kenop pintu terhenti ketik mendengar suara bariton masuk ke gendang telinganya. Mau tak mau Zahra memutar tubuh lagi. Jantungnya berdetak lebih cepat begitu Davie berjalan ke arahnya. Davie mengawasi Zahra dengan tatapan tajam, seperti elang yang mengawasi mangsanya. Sementara di tempatnya Zahra berdiri mematung. Manik coklat terang itu terasa menembus jantungnya hingga lututnya terasa lemas. Untuk pertama kali dalam dua minggu ini Davie sudi menatapnya. Zahra menelan ludah melihat d**a bidang di depannya, ingin sekali ia memeluk tubuh itu, dan mengatakan bahwa ia sangat merindukannya hingga ingin mati. Tapi sekali lagi, kenyataan menghantam telak ke ulu hati, saat ia ingat ada Luky yang sekarang adalah tunangannya. Dari jarak sedekat ini, Zahra dapat mencium wangi maskulin yang menguar dari tubuh Davie. Hingga tanpa sadar ia menghirup dalam-dalam wangi itu. Mereka sama-sama terdiam, Zahra semakin menahan napas. Lalu ia menutup mata saat Davie mendekatkan wajah tepat beberapa centi di depannya. Apa dia akan menciumku? Batin Zahra setengah berharap. Napas Davie terasa menggelitik seolah memintanya untuk menarik laki-laki itu. Tapi Zahra masih waras untuk tidak bertindak bodoh. Tiba-tiba ia merasakan sebuah tangan mengambil dokumen yang dari tadi digenggamnya dengan kuat. Hingga suara bariton Davie memaksanya untuk membuka mata dan mengakhiri imajinasinya sendiri. "Kamu kenapa menutup mata?" tanya Davie. Entah keajaiban dari mana sekilas Zahra menangkap senyum tipis laki-laki itu. Wajahnya langsung memerah menyadari dirinya telah bertingkah konyol. "Saya belum bilang kamu boleh pergi, kan?" Davie berkata dengan nada datar. Lalu laki-laki itu membuka dokumen, dan mengambil satu lembar kertas yang ada di bawah laporan keuangan. Zahra terus menatap wajah Davie tanpa kedip. Pipinya memerah saat laki-laki itu tiba-tiba mengalihkan tatapan kearahnya, menangkap basah dirinya yang diam-diam memperhatikan. Zahra hanya bisa mengalihkan wajah ke arah lain karena gugup. "Jadwal saya setelah jam makan siang apa?" Davie menutup kembali dokumen itu. "Kita ada rapat di luar kantor dengan delegasi Arab Saudi yang akan memesan hotel kita terkait kedatangan Raja Salman ke Indonesia." "Baiklah. Kamu boleh pergi." Davie menyerahkan kembali dokumen di tangannya. "Ba-baik, Pak. Permisi." Zahra membungkuk hormat, lalu memutar tubuh cepat-cepat. Setelah pintu ditutup, wanita itu mengembuskan napas lega. Detak Jantungnya bahkan masih tak beraturan seperti baru saja dikejar-kejar sesuatu. Zahra meraup udara sebanyak-banyaknya agar hatinya tenang. Berada terlalu dekat dengan Davie benar-benar tak baik untuk kesehatan jantungnya. "Aisssh ... kenapa bisa kamu bertindak bodoh di depannya, Za? Bodoh ... bodoh," rutuk Zahra sambil memukul pelan kepalanya. Lalu ia buru-buru memperbaiki dokumen. Saat Zahra sedang serius dengan kegiatannya, tiba-tiba Alfa datang. Laki-laki itu menatap Zahra yang masih setia dengan pekerjaan. "Za, Pak GM ada?" Zahra langsung mendongkak dan mencopot kacamata berbingkai coklat miliknya. Zahra hanya menatap Alfa sekilas, lalu beralih lagi pada layar komputer. Ini lah tak enaknya memiliki mantan kekasih yang satu kantor. Dalam keadaan sakit hati Zahra masih harus melihat Alfa berkeliaran di depannya. "Ada perlu apa?" jawab Zahra datar, sambil terus mengetik. "Aku ingin menyerahkan dokumen yang harus ditandatangani." "Oh ... masuk saja," jawab Zahra masih dengan nada datar. Laki-laki di depannya hanya mengangguk kecil lalu membuka pintu. Setelah beberapa saat Alfa keluar lagi. Tapi laki-laki itu berhenti di samping Zahra dan berdehem. "Ekhem, Za?" "Hm." Zahra tak mengalihkan matanya dari layar komputer. "Bagaimana kalau nanti malam kita diner?" Mendengar ajakan Alfa, Zahra menghentikan jari-jarinya di keyboard dan menatap laki-laki di sampingnya, lalu mendengkus. "Urus saja kekasihmu yang jalang itu. Kamu pikir setelah apa yang terjadi aku sud-" tiba-tiba terdengar suara deheman dari samping mereka yang menghentikan kata-kata Zahra. Di depan pintu berdiri Davie sambil menyilangkan tangan ke d**a, dan menatap dua