bab 01 huh! di nomor duakan lagi

1399 Kata
Bulan berdiri tepat di pinggir jalan yang masih berdekatan dengan area gerbang sekolah. Memang sekarang sudah waktunya jam pulang sekolah dan jam pun kini sudah menunjukkan pukul 14.12. Bulan kini tengah menunggu angkutan umum untuk mengantarkannya pulang. Bulan tidak dijemput oleh orang rumah. Di karenakan, Aldan, pria itu sedang berada di luar kota. Walaupun Aldan berada di Jakarta, pria itu belum tentu akan menjemputnya sekolah setiap hari. Tin! Suara klakson terdengar cukup nyaring yang membuat Bulan tersentak kaget. Gadis itu langsung menoleh setelah menetralkan raut wajahnya terlebih dahulu. Bulan menatap siapa pelakunya dan ternyata Devan ... bersama Lisa. "Bul, pulang naik apa?" tanya Devan sambil menaikan kaca helmnya. Menatap datar gadis itu. Ya, Devan masih kesal dengan Bulan, apalagi setelah menyaksikan kejadian di koridor tadi. Bulan menatap Lisa yang setia duduk di boncengan motor Devan. Lalu pandangan Bulan langsung mengarah pada orang yang bertanya kepadanya. "Gue ... naik bus atau angkot kayaknya." "Hai, Bulan!" sapa Lisa sambil melambaikan tangannya pada Bulan. Sementara Bulan hanya tersenyum saja sebagai respon'an. "Devan! Cepetan ihh, panas tau!" ujar Lisa. Cewek itu mencebikkan bibirnya kesal dengan dagu diletakan di bahu Devan. Bulan memainkan tali tasnya. Jika boleh jujur, dia cemburu, cemburu melihat Lisa seperti itu pada Devan. Tapi itu sudah biasa, ini bukan kali pertama baginya dan lihatlah bukannya Devan sedang marah padanya? Memang semarah apapun Devan, cowok itu tetap akan peduli padanya. "Gue nganter pulang Lisa dulu. Nanti gue balik lagi jemput lo," ujar Devan. Hah! Di nomor duakan lagi. Walaupun Devan masih marah pada Bulan, tetap saja Devan tak bisa mengabaikan gadis itu. Bulan menggeleng. "Gak usah, Van. Gue bisa pulang sendiri kok. Mending lo langsung istirahat aja." Lisa berdecak kesal, "udah Van, cepetan! Dengerkan yang Bulan bilang?" "Tapi Bul—" perkataan Devan langsung dipotong oleh Bulan. "Udah gak papa kok, Van. Lagian udah biasa ini," potong Bulan. Lalu bibirnya mengembangkan senyuman. Senyuman miris. "Bul—" "Nanti kalo udah sampe rumah, gue kabarin kok," ujar Bulan lagi-lagi memotong ucapan Devan. "Ayo, Van! Iih! Bulan aja udah bilang gak papa. Ya, 'kan, Bul?" Lisa tersenyum menatap Bulan sambil memukul pelan pundak Devan. Sementara itu, Bulan hanya mengangguk pelan saja. Devan menuruti lalu menyalakan mesin motornya. Sebelum benar-benar melaju, cowok itu menatap sebentar Bulan. "Kalo ada apa-apa kabarin gue." Bulan hanya mengangguk kembali dan Devan pun segera melajukan motornya. Gadis itu menatap kepergian Devan. Harusnya dia yang berada di atas boncengan motor Devan, bukan Lisa. Bodoh sekali dirinya membiarkan hal itu begitu saja. Tapi Bulan tidak bisa berbuat apa-apa. Bulan pernah marah, mengaku bahwasanya dia tidak menyukai jika Devan terlalu dekat dengan Lisa, dia cemburu. Wajar jika Bulan bersikap seperti itu bukan? Dia perempuan, dia punya hati, dia punya perasaan dan yang pacaran Devan dia bukan Lisa. Namun, hal itu sia-sia, waktu lalu Devan malah berkata .... "Gue gak ada perasaan sedikit pun sama Lisa. Lo jangan marah kaya gini, gue anggap Lisa cuma sekedar temen, gak lebih." "Tapi Van—" "Dan satu lagi, Lisa itu di Jakarta gak punya keluarga Bul. Orangtuanya di luar negri. Gak kayak lo atau gue yang masih ada orangtua di sini. Lo tau? Lisa cuma punya gue di sini." Perkataan Devan waktu lalu masih melekat di otaknya dan membekas di hatinya. Di waktu itu Bulan hanya bisa bungkam. Pikirannya hanya satu ... Bulan tahu bagaimana rasanya kesepian. Apalagi mendengar perkataan Devan, Lisa tinggal di Jakarta seorang diri. Jadi, Bulan berpikir untuk membiarkan saja dan sampai saat ini gadis itu masih enggan berbicara mengenai hal itu lagi. Jika Bulan sudah benar-benar merasa capek, lelah dengan hubungan yang dijalankannya. Bulan perlahan akan mundur. Tidak lama sebuah angkot datang dari arah kanan. Bulan melambaikan tangannya agar angkot tersebut berhenti. Setelah berhenti, gadis itu langsung naik saja. ~~••~~ Bulan sudah memasuki area perkomplekkan rumahnya. Gadis itu hanya perlu jalan kaki beberapa menit untuk sampai di kediamannya. Setelah sudah beberapa meter untuk sampai, Bulan menatap sesaat rumah bertingkat dua yang kini sudah berubah. Yak ni, rumah yang dulu Eful dan keluarganya tempati. Namun, sekarang rumah itu sudah dihuni oleh orang lain setelah kepindahan keluarga Eful ke Bali pada saat Eful kelas 4 SD lalu. Bulan mempercepat langkahnya. Gadis itu merasa ingin segera sampai. Bulan memasuki gerbang rumah yang terbuka sedikit dan menarik langkah gontai untuk memasuki pintu utama. "Mama sayang ndak sama Ken?" tanya seorang anak laki-laki kisaran umur 5 tahun. Mendengar itu Bulan seketika berhenti melangkah. Terlihat Winda tersenyum lebar dengan tangan mengelus rambut anak laki-laki itu. "Sayang dong. Kenzi, 'kan anak Mama." Winda pun memberi kecupan singkat pada kening Kenzi. Kenzi atau adik kandung Bulan. Ya, pada saat dirinya berumur 12 tahun, Winda kembali mengandung dan lahirlah seorang Kenzi Alvaro. Kenzi sangat beruntung dari lahir anak itu diberi kasih sayang yang lebih dari Winda. Tidak seperti dirinya yang hanya dieri kasih sayang sampai umur 4 tahun dan setelahnya, sampai sekarang Bulan belum merasakan kasih sayang itu lagi. Terkadang Bulan ingin menjadi Kenzi saja. Ia tidak ingin menjadi Bulan yang sekarang. Bulan iri, Bulan iri melihat kedekatan Kenzi dengan Winda. Bulan menggeleng kepalanya. Ah! Sudahlah terus saja berkhayal, tapi itu semua tak ada yang terwujud. Bulan melangkah mendekat ke arah Winda dan Kenzi. "Assalamualaikum." Winda menoleh sekilas. "Waalaikumsalam." Sedangkan Kenzi menghampiri Bulan. "Kak! Tau ndak tadi Ken di sekolah dapet temen balu tau!" Bulan terkekeh. Tangannya terulur mengacak pelan rambut anak itu. "Bagus dong." "Ken! Ayo sayang sini ikut Mama ...." Winda berdiri dari duduknya. "Ini udah sore, Ken harus mandi," ajak Winda. Dengan segera Kenzi pun mendekat menghampiri Winda. "Iya Mama ... Kakak, Ken mandi dulu, ya!" ujar Kenzi yang sudah digendong oleh Winda. Bulan hanya mengangguk diiringi senyuman ... senyum sendu menatap kepergian keduanya dengan