“YES! Gak sia-sia gue pacarana sama Richard, karena apapun yang gue inginin, pasti dikabulkan. Pokoknya Richard top banget! Ngalah-ngalahin Tuhan deh kalau soal ngabulin apa aja!” seru Marsha kesenangan.
Sembari guling-guling di atas tempat tidurnya, seperti biasa seharian penuh itu tidak ada aktivitas serius yang dilakukan Marsha. Ibaratnya Marsha itu hanya menikmati hidup, tidak ada masalah ekonomi yang menimpanya, dan santai banget, bro!
“Kenapa baru jam delapan pagi sudah ngantuk lagi, ya? Hoam!” Marsha menguap, bibrnya melebar membentuk huruf O. Namun, Marsha selalu lupa untuk menutupnya.
Mata Marsha yang sayup-sayup itu ingin sekali terpejam, sepertinya di alam bawah sadar sana ada sesuatu yang menarik perhatian Marsha. Terdiam, memejamkan kedua mata, memperbaiki posisi rebahan, dan ddrrtt … ddrt … ddrrttttt … ponsel Marsha bergetar.
Marsha yang selalu kepo apa yang masuk ke ponselnya itu segera membesarkan kembali kedua bola matanya. Aplikasi berwarna oranye dan ada ikon kepala anjing itu berkedip-kedip. “Hah, tumbenan banget aplikasi ini kedap-kedip,” Marsha heran.
Marsha yang kehilangan rasa kentuknya tadi, mengetuk dua kali aplikasi yang menyorot perhatiannya itu. “Tom Victor Antonio???” sebuah nama yang disebutkan Marsha tadi muncul di pesan Marsha.
Aplikasi pencarian jodoh yang vakum digunakan Marsha beberapa bulan itu tiba-tiba aktif kembali. Aplikasi ini sengaja diinstall oleh Marsha secara cuma-cuma karena belum dapat kerjaan setelah enam bulan nganggur. Eleh, aku aja yang satu tahun nganggur, selow aja.
“Bukannya kalau sudah lama tidak dipakai, akan terblokir dengan sendirinya, ya? Ini kok enggak?” Marsha masih kebanyakan mikir hingga tidak membuka pesan dari akun bernama Tom Victor Antonio itu.
Marsha meletakan ponselnya di bawah bantal. “Ah gak penting, niat gue mencari sugar daddy di aplikasi Mindeer itu selalu gagal. Kenapa ya? Apa gue tidak sesuai selera sugar daddy di luar sana? Padahal gue kan cantik, langsing, putih, sesuai standart industry banget lah!” pekik Marsha yang kesal sekali ketika melihat dirinya tidak laku di aplikasi pencarian jodoh tersebut.
Dddrttttt … dddrtttttt … ddrt … ponsel Marsha kembali berdering, dan kali ini tiga kali lebih lama. Ponselnya yang berada di bawah bantal yang Marsha tiduri itu, membuat otak Marsha jadi ikutan bergetar, serem amat dah ya otak jadi bergetar.
“Ganggu!” Marsha mengambil ponselnya dan niat ingin mensenyapkan siapapun yang menghubunginya. Namun, sekejab saja niat itu teralihkan oleh pesan yang masuk di aplikasi Mindeer. Pesan itu langsung terbaca oleh Marsha.
Dari: Tom Victor Antonio
Hai, Marsha. Senang bertemu denganmu di Mindeer. Bagaimana kabarmu? Sudah lama kita tidak berkomunikasi.
Awalnya Marsha mengernyitkan dahinya karena melihat kata-kata “sudah lama kita tidak berkomunikasi”. Namun, karena dari situ kekepoan Marsha memuncak, Marsha pun membuka kolom pesan di akun Tom, yang memasang foto laki-laki bule yang sedang bermain skateboard.
Marsha pun ternganga ketika men-scroll akun itu. Ia pun baru menyadari kalau Tom dan dirinya pernah saling mengirim pesan dalam waktu yang cukup lama. “Astaga! Ternyata gue dan si bule Tom pernah mau ketemuan, hahaha,” Marsha geli sendiri,
“Hmm, pesan-pesan gue dan Tom dulu lumayan intim juga, sih. Banyak membicarakan kesibukan masing-masing, makanan kesukaan, hobi, dan yang paling konyol itu kita pernah obrolin soal mantan pacar toxic,” seru Marsha yang geleng-geleng sendiri membaca chat-chatnya dengan Tom yang terdahulu.
Tanpa menunggu waktu yang lama lagi, Marsha membalas pesan tersebut.
Dari: Marsha Intan Ayu
Hello, Tom! Kabarku baik-baik saja, gimana dengan kamu? nyatanya kamu masih suka ngomong senang bertemu denganmu tiap kali menyapa seseorang, hahaha. Kamu belum berubah!
Marsha tampak sumringah, ia turut menantikan balasan dari Tom yang sedang online itu. Tom pun mengetik …
Aku juga baik. Marsha, bolehkan aku meminta nomor telepon pribadimu? Koneksi Internet aku di sini sangat buruk, lebih baik kita melanjutkan obrolan di telepon.
Membaca balasan dari Tom, orang yang dulu pernah dekat dengan Marsha itu membuat Marsha tak perlu mikir-mikir lagi untuk memberikan nomor telepon pribadinya. Marsha langsung mengetikan nomor telepon yang sudah ia pakai selama empat setengah tahun terakhir.
Terima kasih banyak ya, Marsha. Nanti aku akan menghubungimu.
Lagi-lagi merasa sumringah karena Tom meminta nomornya. Marsha yang punya slogan “Laki-kaki yang meminta nomor pribadi itu artinya suka padanya” langsung loncat-loncat di atas kasurnya. Entah, kenapa Marsha bisa sebahagia itu ketika Tom meminta nomor pribadinya. Padahal, Marsha kan belum tahu apa motif dari Tom. Bisa saja Tom mau minjem duit, hehe.
Marsha yang loncat-loncat di atas kasur itu dilihat oleh Bu Alin yang muncul dari balik pintu. Bu Alin yang kelihatannya ngos-ngosan itu, ya emang ngos-ngosan sih, menegur Marsha. “Kenapa? Kamu loncat-loncat karena senang lihat Mama naik turun tangga ya?!”
Marsha pun mengalihkan pandangan ke Bu Alin. “Idih, kagak lah! Enak aja Mama main nuduh-nuduh aja.”
“Lah terus, kenapa kesenengan gitu wajahnya?” Bu Alin makin sewot.
“Mama ah kepo abis, deh. Selow aja kali, Ma,” Marsha kembali duduk di atas kasurnya dan menghilangkan senyumnya secara tiba-tiba. “Ini gak ada sangkut pautnya Mama naik turun tangga.”
“Awas ya kalau kamu ngerjain Mama lagi, Mama bakal usir kamu dari sini!” pekik Bu Alin.
“Eleh, eleh, gak salah tuh Ma mau ngusir gue? Aduh, yang harusnya usir mengusir itu Richarad, bukan Mama. Kan Richard yang beliin apartemen ini,” tukas Marsha.
“Loh, tapi kan nama pemiliknya itu Mama Alin, ya jelas urusan Mama lah!” Bu Alin gak mau kalah, mungkin emosinya memuncak abis karena jogging naik turun tanga apartemen.
“Terserah Mama lah, males berdebat, masih pagi!” Marsha pun menarik selimutnya hingga menutupi rambutnya. “Udah, mending Mama sana deh, masak di dapur. Gue mau sarapan, lapar!” pinta Marsha yang tidak ada rasa segan pada Bu Alin.
Bu Alin berdecak dan menggelengkan kepalanya karena melihat Marsha yang ikutan sewot. Tapi mau gimana lagi, kalau Bu Alin terus-terusan melawan Marsha, Marsha pun tidak mau kalah. Maka dari itu, Bu Alin memilih keluar dari kamar daripada harus ribut dengan Marsha.
Marsha mengintip dari balik selimutnya, memastikan Bu Alin sudah keluar dari kamarnya. Dan ternyata sudah, Marsha mengambil kembali ponselnya dan dibawanya ke bawah selimut. Marsha menekan kembali akun Tom, dan mengirimkannya sebuah pesan.
Tom, aku tunggu teleponmu ya. Kalau mau telepon, kabarin dulu. Takutnya aku ada kesibukan yang lainnya.
Hmm, padahal gak ada tuh kesibukan yang dilakukan sama Marsha selain makan, tidur, dan foya-foya habisin uangnya Richard. Terkadang manusia memang begitu, harus bisa berakting dia sedang sibuk dan melakukan hal-hal baik apa saja untuk hidupnya, walaupun kenyataannya tampak konyol.