bab 3 Abang?

1151 Kata
Jam istirahat beberapa menit lagi akan habis. Untuk itu Bulan bergegas menuju kelasnya kembali. Bulan berjalan di koridor sendirian. Mengingat Anisa sudah terlebih dahulu kembali ke kelas tadi dan Devan menemani Lisa yang katanya pingsan. Sedangkan Elvan, cowok itu hari ini ada jadwal latihan ekstrakurikuler yang cowok itu ikuti. Bulan menghentikan langkahnya tepat di depan ruangan UKS. Kebetulan untuk menuju kelas Bulan harus melewati ruangan itu terlebih dahulu. Bulan melangkah mendekat berniat ingin melihat Devan. Apakah cowok itu masih berada di ruangan itu. Gadis itu mengintip dari jendela yang terbuka sedikit, dan ternyata benar, Devan masih setia menemani Lisa. Sudahlah lebih baik Bulan kembali melanjutkan langkahnya, mengingat pasti bel pertanda masuk akan segera berbunyi. Namun, ucapan Lisa seketika berhasil mengurungkan niatnya itu. "Devan, lo darimana aja, sih?!" tanya Lisa menatap kesal Devan yang duduk di kursi sebelah berankar yang ditidurinya. "Iya maaf, gue ada urusan tadi," sahut Devan dan membantu Lisa untuk merubah posisinya menjadi bersandar. "Urusan apa?" "Ketemu Bulan." Devan meraih semangkuk bubur yang sudah tersedia di atas nakas. Lisa merotasikan bola matanya malas. "Oh." "Lo kenapa, sih, bisa pingsan gini?! Gue tinggal sebentar aja udah kaya gini! Apalagi kalo lama. Bisa-bisa lebih parah dari ini!" omel Devan sambil menyuapkan sesendok bubur ke arah mulut Lisa. Lisa terlebih dahulu menerima suapan itu. "Gak tau, kepala gue tiba-tiba pusing," sahut Lisa sambil memegangi kepalanya. "Ya, udah, abis makan lo tidur aja lagi," ujar Devan kembali menyodorkan satu suapan bubur. "Lo jangan kemana-mana. Temenin gue disini," pinta Lisa mencekal pergelangan tangan Devan. Devan mengangguk, seulas senyuman terukir di bibirnya. "Iya," sahut Devan sambil menyingkirkan beberapa helai rambut Lisa yang menghalangi wajah gadis itu. Bulan hanya bisa menyaksikan itu. Ia segera mengalihkan pandangannya. Dipikir dia tidak punya hati apa? Menyaksikan itu tanpa ada rasa sakit di hatinya. Dia juga manusia, perempuan, punya perasaan, punya hati yang bisa kapanpun tergores apalagi dia dan Devan memiliki hubungan. Apakah Bulan tidak merasa muak terus menerus di posisi seperti ini? Jika boleh egois, Bulan ingin Devan seperti itu hanya kepadanya saja. Tidak kepada perempuan lain, apalagi Lisa. Tapi apalah daya, Bulan hanya gadis lemah, gadis yang di takdirkan untuk tidak bisa menikmati kebahagiaan. Entah itu kebahagiaan dari keluarga ataupun dari luar. Tidak mau berlama-lama, Bulan bergegas meninggalkan area UKS. Terlalu berlama-lama di sana hanya akan membuat dadanya semakin sesak saja. ~~••~~ Bulan kini sudah berada diarea parkir. Parkiran khusus untuk kendaraan beroda dua. Gadis itu menunggu Devan yang sewaktu tadi mengajaknya untuk pulang bersama Cuaca siang ini cukup panas. Karena itu membuat Bulan menunggu Devan datang di tempat yang agak teduh. Murid-murid SMA Pelita Nusantara satu persatu mulai meninggalkan area sekolah itu. Namun, Devan sama sekali belum juga menampakkan batang hidungnya. Padahal dia sudah menunggu cowok itu sekitar 10 menitan. Entah kemana terlebih dahulu cowok itu. Bulan mencoba untuk meneleponnya. Namun, sayang sepertinya ponsel cowok itu mati. Setelah menunggu hampir 15 menit. Akhirnya Devan muncul. Cowok itu terlihat tidak sendiri, melainkan bersama ... Gilang, Sarah, Farel, dan tak lupa juga dengan Lisa. Mereka berjalan menghampiri di mana kendaraan masing-masing terparkir Bulan melangkah mendekat menghampiri Devan. "Devan ... kok lama?" Devan pun ikut mendekat pada Bulan. "Iya, maaf, Bul. Tadi terakhir pelajaran Pak Norman. Lo tau'kan gimana Pak Norman." Bulan mengangguk. Pasalnya semua murid di sekolah itu pasti mengetahui bagaimana jika guru itu sudah mengajar ... tidak tahu waktu. "Van, lo pulang sama Bulan?" celetuk Sarah bertanya. Gadis itu berdiri bersebalahan dengan Gilang dengan posisi tangan bersedekap d**a. "Iya, kenapa?" Sarah merotasikan bola matanya tidak suka. "Terus Lisa pulang sama siapa? t***l!" Devan terdiam sejenak seraya menatap Lisa yang hanya diam. Benar juga apa yang dikatakan Sarah. "Farel ... Lisa, lo pulang dianter Farel aja, ya?" "Eh ... sorry, gue gak bisa ... gue udah ada janji sama Rio," sahut Farel terlebih dahulu. Sarah berdecak, "udahlah, kasian Lisa, Van. Lo tau'kan dia lagi sakit?" "Udah gak papa kok, gue bisa pulang sendiri. Gue udah sehat ini," Akhirnya Lisa membuka suara. "Gak papa gimana? Tadi aja lo pingsan!" Gilang ikut membuka suaranya. "Seharusnya, sih, cewek lo bisa ngerti, kalo sahabat cowoknya lagi sakit," ujar Sarah kembali sambil mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Bulan yang sedari tadi hanya diam. Menoleh sekilas pada Sarah. Dia tahu Sarah berujar seperti itu ditunjukkan kepada dirinya Bulan beralih menatap Devan yang belum membuka suaranya kembali. Apakah ini pilihan yang begitu berat bagi Devan? "Bul—" "Gak papa kok, Van, lo pulang sama Lisa aja. Bener kata Sarah, Lisa lagi sakit," potong Bulan. "Tapi Bul, lo gimana?" Bulan tersenyum kecil. "Gue bisa minta jemput sama Papa." "Udah bereskan ...? Buruan Lang, gerah lama-lama disini!" Sarah kembali berujar sambil memukul pelan pundak Gilang agar cepat bergegas menyalakan mesin motornya. "Lo beneran gak papa, Bul?" tanya Devan lagi sebelum dia bener-bener pergi. Bulan menggeleng pelan. "Nggak papa. Sebentar lagi Papa dateng jemput kok." "Maaf," kata Devan sambil menatap Bulan tidak enak hati. Bulan kembali tersenyum kecil dan menggangguk pelan sebagai responan. Setelah itu Devan dan Lisa, sementara Sarah dan Gilang, mereka pergi dari area sekolahan. Menyisakan Bulan bersama Farel di sana. "Gue gak ngerti. Lo itu terlalu baik, atau terlalu t***l ... padahal gue ngerasa itu cuma akal-akalan mereka aja," celetuk Farel yang sedang bersandar di motornya. Bulan tersenyum kecil. "Gak papa ... cuma ini yang bisa gue lakuin. Sebelum pergi." Setalah berucap seperti itu, tanpa menatap si lawan bicara. Bulan beranjak pergi untuk mencari kendaraan umum agar mengantarkannya pulang. Soal Aldan yang akan menjemputnya itu hanya sebuah kebohongan semata saja. ~~••~~ Bulan berhenti tepat di bahu jalan. Gadis itu hendak menyeberang menuju halte bus berada yaitu, di hadapannya. Gadis itu menolehkan kepalanya ke kanan-kiri. Jalanan di hadapannya cukup ramai oleh beberapa kendaraan beroda dua maupun roda empat yang lalu-lalang. Jantungnya seketika berdegup tak karuan saat melihat salah satu pengendara sepeda motor dari arah kiri melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Hal itu membuat Bulan segera memundurkan kakinya beberapa langkah. Setelah merasa jalanan di hadapannya cukup sepi. Bulan segera kembali melangkah agar bisa cepat sampai di halte seberang di mana tempat tujuannya berada. Baru saja menyeberang beberapa langkah. Suara klakson mobil terdengar cukup nyaring, menggema memasuki indera pendengarannya. Bulan menoleh, jantungnya kembali berdetak cepat. Gadis itu merasakan kakinya lemas seketika. Tubuhnya bergetar dengan napas memburu. Seakan di situasi seperti ini tubuh itu menyuruhnya untuk diam. Mobil itu semakin mendekat ke arahnya. Di setiap kali mendengar suara klakson seperti itu, memori di otaknya seketika kembali memutar kejadian di mana Kenzo mendorong dirinya dulu. Walhasil karena kejadian semua itu Kenzo sudah tergeletak dengan bersimpah darah di bahu jalan. "HEI! AWAS!" Seseorang akhirnya menginterupsi dan menarik Bulan agar segera beranjak. Sampai akhirnya Bulan terduduk di pinggir jalan tak lupa dengan orang yang menariknya tadi. Bulan masih terdiam bergeming dengan tangan yang masih sedikit terlihat bergetar. Bulan mendongak menatap pria itu. Gadis itu terdiam. Namun, perlahan air mata dari pelupuknya menetes. "Abang?" ucap Bulan langsung memeluk tubuh pria itu begitu saja. ~~••~~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN