Apartemen

1002 Kata
Sembari menunggu telepon yang dijanjikan oleh Tom, Marsha memutuskan untuk makan terlebih dahulu. Kalau kata orang-orang galau itu perlu tenaga, nah kalau bagi Marsha menunggu telepon itu lebih butuh tenaga. Marsha melangkahkan kakinya menuju ruang makan yang berdekatan sekali dengan dapur kotor apartemennya. “Masak apa Mama hari ini? Enak, gak?” tanya Marsha. “Gak usah banyak komen, makan aja makan,” jawab Bu Alin seraya menaruh piring kosong dan sendok garpu di depan Marsha. “Biasanya kan kalau Mama masak, less bumbu sampai kehambaran begitu,” balas Marsha dengan santainya. “Kalau gak mau makan, biar Mama sembunyiin aja makannya,” ancam Bu Alin yang langsung mengangkat piring lauk di tangannya. “Eh … eh … eh … jangan Ma! Bercanda doang, Ma. Jangan suka gampang marah gitu ah,” celetuk Marsha mencolek dagu Bu Alin. Bu Alin pun masih menggerutu dengan mimik wajah yang murung tidak bersahabat seperti itu. Bu Alin menurunkan kembali piring berisi lauk tersebut dari tangannya. Bu Alin dan Marsha makan bersama menyicipi masakan Bu Alin yang dibuat secara dadakan pada pagi itu. Biasanya Bu Alin suka pesan Goo—jack kalau urusan makanan. Mungkin hari ini sedang mode hemat kali ya, makanya Bu Alin dan Marsha tidak memesan lewat aplikasi buatan Indonesia itu. Kalau kata orang Indonesia, makan itu tidak boleh sambil ngobrol. Sayangnya, hal itu tidak berlaku ketika di kehidupan Bu Alin dan Marsha. ngobrol ketika sedang makan boleh, namun yang perlu digarisbawahi adalah, makan tidak boleh mengunyah sambil bicara! Dan sekarang, Bu Alin dan Marsha sedang membuka obrolan lebih lanjut. “Sudah kesekian kalinya Mama memergoki kamu dengan Richard, melakukan hal-hal yang sesungguhnya Mama benci,” ujar Bu Alin. Marsha pun berhenti menyuapi makanan ke mulutnya. “Ya terus? Kan itu hak Richard dan gue mau melakukan apa saja, Ma. Terlebih, gue dan Richard sudah lama banget pacarannya,” seru Marsha. “Iya, tapi Mama gak suka ya lihat kamu dan Richard main liar seperti itu. Itu sangat-sangat membuat Mama malu sekaligus marah!” balas Bu Alin terdengar meninggikan suaranya. Marsha mengernyitkan dahinya. “Kok bisa Mama yang malu, sih? Gue dan Richard sudah dewasa, kali, mau ngelakuin apa aja ya ayo asal tetap bertanggung jawab!” “Tapi jangan begitu, Mar. Mama tekankan sekali lagi ya, biarpun Mama tahu kalau makin ke sini makin kesana hubungan kamu dan Richard menjadi lebih intim, itu bukan artinya kamu juga harus mencintai dia sepenuhnya. Ingat janji di awal! Kamu memacari Richard hanya untuk mengambil kekayaannya!” tukas Bu Alin. Marsha menggerutu, “Namanya perasaan itu bisa datang dan hilang kapan saja dan di mana saja, Ma! Jangan juga terlalu memaksakan keinginan Mama, yang sudah tahu gue gak sepenuhnya bisa kabulkan,” balas Marsha. Bu Marsha mulai naik darah, ia menggebrak meja makan. BRAK! Untungnya semua yang ada di meja makan itu gak tumpah ya, gengs. “Kamu ngomong apa sih, Mar? Mama gak habis pikir, kalau kamu bisa melangkahi janji kamu dengan mencintai Richard. Itu bikin Mama marah, tau gak?!” seru Bu Alin. Marsha menatap wajah Bu Alin yang penuh dengan emosi. Mungkin saja karena faktor kecapekan naik turun tangga, atau jiwa dan otaknya belum tenang karena belum mandi. Ya, kita tidak tahu bagaimana ke depannya. “Terserah Mama deh! Marsha ini sudah besar dan sudah bisa mandiri!” Ciiit! Marsha beranjak dari duduknya dan ngacir lagi ke dalam kamarnya. Bu Alin menarik napasnya dalam-dalam, ia paham sekali apa yang dirasakan oleh anaknya, yang sedang berada dimabuk cinta itu. “Marsha … Marsha bisa-bisanya kamu mencintai anak dari keluarga yang seperti itu. Kedepannya kamu bisa merasa sia-sia sendiri, Nak!” ujar Bu Alin pelan. Dan tanpa ditemani Marsha, Bu Alin menghabiskan kembali nasi dan lauk yang masih tersisa di piringnya. Bu Alin sesekali melirik kegiatan di kamar, apa yang sedang dilakukan oleh Marsha yang ngambek itu. Dan ternyata seperti kebanyakan anak-anak pada umumnya, Marsha main ponsel doang. Di dalam kamar yang tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar juga itu, Marsha sibuk mengusap-usap layar ponselnya menelik beberapa foto out of the day. “Hmm, kayaknya fashion gue sudah zaman dulu banget deh. Saatnya gue harus cari pakaian-pakaian kekinian biar gue gak keliatan ketinggalan zaman!” ujar Marsha yang suka melihat perpaduan baju-baju itu. “Kayaknya ini bagus, dan Richard juga suka banget gue pakai baju yang beginian,” Marsha mengetukan jarinya di layar ponselnya sembari memikirkan soal Richard. Selama berpacaran dengan Richard, pakaian Marsha sengaja dibuat menjadi minim. Artinya, minim dari segi bahan, banyak part-part yang pendek gitu. Richard yang suka melihat belahan deda milik Marsha, sengaja meminta Marsha untuk memakai pakaian yang serupa, sehingga dirinya bisa leluasa melihat bagian itu. Urusan duit dan beli di mana, serahkan saja semuanya pada Richard! Dan tidak lama kemudian, ponsel Marsha berbunyi kesekian kalinya. Marsha sudah mengira bahwa itu adalah Tom. “Pasti itu Tom, ya,” kata Marsha ketika melihat nomot tidak dikenal itu menyelinap masuk ke ponselnya. Marsha cepat-cepat mengangkat telepon tersebut, “Halo, Tom?” dengan percaya dirinya ia menyebutkan nama Tom di situ. “Tom and Jerry?!” sahut suara perempuan dari balik telepon tersebut. “Hah?” Marsha menepok jidatnya. “Maaf, maaf banget ya, Mbak. Saya pikir tadi ada teman saya yang telepon, ternyata bukan. Ini siapa ya?” “Saya Arini dari customer service apartemen, Mbak. Saya mau menginformasikan bahwa ada seseorang yang sudah menunggu Mbak di ruang tunggu,” kata Arini, si customer service hotel itu. “Hah? Perasaan saya tiak ada manggil siapa-siapa deh, punya teman baik yang suka ke apartemen aja gak ada, Mbak,” tepis Marsha. “Entah ya, Mbak. Ini ada yang menunggu, seorang laki-laki. Saya sudah menginformasikan ya Mbak, silakan tamunya ditemui. Terima kasih banyak,” kata Arini. Telepon tersebut tertutup, Marsha jadi enggak mau turun ke ruang tunggu. “Ah, jangan-jangan itu orang yang lagi nagih utang … males ah gue nemuin!” ia baru sadar kalau beli di shoppe—poy pakai kreditan. “Gue lupa banget bilang ke Richard kalau gue punya utang di situs online,” seruny Marsha lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN