Sama seperti tadi pagi, kejadian kejar-kejaran itu masih terlintas di kepala Alana. Bagaimana Alana mencoba tetap tenang di kala badannya itu tergoyang-goyang hebat karena gas mobil yang dipacu Gesya begitu cepat. Jantung Alana seperti hendak copot, tapi dipaksanya untuk ditahan. Bisa panjang urusannya kalau jantung sampai copot, hihihi.
“Sya, biarpun lo cepet-cepet gini, lo harus mikir kalau kita berdua belum sukses, masih mau oncom, dan yang pasti belum nikah, Sya!” tutur Alana.
Ketakutan yang muncul dari diri Alana, tidak digubris sama sekali oleh Gesya. Ingin sekali rasanya mencabut gas kaki yang diinjak Gesya dari tadi. “Sya, plis inget-inget kalau perjuangan lo sampai di titik ini itu berat, lo jangan sia-siain hanya untuk ngejar abang lo doang!” seru Alana kembali.
“Lo lebih baik diam deh, Al. Lo percaya aja sama gue, kalau gue ini bisa ngebut-ngebutan sekelas Need For Speed Most Wanted, mainan balap-balapan mobil gue di PS2 waktu esde,” balas Gesya.
Alana menarik napasnya dalam-dalam, “Lo gak bisa sama-samain hidup sama mainan kayak gitu. Lo ngebawa gue loh, Sya! Yang lagi ketakutan gini …” Alana betulan takut, gengs, buktinya aja tangannya yang menggenggam kursi mobil, ikut gemetar.
CIIITTTT! Ternyata Richard pergi ke apartemen yang sama kayak tadi pagi. Richard yang hanya memberhentikan mobilnya di depan voyage apartemen, meminta petugas untuk memarkir mobilnya di basement. Tampak jelas dari mata kepala Alana dan Gesya, Richard seperti kalut dan mempercepat langkah kakinya masuk ke apartemen.
“Dia ke apartemen lagi, Sya,” tukas Alana.
“Iya, dan kemungkinan besar nemuin perempuan yang sama.”
“Kita mau di sini doang? Apa enggak cari parkiran, Sya?” tanya Alana lagi, ketika Gesya memberhentikan mobilnya di pinggir jalan, tepat di atas zebra cross, “Apalagi lo berdirinya di atas zebra cross. Bisa diomel sama orang-orang, Sya …” pekik Alana.
Gesya melirik kaca spionnya, ia juga melihat rambu tidak boleh memarkir di tempat yang sekarang ia berhenti, yang tergambar jelas huruf S yang dicoret. ”Ya udah kita pindah ke depan sana aja, daripada kita kena tilang, hilang deh dua ratus lima puluh ribu.”
“Al, gue minta maaf ya bikin lo ikut-ikutan ngejar abang gue. Tapi, entah kenapa waktu hal ini terjadi, pasti sama lo terus,” kata Gesya.
“Ya sebenarnya gue gak permasalahin, sih. Cuman jantung gue aja ini yang ngamuk-ngamuk waktu lo ngebut. Rasanya kayak gelinding dari Mount Everest, Sya!” seru Alana dengan hebohnya sembari menggelengkan kepalanya.
Gesya langsung terkekeh, melihat reaksi dari teman yang duduk di sampingnya itu. “Lain kali lo harus ikut gue balapan, dan duduk di samping gue kayak gini. Terus, lo bisa ngerasain kalau kejar-kejaran di jalan gini gak ada apa-apanya.”
“Gak! Gak! Gue masih pengen punya umur panjang kali!” protes Alana.
“Udah gak usah ribut di bawah pohon gini, ntar yang nunggu bisa marah loh!” kemudian Gesya menakut-nakuti Alana.
“Gak takut gue mah. Lebih takut kalau—“
“Sssst, Al, ngomong sama lo itu pasti kemana-mana ya jatuhnya. Udah deh ya, sekarang kita diem dulu dan pantau aktivitas abang gue pagi ini di apartemen itu …” pinta Gesya. Dan seketika saja Alana mingkem diiringi dengan perasaan hatinya yang mulai tenang.
***
Tok … tok … tok … “Siapa?” seru Bu Alin yang sedang bersih-bersih di ruang tamu apartemennya.
“Richard, Tante …” balas seorang laki-laki dari dalam pintu luar.
“Kok lo gak kerja?!” seru Bu Alin lagi yang masih sibuk menyapu bawah kolong meja ruang tamunya.
“Istirahat bentar, Te ntar juga balik lagi,” balas Richard.
Tak lama kemudian Bu Alin membukakan pintu apartemenya, dan di sana sudah ada Richard dengan rambut yang acak-acakan. “Kamu kenapa begini?” tanya Bu Alin heran.
“Hmm, gak apa-apa kok Te. Marshanya ada?” respon Richard.
“Ih kenapa dulu? Kamu gak mau cerita sama Tante?” Bu Alin tampak memaksa. “Gak biasanya banget kamu kayak begini, Chad. Agak berantakan …”
Richard pun memaksa senyumannya, “Gak ada apa-apa kok Te, beneran ..” Richard mencoba menyakinkan Bu Alin dengan perkataannya. Walaupun Richard tahu kalau apapun yang Richard ceritakan pada Bu Alin, semuanya akan sia-sia. Masuk kiri ke luar kanan. Jadi, dari dulu Richard gak pernah mau ngobrol secara intens sama Bu Alin.
“Siapa Ma?!” Marsha udah ada di belakang Bu Alin, ia menelik ke arah Richard yang masih berdiri di depan pintu. “Kok balik lagi? Bukannya tadi izin mau ke kantor ya?” tanya Marsha yang sama-sama heran kayak Bu Alin.
“Iya nih, gue pengen istirahat bentaran doang di sini. Boleh, kan? Lagipula sumpek banget sama kerjaan di kantor yang membludak gak selesai-selesai,” ujar Richard.
“Oh gitu …” seru Bu Alin dan Marsha bersamaan sambil menganggukan kepala mereka.
“Masuk deh, Sayang ..” Marsha mengambil posisi di depan Bu Alin dan membukakan lebih lebar lagi daun pintunya. Tampak Richard masuk ke dalam. Marsha segera merangkul Richard, “Udah sarapan? Barusan gue dan Mama sarapan enak loh, kamu mau gak?!”
Richard menggelengkan kepalanya. “Sudah makan di rumah sebelum ke sini.”
Marsha dan Richard duduk di ruang tamu. Richard menyenderkan tubuhnya di atas sofa yang juga pernah dibelikannya untuk Marsha dan Bu Alin. Terlihat Richard berkali-kali menghela napasnya berat dengan wajahnya yang dipenuhi kekecewaan.
“Lo ada masalah, Sayang?” tanya Marsha yang dari tadi memperhatikan Richard, mulai dari dia masuk ke apartemen sampai sekarang duduk di sofa ruang tamu.
Richard mengangguk pelan.
“Mau cerita sama gue?” tawar Marsha.
Richard menganggukan kepalanya lagi. Hal itu membuat Marsha tersenyum hingga ia mengelus-elus punggung tangan milik Richard. “Cerita aja apa yang mau lo ungkapin, gue siap ngedengerin, kok …” ujar Marsha begitu lembut seperti ada maunya.
“Gue lagi ada masalah sama bokap,” tukas Richard singkat.
“Kok bisa? Bukannya kalian berdua baik-baik aja, ya?” Marsha tak percaya.
“Iya, harusnya sih baik-baik saja. Baru tadi pagi gue dan bokap ada sedikit ribut,” tutur Richard kembali.
“Masalah apa?” tanya Marsha. Namun Richard hanya membisu. “Kalau gak mau cerita gak apa-apa deh, Sayang … gue gak maksa. Sekarang yang penting, lo istirahat aja di sini. Mau gue bikinin kopi atau sirup??”
“Teh aja.”
Marsha segera beranjak dan menuju dapur yang menyambung dengan ruang tamu. Marsha membuatkan teh hangat seperti kesukaan Richard. “Less sugar kayak biasanya ya, Sayang?” tanya Richard sebelum menumpahkan beberapa gula yang sudah diseroknya dengan sendok.
“Iya.” Balas Richard dengan lemah.
Marsha pun mengaduk-adukan teh hangat agar bisa tercampur dengan gula. Namun, pandangan Marsha tidak terlepas dari sorot mata yang dibuat oleh Richard. Pagi ini memang berbeda sekali, Richard tidak bersemangat seperti hari-hari biasanya.
“Ini, diminum dulu, Sayang …” Marsha duduk kembali di sebelah Richard dengan menyuguhkan teh hangat less sugar.
Tanpa menunggu teh itu dingin, Richard langsung menyeruputnya. “Ahhhh .. sedikit menenangkan, apalagi kalau lihat wajah lo.” Dasar Richard masih sempat-sempatnya godain anak orang. ADA EMAKNYA LOH, GALAK!?
“Lo semestinya harus tenang sama masalah yang lo hadapi,” ujar Marsha seraya mengelus pundak Richard. “Tapi gue yakin lo orangnya dewasa kok, Chad. Lo bisa bikin diri lo tenang walaupun melewati beberapa macam masalah di depan.”
Richard tersenyum, selalu ada omongan-omongan yang menenangkan diri untuk Richard dari Marsha. “Terima kasih banyak ya, Sayang. Lo memang paling ngertiin gue,” Richard mengelus punggung tangan Marsha.
TOK … TOK … TOK … hari ini pintu apartemen terketuk seseorang dari luar untuk kedua kalinya. “Sebentar ya, ada orang yang datang,” Marsha cepat-cepat bangkit dari duduknya dan membukakan pintu apartemennya.
KLEK! Seorang perempuan berpakai customer service apartemen itu sudah berada di hadapan Marsha. “Halo, ada apa Mbak?” tanya Marsha.
“Ini Mbak, tadi ada seseorang yang menunggu Mbak di ruang tunggu mau bertemu Mbak. Karena Mbak gak turun-turun, jadinya beliau menitipkan ini ke Mbak,” kata customer service itu segera memberikan sepucuk amplop berwarna putih.
“Maaf, dari mana ya, Mbak? Saya merasa gak punya keluarga di sini. Dan gak ada satupun orang yang tahu saya tinggal di sini,” ujar Marsha yang terheran-heran mendapatkan surat dari seseorang.
“Kurang paham ya Mbak …” balas customer service itu dengan santai.
“Bukan pinjaman online kan, Mbak?” Marsha malah curiganya ini adalah titisan-titisan rentenir pinjaman online.
“Bukan kok Mbak tenang aja. Tadi yang mengantarkan ke sini itu ibu-ibu cantik kok. Kayanya gak mungkin rentenir pinjaman online, deh …” ujar customer service lagi.
Marsha menarik napasnya lega. “Huh syukurlah, ya udah saya terima suratnya ya, Mbak. Terima kasih banyak,” kata Marsha.
Marsha sudah mendapatkan surat itu di tangannya dan menutup pintu apartemennya.
“Siapa, Sayang?” tanya Richard ketika melihat Marsha membawa amplop putih.
“Customer service ngasih ini ke gue.” Marsha mengangkat amplop putihnya itu. “Katanya sih yang ngasih ibu-ibu cantik, paling temen sosialitanya Mama,” seru Marsha.
Tanpa menyimpan banyak keraguan, Marsha langsung menaruh amplop itu di kamar Bu Alin. Lalu, dia kembali menemui Richard yang ada di ruang tamu. “Lo mau seharian di sini, atau keluar, Sayang?” tanya Marsha.
“Hmm, menurut kamu!?” seru Richard.
“Lebih baik kita ke luar jalan-jalan lihat keindahan kota ini. Dijamin nih kamu yang tadinya marah, bisa auto hilang seketika …” kata Marsha.
“Kayak slogannya sabun pembersih piring aja, kotoran hilang seketika! Hahaha,” Richard dan Marsha tertawa bersama. “Yuk kita ke luar, cari udara segar, lo ganti baju dulu apa gimana?” tutur Richard.
“Gak usah, kelamaan, begini aja gue udah cantik, hihhi …” Marsha pun menarik tangan Richard hingga Richard pun terbangun dari duduknya.
Marsha dan Richard melangkahkan kaki ke luar pintu. “Gak pamit sama Mama?” tanya Richard.
“Gak usah, ntar juga dia tahu sendiri,” kata Marsha. Marsha dan Richard pun akhirnya keluar dari apartemen.