Mimpi itu lagi
Bulbul melirik foto dirinya dan Kenzo yang terpajang di atas laci sebelah sofa. Tangan pendeknya meraih benda persegi itu, lalu mengusap dan mendekapnya dengan erat.
"M-mama benci cama Bulbul tau Bang."
"d**a Bulbul cakit tau Bang kalo Mama kaya tadi cama Bulbul," monolog gadis itu kembali terisak kecil.
"M-maafin Bulbul Abang." Gadis itu masih terisak.
"Bulbul minta cama Allah cupaya Abang kembali lagi boleh, endak?"
"Endak papa kok kalo Bulbul yang pelgi. Bial Mama endak benci cama Bulbul."
Tidak lama Aldan kembali dengan membawa sebuah cangkir berisi s**u putih untuk Bulbul.
"Ini udah malem, Bulbul harus tidur ...." Aldan menatap sendu putrinya itu. "Papa ke teras depan dulu sebentar, Bulbul berani ke kamar sendiri?" tanya Aldan seraya mengelus lembut rambut gadis itu.
Bulbul yang tengah memegang cangkir, mengangguk dan segera beranjak untuk menuju kamarnya. "Papa dangan lama-lama, ya?" ujarnya sebelum benar-benar pergi.
Bulbul sudah melewati tangga yang menghubungkan lantai atas dan lantai bawah. Kini gadis itu pun sudah berada di tepi tangga lantai atas. Bulbul menarik langkah gontai.
Tepat di depan pintu kamar Winda, Bulbul berhenti.
Bulbul kecil ingin memeluk Winda, memohon untuk tidak bersikap seperti itu dan tidak membenci dirinya.
Tangan kecilnya mendorong pintu yang tidak tertutup rapat. Sebelum benar-benar masuk, Bulbul menyembulkan kepalanya ke dalam.
"Mama?" panggilnya sambil berjalan masuk mendekati Winda.
Bulbul sudah berada di samping Winda. Gadis itu langsung memeluk wanita yang tengah terdiam dengan tatapan kosong. "Mama benci cama Bulbul, ya?"
Tak berselang lama suara isakkan terdengar. Gadis kecil itu menangis. "Bang Jojo pelgi kalena Bulbul, ya? Bulbul ndak papa kok, kalo halus pelgi. Tapi Mama dangan benci cama Bulbul, ya?"
"PERGI KAMU!" ujar Winda berteriak. Lalu mendorong cukup kasar tubuh kecil Bulbul yang sedang memeluknya.
Walhasil tubuh gadis itu tersungkur ke lantai sana. Sampai cangkir yang tengah dicekalnya ikut jatuh dan tumpah. Terlihat sekali tubuh kecil itu bergetar ketakutan dengan air mata yang terus menetes. Bulbul takut. Gadis itu takut atas sikap Winda padanya yang sangat bertolak belakang setelah kejadian itu.
"PERGI!" teriak Winda lagi yang semakin membuat Bulbul bergetar hebat.
"Abang!" Gadis itu terisak.
"PERGI!" teriak Winda kembali.
Bulan tersentak. Ia terbangun dari tidurnya. Bulan seketika mengubah posisinya menjadi duduk. Terlihat keringat dingin bercucuran membasahi pelipisnya. Lagi dan lagi dia bermimpi kejadian itu.
"Mimpi itu lagi," gumam Bulan dengan helaan napas kasar terdengar.
Tangannya terulur mengusap wajah secara kasar. Mengelap-ngelap keringat yang membanjiri pelipisnya. Lirikkan Bulan lakukan ke arah jam dinding yang ada di kamar itu. Ternyata jarum jam sudah menunjukkan pukul 01.30.
Bulan kembali menghela napasnya dengan kasar. Gadis itu menoleh ke arah nakas di sebelah. Mengambil segelas air putih lalu meneguknya hingga menyisakan setengah.
Bulan menatap sebuah bingkai foto dirinya bersama Kenzo 13 tahun yang lalu. Dadanya kembali sesak. Kepergian Kenzo sangat berdampak pada keluarganya sampai sekarang. Setelah kejadian tragis itu dan Kenzo pergi, Winda masih bersikap seperti dulu padanya, belum berubah.
