Keraguan

1235 Kata
Dari kacamata pengelihatan Alana dan Gesya, tampak seorang laki-laki sedang menggandeng pinggang seorang wanita ber-tank top di sebelahnya. Ya, itu adalah Richard dan Marsha yang sedang sama-sama mengarah masuk ke dalam mobil sedan milik Gesya. “Sya, tuh, abang lo …” ujar Alana. “Iya, dan lagi-lagi mobil gue dijadiin tempat untuk zinah mereka!” pekik Gesya dengan mulutnya yang komat-kamit. “Huss! Jangan ngomong zinah-zinah, belum tentu mereka berdua zinah di dalam mobil lo. Jangan suudzon begitu lah, Sya!” seru Alana memperingati. “Lah, kalau dua orang sedang dimabuk cinta, yang ada pasti napsu doang yang ada di dalam kepalanya. Dan—“ “Enggak ih, buktinya gue sama mantan gue enggak gitu,” sela Alana. “Ya itu lo sama mantan lo. Gak tau kalau abang gue sama perempuan gatal itu! Pagi-pagi udah pakai tank top aja!” Gesya tak henti-hentinya menggerutu kesal dengan pemandangan yang dilihatnya sekarang ini. “Tenang, Sya, tenang …” kata Alana sembari mengipas-ngipasi Gesya dengan kedua tangannya. “Lo kayaknya butuh minum air dulu deh biar tenggorokan sampai hati lo tenang gitu,” Alana mengambil air mineral botolan yang berada di dashboard mobilnya. “Ah enggak enggak, kelamaan!” Gesya menancap gas mobilnya kembali karena melihat Richard dan Marsha sudah keluar dari parkiran mobil. Kurang lebih sejauh tiga meter, mobil yang dikendarai Gesya itu mulai menyusul Richard. “Pegangan yang kuat, Al. kalau lo loncat, gue gak mau tanggung jawab!” NGENG … NGENG … NGENG … lah ini suara mobil apa motor ya, bund? Kan Gesya lagi naik mobil hihihi. Kedua mata Gesya menyorot dengan fokusnya kemana mobil yang ditumpangi Richard itu pergi. Belok kiri, belok kanan, berhenti di lampu merah, jalan dari lampu merah, belok tikungan, dan semua gelagat Richard di jalanan itu diikuti oleh Gesya dengan halusnya. “Yah malah main kejar-kejaran aja kayak polisi sama maling. Bukannya cari es krim yang bisa bikin adem otak,” keluh Alana yang di dalam hatinya bercampur rasa ketakutan yang mendalam. “Udah, ntar habis ini, gue bener-bener kepo kenapa bisa abang gue tertarik sama perempuan satu itu. Biasanya tuh ya abang gue seleranya tinggi banget, kadang dia malah mau nikah sama professor dibandingkan perempuan kayak gitu,” beber Gesya soal kriteria abangnya. “Sssttt! Lo ngomong apa sih, Sya? Gak boleh menghina orang, apalagi menghina perempua gitu. Lo dan dia sama-sama perempuan yang harusnya saling mengerti dan gak nyakitin perasaan satu sama lain. Dan apa yang lo—“ “Al! perempuan itu udah bikin hati nyokap gue sakit! Dia itu ibaratnya mengambil separuh jiwa abang Richard dari nyokap gue! Apa apa selalu perempuan itu!!” Gesya makin geregetan. Karena Alana melihat emosi Gesya belum meredam juga, Alana memutuskan untuk diam saja. Karena pada dasarnya, orang yang sedang berada di puncak amarah, mau sebagaimana pun kita menasehati atau memberikan masukan, nyatanya nihil. Jadi, daripada mulut Alana lelah untuk bicara, lebih baik diam dan melihat apa yang ingin dilakukan oleh rekan kerjanya itu. *** Richard dan Marsha berada di mobil yang menjadi milik Gesya. Mobil yang di dalamnya penuh dengan asesoris serba biru muda, menyita perhatian Marsha. “Sayang, adik lo suka warna ini, ya?” tanya Marsha menyentuh beberapa barang dengan warna biru muda. “Mungkin, biasanya kalau cewek suka warna tertentu, hampir semua barangnya berwarna sama. Bukan begitu?!” balas Richard. Marsha pun manggut-manggut. “Kamu tahu gak kenapa seseorang itu suka warna biru?” Richard menggeleng, “Apa?” “Ada delapan alasan sih, dan itu bisa menggambarkan diri dia sendiri. Kamu mau tahu gak?” ujar Marsha. “Iya, mau tahu aja deh, daripada gak ada obrolan seru, hehehe,” sahut Richard. “Biasanya sih ya, orang yang menyukai warna biru itu lebih suka berada di zona aman. Kalau orang lain suka buru-buru mengambil risiko, berbeda dengan mereka yang selalu berpikir matang tentang apa yang akan dilakukannya. Nah hal itu membuat si pecinta biru ini  dikenal sebagai manusia penurut dan tegas atau matang saat mengambil keputusan,” terang Marsha karena ketika zaman sekolah SMA dulu, dirinya suka baca artikel tentang warna-warna. Hmm, kira-kira pada zaman itu si Marsha ikut-ikutan baca artikel soal zodiak dan shio gak sih?! “Oh gitu ya … tapi ada benarnya juga, sih. Adik gue si Gesya itu selalu cari zona aman dan gak mau keluar dari sana. Contohnya aja nih ya ketika kuliah, padahal dia memiliki potensi dan kesempatan untuk kuliah di kedokteran, tapi malah nyerimpet ke tata busana yang jadi hobinya. Padahal, hobinya juga gak begitu dikuasai sama dia,” terang Richard. Marsha jadi terkekeh. “Adik kamu itu yang kemarin ikut makan malam ya? Yang duduk di sebelahnya perempua yang bernama Dona?!” “Iya betul. Yang diem-diem doang,” Richard membetulkan. “Oh yang itu … cantik juga ya dia,” kata Marsha. “Iya, tapi suka bikin kesal dan gue gak suka,” timpal Richard. “Gue jadi pengen kenalan sama adik lo. Karena gue ada kesukaan tersendiri sama orang yang suka dengan warna biru,” ucap Marsha seketika. “Kok bisa?” tanya Richard kembali yang heran. “Iya, karena salah satu sikap menarik bagi gue dari pecinta biru ialah pecinta biru ini gerah dengan segala masalah di sekitarnya. Menurutnya hidup itu sudah susah, jadi gak perlu sampai punya musuh. Maka dari itu, mereka-mereka gak suka terlibat dengan perkelahian yang nihil manfaat dan tujuan untuk perkembangan diri. Kalau kita tarik kesimpulannya sih, para penyuka warna biru muda ini memiliki kendali diri yang baik dan cenderung akan menghindari permusuhan di sekelilingnya,” jelas Marsha lagi yang rupanya artikel yang ia baca saat SMA masih melekat di otaknya. Eh lo Marsha, baca zodiak beginian aja jago, kalau soal Fisika Kimia kenapa kagak?! Malah sering remedial lo! Mendengar penjelasan yang lumayan detail dari Marsha itu, membuat Richard terkekeh. “Jadi maksud lo si Gesya itu anti kelahi-kelahi gitu ya?!” Marsha mengangguk tegas. “HAHAHAHAHAHAHAHAH,” Richard makin ketawa geli. “Malah tuh ya Gesya ini pemimpin geng perempuan di tiap ada ribut. Dia yang suka di paling depan yang teriak-teriak dan bikin suasana makin panas,” info Richard. Hal itu membuat Marsha membelalakan kedua matanya. “SERIUS?! Kok bisa?” “Entah ya, gue juga gak nanya lebih lanjut sih. Dan yang paling gue tahu itu, Gesya selalu gak suka ada orang yang mengusik dirinya dan keluarganya. Kalaupun sampai ketemu orang kayak gitu, akan disikat habis dah!” beber Richard. “Maksudnya mengusik dirinya dan keluarganya itu gimana ya Chad?” tanya Marsha lagi yang lumayan tertarik dengan hal ini. “Ya gitu, tiap orang yang membuat orang tua gue geram dan gak suka, pasti Gesya juga gak suka dan akan memberi pelajaran orang itu.” Marsha tertegun diam. Ia baru ingat soal kejadian makan malam yang tidak begitu menyenangkan. Makan malam di mana kedua orang tua Richard dan Gesya itu tidak menerima Marsha dengan baik, layaknya tamu yang diundang. Malahan, Marsha dicuekin dan tidak dilirik sama sekali. Marsha jadi berpikir dalam hatinya. “Apa jangan-jangan hal yang dimaksud Richard itu adalah gue? Gue yang dianggap sebagai pengusik keluarga mereka di mata Gesya?!” Richard memandang Marsha yang melengos ke arah jendela. Marsha tidak mengemukakan apa-apa lagi setelah itu. “Apa ada yang lo mau tahu lagi soal Gesya?” tanya Richard. Akan tetapi, Marsha menggelengkan kepalanya dengan cepat tanpa melirik ke arah Richard yang sedang bertanya padanya. “Sayang … sayang … sayang?!” tegur Richard ke Marsha yang masih terpaku diam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN