"Iya Pa, Sultan ke apartemen sekarang!" Sultan menutup panggilan telepon dari ayahnya, pria itu lalu masuk ke dalam kamarnya melihat istrinya yang baru selesai mandi. "Sayang," ucap Sultan. Rumaisyah hanya melihat pada suaminya dari cermin di depannya, ia tengah mengancing piyamanya. "Sayang, aku pergi dulu ya," kata Sultan dengan berat hati, ia peluk sang istri dari belakang. Rumaisyah menelan paksa salivanya, ia tahu mau ke mana suaminya pergi, tentu saja bersiap untuk lamarannya pada Sarah, bahkan Rumaisyah sudah melihat cincin yang dipersiapkan Sultan dari beberapa bulan lalu untuk melamar Sarah, waktu itu ia yang pergi ke toko perhiasan dan membawa desain yang diminta oleh Sultan. "Iya Mas," jawab Rumaisyah, ia memaksakan senyumnya. "Semoga semuanya lancar ya." "Rum," ucap