Bulan ingin Winda kembali seperti dulu, Bulan ingin merasakan lagi disayangi, diperhatikan, dinomor satukan, diberi yang pernah wanita itu berikan pada saat Bulbul kecil. Tapi itu kapan Tuhan? Bulan hanya berharap itu pada Tuhan. Ingin Winda seperti dulu, itu sudah cukup. Ia tidak menginginkan yang lain.
Bulan menangis dalam diam. Sungguh itu lebih menyakitkan daripada menangis meraung-raung. Ruangan itu sunyi, hanya detikan jarum jam yang terdengar menemaninya di kesunyian dan sesak di dadanya.
Tidak lama Bulan kembali terlelap bersama air mata yang masih belum mengering. Berharap esok bisa menjadi hari yang menyenangkan.
~~••~~
Bulan meluaskan pandangannya dengan menoleh ke kanan-kiri. Di sana cukup sepi, hanya ada beberapa murid yang lalu-lalang. Mata itu akhirnya menangkap sosok yang Bulan hendak cari keberadaannya tadi.
"Van, kenapa?" Bulan mencekal tangan sosok yang gadis itu panggil dengan sebutan Van. Sepertinya cowok itu menghindari dirinya.
Bulan sekarang tengah berada di area ruang guru. Gadis itu baru saja menyelesaikan urusan dengan salah satu guru mata pelajarannya.
Cowok itu menoleh sekilas. "Lo yang kenapa?" sahut cowok itu malah balik bertanya.
Bulan mengernyit tidak mengerti. "Maksud lo?"
"Hampir satu minggu ini lo susah ditemuin, susah buat gue hubungin!" ujar Devan menatap lekat gadis di hadapannya. "Mau lo apa sih, Bul? Lo sering banget kaya gini. Lo selalu ngilang. Gue temuin gak bisa, gue hubungin gak bisa! Lo kenapa? Lo mau apa? Gue capek Bul!"
Mendengar penuturan cowok yang kini sedang saling berhadapan dengannya. Bulan seketika mendongak menatap sempurna wajah cowok itu. "Lo yang kenapa, Van ... maksud lo apa ngomong gitu?"
"Ya, gue capek. Gue capek Bul, lo tuh cewek aneh buat gue! Lo terlalu menutupi diri lo!" ucapan Devan membuat Bulan terdiam.
"Maaf Van, karena ini diri gue. Gak semua hal tentang gue, gue ceritain ke orang lain," sahut Bulan menatap Devan yang sama-sama tengah menatapnya.
Devan terkekeh sinis mendengarnya. "Orang lain, 'ya, Bul ...." Devan mengangguk mengerti. "Padahal kita udah pacaran cukup lama, Bul. Tapi, lo masih anggap gue orang lain?" Devan menjeda ucapannya, "Oke kalo itu mau lo." Setelah berucap seperti itu, Devan berbalik badan meninggalkan Bulan yang belum sempat berucap apapun lagi.
"Gue lebih capek daripada lo, Van," gumam Bulan menatap punggung Devan yang semakin lama semakin jauh dan menghilang dari pandangannya.
Harapannya semalam di mana hari ini akan menjadi hari yang menyenangkan. Namun, harapan itu seketika harus pupus seakan dunia ini memang tak mengijinkan dirinya bahagia walaupun itu hanya sehari.
"Udah sih, liatinnya gitu amat. Udah ilang juga," celetuk seseorang yang membuat Bulan mengalihkan pandangannya menjadi kepada orang yang berbicara barusan.
"Nggak kok. Eh ... gak ke kelas, El?" tanya Bulan pada Elvan yang tak lain adalah teman sekelasnya. Gadis itu menyadari sebentar lagi waktu istirahat selesai.
"Ini mau Bul. Lo juga ngapain masih di sini. Ayo ke kelas ...." Elvan menarik pergelangan tangan Bulan untuk segera beranjak melangkah bersamanya. "Nanti Pak Norman marah kalo telat."
"Iya, El!"
Keduanya tidak ada yang berbicara lagi. Sampai akhirnya Bulan terlebih dahulu membuka suaranya. "El?" panggil Bulan di sela-sela mereka tengah berjalan beriringan.
Elvan menoleh. "Kenapa?"
"Gue cewek aneh, ya, El?" tanya Bulan. Pasalnya perkataan Devan tadi masih terngiang di telinganya dan akhirnya Bulan memilih bertanya, menanyakan hal itu pada Elvan.
"Kata siapa, Bul?"
"Devan," sahut Bulan menatap Elvan sekilas.
Elvan mengelus pelan rambut gadis itu. "Dia yang aneh Bul. Lo itu cewek unik, Bul," ujar Elvin. Pandangannya kembali menatap ke depan setelah sesaat dia menatap gadis itu. "Bagi gue," lanjutan dalam hati.
"Unik apaan, sih, El!" Bulan terkekeh pelan.
"Iya, unik, Bul. Lo unik kaya barang antik yang Papah gue punya ...." Elvan tertawa kecil mendengar ucapannya sendiri. "Seharusnya Devan beruntung milikin lo."
"Apa, sih. El lagi ngegombal?" Bulan bertanya diiringi tawa geli mendengar ucapan Elvan.
Elvan berdecak. Keduanya sekarang masih berjalan di koridor kelas. "Jangan panggil gue gitu, Bul!" Sungguh dia tidak suka jika Bulan memanggil tanpa menyebutkan embel-embel lo padanya. Entahlah.
Bulan menoleh dengan alis terlihat mengernyit. "Kenapa? Biasanya juga panggil El, 'kan?"
Elvan merotasikan bola matanya. "Iya, tapi lo gak sebut embel-embel lo! Dan nada bicara lo ... udahlah!" ujar Elvan. Cowok itu malah mempercepat jalannya.
"Dih! El, kenapa, sih? Jawab dulu!" Bulan menarik belakang baju Elvan yang malah meninggalkan dirinya.
Elvan berhenti karena baju seragam ditarik gadis itu cukup kuat. Mau tidak mau Elvan menoleh pada Bulan kembali. "Gue baper Bul!" ujar Elvan. Cowok itu langsung menarik Bulan dan memposisikan kepala gadis itu tepat di ketiaknya.
"Ih! Apa, sih, El. Gitu aja baper ...." Bulan memberontak untuk melepaskan dirinya dari apa yang Elvan lakukan. "El, lepas! Engap! Lo bau, El!"
"Emang gak boleh kalo gue baper?" tanya Elvan masih memposisikan kepala Bulan di ketiaknya.
"Gak boleh! Gue udah punya Devan, El!" sahut Bulan, "lepasin, El!"
"Ya, udah mangkanya jangan panggil gue gitu lagi!" Elvan akhirnya melepaskan Bulan. Membiarkan gadis itu menghirup udara terlebih dahulu. Lalu refleks tangan cowok itu terulur merapikan rambut sebahu milik Bulan.
"Engap tau, El!" Bulan merotasikan bola matanya.
Sepasang netra kini terus memandang tidak suka ke arah Bulan dan Elvan yang kini masih berjalan di koridor kelas. Tepatnya dari seberang lapangan sana. Devan, setelah berbicara dengan Bulan tadi, cowok itu memilih ikut berkumpul di depan kelas bersama dengan sebagian teman sekelasnya.
"Bukannya Bulan masih pacar lo, ya, Van?" celetuk Sarah. Gadis itu duduk bersebelahan dengan Devan yang sama-sama tengah memperhatikan apa yang tengah dilihat oleh Devan.
"Kenapa gak putusin aja, sih, Van. Gak liat kelakuan dia kaya gitu. Lagi pula menurut gue, Lisa lebih punya segalanya dari cewek itu, Van!" ucap Sarah menatap wajah Devan dari samping. Lalu kembali memperhatikan apa yang tengah diperhatikannya tadi. Sementara Lisa hanya menyimak. Gadis itu duduk di sebelah kanannya Devan.
"Sar!" tegur Devan sedikit meninggikan ucapannya.
"Apa yang dikatakan Sarah bener kali, Van! Lisa lebih cantik daripada si Bulan. Toh, kalian juga udah deket dari dulu, tapi lo malah milih si Bulan," Gilang menimpali. Menyetujui apa yang diucapakan Sarah.
Setelah Bulan dan Elvan tak nampak oleh pandangannya. Devan beranjak dari duduknya hendak pergi dari sana dan, ya, Devan tidak menyukai jika Sarah dan Gilang berbicara itu tentang Bulan. Walaupun mereka temannya dari dulu tapi, tetap dia tidak suka jika orang lain berbicara seperti itu. Devan tahu Bulan gadis baik-baik.
"Van? Devan! Mau kemana!" Lisa ikut berdiri dari duduknya. Memanggil Devan yang sudah berjalan melangkah di hadapannya.
~~••~~