Richard mempercepat langkahnya menuju ruangan kerjanya, ia tahu sekarang sudah terlambat sekali untuk masuk jam kerja. Seluruh karyawan sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing, dengan apapun yang berada di atas meja kerja mereka. Richard memang suka pemandangan ini, di mana karyawannya tetap melaksanakan tugas dan perintah dari atasan ketimbang mogok kerja.
“Chad, sudah jam berapa ini?” tiba-tiba saja Pak Niko berdiri di hadapan Richard, menghalangi jalan.
“Maaf, Papi … tadi gue ada urusan bentar di luar,” ucap Richard.
“Urusan sama perempuan itu?!” balas Pak Niko.
Richard mengangguk. “Tapi sekarang gue udah ada di kantor kok Pap, dan ini mau ke ruangan kerja,” ujar Richard dan mencoba mencari celah untuk lolos dari hadangan Pak Niko. Namun, Pak Niko tetap menghalang-halangi Richard.
“Kamu boleh telat karena urusan di luar, tapi jangan satu jam begini juga dong. Kamu gak sungkan sama karyawan lain yang datangnya tepat waktu?! Bahkan datangnya in time loh, kamu gak malu?!” di koridor kantor itu, Pak Niko menumpahkan emosinya ke Richard.
“Papi … gue punya tanggung jawab yang harus diselesaikan di kantor ini. Permisi, ini bukan waktunya untuk berdebat,” kata Richard.
“Diselesaikan? Yakin kamu sudah selesaikan semua tugas kamu di kantor? Barusan Papi lihat di kantor, banyak pekerjaan kamu yang mangkrak!” tutur Pak Richard.
“Papi hanya lihat pekerjaan gue yang mangkrak, tapi gak lihat ke yang lainnya, gue udah banyak bantu kantor loh Pa, mulai dari pemasarannya itu meningkat pesat kan gara-gara aku?!” balas Richard.
Pak Niko menggeleng. “Semua itu bagian marketing yang ambil alih. Papi sudah tahu berapa banyak kerja kamu di sini, dan seberapa seriusnya kamu bekerja di sini!”
“Permisi …” Richard malah membalikan badannya dan berjalan menuju pintu kantor.
“Chad! Richard! Mau ke mana kamu?!” teriak Pak Niko namun teriakan itu tidak menghentikan laju langkah dari Richard.
“Astaga … benar yang dirasakan sama Mami, kalau akhir-akhir ini Richard jadi kepala batu …” seru Pak Niko dalam hati sembari menatap mobil Richard yang benar-benar keluar dari parkiran kantor.
Pak Niko pun harus memberitahu hal ini pada Bu Vivian. Pak Niko meraih ponsel yang ada di kantong celananya dan menelpon istrinya tersebut. Tak berapa lama kemudian, Bu Vivian mengangkat telepon dari suaminya yang masih berada di kantor.
“Halo, Papi? Ada apa? Tumben jam segini nelpon …” seru Bu Vivian.
“Mami, barusan Papi ketemu Richard dan dia baru saja datang ke kantor. Papi negur dia di koridor karena telat dan tugas-tugasnya banyak yang mangkrak. Bukannya minta maaf dan cepat selesaikan tugas, dia malah pergi dan sekarang gak masuk ke kantor …” beber Pak Niko menceritakan apa yang sebenarnya terjadi barusan antara Pak Niko dan Richard.
Terdengar hembusan napas panjang dari Bu Vivian, “Papi, jangan kebawa emosi ya sama sikap Richard yang kayak gitu. Mungkin Richard lagi ada masalah atau sesuatu, sehingga dia gak konsen di kerjaannya. Oh ya, nanti kalau Richard pulang ke rumah, Mami coba omongin baik-baik sama dia soal ini.”
“Iya deh Mi, minta tolong handle Richard dulu ya, sekarang ini Papa mau meeting dulu sama klien. Udah ditungguin dari tadi, ketemu Richard malah ketunda,” balas Pak Niko.
“Iya, semangat ya Papi kerjanya, gak usah mikir yang macam-macam, I love you!” kata Bu Vivian.
“Bisa aja si Mami bikin Papi senyum-senyum begini. Love you too, Mami …” balas Pak Niko.
Pak Niko pun menaruh kembali ponselnya di dalam kantong celananya dan kembali berjalan ke ruang rapat guna menjalankan meeting di pagi ini.
***
Hari ini hati Gesya masih berkalut pada emosi. Ia jadi tidak konsen mengerjakan gambarannya. Bahkan beberapa kali coretan yang sudah ia tulis di atas kertas putihnya, tiba-tiba diremas dan dilemparkannya ke tong sampah. Alana yang juga sedang mengerjakan sebuah gambar di samping meja Gesya, beranjak dari duduknya dan mendekati Gesya.
“Sya … lo badmood ya?” tanya Alana dengan nada lembut.
“Bisa dibilang begitu,” ujar Gesya singkat, tanpa menoleh ke wajah Alana.
“Mau ke luar gak? Kita beli es krim gelato, pizza, atau kwetiau kesukaan lo?” ajak Alana yang selalu punya sisi perhatian dan peduli pada Gesya.
Gesya menggeleng.
“Kok gak mau? Tumben banget nih, atau … kita jalan ke kebun binatang, mau? Kita lihat badak bercula satu, lucu banget deh!” Alana menyebutkan ajakannya yang lain.
“Es krim aja gue gak mau, apalagi ketemu badak bercula satu … double No, Al!” seru Gesya.
Gesya mencoretkan kembali pensilnya, namun kali ini coretan itu membentuk benang kusut. Alana menghela napasnya. “Kalau lo lagi badmood, gak usah ngerjain dulu, Sya. Lebih baik tenangin diri lo, pikiran lo, dan kita hangout!” Alana tak henti mengajak Gesya ke luar.
“Lo kayaknya ngebet banget ya Al ngajak gue jalan … apa minta ditraktir lo ya?!” seru Gesya.
Alana terkekeh. “Ya enggak lah, kali ini biar gue aja yang traktir karena lo kelihatannya badmood banget hari ini. Tapi, kalau lo mau ngetraktir gue, gak apa-apa juga sih, hehehe.”
“Heleh … ujung-ujungnya minta traktir juga! Al. kenapa ya di kepala gue ini selalu kepikiran soal Abang gue yang selalu—“
“Yuk! Jangan itu-itu terus yang dibahas, mending kita ke luar aja dan beli yang manis-manis biar emosinya gak meledak-ledak,” Alana seketika menarik tangan Gesya.
Sontak saja Gesya berdiri dari bangkunya. “Al, pelan-pelan dong! Entar ketek gue lepas gak ada gantinya!!”
“Ganti aja pakai ketek monyet Kalimantan, ahahahah. Yuk!” Alana menarik tangan Gesya menuju pintu keluar butik.
“Eh Al, tunggu-tunggu … sekarang banget nih keluarnya?” ujar Gesya.
“Iyalah! Mau kapan lagi? Kan lo badmoodnya hari ini …” balas Alana.
“Terus, siapa yang jaga butik? Ntar kalau ada orang mau ambil pesanan, gimana?” tanya Gesya.
“Urusan gampang itu mah! Yang terpenting lo itu harus ilangin badmood lo dan wajah lo harus ceria, seceria saat lo wisuda. Kalau yang punya butik aja badmood maksimal, gimana pelanggan mau tertarik ke sini? Yang ada langsung pergi dan mengira ini kandang macan! Ahahaha,” jawab Alana.
“Iya sih, lo ada benernya juga Al. Ya udah kita tutup aja sementara butiknya dan kita happy happy di luar sana!” seketika saja raut wajah Gesya yang tadinya cemberut, kini disulap oleh Alana yang memberikan rasa kebahagiaan dalam diri Gesya.
“Pakai mobil lo ya perginya!” seru Alana.
“Aman, tapi gak apa-apa ya klaksonnya gak bunyi? Haha,” kata Gesya.
“Gak apa-apa, yang penting lo hati-hati aja sih, cus!!”
Alana dan Gesya pun menaiki mobil untuk hangout kecil-kecilan hari ini. Hal ini memang sudah menjadi tradisi diantara mereka berdua ketika rasa suntuk menghampiri. Untung aja kalau suntuk gak pakai silet-silet tangan kayak orang zaman alay.
“Sudah lama banget ya Al kita gak hangout kayak gini. Terakhir kapan ya?” ucap Gesya.
“Kayaknya terakhir itu ketika ijazah kita gak keluar-keluar dan kita gak bisa lamar kerja di manapun. Alhasil, bikin kita jadi pengangguran!” jelas Alana yang masih mengingat masa-masa badmood-nya itu.
“Hhaha iyaa bener! Untung aja gak sampai bertahun-tahun ya … tapi lo hebat sempat kerja di perusahaan Anaconda, lah gue? Biarpun ijazah udah turun, masih aja santai-santai di kamar, hahahaha.”
“Hmm, itu kan masa lalu, yang penting sekarang kita berdua udah punya butik sendiri, dan isinya baju-baju yang kita rancang sendiri. Itu lebih menarik ketimbang kerja di perusahaan konveksi yang jam kerjanya tinggi, lingkungan yang toxic, terus gajinya stuck di situ-situ aja,” tukas Alana.
“Iya sih … hahaha, gue turun prihatin sama masa lalu lo, Al! hahaha,” celetuk Gesya yang membuat Alana tertawa.
Akan tetapi, Alana sengaja mengatakan keburukan-keburukan dari perusahaannya tersebut. Dan Alana juga berbohong soal gaji. Pasalnya, hanya di perusahaan PT. Anaconda itu lah yang mau membayar gaji besar bagi karyawan-karyawan teladan dan mengerjakan kerja dengan baik. Gaji besar itu dirasakan oleh Alana, satu-satunya karyawan yang memiliki gaji dua digit juga rupiah dibandingkan teman-temannya yang lain.
Karena Gesya dan Alana sama-sama asyik bengong, tiba-tiba Gesya melihat kembali mobilnya yang dipakai Richard tadi pagi. “Lah itu abang gue!!” Gesya menunjuk mobil sedan yang mengarah sejalur dengannya.
“Mau lo kejar lagi kayak tadi pagi??” tanya Alana yang mau siap-siap senam jantung lagi.
“Kayaknya gitu, Al. Pegangan yang kuat, pasang sabuk pengaman, pandangan lurus ke depan, dan jangan lupa baca doa!” jawab Gesya dengan mata yang terbelalak, siap-siap mengejar mobil sedan yang ditumpangi Richard itu.
“Astaga! Jantungan jilid dua!!!” seru Alana yang sudah pasrah.