orang itu dengan tatapan tajam. Zahra dan Alfa langsung salah tingkah, lalu Alfa memilih pergi. "Tolong bantu saya membawa berkas-berkas ke ruang presdir. Kita akan mengadakan rapat di ruangan beliau hari ini." "Baik, Pak," "Ah, laporan yang tadi apa sudah selesai?" "Sudah, Pak." Setelah itu Zahra mengikuti bosnya melangkah masuk ke ruangan GM. Davi menyerahkan setumpuk Dokumen ke tangan Zahra hingga membuat wanita itu terlihat kesusahan. "Pak, apa ini tidak terlalu banyak?" Zahra setengah memelas. "Diam, dan ikuti saya!" Davie tak memedulikan protesnya, Zahra menggerutu kesal sepanjang jalan. Mau tak mau wanita itu menurut dan mengikuti langkah bosnya di belakang. Sementara di depannya Davie hanya menyunggingkan senyum miring. Sepertinya mengerjai wanita itu adalah kesenangan baru untuknya. Tak akan kubiarkan kamu diner dengan si Playboy itu malam ini. Lihat saja. batin Davie. ******** Istirahat makan siang, Zahra terus saja menekuk bibir. Wanita itu sangat kesal sekali hingga terus mengeluarkan makian. "Dasar, Bos sialan! Mimpi apa aku semalam sampai memiliki bos macam dia. Bayangkan saja, Kak. Masa dia marah-marah terus hanya karena masalah sepele!" "Siapa yang sialan?" tanya sebuah suara menghentikan ocehan Zahra. "Eeeh ... hehe, Pak," kata Diandra sambil tersenyum tak enak hati. "Boleh saya gabung?" Mendengar pertanyaan itu, Zahra memberi kode pada Diandra lewat tatapan tajamnya, agar dia tak mengizinkan laki-laki itu bergabung. Tapi sepertinya Diandra justru terlihat senang. "Boleh dong, Pak, silakan," jawab Diandra dengan senyum lebar. Lalu Davie duduk tepat di sebelah Zahra. "Mbak Diandra kapan mulai cuti?" tanya Davie pada Diandra. "Kenapa memanggil saya 'Mbak' sih, Pak. Panggil Diandra aja biar akrab, ya biar saya ikut muda gitu." Diandra mengarahkan senyum mega wat-nya ke arah Davie. Mendengar kata-kata itu dari mulut sahabatnya, Zahra memutar mata bosan. Diandra selalu saja tak ingat suami di rumah jika di depan pria tampan. "Ah, baiklah. Berarti kamu panggil saya Davie saja kalau di luar kantor." "Aah boleh, Pak? Eh ... Dav?" jawab Diandra kelewat girang. Davie hanya mengangguk kecil. Zahra mendengkus mendengar percakapan dua orang itu. Giliran sama Kak Diandra aja baiknya nggak ketulungan. Gerutu Zahra dalam hati. "Jadi kapan mulai cuti?" "Saya cuti sekitar tiga bulan lagi insya Allah. Oh ya, ngomong-ngomong kamu sudah punya calon istri?" tanya Diandra tanpa basa-basi, Davie tersenyum kecut. Sedang Zahra masih pura-pura cuek meski aslinya ia memasang kuping baik-baik agar mendengar jawaban Davie. "Sebenarnya sudah. Hanya saja saya belum tahu dia mau menerima saya atau tidak," Davie menatap Zahra sekilas, wanita yang ditatap membuang muka. "Pasti dia mau banget lah nerima kamu, orang seganteng ini masa ditolak. Iya, kan, Za?" Pertanyaan spontan Diandra membuat Zahra gelagapan. Ia bahkan terlihat bingung dan menatap Davie dengan mata berkaca-kaca. "Ah, i-iya."  Zahra menyunggingkan senyum kecut. Davie menangkap nada bergetar dari suara Zahra, laki-laki itu mengalihkan tatapannya pada Zahra. Tiba-tiba dari arah kanan Zahra berjalan seorang pelayan yang membawa nampan penuh makanan, tapi langkah pelayan itu limbung saat seorang wanita berjalan dan tak sengaja menyenggolnya. Bagai adegan slow mosion Davi refleks berdiri dan memeluk tubuh Zahra dari belakang, melindungi kepala wanita itu yang hendak tertumpah makanan. Davie membiarkan punggungnya sendiri yang tertumpah kuah panas. Zahra menengadahkan wajahnya menatap laki-laki itu dengan posisi masih duduk. Sementara wajah Davie tepat di atasnya sedang meringis menahan perih. "Aarrgh!" Terdengar teriakan kecil Davie. Zahra panik saat melihat Davie membungkuk. Keadaan kantin pun menjadi riuh karena insiden itu. "Davi!" teriak Zahra panik, "tolong, Kak, bayar dulu makanannya. Aku bawa Davie ke klinik." Diandra mengangguk. Lalu Zahra melangkah pergi sambil memapah Davie. Semua kariawan mulai berkasak-kusuk, bagaimana Zahra bisa memanggil bosnya seakrab itu sedang mereka baru saja kenal. *******
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN