6. Babu

1391 Kata
Dayu menghela napas. Ia hanya telat tiga menit di jam pelajaran Pak Pudin yang selain sebagai guru kesiswaan, beliau juga memegang mata pelajaran Sejarah. Sejujurnya Dayu tidak sepenuhnya telat, ia malah datang lima belas menit sebelum gerbang ditutup. Namun, dalam perjalanan menuju kelas, perutnya malah tiba-tiba sakit dan ia harus menuntaskan hajatnya dulu ke kamar mandi. Sayangnya, lelaki dengan kepala plontos itu sama sekali tidak mau memberinya toleransi meski ia sudah menjelaskan panjang lebar hal yang membuatnya terlambat. Pak Pudin malah menganganggapnya sebagai alasan saja. Alhasil, Dayu juga harus harus rela meninggalkan kelas untuk membersihkan toilet di lantai dua yang terkenal akan baunya di seantero SMA 127. "Ck!" Ia berdecak, lantas menggerutu tanpa henti dalam hati. s**l sekali nasibnya. Menghela napas untuk ke sekian kali, Dayu berusaha untuk sabar. Anggap saja hal itu simulasi sebelum menjadi istri sah Gala. Ngomong-ngomong soal Gala, ia jadi teringat dengan kejadian di rumah sakit sore kemarin. Kira-kira, apa yang cowok itu dan Bu Sandra lakukan di sana? Mereka terlihat baik-baik saja, sungguh. Hanya saja penampilan keduanya memang tak serapi biasanya. Dayu menggeleng, dia tidak boleh berburuk sangka. Biarkan konspirasi tentang Gala yang menjalin hubungan dengan Bu Sandra menjadi dongeng yang tidak perlu ia pikirkan ataupun ia percayai. Tiba di toilet lantai dua, Dayu malah dikejutkan dengan kehadiran Keenan. Cowok itu sudah ada di sana. Sibuk menyikat lantai toilet dengan mulut yang tak berhenti mendumel. "Keenan, lo dihukum juga?" Dayu bertanya dan suaranya yang tiba-tiba itu sontak membuat Keenan mengumpat. "Bikin kaget aja sih lo!" hardik cowok itu dengan wajah masam dan sorot penuh permusuhan. Dayu berdeham pelan. Ia tidak bermaksud begitu padahal. Cewek itu hanya menyapa saja sebab yang ia simpulkan, untuk beberapa menit ke depan, keduanya akan menjadi partner bersih-bersih untuk membasmi kuman-kuman yang bersemayam di sana. "Hng, maaf," kata Dayu sambil menggaruk kepalanya yang mendadak gatal. Ia tahu, Keenan tidak menyukainya, terlepas dari kejadian masa lalu yang mungkin masih membekas di hati cowok itu. Keenan tidak bersuara setelahnya. Cowok itu hanya berdecak dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Dayu kembali menggaruk kepalanya. Pasti bakal canggung, pikir cewek itu. "Gue bersihin toilet cewek, ya?" "Terserah. Gue nggak nanya." Cowok itu membalas dengan juteknya. Dayu mendadak merasa tidak enak. Apa ia harus meminta maaf ulang pada cowok itu untuk kejadian yang sudah lama berlalu? Dia tidak sepenuhnya bersalah sebenarnya. Itu hanya ketidaksengajaan karena ketika ia ingin melakukan tendangan, Keenan malah melompat dengan gerakan memutar dan kaki yang terangkat. Dayu jelas tidak bisa menghentikan kakinya saat menghantam benda keramat cowok itu. "Hng, Keen?" panggil Dayu akhirnya, yang cowok itu balas dengan decakan. "L-lo masih marah sama gue karena kejadian setahun lalu?" Keenan tak bersuara. Namun cowok itu menolehkan kepalanya dan menatap Dayu dengan tatapannya yang seperti biasanya, sinis dan penuh dengki. Dayu menabahkan hatinya untuk tetap bersabar dengan kelakuan Keenan. Bagaimanapun juga, ia tetap bersalah. Lantas, ia garuk kepalanya lagi dan menatap cowok itu dengan kikuk. "Gue minta maaf soal---" "Telat," potong cowok itu cepat, tidak membiarkan Dayu menyelesaikan kalimatnya. "Tapi daripada enggak sama sekali?" "Gue nggak peduli." "Tapi waktu itu gue nggak sengaja nendang---" Dayu menghentikan kalimatnya, merasa tidak benar jika ia harus mengatakan hal yang sejujurnya cukup tabu itu. Cowok itu membanting sikat yang ia pegang, mencopot sarung besar yang membungkus kedua tangannya lalu berdiri. "Terus gue gitu yang salah? Gue gitu yang mau ngorbanin barang gue buat jadi samsak lo? Enak aja!" Ia berkacak pinggang ke arah Dayu, kemudian menampilkan wajah tidak santainya. Keenan benar-benar tak mencoba menutupi rasa bencinya pada cewek itu, dan malah menunjukkannya secara terang-terangan. "G-gue kan udah bilang kalau nggak sengaja nendang itu lo." Keenan menggeleng. Cowok itu lalu menghela kakinya satu langkah dengan tatapan yang sama sekali tak ia ubah. "Lo tahu nggak, sesakit apa tendangan lo?" Ia menghela lagi kakinya hingga hanya tersisa satu jengkal dengan Dayu, membuat cewek itu mundur dan menegak ludahnya susah payah. "G-gue---" "Sakit. Sakit banget sampe rasanya mau mati." "Gue minta maaf." "Gue hampir kehilangan masa depan gue kalau lo mau tahu." "Gue minta maaf." Dayu mengulanginya lagi. "Dan lo baru minta maaf sekarang. Lo bahkan nggak nemuin gue atau jenguk gue di rumah sakit." Kali ini Dayu diam. Untuk hal itu, dia memang salah. Dia sama sekali tak menemui Keenan dan meminta maaf pada cowok itu. Dayu hanya tidak siap bertemu dengan Gala yang dalam bayangannya pasti bakal bakal jauh-jauh dari Keenan. Ya, yang ia pikirkan malah Gala, bukan Keenan yang jelas-jelas sudah ia celakai. "M-maaf." Pada akhirnya, hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut Dayu. Seolah kosakata lain yang ia kuasai menguap begitu saja. Keenan mundur satu langkah. Seulas senyum langsung terbit di wajah cowok itu. "Gue maafin." Bukannya lega, Dayu malah merasa curiga. Keenan terlalu cepat memaafkan, padahal baru satu menit cowok itu marah-marah. "Tapi gue punya syarat." Dayu tidak terkejut mendengar hal itu. Ia sudah menduganya sebelumnya. Keenan mengangkat sebelah bibirnya mendapati respons Dayu yang pasif. Cowok itu lantas berucap, "Kalau lo mau gue maafin, lo harus mau jadi babu gue selama seminggu. Ah, enggak. Gue ralat. Lebih tepatnya selama sebulan. Lo harus jadi babu gue selama sebulan." Kali ini, Dayu terkejut. Ia melebarkan matanya. Syarat dari Keenan sangat tidak masuk akal dan dia tidak mau harus mejadi babu cowok itu. "Gue nggak mau." Ia menolak. Keenan mengangkat sebelah alisnya. "Lo nggak bener-bener mau minta maaf sama gue, ya? Lo nggak tulus, ya? Ah, gue baru tahu ada cewek yang munafik kayak lo." "Gue nggak munafik, gue bener-bener minta maaf sama lo." "Tapi lo nggak mau jadi babu gue." "Itu nggak masuk akal." "Berarti lo cewek munafik, dasar." "Bukan," elak Dayu. "Halah. Ngelak mulu." "Gue bilang bukan." "Iya." Dayu menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan. Berusaha untuk tetap berpikir waras meski cowok yang berstatus sebagai saudara kembar seseorang yang diam-diam ia sukai itu membuatnya luar biasa jengkel. "Oke, gue mau jadi babu lo," putus Dayu kemudian, tentu saja dengan berat hati. Sejujurnya, bisa saja ia memanfaatkan kesempatan itu untuk lebih dekat dan lebih mengenal Gala. Hanya saja, Dayu hanya tahu teori tanpa bisa mengaplikasikannya. Ia tidak punya keberanian itu untuk mengobrol lebih dari sepuluh kata dengan cowok itu. Keenan mengangguk-angguk. "Bagus. Kalau gitu, gantiin gue bersihin bagian gue." Ia menunjuk pada lantai di depan mereka. "Dan entar, pulang sekolah lo harus ikut gue. Kebetulan hari ini jadwal gue buat beli kebutuhan rumah." "Tapi---" "Nggak ada tapi-tapian." "Gue bisa kalau bersihin toilet, cuma gue nggak bisa kalau pulang sekolah nanti. Gue ada bimbingan buat olimpiade lusa." Keenan berdecak. "Ya udah, setelah lusa lo official jadi babu gue. Sekarang lo bersihin itu, sementara gue bakal ke kantin." Cowok itu tidak membiarkannya menjawab karena setelah mengatakan hal itu, Keenan berlalu meninggalkannya begitu saja. Dayu menghela napas panjang. Kesialan mendatanginya tanpa ampun. *** Dayu meneguk ludahnya susah payah begitu masuk ke sebuah ruangan yang sebelumnya ditunjuk oleh Pak Geraldi, guru Biologi yang hendak membimbingnya, dan mendapati sudah ada Gala dan Bu Sandra di sana. Tengah duduk berdampingan dengan Gala yang sibuk mencoret-coret kertas yang berisi angka-angka, barangkali cowok itu sedang mencari mol atau massa suatu zat atau entah apa pun itu. "Ayo Grez, jangan diam saja di ambang pintu," kata Pak Geraldi yang berada tepat di belakang Dayu yang sontak membuat cewek itu segera berjalan masuk dan beruluk salam, menyapa Bu Sandra dan juga Gala. Sejujurnya, ada tanda tanya di benak cewek itu. Bukan tentang Gala dan Bu Sandra yang lagi-lagi tertangkap bersama, melainkan mengapa ada mereka juga di ruangan itu? Yang sedang bimbingan kan hanya dia dan Pak Geraldi. "Hari ini Bu Sandra sama Gala pakai kelas ini juga ya, Grez. Sama seperti kita. Kamu tenang aja, nggak bakal ganggu kok," kata Pak Grealdi, menjawab, tetapi tak menjelaskan apa pun. Dayu hanya mengangguk satu kali, tidak ingin bertanya mengapa, lalu menghela kaki menuju bangku di baris terdepan sebelah kiri. Jangan, jangan noleh ke mereka, peringatnya dalam hati. Ia tidak ingin sakit hati pada hal yang tidak pasti. Gala dan Bu Sandra bersama mungkin cuma kebetulan karena cowok itu juga ditunjuk sebagai perwakilan sekolah untuk bidang Kimia. Namun, tetap saja. Seberapa keras ia berusaha untuk tidak kepikiran, Dayu selalu gagal. Ia bahkan sudah hilang fokus dengan penjelasan Pak Geraldi perihal pertanyaan yang sebelumnya ia layangkan. Fokusnya benar-benar buyar dan pelaku di balik itu adalah dua oknum yang kini tampak tengah mengobrolkan hukum Markov-Nikov. Dayu, jangan panas. Jangan panas. Jangan panas. Mereka nggak ada hubungan apa pun kecuali guru sama murid. Jangan panas. Tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN