Hari ini Bulan berangkat sekolah bareng bersama Elvan. Tidak, Bulan tidak meminta cowok itu untuk menjemputnya. Namun, Elvan sendiri yang tiba-tiba sudah berada di depan perkomplekkan rumahnya. Padahal Bulan berniat berangkat sekolah menggunakan angkutan umum saja. Tetapi, bukan Elvan namanya jika tidak memaksa agar Bulan berangkat bersamanya.
Bahkan sekarang keduanya sudah berada dan memasuki gerbang sekolah SMA Pelita Nusantara. Di mana SMA tempat dulu Kenzo juga bersekolah di sana.
Bulan turun dari boncengan motor Elvan dengan pundak cowok itu sebagai tumpuan. "Makasih, El!" ucap Bulan seraya memberikan helm yang sudah terlepas dari kepalanya.
"Iya, sama-sama ...," sahut Elvan dan menyimpan kedua helm miliknya. "Lain kali kalo Devan gak jemput atau orang rumah gak ada yang nganter ke sekolah, telpon gue aja Bul, biar gue yang jemput!" sambung Elvan menatap gadis yang berdiri disebelahnya.
"Apa, sih, El, gak papa kok. Lagian gue udah biasa berangkat sendiri."
"Ya, gak papa Bul. Itung-itung buat gue gak bonceng angin mulu," ujar Elvan dan beranjak dari duduk di atas motornya.
Bulan terkekeh pelan, "makanya cari cewek, gih!"
Elvan menarik tangan Bulan agar segera melangkah bersamanya. "Males!"
Bulan mendengkus pelan. "Kok males, kan, biar gak jomblo mulu!" sahut Bulan. Kini keduanya sudah berjalan beriringan.
"Ya, males. Soalnya cewek yang gue suka udah punya pacar. Gimana dong? Apa gue tikung aja, ya, Bul?" tanya Elvan melirik sekilas pada Bulan dan kembali menatap ke arah depan.
"Em ... gak papa El, tikung aja. Inget kata pepatah, sebelum janur kuning melengkung jomlo bebas menikung!" sahut Bulan sambil mengepalkan tangan kanannya ke udara.
Elvan terkekeh. Refleks tangan cowok itu mengacak pelan rambut Bulan. "Berarti gue boleh dong nikung si Devan, ya, Bul?"
Bulan mengeplak tangan Elvan. "Ya—" ucapnya terpotong oleh panggilan seseorang.
"Bul!" panggil Devan. Cowok itu sedang berjalan mendekat ke arah Bulan dan Elvan.
"Kenapa, Van?" sahut Bulan bertanya. Menatap heran pada Devan yang terlihat sedikit emosi.
Devan menarik pergelangan tangan Bulan untuk segera ikut dengannya. "Ada apa, si, Van?"
"Ikut gue!"
"Iya, kenapa? Ada apa?" tanya Bulan, "jangan tarik-tarik juga, Devan!"
Devan memberhentikan langkahnya sudah agak jauh dari tempat Elvan tadi dan melepaskan cekalannya pada tangan Bulan. Lalu menatap gadis itu. "Gue liat tadi lo berangkat sama Elvan?"
Bulan mengangguk. " Iya, emang kenapa?"
"Lo bilang tadi pagi berangkat naik angkutan umum!" Devan mengingat saat dirinya bertanya pagi tadi dan Bulan menjawab seperti itu.
"Iya, tadinya niat gue gitu, Van. Tapi El, ngajak gue bareng!" ujar Bulan, "kenapa?"
Devan menatap lekat wajah gadis itu. "Gue gak suka Bul!"
Bulan terdiam sejenak dan ikut menatap wajah Devan. "Kenapa?"
"Wajarkan, Bul, gue gak suka?!" sahut Devan dengan nada sedikit menyentak.
Hal itu membuat Bulan sedikit tersentak kaget mendengar ucapan Devan yang agak meninggikan ucapannya. "Hampir setiap hari pulang sekolah, berangkat sekolah lo bareng Lisa dan gue biarin itu, Van." Bulan menjeda ucapannya lalu mengalihkan sekilas tatapannya.
"Bul, kita lagi gak bahas Lisa! Kita ngebahas lo!" Devan berujar di sela-sela Bulan menjeda ucapannya.
Bulan kembali menatap Devan mengabaikan ucapan cowok itu. "Dan gue pernah bilang ... gue gak suka liat lo deket sama Lisa dan lo marah karena itu, Van. Sekarang cuma karena gue berangkat bareng El, lo marah, kan, Van. Kenapa, Van?"
"Y-ya gue gak suka lo deket sama cowok itu!"
"Van." Bulan menatap dalam mata cowok itu. "Itu yang gue rasain selama ini, Van. Gue juga gak suka lo deket sama Lisa!"
Devan berdecak. "Plis, kita gak bahas soal Lisa, Bul!"
Bulan terkekeh samar. "Bukannya sama aja, Van? Lo gak suka gue deket sama Elvan dan gue juga berhak, 'kan, Van? Gue berhak gak suka liat lo terus-menerus deket sama Lisa."
"Bul! Tapi kondisi Lisa sama Elvan beda dan soal itu pun gue pernah jelasin alasannyakan?" tanya Devan menatap kesal Bulan.
"Jadi gue cuma minta ... jangan terlalu dekat sama cowok itu dan jauhin dia!" Devan menekankan setiap perkataannya. Lalu berbalik badan dan meninggalkan Bulan di sana.
"Devan ...," ucap Bulan yang membuat Devan kembali memberhentikan langkahnya, "Apa kalo gue juga minta lo jauhin Lisa, lo bakal jauhin dia?" tambah Bulan sambil menatap punggung Devan lelah.
Devan kembali membalikan badannya. Menatap jengah gadis di hadapannya. "Bul! Plis, lo harus ngerti kalo gue jauhin Lisa, dia sendiri Bul!"
Bulan meremas tali tasnya kuat-kuat. "Sama Van, kalo gue jauhin Elvan, gue sendiri ... gue gak punya temen selain dia dan lo ... lo sibuk sama Lisa!"
Devan berdecak kesal. Sungguh kali ini Devan tidak bisa berucap lagi mendengar Bulan berbicara seperti itu. Perkataan gadis itu ada benarnya. "Udahlah Bul, gue capek!"
Bulan menatap sendu Devan. "Gue lebih capek Van ...," timpal Bulan dan setelah itu langsung menundukan sedikit kepalanya.
Tidak lama Blan kembali mengangkat kepalanya. "Apa kalo nanti gue udah bener-bener capek dengan semuanya ...." Bulan mengusap matanya. "Gue boleh ijin pamit pergi?"
"Bul!" Devan benci perkataan itu.
Bola mata Devan seketika mendelik. "Bul! Hidung lo!" sambung Devan dan segera mendekat pada Bulan. Refleks Bulan langsung memegangi hidungnya yang memang terasa mengeluarkan sesuatu.
Bulan memejamkan matanya sejenak. Gadis itu berusaha terkekeh pelan dan langsung mengangkat wajahnya agar hidungnya tidak mengeluarkan darah lebih banyak. "Gue gak papa kok."
"Lo sakit Bul? Gue anterin ke UKS?" cemas Devan. Cowok itu membantu membersihkan darah yang masih sedikit mengalir.
Bulan menggeleng. "Gak papa. Ini udah biasa kok."
~~••~~
Suasana kantin sekolah cukup ramai. Banyak siswa-siswi lalu-alang, berbondong-bondong untuk sekedar menghabiskan waktu istirahat mereka. Entah itu dengan makan, jajan, atau hanya sekedar nongkrong tidak jelas.
"Bul, gue ke kelas duluan, ya?" Ijin Anisa—salah satu teman di kelasnya—gadis itu sambil beranjak berdiri setelah menyadari keberadaan Devan terlihat semakin mendekat ke arah mereka yang sedang duduk di meja paling pojok.
"Tapi—"
Anisa hanya memberi kode lewat matanya bahwa ada Devan yang sebentar lagi mendekat. Anisa tidak ingin menjadi kambing conge di antara mereka soalnya.
"Gue duluan!" pamit Anisa sekali lagi.
Setelah Anisa beranjak pergi. Devan menempati tempat yang tadi Anisa duduki. "Idung lo gak mimisan lagi, 'kan?"
Bulan menggeleng. "Enggak, kok."
"Nih!" Devan menyodorkan tiga buah s**u kota rasa vanilla, coklat, dan strawberry kesukaan gadis itu.
Bulan tersenyum. Tanpa basa-basi gadis itu segera mengambil s**u kotak pemberian Devan. "Makasih Devan!"
"Minum." Devan terulur mengacak pelan rambut Bulan. "Nanti pulang sekolah bareng gue."
Bulan mengembangkan senyumannya dan mengangguk. "Iya!"
Di sela-sela menikmati s**u itu, Bulan kembali membuka suaranya. "Tumben, Lisa kemana?" tanya Bulan menatap Devan yang sedang mengutak-atik ponselnya. Mengapa Bulan bertanya seperti itu? Pasalnya Devan selalu bersama Lisa atau mungkin Lisa yang selalu mendekati Devan? Tetapi, Devan sendiri terlihat tak pernah terganggu akan hal itu.
"Lagi ngerjain tugas dia ...." Devan menyimpan kembali ponsel milik gadis dihadapannya itu. "Kenapa?"
Bulan menggeleng. "Nggak. Biasanya'kan lo bareng sama Lisa."
"Gue juga punya pacar. Emang gak boleh nemuin pacar gue sendiri?"
Bulan terkekeh pelan. Cukup senang rasanya Devan berucap seperti itu. "Ya, boleh. Tapi gak bisanya kaya gini. Biasanya'kan lo sama Lisa kaya orang pacaran ... berduan terus." Bulan kembali terkekeh.
Sementara Devan memutar bola matanya tidak suka mendengan perkataan gadis itu. "Iya ... gue minta maaf."
Tak lama setelah itu suara ponsel terdengar. Menandakan panggilan dari seseorang telah masuk. Devan merogoh saku baju seragamnya untuk menjawab panggilan via telepon tersebut.
"Iya, kenapa Lang?" tanya Devan langsung to the point pada Gilang yang ternyata si peneleponnya.
"Van! Cepetan ke UKS! Nih, si Lisa pingsan. Gak ada yang jagain, gue masih ada latihan!" sahut Gilang dari seberang sana.
Devan langsung beranjak berdiri. "Kenapa?!"
"Lo cepetan kesini aja dulu!"
Devan berdecak. Dia langsung memutuskan panggil telepon itu.
"Ada apa, Van?" tanya Bulan terlihat heran.
"Gue pergi dulu, ya, Bul?" Devan sembari menyimpan kembali ponselnya.
Bulan mengangkat sebelah alisnya. Padahal waktu istirahat masih cukup banyak. "Mau kemana?"
"UKS, Lisa pingsan. Gue harus nemenin dia. Gak ada yang jagain," sahut Devan.
"Gak papakan?" tanya Devan kembali. Pasalnya Bulan terlihat terdiam.
"Ah ... iya gak papa. Ya, udah gih, sana," jawab Bulan.
"Gue pergi ... lo langsung ke kelas aja. Susunya jangan lupa di abisin," ucap Devan dan setelah itu bergegas pergi keluar dari area kantin itu menuju ruangan UKS.
Bulan menatap kepergian Devan yang perlahan mulai menghilang dari pandangannya. Terdengar helaan napas pelan keluar dari mulut gadis itu.
"Kenapa, sih, Van, lo peduli banget sama Lisa?"
~~••~~