EMPAT BELAS

1743 Kata
Aku nggak diterima kerja di tempat Umi mengajar. Alasannya, ada yang jauh lebih baik dari aku. Dan fakta itu bikin aku lesu seharian ini. Kapan coba aku kerja? Kapan aku punya penghasilan sendiri? Serius demi apa pun, aku juga mau seperti teman-temanku yang lain yang sudah mapan dengan pekerjaan mereka, tapi apa daya? Aku tetap akan menyandang status tanpa pekerjaan untuk waktu yang nggak bisa aku tentukan. Aku sudah cukup rindu b******u dengan soal-soal Kimia. Mendesah, aku mengubah posisiku menjadi terlentang di atas sofa. Sejak tadi yang kulakukan hanya bergerak nggak menentu di sana, mengabaikan benda kotak yang sedang menayangkan acara gosip itu. Pikiranku sedang terbagi-bagi. Aku bingung harus mencari pekerjaan di mana lagi, pun dengan kehamilanku yang nggak bisa kusembunyikan lama-lama, atau dengan orientasi Mas Javas. Semua membuat kepalaku mau pecah. Aku nggak cukup mampu berpikir seberat ini. "Kin, tolong pijitin tengkuk saya, rasanya mual mulu." Suara berat Mas Javas yang baru bergabung ke ruang menonton menyentakku. Aku lupa kalau hari ini dia cuti, kondisinya masih belum membaik. Aku nggak menghitung berapa banyak dia muntah pagi ini, tapi aku bisa memastikan itu lebih dari lima kali. Entah apa yang membuat Mas Javas jadi begitu, aku pun nggak tahu dan nggak berniat cari tahu. Palingan Mas Javas masuk angin biasa. Aku duduk, membenarkan kerudung instanku lalu menujuk lelaki itu untuk duduk di karpet. Aku nggak berbincang apa pun dengannya dan lebih memilih memijat tengkuk Mas Javas seperti yang ia minta. Entah ingatan yang random atau otak yang nggak mau berhenti berpikir, wanita yang datang bersama Mas Javas dan Mas Natha kemarin melintas di benakku. Aku jadi bertanya-tanya, siapa dia? Nggak masalah sejujurnya kalau dia datang ke sini, hanya saja aku nggak cukup nyaman dengan tatapannya untukku. Aku jadi merasa orang yang paling berdosa ditatap seperti kemarin. "Mas Javas, mbak-mbak cantik yang kemarin pulang sama Mas itu siapa? Aku belum pernah lihat dia sebelumnya," tanyaku pada akhirnya setelah nggak bisa membendung rasa penasaranku lagi. Mas Javas nggak menjawab, padahal aku yakin suaraku bisa ia dengar dengan cukup jelas. Mungkin dia kerasukan hantu Antartika lagi, meski sejujurnya aku lebih pro ke dia yang banyak ngomong. "Mas? Mas Javas denger aku, kan?" tanyaku. "Dia ... kenapa kamu mau tahu siapa dia? Kamu cemburu?" terka Mas Javas. Pijatanku berhenti. Mendengkus keras, aku lantas menjawab, "Cemburu? Cemburu itu cuma buat orang yang punya rasa. Mas Javas jangan ge-er dong, aku lho belum sesuka dan sejatuh hati itu sama Mas. Aku tanya begitu, soalnya kayak, gimana, ya, nyebutnya, tatapan dia nggak nyaman gitu buat aku." Mas Javas menghela napas panjang. Ia lantas menoleh ke belakang, memandangku dengan sorot datar dan wajah tanpa ekspresi. "Sampai kapan kamu nggak mau jatuh hati pada saya? Belajar mencintai saya, Kin. Karena sampai kita tua nanti, yang selalu ada di samping kamu adalah saya. Yang kamu lihat pertama kali setelah membuka mata adalah saya." "Kenapa malah jadi belok ke cinta?" Aku menyipitkan mata. Topik pembicaraan kami berubah 180 derajat. Entah itu karena Mas Javas yang nggak mau membahas perihal siapa wanita yang kemarin atau dia yang memang cuma mau membahas perihal hati. "Lagian, aku nggak ngerti, kenapa Mas nyuruh aku buat belajar cinta sama Mas, kalau Mas sendiri aja nggak bisa cinta sama aku? Yang ada bertepuk sebelah tangan, Mas. Aku nggak suka." "Kamu tahu dari mana kalau saya nggak cinta sama kamu?" Mas Javas menatapku dengan dalam, membuatku jadi gugup sendiri. Aku lantas mengibaskan sebelah tangan, berusaha terlihat biasa-biasa saja meski jantungku lagi nggak menentu. "Mas, aku tahu rahasia Mas. Aku nggak lupa, lho. Ada Mas Natha di hati Mas," kataku memelan di kalimat terakhir. "Saya normal, Kin. Berapa kali