bc

Istri Kontrak CEO Arogan: Demi Keluarga

book_age18+
23
IKUTI
1K
BACA
contract marriage
family
HE
friends to lovers
arranged marriage
stepfather
heir/heiress
drama
tragedy
city
office/work place
lies
like
intro-logo
Uraian

Naya Larasati, gadis biasa dari pinggiran Kharisma, terjebak dalam hutang keluarga yang menumpuk dan ayahnya yang sakit parah. Saat penagih hutang mengancam nyawa keluarganya, satu-satunya jalan adalah tawaran gila dari Damian Vellara—CEO arogan dan dingin dari Vellara Group.

"Jadilah istri kontrakku selama satu tahun. Semua hutangmu lunas, ayahmu dirawat. Tapi ingat, ini hanya bisnis. Jangan harap cinta."

Dari pertengkaran sengit, sikap posesif, rahasia masa lalu yang terungkap, hingga perpisahan menyakitkan... apakah pernikahan palsu ini hanya akan berakhir dengan perceraian dingin, atau justru menyulut cinta sejati yang tak terduga? Slow-burn romance penuh drama keluarga kaya, intrik bisnis, dan balas dendam yang memuaskan.

chap-preview
Pratinjau gratis
Beban yang Tak Terlihat
Gerimis tipis menyapa Kharisma sejak subuh, seperti biasa di musim ini. Kota besar yang dikelilingi pegunungan itu selalu punya hujan yang tak pernah benar-benar deras, tapi cukup untuk membuat jalanan licin, atap seng berderit, dan udara terasa lebih menekan d**a. Di Kampung Melati, kawasan pinggiran yang penuh rumah petak bercat pudar dan gang sempit berlubang, Naya Larasati sudah bangun sejak pukul empat pagi. Ia duduk di pinggir ranjang kayu sederhana, memandang langit-langit yang mulai berjamur di sudut-sudut. Di kamar sebelah, suara batuk pelan ayahnya terdengar lagi—batuk kering yang sudah menjadi irama harian rumah kecil ini selama hampir empat bulan terakhir. Naya menghela napas dalam-dalam, lalu bangkit pelan agar tak membangunkan Bu Sari yang tidur di kasur lipat di ruang tengah. Ia ambil handuk kecil dari gantungan dinding, basuh muka dengan air dingin dari ember plastik biru yang sudah retak di pinggirnya. Cermin kecil yang retak di dinding kamar mandi menunjukkan wajahnya: mata cekung karena kurang tidur berturut-turut, pipi sedikit tirus, rambut panjang hitam diikat asal-asalan dengan karet gelang. Tapi ia tetap memaksakan senyum kecil ke cermin itu, latihan agar nanti di kafe senyumnya terlihat tulus. Hari ini shift pagi di kafe Senja Kopi dimulai pukul tujuh. Kalau terlambat lima menit saja, Bu Rina—pemilik kafe yang super ketat—bisa memotong upah harian. Naya tak punya pilihan lain selain tepat waktu. Sebelum keluar kamar, ia mampir ke kamar ayahnya. Pak Haris terbaring miring menghadap dinding, selang oksigen tipis menempel di hidungnya. Wajahnya semakin tirus, kulitnya kuning pucat seperti kertas lama. Di meja samping ranjang—meja kayu bekas yang sudah goyang—tumpukan obat, botol sirup, dan tagihan rumah sakit menumpuk rapi tapi mengancam. Tagihan terbaru dari RS Harmoni Kharisma tertempel di atas: CT scan ulang + konsultasi onkologi = Rp 5.200.000. Belum termasuk kemoterapi bulan depan yang bisa mencapai dua puluh juta sekali suntik. "Naya..." suara Pak Haris serak, hampir tak terdengar. Ia berusaha membuka mata, tapi kelopaknya berat. "Pagi, Yah." Naya duduk di pinggir ranjang, memegang tangan ayahnya yang dingin dan kurus seperti ranting kering. "Ayah sudah minum obat pagi belum?" "Bu Sari... kasih tadi malam. Kamu... jangan lembur lagi ya. Kulitmu tambah gelap, matamu cekung." Naya tertawa kecil, pura-pura ringan meski hatinya perih. "Kulit gelap kan seksi sekarang, Yah. Lagian shift malam tambahannya lumayan. Bisa buat beli obat tambahan." Pak Haris menggeleng pelan, napasnya tersengal. "Ayah tahu kamu bohong biar Ayah tenang. Hutang itu... jangan kamu tanggung sendiri. Cari saudara yang—" "Sudah, Yah. Sudah Naya urus semuanya." Naya memotong cepat, tak mau ayahnya tambah stres. Stres bisa mempercepat penyakitnya, kata dokter. "Ayah fokus sembuh aja. Dokter bilang kalau rutin kontrol dan kemoterapi, peluangnya masih ada. Naya percaya." Kata-kata itu terasa pahit di lidahnya sendiri. Dokter memang bilang begitu, tapi setiap kunjungan ke RS Harmoni selalu diakhiri dengan tagihan baru yang lebih besar. Sudah empat siklus kemoterapi yang terlewat karena tak mampu bayar penuh. Sekarang hutang ke bank dan rentenir sudah menumpuk di atas delapan puluh juta. Rentenir yang paling sering datang—Pak Joko—bahkan sudah mulai mengancam akan menyita rumah kecil ini kalau cicilan tak lunas minggu ini. Naya mencium kening ayahnya yang panas, lalu keluar kamar pelan. Di dapur kecil yang hanya muat satu kompor gas dan wastafel bocor, Bu Sari sedang menggoreng telur dengan api kecil agar tak boros gas. "Naya, sarapan dulu. Aku buatin nasi sama telur ceplok. Ada sisa kemarin," kata Bu Sari sambil menyodorkan piring kecil. "Makasih, Bu. Tapi nanti aja. Aku bawa roti di tas." Naya peluk Bu Sari dari belakang sebentar. Bau minyak goreng dan sabun colek bercampur menjadi aroma rumah yang sudah terlalu familiar. "Ayah tadi batuk lagi?" "Iya... ada darah sedikit. Aku sudah lap. Besok harus ke dokter lagi, Nay. Tagihan CT scan kemarin belum lunas sepenuhnya." Naya mengangguk pelan, menelan ludah. "Naya tahu, Bu. Nanti sore Naya coba cari pinjaman lagi ke tetangga atau saudara jauh. Atau... mungkin Naya cari kerja tambahan malam ini." Bu Sari memandangnya dengan mata berkaca-kaca. "Kamu jangan paksa diri. Kalau perlu, jual tanah kecil di kampung itu—" "Nggak, Bu. Itu warisan Ibu. Ayah pasti nggak mau." Naya tersenyum paksa. "Tenang aja. Naya kuat kok." Ia ambil tas selempang lusuh dari gantungan, masukkan botol air minum, roti tawar sisa kemarin, dan dompet kecil yang isinya tinggal Rp 150.000. Sebelum berangkat, ia lirik ponsel: pesan masuk dari nomor tak dikenal, dikirim jam dua malam tadi. "Besok malam transfer 15 juta ke rekening ini. Kalau nggak, rumah kalian kami sita. Jangan coba kabur atau lapor polisi. Kami tahu alamat lengkapnya, termasuk nomor KTP kalian." Naya hapus pesan itu cepat, tapi jantungnya berdegup kencang. Pak Joko dan anak buahnya sudah naik level ancaman. Dulu cuma telepon dan SMS, sekarang mereka datang langsung ke rumah, bahkan mengintip dari luar pagar. Langkah Naya keluar gang Kampung Melati terasa lebih berat dari biasanya. Hujan gerimis membasahi jaket tipisnya yang sudah tipis di bagian siku. Ia naik angkot umum ke Central Kharisma, perjalanan sekitar empat puluh menit yang ia habiskan dengan menghitung ulang pengeluaran bulanan di kepala: gaji kafe Rp 4,5 juta, tambahan shift malam Rp 1 juta kalau rajin, cicilan hutang bank Rp 800 ribu, obat ayah Rp 2 juta lebih, makan sehari-hari Rp 1,5 juta... selalu kurang, selalu defisit. Di kafe Senja Kopi, aroma kopi segar langsung menyambutnya begitu ia membuka pintu belakang karyawan. Bu Rina sedang menghitung stok gula dan kopi bubuk di gudang kecil. "Naya, tepat waktu. Bagus. Hari ini ramai, ada meeting kecil dari kantor sebelah jam sepuluh. Siap-siap ya," kata Bu Rina tanpa menoleh, suaranya tegas seperti biasa. "Siap, Bu." Naya langsung ganti seragam: kaos polo hitam dengan logo kafe kecil di d**a kiri, celana jeans hitam, dan celemek hijau tua yang sudah agak pudar. Ia mulai bekerja: membersihkan meja-meja kayu, mengisi ulang tempat gula dan s**u, mengatur mesin espresso agar siap dipakai. Pelanggan pertama datang jam enam lewat—seorang karyawan kantoran langganan yang selalu pesan latte dengan ekstra shot espresso. "Selamat pagi, Mbak Naya. Latte biasa ya, tambah satu shot," katanya sambil tersenyum lelah. "Pagi, Mas. Sebentar ya." Naya bergerak lincah, tapi pikirannya melayang ke tagihan yang harus dibayar sore ini. Shift ini sampai jam dua siang. Setelah itu ia harus ke apotek ambil obat ayah, lalu mungkin mampir ke rumah saudara Bu Sari di kampung sebelah untuk pinjam uang. Jam delapan, kafe mulai penuh. Naya bolak-balik antar pesanan, menyapa pelanggan dengan senyum yang sudah ia latih bertahun-tahun: ramah, hangat, tapi tak berlebihan. Di tengah kesibukan, ia sempat duduk sebentar di bangku kecil belakang counter saat kafe agak sepi. Ia buka ponsel, cek saldo rekening: Rp 850.000. Gaji bulan lalu sudah masuk, tapi langsung dipotong cicilan otomatis. Sisa tak cukup untuk bayar obat minggu ini. Ia menghela napas pelan. "Harus cari tambahan kerja lagi... mungkin malam ini ambil shift double di kafe lain." Tiba-tiba pintu depan terbuka. Seorang pelanggan masuk, tapi Naya tak sempat melihat wajahnya karena sedang menyeduh cappuccino untuk pesanan sebelumnya. Ia hanya mendengar suara langkah sepatu kulit yang tegas, lalu aroma parfum mahal yang samar-samar tercium di antara bau kopi. Naya menyelesaikan pesanan, lalu menoleh ke counter. Pria itu berdiri di sana, tinggi, jas hitam rapi, rambut disisir ke belakang, ekspresi dingin seperti tak peduli hujan di luar atau keramaian di dalam kafe. Ia tak bicara apa-apa, hanya menatap menu di atas kepala Naya dengan mata tajam. Naya mengangguk sopan. "Selamat pagi, Pak. Mau pesan apa hari ini?" Pria itu akhirnya menoleh padanya. Matanya hitam pekat, alisnya sedikit berkerut. "Americano hitam, no sugar. Take away." "Baik, Pak. Tunggu sebentar ya." Naya buru-buru buat pesanan. Tangan kanannya menggiling biji kopi segar, tangan kiri menekan tombol mesin. Gerakannya sudah otomatis setelah dua tahun bekerja di sini, tapi hari ini tangannya sedikit gemetar karena lelah dan pikiran yang kacau. Kopi selesai dibuat. Naya menuangkan ke gelas kertas take away, tutup rapat, lalu sodorkan dengan senyum. "Ini pesanannya, Pak. Total Rp 35.000." Pria itu mengeluarkan dompet kulit hitam, ambil uang Rp 50.000, lalu letakkan di counter tanpa bicara. Ia ambil gelasnya, berbalik, dan pergi tanpa kembalian. Naya menghela napas lega kecil. Setidaknya pelanggan ini tak rewel. Ia masukkan uang ke laci kasir, lalu lanjut membersihkan counter. Hari itu berlalu dengan rutinitas yang sama: pesanan datang silih berganti, senyum dipasang terus, keringat menetes di punggung meski AC menyala. Di kepalanya, hitungan terus berputar: 15 juta harus dikumpulkan besok malam. Dari mana? Sore itu, saat shift selesai, Naya pulang dengan langkah gontai. Hujan masih gerimis. Di rumah, Bu Sari menyambut dengan wajah pucat. "Naya... tadi siang Pak Joko datang lagi. Dia bilang besok malam kalau nggak ada transfer, mereka bawa orang buat 'ambil jaminan'. Ayah dengar semuanya... dia tambah lemah, Nay." Naya peluk Bu Sari erat, air mata akhirnya jatuh pelan di bahu wanita itu. "Naya cari cara, Bu. Naya janji. Besok Naya usahakan." Malam itu, Naya duduk di samping ranjang ayahnya, memegang tangan Pak Haris yang semakin dingin. Ayahnya tertidur lelap karena obat penenang. Naya memandang wajah ayahnya lama-lama, air mata menetes tanpa suara. "Ayah... Naya nggak mau kehilangan Ayah. Apa pun yang harus Naya lakukan... Naya akan lakukan." Di luar jendela, hujan terus mengguyur Kharisma. Dan di dalam d**a Naya, beban hutang keluarga terasa semakin berat, seperti batu yang menekan napasnya setiap hari.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Kali kedua

read
221.3K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.2K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.9K
bc

TERNODA

read
201.3K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.2K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
84.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook