Jalan yang indah sekali. Ah, tidak, justru sangat miris. Mendapatkan gadis yang sebelas tahun lebih muda sebagai calon istri, bukan hal yang membuat Samuel merasa kegirangan. Meskipun Jihan tetap bersikukuh untuk mempertahankan keputusan setuju perihal pernikahan, Samuel justru masih mencari cara untuk kabur dari rencana tersebut. Mau bagaimanapun, menikah dengan Jihan yang sebelas tahun lebih muda sama sekali tidak masuk akal.
"Pernikahanmu satu bulan lagi akan segera digelar, Sam. Kakek harap kamu enggak berpikir untuk kabur. Lagi pula, gadis itu tampak begitu menyukai dirimu juga. Jangan mengecewakan dia dengan egomu yang masih teramat besar," ucap Arman yang mendadak muncul bersama tongkat bantu jalannya, di balkon lantai empat rumahnya tersebut. Di mana Samuel juga ada di sana, bahkan sebelum kemunculannya.
Samuel yang sempat tersentak, kini malah sibuk menghela napas. Keinginan memberontak dari dalam dirinya sama sekali belum padam. Meskipun ia adalah seorang pewaris tunggal, dan bahkan sudah dipercaya untuk menjabat sebagai Presiden Direktur oleh sang kakek, tetap saja, rencana kakeknya tetap aneh bin menyebalkan. Detik berikutnya, Samuel menghadapkan diri pada Arman yang sudah kesulitan berjalan dengan benar tersebut. Sekali lagi, Samuel menghela napas begitu dalam.
"Kakek, dia masih terlalu muda. Apa Kakek ingin menghancurkan masa depan anak itu, dengan menyerahkannya padaku yang enggak mungkin menyukainya? Kakek juga tahu, bukan, jika aku belum bisa melupakan tragedi kecelakaan yang menghilangkan nyawa kedua orang tuaku sekaligus istri yang sangat aku cintai? Indira belum bisa tergantikan oleh siapa pun, Kek! Apalagi oleh anak kecil itu!" tegas Samuel masih berusaha.
Arman menghela napas. "Justru jika gadis yang selalu dianggap bodoh oleh keluarganya sendiri itu akan lebih aman jika hidup sebagai istrimu, Sam. Kakek sudah mengawasi Jihan sekeluarga sejak lama. Untungnya, Biyono memang memiliki hutang budi pada Kakek. Dan hal itu bisa Kakek gunakan untuk mencuri Jihan. Sudah waktunya bagi kamu untuk melupakan Indira, Sam. Kakek enggak bisa membiarkan kamu hidup sendirian sampai mati. Terlebih perusahaan yang Kakek bangun dengan susah-payah itu akan diwarisi oleh siapa setelah dirimu, Sam?"
"Sebentar lagi, Kakek juga akan mati. Permintaan Kakek hanya satu itu saja, menikahlah. Sembuhkan ketakutanmu itu, dan berbahagialah dengan Jihan, Sam, selama Kakek masih hidup. Nanti jika Kakek sudah enggak ada, setidaknya sudah ada sosok yang akan menemani dirimu sampai kamu menua, Nak," lanjut Arman sembari memasang ekspresi sendu.
Perihal umur dan kematian selalu saja membuat bibir Samuel langsung terkunci rapat. Benar-benar tidak ada satu pun kalimat yang menurutnya pantas untuk membalas ucapan kakeknya tersebut. Membuatnya juga langsung teringat akan ucapan Jihan mengenai sebuah penyesalan. Jika Samuel tak menuruti ucapan Arman, suatu saat jika Arman berpulang, Samuel pasti akan benar-benar menyesal.
Namun di sisi lain, untuk saat ini pun Samuel belum bisa melupakan tragedi kejam yang pernah terjadi di dalam hidupnya. Ketiga anggota keluarga yang sangat ia sayangi harus meninggal dunia karena kecelakaan di jalan raya. Bram Ariaman, Sisilia Kinan, termasuk juga Indira Stephanie Lusiana. Ayah, ibu, dan istri Samuel dinyatakan meninggal di tempat ketika hendak pulang setelah sempat Samuel kecewakan, lantaran Samuel malah mementingkan pekerjaan daripada menghadiri tempat yang mereka tentukan untuk merayakan ulang tahunnya. Hanya karena ingin menunjukkan kemampuan agar segera naik jabatan, Samuel sampai berlaku begitu kejam. Alhasil, ia malah naik menjadi seorang CEO, tetapi ia sudah kehilangan ketiga orang yang sangat berharga.
Samuel yang tidak ingin kehilangan lagi, apalagi dengan penyesalan begitu besar, pada akhirnya mengangguk pasrah. Upayanya untuk membatalkan pernikahannya dengan Jihan langsung menguap begitu saja.
"Baiklah, Samuel akan menikah dengan anak itu. Tapi, ada beberapa syarat yang harus Kakek turuti," ucap Samuel.
Arman menghela napas. "Katakan saja," titahnya.
"Aku ingin merahasiakan pernikahanku dengan Jihan terlebih dahulu, Kek. Lagi pula, Jihan masih karywati magang. Dia pasti akan dipandang sinis jika orang-orang mengetahui pernikahan kami, masalahnya aku juga orang yang sangat dibenci oleh para pegawaiku sendiri. Jika pernikahan kami sampai ketahuan, mereka yang membenciku akan melampiaskan kemarahan pada Jihan yang sangat lemah itu."
"Hmm ...."
"Selain itu, ada satu syarat yang wajib Kakek turuti juga. Kakek harus hidup jauh lebih lama."
Arman akhirnya dapat tersenyum. "Ya, Kakek akan berusaha untuk lebih panjang umur lagi sampai kamu bisa memberikan buyut untuk Kakek, Sam."
"Buyut?"
"Anakmu dengan Jihan."
Samuel menelan saliva dengan susah-payah. Begini rasanya diminta ini dan itu, ketika satu permintaan sudah ditaati. Rasanya sangat menyebalkan sekali. Namun lagi-lagi Samuel tidak mampu memberikan sanggahan, karena kakeknya juga teramat pandai membalikkan keadaan. Meski begitu, ia juga sangat meragukan keberadaan calon buyut untuk kakeknya, karena untuk menyentuh Jihan yang nantinya akan menjadi istrinya tampaknya akan sangat sulit ia lakukan.
***
Jihan masih saja ditekan, bahkan ketika dirinya sudah menyetujui rencana pernikahannya dengan Samuel. Ayah, ibu, adik, hingga paman serta bibinya saat ini ada di ruang keluarga, sementara dirinya bagai seorang terdakwa. Mengapa mereka masih saja ikut campur? Benar-benar anggota keluarga yang sangat konyol dan kerap bikin kesal!
"Nanti kalau kamu sudah menjadi istri Sam, kamu harus membantu adikmu, Jihan!" celetuk Biyono, ayah Jihan dengan lantang dan tegas.
"Sekalian sepupumu, Jihan. Dia kan baru masuk sekolah seni. Kalau bisa beri dukungan yang bisa membantu kariernya ya!" Rukmini, bibi Jihan, tak mau ketinggalan. "Kamu juga harus ingat lho, kalau Bibimu ini yang dulu mengajukan permintaan beasiswa untuk ayahmu! Sekarang waktunya kamu membalas budi!"
Biyono berdeham, merasa tak nyaman dengan ucapan adik iparnya.
"Sekalian yang jajan ya, Kak, Jovan juga butuh banyak uang nih buat menggelar pameran perdana hehe," celetuk Jovanus, si adik tak tahu diri.
"Sekaligus bantu Paman untuk mendapatkan koneksi agar bisa bekerja sama dengan perusahaan suamimu nanti. Kalau produk makanan Paman bisa memasuki cabang-cabang minimarket modern milik Sam, pasti—"
"Aduuuuuh! Menikah saja belum! Kenapa sudah banyak permintaan sih?! Lagian kenapa kalian semua mendadak amnesia begini, bukankah selama ini kalian semua menghina aku yang hanya berakhir menjadi karyawati magang, itu pun atas bantuan Ayah?!" serobot Jihan saking kesalnya.
"Jaga ucapanmu, Jihan!" tegas Yuni Asmara, ibu Jihan. "Berkat ayahmu juga, kamu bakal menjadi cucu menantu Arman Ariaman! Lagi pula, apa sulitnya membantu kami juga setelah mendapatkan predikat sebagai istri pewaris tunggal itu, hah?!"
"Ck, sial." Jihan bergumam kesal dengan suara yang amat pelan.
Yah, itulah kondisi keluarga Jihan yang baginya tak ada satu pun yang waras. Akan baik ketika ada maunya, selalu menyebalkan dan meremehkan Jihan, meski begitu Jihan sama sekali tidak boleh tinggal sendirian selama ini. Aturan di rumah serba ketat. Sebagai seorang pelukis yang harus selalu menjual habis karyanya, tentunya Biyono sekeluarga kecuali Jihan tidak mau nama baik keluarga mereka tercoreng. Oleh sebab itu, Jihan yang benar-benar sangat berbeda dengan mereka wajib dikurung di dalam rumah, agar tidak bikin onar di luar sana.
Semoga saja, Samuel tidak mencoba kabur dari rencana perjodohan. Karena hanya Samuel yang bisa mengeluarkan Jihan dari keluarga super toxic tersebut.
Sepertinya aku harus belajar merayu seorang pria, untuk menaklukkan Pak CEO Duda itu, batin Jihan berambisi.
***