Jadi, Dayu menyukai Gala sebelum hampir semua cewek menyukai cowok satu itu. Menurutnya Gala adalah lelaki yang paling baik di dunia ini. Kenapa? Ada kisah yang tercipta begitu saja pada sebuah hari di masa lampau. Kisah yang melekat erat di memorinya.
Suatu ketika, di hari pertama masuk sekolah, Dayu terpaksa datang di waktu yang tak seharusnya, dengan kata lain dia terlambat. Bukan salahnya juga, Dayu sudah bangun pagi-pagi sekali, bahkan sebelum adzan subuh berkumandang. Ia sudah menyiapkan segala hal yang menjadi atribut selama masa orientasi siswa baru. Tapi sayang sekali, di hari itu ada sedikit masalah di rumah. Papa dan mamanya memang sangat konyol waktu itu, sempat-sempatnya mereka menyuguhkan sebuah drama untuk anaknya tonton.
Hari itu Dayu harus mau mendapat predikat anak bandel karena nekad memanjat pagar sekolah. Padahal aturannya tidak boleh, tapi menurutnya itu lebih baik daripada dia harus kembali ke rumah. Dari tata tertib yang ia baca saat mendaftar dulu, tidak ada dispensasi untuk anak yang kurang disiplin. Memang, daripada membukakan pintu gerbang, sekolahnya itu lebih memilih memberikan beberapa poin bagi pelanggar tata tertib dan surat keterangan untuk diberikan kepada orang tua atau wali murid. Kejam, tapi sampai sekarang peraturan itu cukup ampuh memberantas anak-anak bandel.
Kembali ke cerita. Sukses mendarat dengan sempurna di halaman belakang sekolah, Dayu langsung berlari menuju lapangan. Ia perlu memutari ruang guru dan laboratorium Fisika untuk menuju tempat eksekusi bagi siswa-siswi baru seangkatannya. Namun di tengah jalan, ia baru menyadari, topi segitiga yang seharusnya tersimpan rapi di dalam tas itu tidak ada. Padahal seingatnya ia sudah memasukkan barang yang sontak menjadi sangat keramat itu di sana. Mau tidak mau ia berhenti dan kembali mengecek, tapi topi itu benar-benar tidak ada di sana.
"Lah, topi gue mana?"
Dayu mendesah berat, frustrasi setengah mati. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan kakak-kakak OSIS semisal ia tak menjalankan ketentuan-ketentuan yang sebelumnya mereka beri. Namun beberapa saat kemudian, tiba-tiba ada seseorang yang mengulurkan sebuah topi segitiga padanya. Tapi itu bukan topinya. Itu topi yang lain.
"B-buat gue?" Dayu menatap si pemilik dengan kening yang berkerut dalam. Di depannya ada sesosok cowok tinggi dengan pakaian yang agak tidak rapi, ujung kemeja putihnya mencuat keluar dari tempat yang seharusnya, sementara rambut hitam berponi cowok itu sedikit acak-acakan, ada lecet juga di pelipisnya, entah karena apa. Cowok itu juga pakai kacamata bening yang sangat tebal-mungkin minus-nya sudah mencapai titik keterlaluan.
Ganteng, kesan pertama Dayu begitu. Dan baik, setelah mendapat anggukan dari si cowok. Tapi setelah itu Dayu baru sadar. Cowok itu juga memakai seragam yang sama seperti yang tengah ia pakai, putih-biru. Dan jelas mereka dari angkatan yang sama, anak baru.
"Ah enggak deh, lo mau pakai apa kalau topi lo, lo kasih ke gue? Nanti lo juga dihukum. Gue nggak mau bikin orang lain repot gara-gara gue."
Waktu itu Gala tidak berbicara sepatah kata pun untuk membalas ucapan panjang Dayu, hanya memasangkan topi itu di kepala si cewek dan meninggalkannya bersama jantung yang tiba-tiba menggila. Perlakuan kecil, tapi berhasil menjungkir-balikkan dunia cewek itu. Sejak saat itu, Dayu mulai menyukai cowok yang sebulan kemudian ia tahu bernama Renggala Al Darion. Sesederhana itu memang.
Kembali ke masa sekarang, Dayu cuman bisa duduk di kursi dekat jendela laboratorium Biologi dan menatap Gala yang tengah berkutat dengan pipet dan erlenmeyer di laboratorium Kimia seberang. Cowok itu tampak amat serius, membuatnya terlihat tampan berkali-kali lipat dari biasanya. Dayu selalu suka memandangi Gala seperti ini. Biar, dia tidak peduli disebut bucin, toh Gala memang pantas dijadikan objek ke-bucinan-nya atau cewek-cewek yang memang mengidolakan cowok satu itu.
"Galau amat lo?" Melysa datang sambil melepas sarung tangan karetnya dan duduk di sebelah Dayu. Kelas mereka baru selesai melakukan praktik operasi pada seekor katak sehat dan bebas dari dosa untuk dipelajari anatomi tubuhnya.
"Gala lagi nih?" Decakan keras terdengar dari sahabatnya itu. Ia sungguh bosan melihat Dayu menjadikan Gala sebagai orientasi hidupnya. Katanya sih suka, katanya juga sayang, katanya lagi dia cinta, tapi mendekat saja cewek itu ogah, takut dia.
"Keren banget sih dia," kata Dayu lalu membersit hidungnya yang flu. Kemarin saat mencoba menangkap katak di sungai belakang sekolah, cewek itu malah kehujanan. s**l sekali memang, daya tahan tubuhnya tak pernah sebagus itu.
"Menurut lo Gala kan emang selalu keren," Melysa menyahut dengan sinis. "Terus masalahnya apa? Kenapa lo cemberut begini?"
"Dari gosip yang beredar, Riana ditolak sama Gala."
"Ya bagus dong buat lo!"
"Ya enggak."
Terkadang Melysa tidak mengerti dengan ucapan Dayu. Baginya yang bukan ahli Matematika seperti Leonhard Euler, Dayu adalah soal-soal kalkulus yang begitu sulit ia mengerti dan membuat kedua telinganya mengeluarkan asap yang membumbung ke udara. Jalan pikiran Dayu serupa labirin yang semakin lama ditelusuri semakin membuat frustrasi. Cewek itu bukan sosok yang gampang ditebak.
Melysa menghela napas panjang. Berharap penat yang tiba-tiba melandanya menguar dan tak berbekas. "Terus korelasinya apa?" Cewek itu bertanya jengah pada akhirnya.
"Nggak ada," Dan Dayu hanya menjawab singkat, tanpa intonasi. Sesaat kemudian cewek itu terbatuk beberapa kali, membuat Melysa dengan sigap langsung menjauhkan tubuh, takut tertular karena dengan tidak tahu dirinya cewek yang sejak tadi duduk tenang dengan mata yang sepertinya diciptakan hanya khusus untuk memandangi sosok di seberang sana yang bahkan tak ingin repot-repot berkenalan atau sekadar bilang 'hai' itu. Menurut Melysa yang tidak terpengaruh dengan pesona Gala, cowok itu terlalu sok. Sok ganteng, sok keren, sok paling jenius, padahal mungkin kalau dibandingkan Pak Habibie dia tidak ada apa-apanya.
"Gue lagi mikir, kalau diibaratkan, mungkin Gala itu kutub negatif-"
"Lalu lo kutub positifnya, terus epilognya kalian saling tarik-menarik." Melysa langsung menyela sambil memutar kedua bola matanya, kemudian mencebikkan bibir bawahnya-mengejek, padahal Dayu belum menyelesaikan ucapannya tadi.
"Gue nggak bilang gitu, kesannya terlalu ngebucin."
"Faktanya, lo emang ngebucinin dia," Melysa kembali menyela untuk ke sekian kalinya sambil memberi penekanan pada setiap kata yang cewek itu utarakan.
Dayu membenarkan dalam hati dan pipinya sontak memerah. Ia masih punya urat malu dan mendengarkan fakta itu dari mulut orang lain membuatnya salah tingkah sendiri. Mencintai seseorang membuatnya terkesan sangat menyeramkan.
Cewek itu lalu berdeham pelan. "Maksud gue, gue itu sama kayak Gala, kutub negatif. Seperti teori yang udah kita pelajarin sebelumnya, kutub negatif nggak akan pernah saling tarik-menarik sama sesamanya. Kutub negatif bakalan selalu ngejauhin kutub negatif yang lain. Pun kalau Gala kutub positif dan gue juga kutub itu. Ketika gue mendekat, mungkin Gala akan menjauh."
Melysa menjatuhkan rahangnya. Seharusnya ia tak terkejut dengan segala pikiran negatif Dayu, namun berteman selama lebih dari satu tahun dengan cewek itu, ia masih sering saja dibuat takjub. Dayu memang terlalu sulit dimengerti. Padahal menurutnya, kalau temannya itu lebih berani sedikit untuk bilang, 'hai, gue Dayu' pada Gala, semua kata asing di antara mereka mungkin akan terhapus. Sesederhana itu, tapi Dayu membuat semuanya menjadi sangat rumit, seperti teori makhluk hidup yang berasal dari benda mati yang tempo hari cewek itu jelaskan padanya yang membuat Melysa merasa sangat muak karena harus berperang dengan logika. Baik Dayu dan teori itu, keduanya sama-sama tidak masuk akal bagi Melysa.
"Otak lo mungkin kelebihan elektron, sampai-sampai pikiran lo negatif mulu. Cara pikir lo itu terlalu rumit buat gue yang waras gini ngertiin. Lo nggak pernah coba buat deket sama dia, terus kenapa lo mikir dia bakal ngejauh?"
"Karena gue jelek?" Dayu menoleh padanya. Alis sebelah gadis itu terangkat tinggi, sementara onix coklat terang itu menatapnya tak yakin.
Lagi-lagi rahang Melysa jatuh. Dipandangnya si teman dengan sorot tak habis pikir, nyaris saja tangannya melayang ke punggung cewek itu kalau saja pikiran warasnya tidak kembali. Nyatanya Dayu akan melakukan hal yang sama padanya nanti. Jadi ia lebih memilih menahan emosi, meski meminta diluapkan setengah mati.
"Bentar ya Day, sebenernya, jelek, cantik atau gantengnya manusia itu relatif. Perspektif orang itu beda-beda. Bagi gue, orang yang suka sama Zayn Malik, menganggap Zayn Malik adalah cowok terganteng di dunia, yang nggak ada tandingannya. Tapi bagi lo, mungkin Zayn nggak ada apa-apanya dari-bentar siapa cowok Korea yang lo suka itu, Lee-Lee itulah pokoknya. Intinya, ketika lo menganggap diri lo jelek, ada orang lain yang menganggap lo itu cantik. Lo nggak perlu pesimis sama diri lo sendiri. Lagipula cantik fisik nggak menentukan orang itu juga punya hati yang cantik. Yang penting itu isi, bukan cover. Tahu kan peribahasa don't judge a book by it's cover. Nggak semua hal-hal yang terlihat jelek itu isinya juga jelek. Dan sebaliknya, nggak semua hal yang terlihat bagus itu isinya juga bagus. Lo harusnya ngerti itu."
"Tapi jaman sekarang fisik nomor satu Mel, gue-"
"Apa lo pikir Gala kayak orang-orang berpikiran sempit gitu? Kalau memang fisik yang jadi poin utama dia untuk seorang cewek, kenapa Riana yang udah jelas cantik banget ditolak?"
"Mungkin karena Gala belum terlalu kenal Riana?"
"Nah, dan di situlah kuncinya. Gala nggak kenal Riana, jadi cowok itu nolak dia. Ketika lo bilang begitu, seharusnya lo sadar, bahwa dia perlu mengenal lo biar dia bisa tahu ada seorang Grezzitha Handayu yang sedang bernapas lewat dua lubang hidungnya. Sesederhana itu, Day."
Entah berapa kalimat mutiara yang Melysa keluarkan untuk si sahabat, namun hanya diterima dengan mentah. Melysa hanya berharap Dayu mau mengerti dan tidak menganggap masalah sekecil itu adalah rumus-rumus fisika yang mutlak namun sulit dipahami.
"Nggak sesederhana itu Mel. Bikin Gala mengenal gue itu sama halnya kayak mengenalkan rumus trigonometri buat anak SD. Sesusah itu."
Melysa menggigit pipi bagian dalamnya, merasa sangat gemas, sebelum sesaat kemudian menghela napas beratnya. "Udah ah, ngomong sama lo bikin laper aja!" Cewek dengan rambut yang dikucir kuda itu memilih bangkit dan keluar dari lab Biologi. Takutnya ada setan yang membisikinya untuk melakukan aksi s***s pada Dayu, kebetulan di lab ada banyak pisau bedah.
Dayu lalu melirik sahabatnya sekilas, lalu kembali menatap Gala di laboratorium seberang, kalau sudah berhubungan dengan Gala, cewek itu akan berubah apatis. Keningnya kemudian mengerut tatkala mendapati cowok itu sedang berbincang-bincang dengan Bu Sandra, salah satu pengajar di sekolahnya yang entah sudah sejak kapan berada di situ, padahal setahunya tadi Gala hanya sendirian di sana, mungkin sedang praktik untuk karya tulis ilmiahnya. Sesekali cowok itu tertawa kecil ketika sang guru selesai berbicara.
Cewek itu sempat terperangah, belum pernah ia melihat Gala begitu, seringnya ia hanya mendapati wajah si cowok yang cenderung tak menunjukkan ekspresi apa pun.
Ah, Gala terlihat sangat tampan. Dayu malah jadi semakin pesimis, cowok seganteng dia mana mungkin mau berpacaran dengan cewek buruk rupa seperti dirinya.
TBC