candaan yang keduanya lontarkan. "Bulan kangen sosok Mama yang dulu, Ma," gumam gadis itu masih berdiri di posisi awalnya. Lagi dan lagi Bulan hanya bisa terkekeh miris. Tidak menyangka semuanya malah akan menjadi seperti ini. ~~••~~ Siang sudah berganti malam. Bulan beranjak untuk turun dari kasur king size'nya. Perutnya kini terasa perih. Bulan lupa belum sempat mengisinya dari pulang sekolah tadi. Gadis itu berniat untuk turun ke bawah sekedar mencari makanan untuk mengganjal perutnya. Bulan memijakkan kakinya di anak tangga terakhir. Suasana rumah itu terasa sepi. Mungkin Winda dan Kenzi sudah tertidur. Bulan menarik langkah untuk menuju dapur. Alisnya sedikit mengernyit melihat lampu dapur terlihat menyala. Mungkin salah satu ART di rumahnya belum tidur. Bulan mempercepat langkah dan berhenti tepat di dekat meja makan. "Ma?" ujar Bulan. Ternyata yang berada di dapur, Winda. Winda menghentikan sejenak aktivitasnya yang tengah mengaduk sebuah s**u. Wanita itu menoleh sekilas pada Bulan. Melihat responan dari Winda, Bulan hanya bisa menghela napasnya pelan. "Mama lagi bikin s**u buat Kenzi?" "Bukan urusan kamu," sahut Winda sembari melanjutkan aktivitasnya. "Bulan juga kangen, Ma. Bulan kangen s**u buatan Mama ...." Bulan menatap sendu ke arah Winda yang masih sibuk dengan kegiatannya. "Terakhir Bulan minum s**u buatan Mama waktu Bulan sakit. Bulan boleh minta sekali aja, Mama buatin s**u buat Bulan?" "Maaf anak saya sudah nunggu," sahut Winda sambil menutup cangkir s**u Kenzi dengan penutup cangkir itu. "Apa Bulan harus sakit dulu, ya, Ma? Biar Mama buatin segelas s**u buat Bulan?" kata Bulan saat Winda berjalan melewatinya. Winda menghentikan langkahnya sejenak. Menatap Bulan dengan menyunggingkan senyuman miring. "Sebenarnya saya gak pernah peduli mau kamu sakit atau apa. Itu semua cuma perintah Papa kamu!" Bulan tersenyum. Dadanya sekarang sudah mulai sesak. "Oh, gitu, ya, Ma. Gak papa Ma, walaupun itu atas perintah Papa, itu lebih dari cukup bagi Bulan." Winda tidak merespon lagi. Wanita itu kembali melanjutkan langkahnya untuk pergi kamar kembali. "Malam, Mama," ujar Bulan menatap kepergian Winda. Walaupun ucapan itu tak pernah ada balasan yang terlontar dari mulut Winda.. Bulan menundukkan kepalanya. Matanya terpejam. Jujur ini terlalu sakit baginya. Bulan ingin Kenzo kembali, sungguh. Jika dulu Bulan bisa memilih, Bulan memilih dia yang pergi jangan Kenzo. "Abang!" Bulan memukul pelan dadanya yang terada sesak. Kemudian tangannya terulur menghapus air matanya. Setetes cairan berwarna merah menetes ke atas lantai. Bulan seketika mengusap hidungnya dan ternyata benar saja darah itu berasal dari sana. Bulan benci darah! Dengan segera Bulan mengambil beberapa lembar tisu yang terdapat di atas meja makan. Bulan tak mempermasalahkan mimisab itu, karena ini bukan pertama kali dan itu bisa jadi akibat dia kelelahan. Bulan mengadahkan wajahnya beberapa kali agar mimisan itu tidak keluar dan setelah merasa mimisannya tidak kembali mengalir, Bulan mengingat apa tujuan utama dia pergi ke dapur. ~~••~~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN