bc

Dear Mas Suami

book_age16+
5.4K
IKUTI
32.5K
BACA
HE
doctor
comedy
realistic earth
slice of life
like
intro-logo
Uraian

Kinara tidak tahu kenapa dia bisa berakhir menikah dengan pria semacam Raden Mas Javas Tjokro Aminata yang selang umurnya dua belas tahun di atasnya. Itu jelas hal tergila yang tak pernah terlintas di benaknya, dan lebih parahnya lagi, si Mas Suami punya orientasi menyimpang.

Lalu, bagaimana akhir dari pernikahan mereka?

chap-preview
Pratinjau gratis
SATU
Coba tebak, plankton itu berkembang biak pakai cara apa? Ovipar, vivipar, ovovivipar, atau malah membelah diri kayak amoeba? Jangan kira aku tahu jawabannya, ya? Soalnya aku sendiri juga buntu. Lebih baik dikasih soal Kimia lima puluh nomor tentang titrasi asam-basa sama pH-nya berapa daripada ngurusin perkembangbiakan plankton yang sejujurnya nggak aku tahu sama sekali. Ya, meskipun aku harus nenghabiskan waktu lebih dari satu hari untuk mengerjakan itu. "Mbak Kin, katanya udah jadi sarjana, masa soal anak SMP aja nggak tahu, sih, Mbak. Jawab dong Mbak, plankton berkembang biak pakai cara apa?" Anak cewek yang lagi duduk bersender di sofa sampingku itu sibuk mendumel sambil memainkan pensil 2B yang legendaris, sudah dipakai sebelum negara api menyerang, di atas kertas. Mencoret-coretinya dengan gambar abstrak. "Hm?" Aku berdeham pelan sambil sibuk membenarkan jilbab dengan kepala mendongak. Sambil berpikir aku menatap ke platfon rumah Tsani yang putih bersih, bebas dari sarang laba-laba, beda sekali dengan rumahku yang subhanallah. Pantas Umi selalu mengomel kalau aku ada di rumah. "Kayaknya di kartun Spongebob itu ada deh yang plankton-plankton gitu. Coba kamu tonton itu aja, cari tahu dari sana," kataku. Iya, aku memang sebodoh itu. IQ-ku cuma sebatas tumit, memang rendah. Tapi nggak papa, kenapa malu? Tuhan yang kasih juga. Kalau manusia yang kasih, ya aku nggak bakal marah juga. Marah nggak bakal jadiin aku punya otak selevel Albert Einstein atau Pak B.J. Habibie yang luar biasa. "Mbak, plankton di Spongebob itu nikahnya sama konputer, cara berkembang biaknya gimana coba?" Tsani sibuk mendumel lagi. Ck, anak ini memang, aku kan sudah berusaha membantu sebisaku. Daripada nggak aku jawab sama sekali kan, ya? "Mbak, pinjem HP dong kalau gitu." Tsani sekarang mengubah posisinya. Dia jadi duduk tegak dan atensinya seratus persen ke arahku. Aku yang baru selesai dengan urusan kerudung itu otomatis langsung menatap cewek muda itu dengan kerutan di dahi. "Buat apa?" tanyaku. "Browsing di internet." Dia menjawab. "Tapi entar kuota Mbak habis, Mbak nggak bisa streaming Mas Crushnya Mbak." "Kan di rumah Mbak ada wifi." "Tapi Mbak nggak bisa juga pakai wifinya, Tsani." Jadi, di rumahku itu memang ada wifi, tapi Bapak nggak pernah kasih tahu sandinya apa, pas pertama kali aku tanya, Bapak malah jawab, "Sandinya tebak aja." Kan, kalau aku bisa nebak mah sudah pasti aku nggak tanya-tanya ke Bapak. Dan, ketika aku tanya untuk ke sekian kalinya, Bapak malah ceramah panjang kali lebar, bagus sih kalau soal agama, tapi ini soal aku dengan kebodohan otakku. "Percuma ya, Bapak jawab pun kamu nggak bakalan nyambung. Emang paling bener kamu nggak usah tahu ya. Bapak jadi mikir, nanti kamu pasti ngedekem doang di rumah. Nggak keluar-keluar. Harusnya kan kamu sosialisasi. Kasihan, tetangga jadi nggak tahu gimana rupa anak Bapak. Dikira anak Bapak itu kambing-kambing yang sering Bapak angon di lapangan samping rumah." Demikianlah kata Bapak. Jawaban Bapak yang itu sukses bikin aku manyun tujuh hari tujuh malam. Padahal enggak begitu ceritanya, aku masih sering kelayapan kok, nggak cuma ndekem kayak omongan Bapak. Bapak saja yang terlalu berlebihan. "Mbak ih, malah bengong!" Tsani berteriak sambil mendaratkan tangan mungilnya yang rupanya punya kekuatan super di pahaku sampai bikin aku teriak-teriak kesakitan. Sakitnya minta ampun, serius. Nggak bohong. Kalau bohong hidungku bakal panjang kayak Pinochio, tapi nggak papa sih seharusnya, seenggaknya aku punya hidung yang lebih mancung dari hidungku sekarang. "UMI SAKIT! UMI, KINARA DIDZOLIMI UMI! UMI! TOLONG KINARA UMI!" Dan setelah itu aku menangis kencang. Pasti deh memar-memar gitu besok. Rasanya saja masih panas sampai sekarang. "Apa sih Mbak Kin, jangan lebay ah sama gitu doang. Sesuatu yang berlebihan itu nggak baik Mbak Kin, bersikap sewajarnya aja," kata Tsani dengan bijak dan aku langsung tertohok dengan ucapannya yang dewasa itu, padahal umurnya masih jauh di bawahku. Aku lalu menghentikan tangisanku dan memasang wajah senelangsa mungkin. "Mbak nggak berlebihan, Tsan, sakit beneran lho ini, kamu tangannya super banget." "Hilih," sahutnya lalu sibuk menjelajahi mbah dukun sejuta umat dengan ponselku yang entah sudah sejak kapan diambilnya. Ngomong-ngomong, walaupun Tsani ini dari keluarga yang lebih dari cukup alias keluarga berduit, tapi gaya hidupnya nggak seperti orang berduit di luaran sana. Anak-anak seusianya pasti sudah punya ponsel sendiri, sementara Tsani memang nggak diperbolehkan. Langkah bagus kalau menurutku, anak seusia Tsani yang baru masuk SMP begini adalah anak yang rentan, mudah terpengaruh segala macam yang dia lihat di sana. Dia bakal kecanduan dengan benda cerdas itu, alhasil, anak yang seharusnya fokus belajar jadi lebih mementingkan ponsel. Apa-apa ponsel, apa-apa, 'aku nggak bisa hidup tanpa HP.' Ya pokoknya jangan sampai anak-anak usia rawan begini dikasih benda pipih supercanggih itu. Bahaya. Biasakan tanpa benda itu sejak kecil, boleh pegang mungkin, tapi hanya sesekali saja.  "Assalamu'alaikum." Aku mendongak saat mendengar seseorang beruluk salam. Kulihat masnya Tsani sedang berjalan ke arah kami sambil menenteng jas putih dan tas punggung yang dicangklong di bahu kanannya. Dia itu dokter, ganteng sih, tapi sudah cukup tua. Setahuku, masnya Tsani ini umurnya ada di pertengahan kepala tiga, tapi dia sama sekali belum menikah. Masih jomlo kalau kata Tsani, tapi aku jelas nggak percaya, soalnya aku pernah kedapatan melihat dia di mal bersama mas-mas lain, akrab banget. Masnya Tsani yang biasanya dingin minta ampun, jarang senyum juga, malah cekikikan mulu. Dan hari berikutnya kulihat dia masih dengan orang yang sama. Masih seakrab sebelumnya. Aku pun jadi yakin kalau mereka ada something special. Duh, kasihan orang tua sama adiknya kalau tahu si Mas ini punya orientasi menyimpang. Masnya Tsani lalu mengulurkan tangan ke depan kami, yang refleks membuatku meraih tangannya dan menempelkannya di keningku. Umi dan Bapak selalu begini, dan hal itu bikin aku terbiasa. Saat sadar dengan perbuatanku, aku mendongak, melihat Mas Javas yang tampak terkejut, tapi raut itu nggak bertahan lama. Malah wajahnya mulai memerah sekarang. Apa dia marah karena tingkahku itu? Serius, aku benar-benar refleks tadi. Nggak ada maksud pegang-pegang atau cari kesempatan dengan bujangan itu. "He he, daripada dianggurin Mas." Pada akhirnya aku bersuara meski dengan kalimat ngaco dan suara superkikuk. Aku sampai jadi malu sendiri, seriusan. Apa-apaan sih diriku ini? Kenapa coba bisa selancang itu? Dia berdeham, setelah itu membuka suara, "Lain kali jangan, bukan mahram," jawab dia. "He he, maaf Mas." Aku mah cuma bisa nyengir, tapi setelah si lelaki tua yang namanya lumayan panjang, Raden Mas Javas Tjokro Aminata---ngomong-ngomong aku butuh hampir satu bulan untuk menghafal namanya dulu---itu menyalimi si adik semata wayang dan pergi dari sini, aku langsung menyembunyikan wajahku di bantal. Malu banget sumpah. Dan suara cekikian nenek sihir mulai terdengar. Bah, rupanya Tsani sempat memperhatikan interaksiku dengan abangnya tadi. "Mbak Kin, Mbak Kin, mendadak aku jadi shipper kalian deh," katanya. Aku langsung menegakkan badan dan mendelik pada gadis muda ini. "Apa sih, nggak ya. Mbak nggak mau ya sama masmu itu," kataku sambil mencebik. "Masmu itu udah tua, Tsan. Nanti Mbak masih kinyis-kinyis, masmu udah bangkotan." "Mbak kok ngomong gitu sih, Mas Javas masih kelihatan muda kok, ganteng juga." Begitu kata anak umur tiga belas tahun ini. Ngomong-ngomong, umurnya memang beda jauh dari Mas Javas yang kalau nggak salah umurnya sudah tiga-empat. Ini karena Pakde Tjokro, Bapak Mas Javas dan Tsani yang katanya punya darah biru itu menikah lagi dengan Tante Widya, artis lawas yang sudah nggak tenar lagi. "Percuma ganteng Tsan, kalau orientasinya aja belok," ceplosku. "Hah, belok? Belok apa Mbak?" Tsani yang tadinya kembali fokus ke layar gawaiku langsung kembali menoleh, dan memicingkan matanya. Refleks, aku membekap mulutku yang sama sekali nggak bisa kukontrol. "Mbak bilang apa ta--" "KINARA! BALIIIKK! AMBIL KTP RAJASA DI RUMAH PAK RT! UDAH JADI KATANYA TADI!" Suara Umi yang pasti lagi ada di teras rumah, bukan rumah Tsani, tapi rumahku sendiri yang memang berdampingan, menggelegar dengan nyaring. Biasanya aku paling nggak suka, soalnya selain bikin malu karena didengar hampir seluruh penghuni komplek, suara Umi itu punya kemungkinan bikin telinga budeg mendadak, tapi suara itulah yang sekarang menyelamatkanku dari Tsani yang menuntut penjelasan dariku. "Mbak balik dulu ya Tsan, udah dipanggil Yang Mulia nih. Assalamu'alaikum ya." Aku buru-buru mengambil HP dari Tsani dan berlari keluar dari rumahnya dengan hati yang tak henti-hentinya merapalkan hamdallah. Alhamdulillah pokoknya. Aku tahu, kalau sampai Tsani tahu masnya adalah seorang pria 'cacat' dalam tanda petik, dia bakalan sedih. Umurnya masih terlampau muda, jadi, aku yang baik hati ini akan memyembunyikannya sampai si masnya itu sembuh dari penyakitnya itu. TBC

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.0K
bc

TERNODA

read
199.0K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.7K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
64.1K
bc

My Secret Little Wife

read
132.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook