Prolog
Beberapa bulan yang lalu, ayah dan ibu baru saja pindah ke rumah baru ini. Letaknya tak jauh dari rumah yang lama, hanya berbeda beberapa blok saja. Padahal aku menyukai rumah lamaku.
Aku melihat ayah dan ibuku tengah menonton televisi. Ibu terlihat manja kepada ayah, sesekali ayah mengecup perut ibu, lalu mengelusnya pelan.
“Yah, aku juga mau.” Aku merengek kepada ayah. Namun, ayah mengabaikan rengekanku.
“Jun, perutku! A-aduh!”
Ayah terlihat panik, ia segera mengambil kunci mobil, lalu memapah ibuku keluar dari rumah.
Aku mengikuti langkah mereka dari belakang. Kemudian, mereka memasuki mobil Bahkan ayah tidak membukakan pintu untukku. Aku merasa kesal, bisa-bisanya ayah melupakanku.
Sela beberapa menit, kami sampai di rumah sakit. Saat ibu dan ayah memasuki ruangan, aku mengikuti mereka, karena tidak ada yang mencegahku. Jadi, aku masuk saja.
Aku melihat ibu langsung dibaringkan. Kemudian, dokter memulai aksinya. Ayah terlihat terus memberikan dukungan pada ibu. Sungguh pemandangan yang menegangkan menurutku. Aku mondar-mandir sambil terus memanjatkan do'a agar adikku lahir dengan selamat.
Beberapa menit kemudian, adikku lahir. Suster langsung membersihkannya, lalu setelah selesai, ia memberikannya pada ayah. Aku merasa senang saat bayi itu digendong oleh ayah. Dia terlihat sangat cantik.
“Ayah! Aku mau gendong!” Aku berteriak senang. Namun, adikku malah semakin menangis. Jadi, ayah memberikan adikku pada ibu.
“Uh! Cantiknya anak ibu, Sayang.” Ibu menimang-nimang adikku di tangannya.
Senyuman hangat terpampang di wajah ayah. Aku jadi ikut senang melihatnya.
Beberapa bulan berlalu, semenjak lahirnya adikku. Kini ia tumbuh menjadi bayi yang menggemaskan. Setiap malam aku selalu memasuki kamarnya, lalu kunyanyikan lagu untuknya. Seperti saat sekarang.
“Nina bobo oh nina bobo ... kalau tidak bobo digigit nyamuk.”
“Bobolah sayang oh adikku yang manis ... kalau tidak bobo digigit nyamuk.”
Aku menggendong adikku, sesekali kucium lalu kuusap pipinya yang terlihat menggemaskan. Aku suka sekali dengan adikku, sempat berpikiran untuk membawanya pergi dari rumah ini, tetapi kuurungkan.
Aku sampai lupa waktu. Matahari kini memancarkan cahayanya, masuk melalui celah jendela yang baru saja dibuka oleh ibu. Untung saja beberapa menit lalu aku sudah menunda adikku kembali ditempatnya, jika tidak pasti ibu marah padaku. Ibu masuk dengan membawa bak kecil yang berisikan air untuk adikku mandi.
Setelah adikku selesai dimandikan, ibu membawanya ke ruang makan. Aku mengikuti langkah ibu dari belakang dengan senyum yang menghiasi wajahku.
“Eh? Ada Shila, sini, Nak, sama ayah.” Ayah langsung menggendong adikku, padahal ia tengah makan.
“Hati-hati, Jun.”
“Tenang saja, Bell. Aku udah bisa gendong, kok. Meski masih sedikit kaku.” Ayah membalas sambil membenarkan gendongannya.
“Lebih jago aku, ‘kan, Bu? Ayah mah kalah sama aku, ya, Bu?” ucapku, sedikit menyombongkan diri pada ayah.
Aku mendengar ibu terkekeh. “Terserah kamu saja. Aku mau sarapan dulu.”
“Cepat sedikit, ya. Aku mau ada rapat soalnya.” Ayah membalas, lalu ia beranjak dari kursi.
“Shila sayang, sama ayah dulu, ya? Uh, cantiknya anak ayah.” Ayah berjalan sambil terus menciumi pipi Shila, adikku.
Kami berjalan menuju teras depan rumah. Rupanya ayah akan menjemur Shila sebentar. Ayah bermain dengan Shila, sesekali aku ikut menyuarakan kegemasanku padanya. Sela beberapa menit, ayah masuk kembali ke dalam rumah. Ia membawa adikku kembali ke kamarnya. Aku hanya terus mengikuti langkah ayah.
Ayah menyimpan adikku di kasur. Ia tersenyum, tetapi ada yang aneh dengan senyumnya. Bukan senyum hangat yang ayah tunjukan, melainkan senyum hambar, sepertinya. Ayah mengambil ponsel miliknya lalu mengetikkan sesuatu di sana. Namun, aku tidak sampai untuk membacanya, karena tubuh ayah lebih tinggi dariku.
“Shila, Sayang! Adik kakak yang cantik.” Aku menciumi pipi adikku, tidak ingin berhenti rasanya.
“Loh? Jun, kamu belum berangkat?” Ibu muncul dari balik pintu.
“Kamu udah mandi, aja, Bell.” Ayah membalas ketika melihat ibu sudah berdandan dengan rapi.
“Iya. Junior, jawab pertanyaanku! Aku kira kamu udah berangkat. Ini udah jam berapa? Nanti kamu telat.”
Padahal tadi aku sudah mengingatkan ayah agar ia tidak telat, tetapi ayah tidak mendengarkanku.
“Aku membatalkan rapatnya.” Ayah membalas.
“Kenapa, Jun?”
“Bella, aku mau mengajak kamu mengunjungi anak kita.”
Keningku berkerut. “Apa maksud ayah? A-apa ayah punya anak dari wanita lain selain aku dan Shila, Yah?!” Aku menjeda kalimatku. “Ayah? Jawab aku! Kenapa Ayah selalu mengabaikanku?!”
Sakit rasanya, aku merasa selalu diabaikan semenjak mereka tinggal di rumah ini. Aku berlari keluar sambil menangis. Tangisku semakin menjadi ketika tahu ternyata mereka tidak mengejarku.
“K-kenapa? Kenapa kalian berubah?” Aku menangis sambil bersandar pada sebuah pohon besar dekat rumahku. Masa bodo dengan orang yang berlalu lalang, toh, mereka tidak melirikku sama sekali.
Aku menoleh saat temanku menepuk pundakku. “Ki, kamu kenapa?” tanya Mira.
“Mira?!” Aku langsung memeluk erat temanku. Aku menangis, menumpahkan semua kekesalanku.
“Sudah-sudah, Ki.”
“A-aku harus apa, Mir?” Aku bertanya sambil menahan isak tangisku.
Mira tersenyum. “Kalo kamu mau tau jawabannya, kamu ikut dengan mereka, ya?”
“T-tapi, A-aku tidak sudi bertemu dengan anak ayah yang lain, Mir.”
“Bagaimana kamu bisa menyimpulkan hal itu, Kika? Kamu bahkan belum mendapatkan jawaban, bukan?”
Aku tersentak dengan ucapan Mira. Ia benar. Aku berterima kasih pada Mira, lalu beranjak, menyusul ayah dan ibu yang ternyata sudah masuk terlebih dulu ke dalam mobil.
Sepanjang perjalanan kami saling bungkam.
Sepertinya tak ada satu pun dari mereka yang berniat membuka suara. Padahal biasanya mereka selalu mengajak Shila berbicara, meski adikku nantinya hanya membalas dengan tawa, atau sesekali meracau.
Sela beberapa menit, mobil yang kami tumpangi terparkir di sebuah pemakaman.
Keningku berkerut. “Ayah, kenapa mengajak kami ke sini? Jawab aku, Ayah?!”
Bukannya mendapatkan jawaban, aku malah kembali diabaikan. Mereka turun dari mobil. Aku menghela napas dengan kasar.
Ayah dan ibu berhenti di salah satu makam. Aku penasaran, lalu mengambil langkah untuk melihat nama yang ada di batu nisan.
Seluruh tubuhku bergetar hebat. Kurasakan mataku memanas dan semakin memanas. Untuk sesaat, suaraku menghilang. Ini terlalu tiba-tiba. Aku berusaha menyangkal semua ini, tetapi apa yang ada di depan mataku ini tidak mungkin salah.
Aku melihat ibu menangis sambil mengusap batu nisan yang tertuliskan namaku di sana.
Kika Amanda.
Setetes air mataku jatuh, aku terduduk. Suara histeris yang sedari tadi tertahan lepas begitu saja.
“Ya, Tuhan ... mengapa semua ini harus terjadi? Kenapa harus secepat ini?!”
***