saya harus bilang sama kamu tentang hal itu? Tolong, jangan asal menyimpulkan sesuatu dari sudut pandang kamu sendiri dan jangan keras kepala juga. Kamu nggak bisa hidup kayak gitu." Pada dasarnya aku nggak asal saat menyimpulkan sesuatu. Aku lihat sendiri kok, bagaimana akrabnya Mas Javas dan Mas Natha, padahal ketika kami ngobrol, yang mana cuma basa-basi, sikap dia nggak pernah bisa dibilang baik. "Itu karena kita bukan mahram, bukan pula pasangan halal. Saya nggak mau, dengan saya bersikap baik sama kamu, interaksi kita bisa jadi makin bertambah, lalu saya akan terus memikirkan kamu, bakal selalu membayangkan kamu, atau sampai bersikap melebihi batasan saya dan kamu, padahal huhungan kita bukan apa-apa di mata Tuhan. Saya nggak mau menciptakan ladang dosa, Kin. Kamu sendiri tahu, kan, gimana setan bekerja?" Itu balasan Mas Javas saat aku menyampaikan isi kepalaku. Dan aku nggak tahu, apakah aku bisa mempercayai omongan lelaki satu ini atau menganggapnya cuma membual seperti biasa. Namun, tatapan dalam Mas Javas yang mengunciku di satu titik, berhasil membuatku nggak berkutik dengan jantung yang seolah-olah baru lari maraton. "Belajarlah mencintai saya seperti saya mencintai kamu selama ini, Kin." Dengan ucapannya yang begitu, aku bahkan nggak bisa meresponsnya dengan satu kata pun. Aku cuma diam dengan mata yang berpusat pada lelaki di depanku. Kalau yang Mas Javas bilang adalah sebuah kebenaran, itu artinya aku sudah salah paham selama ini, tapi bagaimana bisa seorang Raden Mas Javas Tjokro Aminata mencintai seorang Kinara Pradhana Prameswari? Nggak mungkin kan, alasannya cuma karena rupaku? Otakku juga nggak secerdas itu. Perihal agama? Meski sudah menutup diri, aku pun masih sering melakukan dosa, terutama pada Umi yang sering kubuat kesal. Dan hari itu aku benar-benar nggak merespons ucapan Mas Javas, bahkan ketika lelaki itu kembali muntah-muntah aku nggak berusaha untuk membantunya. Pun, aku sudah nggak peduli dengan pertanyaan pertamaku tentang wanita yang kemarin, aku melupakannya begitu saja. Pikiranku sekarang malah fokus pada ucapan Mas Javas. Mencintaiku, katanya. Dan entah mengapa, aku meragu. *** Mas Javas nggak menuntut jawaban apa pun dariku, dan aku bersyukur karena dengan begitu, aku bisa berpikir lebih lama lagi. Aku nggak tahu kenapa aku meragu pada Mas Javas, mungkin karena sebelumnya aku meyakini dia sebagai lelaki dengan orientasi menyimpang. Dan, bisa jadi juga dia nggak sungguh-sungguh dengan perkataannya, tapi tatapan Mas Javas tadi benar-benar bikin aku nggak berkutik. Itu bukan jenis tatapan orang yang cuma mau main-main, melainkan orang yang benar-benar serius. Memikirkan segala kemungkinan yang terjadi, membuat kepalaku berdenyut nyeri. Belum lagi mood-ku yang anjlok karena statusku yang masih saja menjadi pengangguran. "Mas, ini Mas nggak mau dibawa ke rumah sakit? Beneran? Serius, wajah Mas kayak orang mau meninggal," kataku pada Mas Javas yang kini tengah bersender pada kepala ranjang dengan selimut yang menutupi setengah tubuhnya. Wajah lelaki itu cukup pucat dan ada keringat yang memenuhi kening juga pelipisnya. Entah sudah berapa kali dia bolak-balik keluar masuk kamar mandi untuk muntah, yang jelas jika kukalkulasikan bakal lebih dari sepuluh kali. Energinya pasti sudah terkuras habis sekarang, apalagi dia juga belum makan sejak tadi pagi. Tentu aku nggak bisa terus-terusan mengabaikannya. Bagaimanapun juga dia suamiku, aku harus tetap merawat lelaki itu meski sejujurnya kepalaku sendiri sedang sakit-sakitnya, yang mana memang kebiasaanku ketika banyak pikiran begini. "Saya nggak mau ke sana, baunya bikin mual, Kin," sahutnya dengan suara lemah tanpa tenaga. "Terus Mas Javas maunya gimana? Dari tadi pagi Mas juga nggak makan sama sekali. Mas emang dokter, tapi Mas nggak bisa mendiagnosa tubuh Mas bakal nggak kenapa-kenapa kalau kita ada di rumah aja. Masuk anginnya Mas itu udah yang parah banget," kataku dengan perasaan dongkol. Mas Javas benar-benar sangat menjengkelkan, padahal kondisinya sedang sekarat begini. "Saya rasa saya nggak masuk angin, Kin," sahut Mas Javas dengan lesu. "Terus apa kalau nggak masuk angin? Emang ada penyakit lain yang muntah-muntah kelewat batas gitu? Oh, atau Mas punya penyakit maag?" Mas Javas menggeleng. "Ini semacam morning sickness." Mendengar itu aku langsung membulatkan mata. Morning sickness itu kan, istilah buat orang hamil. "Mas Natha ngehamilin Mas Javas?" kagetku. Raut Mas Javas yang sebelumnya penuh dengan ringisan kini berubah datar. Dia menatapku tanpa makna. "Kamu pikir, laki-laki nggak berahim seperti saya bisa hamil?" "Ya, enggaklah, ngaco!" sahutku cepat. "Lagian, setahu aku morning sickness itu istilah cuma buat ibu hamil yang muntah-muntah sama mual doang," lanjutku. "Suami juga bisa ngalamin itu, Kin, kalau istrinya lagi hamil. Bedanya ini karena Sindrom Couvade." Mendengar hal itu, mataku jelas membola. Mas Javas berbicara seolah-olah dia tahu kehamilanku. Atau jangan-jangan dia memang sudah tahu? Namun, aku bisa bernapas lega begitu mendengar kelanjutan ucapannya, "Konyol, ini pasti gara-gara kamu muntah tempo hari, saya jadi berpikir macam-macam." "A-apa hubungannya?" Aku bertanya sedikit gugup. Aku nggak tahu apakah Mas Javas mau menerima kondisiku yang berbadan dua atau enggak, meski tadi dia bilang dia mencintaiku. Namun, selama aku masih ragu dengan pernyataannya itu, aku akan tetap menyembunyikan perihal kehamilanku ini. "Saya pikir kamu hamil. Jujur saja saya nggak siap, mungkin kamu juga. Itu bikin saya kepikiran beberapa hari ini. Saya terlalu khawatir dengan sesuatu yang belum tentu benarnya, sampai-sampai hormon prolaktin dan kortisol saya naik, bikin saya jadi ngalamin morning sickness kayak gini." "A-aku nggak hamil, kok." Sejujurnya aku nggak cukup mengerti dengan penjelasan Mas Javas yang terlalu tinggi untuk otakku yang cetek ini, tapi secara garis besar aku paham. Mas Javas belum siap, itu artinya langkahku sudah tepat, aku akan tetap menyembunyikannya. Entah bagaimana nanti kalau dia tahu aku sedang hamil, tapi yang pasti Mas Javas nggak boleh tahu dulu. *** Pagi ini aku sedang menyapu halaman depan ketika sebuah mobil SUV masuk ke pelataran rumah dan berhenti nggak jauh dariku. Sesaat kemudian, wanita yang kudapati bersama Mas Javas dan Mas Natha kemarin turun dari sana, lalu memutari bagian mobil untuk membuka sisi lain. Nggak lama setelah itu, gadis kecil yang kuperkirakan berumur 6-7 tahunan keluar juga dari mobil itu. Aku mengerutkan kening. Ada beberapa tanda tanya yang sedang memenuhi benakku, sebenarnya siapa sih, wanita itu? Kenapa dia datang ke sini dan sepagi ini? Apa motifnya? Wanita yang belum kutahu namanya itu lalu berjalan ke arahku sambil menggandeng tangan gadis kecil yang datang bersamanya tadi. Aku semakin mengerutkan kening saat mendapati tatapan yang sama persis seperti yang kemarin dari wanita itu. Serius demi apa pun, aku nggak mengenalnya, jadi sedikit mustahil kalau aku melukai entah hati atau fisiknya. Lamunanku terputus begitu mendengar seruan gadis kecil itu yang sudah melepaskan tautan tangannya dengan wanita itu yang kutebak adalah ibunya, lalu berlari menghambur ke belakangku. "Papa!" Aku memutar tubuh, mendapati Mas Javas yang kondisinya memang sudah membaik dan sudah siap berangkat ke rumah sakit dengan sneli juga tas alkes-nya, tengah berdiri di teras rumah dengan tubuh kaku. Semula aku masih belum sadar dengan situasiku saat ini sampai anak itu kembali menyebut 'Papa' dan memeluk kaki Mas Javas. Tubuhku turut membeku di tempat dengan jantung yang seolah berhenti berdetak. Aku nggak salah dengar, kan? Gadis kecil itu memanggil Mas Javas dengan sebutan 'Papa'? Tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN