bc

Pernikahan Mr. CEO dan Miss Genit

book_age18+
6
IKUTI
1K
BACA
HE
age gap
arranged marriage
boss
bxg
kicking
brilliant
office/work place
like
intro-logo
Uraian

Samuel Abraham Ariaman adalah seorang duda tanpa anak sekaligus CEO di perusahaan besar yang bergerak di bidang retail. Sebagai seorang pengidap trauma setelah kehilangan ayah, ibu, dan istrinya sekaligus, Samuel berencana untuk hidup sendirian sampai mati nanti. Namun rencana tersebut harus gagal ketika Arman Ariaman, yang adalah kakek Samuel memaksa Samuel untuk meminang Jihan Olivia Sutiyoso, seorang wanita muda yang merupakan anak seniman kondang dan juga karyawan magang di salah satu divisi perusahaan yang dipimpin oleh Samuel. 

Berbeda dengan Samuel yang memang berencana untuk tidak menikah lagi, apalagi dengan seorang wanita sebelas tahun lebih muda darinya, Jihan justru menyetujui rencana perjodohan tersebut. Persetujuan dari Jihan tentu saja langsung memupuskan harapan Samuel agar lamarannya ditolak oleh wanita itu. Sementara di sisi lain, Jihan memiliki rencana tersendiri, ia berniat untuk memanfaatkan status Samuel demi bisa dipandang lebih hormat oleh orang-orang yang selalu meremehkan dirinya, hanya karena ia tidak memiliki kemampuan seni sebaik ayah dan adik laki-lakinya.Sayangnya, upaya Jihan untuk memanfaatkan status Samuel, termasuk juga memamerkan pernikahan mereka malah ditentang habis-habisan oleh Samuel. Di mana selanjutnya, Jihan melakukan segala bujuk rayu manis untuk menaklukkan kerasnya hati sang suami.

chap-preview
Pratinjau gratis
Episode 1-Pak CEO Duda yang Menolak Pernikahan
Samuel sudah muak berada di rumah mewah yang tak lebih mewah dari rumah besar milik kakeknya ini. Sebuah rumah milik keluarga Biyono Sutiyoso, seorang pelukis kondang dan mumpuni. Namun kedatangan Samuel beserta sang kakek ke rumah tersebut bukanlah untuk memesan hasil karya Biyono yang sudah dikenal sampai ke mancanegara, melainkan untuk menghadiri prosesi lamaran yang sejatinya tidak Samuel inginkan sama sekali. Gilanya, calon istri Samuel yang dipersiapkan oleh Arman Ariaman, selaku kakeknya adalah wanita muda yang pernah Samuel anggap sebagai bocah ingusan di masa remajanya. Adalah Jihan Olivia Sutiyoso, wanita yang tidak pandai melukis layaknya sang ayah dan juga sang adik laki-laki, yang pada akhirnya malah berakhir menjadi karyawati magang di perusahaan retail milik keluarga Ariaman, sekaligus perusahaan yang saat ini Samuel pimpin sebagai seorang CEO. Mengapa dari sekian wanita dewasa, harus Jihan yang baru berusia dua puluh empat tahun itu pun belum genap, yang menjadi calon istri Samuel yang sudah memasuki usia tiga puluh lima tahun? Aku harap anak itu tidak berkenan untuk menerima lamaran sialan ini. Aku harap dia masih punya akal sehat, lantaran jarak usia kami juga sangat jauh. Kenapa pula Pak Biyono sampai rela menyerahkan anaknya yang masih muda untukku, hanya karena pernah diberi beasiswa sekolah ke luar negeri oleh Kakek? Ini benar-benar keterlaluan! Batin Samuel berharap besar. "Jadi, bagaimana Nak Jihan? Bukankah cucu Kakek ini sangat tampan dan cocok untuk kamu jadikan sebagai pendamping hidup? Haha, sebenarnya Kakek dan ayah kamu sudah bersepakat untuk menyatukan kalian berdua," celetuk Arman yang baru selesai berbincang mengenai lukisan dengan Biyono. Saat ini pun, Arman sudah menatap Jihan yang masih saja terdiam. Ia sama sekali tidak memedulikan penampilan Jihan yang masih memakai blazer hitam, rok berwarna senada, sekaligus kemeja dalam berwarna putih yang merupakan setelan pakaian kerja. Tentu ia memahami kondisi Jihan yang memang baru kembali dari kantor. "Hahaha!" Biyono malah tertawa. "Tentu saja, Jihan tidak akan keberatan, Tuan Besar. Anak ini menyukai pria tampan layaknya Tuan Muda, hehe." Yuni Asmara—ibu kandung Jihan sekaligus juga Jovanus Lindan Sutiyoso—sibuk menyenggol tangan Jihan yang masih diam. "Katakan iya. Masa depanmu akan lebih terjamin jika menikah dengan si Tuan Pewaris Tunggal itu," bisiknya pada sang putri. "Ingat, Jihan, kamu enggak sehebat Ayah dan Jovanus. Kamu malah berakhir menjadi karyawati magang satu tahun lho! Dan kamu enggak punya keterampilan yang bisa menjamin masa depanmu sendiri!" Jihan menghela napas lalu menggertakkan gigi. Selalu begini. Hanya karena tidak mewarisi bakat melukis, ia kerap dianggap enteng oleh kedua orang tuanya sendiri. Bahkan apa pun yang ia lakukan selalu saja buruk di mata mereka. Mata Jihan berangsur menatap Samuel, atasan killer yang sekali menatap seseorang, orang tersebut akan kehabisan akal sehat. Bukan karena pesona Samuel, melainkan karena ketajaman mata Samuel yang sudah seperti samurai begitu tajam. CEO yang sangat dingin dan tidak memiliki senyum sama sekali. Lantas siapa juga yang akan bertahan menjadi istri sesosok balok es tersebut? Namun .... Tapi, ucapan Ibu juga ada benarnya. Kalau aku menikah dengan Pak CEO Duda, masa depanku pasti akan terjamin. Lagi pula, Kakek Arman tampaknya sangat menyukaiku. Kalau Pak CEO Duda ini sangat jahat, Kakek pasti akan membelaku. Dengan begitu, posisiku bisa aman dan aku bisa memanfaatkan statusnya. Menjadi istri seorang presiden direktur perusahaan retail yang besar, pasti akan membuatku lebih dihormati oleh orang-orang. Bahkan termasuk Ayah, Ibu, serta Paman dan Bibi, batin Jihan kemudian menyeringai sembari terus menatap Samuel. Menyadari adanya tatapan tajam dari Jihan, Samuel langsung merasa tidak nyaman. Ia sampai mengusap tengkuknya yang mendadak merinding karena bocah ingusan itu terlihat sangat mengintimidasi. Semoga saja, anak itu tidak membuat keputusan yang gila, batin Samuel masih konsisten pada harapannya sendiri. "Saya mau, Kakek!" Jihan tiba-tiba berkata. Sebuah jawaban yang langsung membuat hati kedua orang tuanya dan Arman Pariaman merasa terkejut, tetapi juga sangat lega. Namun di sisi lain, Samuel malah melongo, merasa tak percaya. Anak ingusan itu setuju? Astaga! Apakah ini masuk akal? Samuel melotot geram ke arah Jihan, tetapi upayanya untuk mengintimidasi wanita muda itu justru dibalas dengan kerlingan mata genit yang langsung membuat dirinya bergemuruh hebat. "Jihan!" Samuel langsung bangkit dari duduknya. "Ikut saya! Ki-kita ... butuh berdiskusi sebentar!" "Waaah!" Biyono merasa takjub. Arman malah tertawa-tawa. Jihan mengernyitkan dahi lalu tersenyum sangat manis. Detik berikutnya, ia berangsur bangkit dari duduknya. "Baik, Pak CEO Du ... ah, maksud saya Pak Calon Suami hehehe." "Anak gila," gumam Samuel begitu pelan. "Ck, sialan. Kenapa aku harus berada di sini?" Ia kembali berkata sembari berjalan untuk keluar dari ruang tamu di ruangan pertama rumah itu. Jihan menghela napas, berusaha untuk menata hati dan mempersiapkan mental. Si CEO Duda dan killer itu sudah pasti akan menerkamnya menggunakan segala protes bernada kejam. Namun baiklah, tak masalah. Inilah risiko yang harus Jihan ambil untuk mendapatkan manfaat dari status terhormat milik pria tersebut. Lagi pula, menghadapi sebuah kekejaman bukanlah hal yang asing baginya. Jadi tak masalah, ia pun sudah terbiasa. "Pak CEO!" ucap Jihan setelah berhasil menyusul Samuel sampai ke halaman depan rumahnya. Ia menunjukkan pesona teramat ceria dan begitu manis, meski sebenarnya hanya dirinya sendiri yang menganggap demikian. Kedua tangannya ia lipat di belakang punggung. Langkahnya begitu lincah, layaknya anak SD yang sedang melompati setiap ubin pijakan. Samuel menghela napas sembari memejamkan matanya. Sungguh tak percaya jika anak ingusan itu malah berkenan untuk menjadi istrinya. Dan haruskah ia juga menjadi suami untuk seseorang yang lebih pantas menjadi keponakannya sendiri? Ayolah, ini benar-benar tidak masuk akal! "Tarik keputusan gilamu itu, Jihan!" titah Samuel. "Atau aku tidak akan pernah mengangkat kamu sebagai karyawan terkontrak di perusahaanku, hah?!" "Tidak mau!" tandas Jihan. Ia tersenyum lebar. "Kalaupun saya dipecat, Anda-lah yang akan bertanggung jawab atas diri saya yang akan menjadi istri Anda ini, ya 'kan, Pak?" "Jihan! Aku tidak main-main!" "Saya juga tidak, Bapak! Serius! Eh, enggak! Sepuluh ... mm sebelas rius deh! Sama seperti jarak umur kita hehe." Jihan mengerlingkan mata lagi. "Kalau sudah tahu jarak umur kita sangat jauh, seharusnya kamu tidak membuat keputusan gila, Jihan!" Jihan menghela napas lalu mengerucutkan bibirnya. Ia berangsur berjalan ke arah pagar tanaman dan bersandar di sana. "Memangnya kenapa kalau jarak umur kita sangat jauh, toh Pak CEO kan tampan, terus terpandang lagi! Orang kaya pula hehe." Samuel menghadapkan diri pada Jihan. "Tampan? Bukankah pacarmu lebih tampan? Kaya? Bukankah keluargamu juga sudah sangat kaya? Kenapa harus—" "Iiiiih! Kita kan hanya perlu menikah, apa susahnya sih, Pak?! Kalau Bapak belum siap tidur bersama, kita bisa pisah kamar dulu! Yang penting kita menikah. Sudah cukup! Okeee?! Ah satu lagi, saya ini jomblo lho, Pak. Saya dilarang punya pacar sama Ayah tahu!" "Apa katamu? Hanya? Waaaah!" Samuel mengusap wajahnya secara kasar. "Anak ingusan macam kamu, mana mengerti arti sebuah pernikahan. Kamu tidak bisa menganggap enteng masalah ini, Jihan!" Jihan menggertakkan giginya. "Kakek Pak CEO sudah hampir delapan puluh tahun. Beliau hanya ingin melihat Anda menikah lagi, setelah kepergian istri pertama Anda. Saya tahu kok kalau Anda takut kehilangan lagi, tapi, Pak, bukankah membahagiakan Kakek yang sudah teramat tua juga penting? Pak CEO sadar, 'kan, kalau manusia enggak akan selalu hidup? Mereka akan berpulang, oleh sebab itu selama Kakek masih ada, Anda harus—" "Diamlah, Jihan! Jangan membawa-bawa nama kakekku, apalagi sampai lama hidup kakekku." "Saya hanya ingin mengingatkan Pak CEO tentang hal itu saja, tahu! Saya enggak mau Anda menyesal! Jadi menikah saja dengan saya, Paaak!" Jihan begitu berani mengalungkan tangannya di lengan Samuel. Dan lagi-lagi ia mengerlingkan matanya. "Meski enggak jago melukis seperti Ayah, saya pandai memasak kok! Serius!" Samuel menghela napas. Namun tidak ada niat untuk menyingkirkan tangan wanita muda itu dari lengannya. "Apa yang kamu inginkan? Jujurlah padaku, Jihan." Pertanyaan dari Samuel yang terdengar sepele itu justru membuat Jihan berangsur diam. Ia pun berkenan untuk melepaskan tangan Samuel dari dekapan lengannya sendiri. Namun alih-alih segera memberikan jawaban, Jihan justru terdiam. Ia pikir, sebelum menikah secara resmi, alasannya pasti akan membuat Samuel langsung berencana untuk mundur dari rencana pernikahan. Jika Samuel sampai membatalkan rencana tersebut, Jihan akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan kehormatan sekaligus cara untuk kabur dari kedua orang tuanya. Ia tidak mau. Meski tidak mencintai Samuel, ia tetap harus menjadi istri dari CEO Duda itu. "Saya suka pada Pak CEO tahuuu!" ucap Jihan dengan lantang sembari memejamkan matanya rapat-rapat. Sebuah pengakuan yang membuat Samuel langsung melongo heran. ***

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.3K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
15.0K
bc

TERNODA

read
199.3K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.7K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.3K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
70.3K
bc

My Secret Little Wife

read
132.4K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook