Hilang?!

1020 Kata
“Ini jam tangan khusus untuk perempuan yang paling cantik dan gue cintai di dunia ini …” seru Richard seraya mengalungkan jam tangan mahalan itu di pergelangan tangan milik Marsha. Marsha sumringah kesenangan, “Wah terima kasih banget ya sayang, gue senang banget! Akhirnya kita punya barang couple yang mahal kayak gini,” Marsha langsung memeluk Richard. “Iya sama-sama, sekarang udah gak badmood lagi kan?” tanya Richard. Marsha menggelengkan kepalanya. “Kalau lo gimana? Sudah gak badmood lagi kan yaa?” balas Marsha. Richard ikutan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Di sisi kejauhan sebelah kanan, rupanya Alana dan Gesya sudah menguntit Marsha dan Richard yang berada di toko jam tangan tersebut. Gesya yang menatap pemandangan abangnya bersama perempuan itu, terlihat jelas keamarahan yang ditampilkan dari wajah Gesya. Sedangkan Alana, biasa saja sambil berusaha menahan lututnya yang pegel karena melakukan gerakan setengah jongkok itu. “Sya, masih lama kagak nih?!” tanya Alana sembari mengelus lututnya yang mulai mengeram. “Bentar, bentar, gue mau lihat ke mana lagi abang gue mau pergi,” jawab Gesya. “Berapa lama tuh? Kayaknya lutut gue lama-lama gak bersahabat kalau kayak gini terus,” seru Alana. Gesya melirik ke Alana, melihat lutut Alana sudah setengah gemetar karena sedari tadi jongkok mengikuti Gesya. “Lo pegel?” tanya Gesya. Alana menganggukan kepalanya sambil nyengir. “Lo jarang olahraga sih, makanya lutut lo lemah kayak gitu …” seru Gesya yang suka sekali ledekin Alana. Untung aja Alana gak nyimpan dendam ye. Alana emang top markotop perempuan paling sabar! “Dih, songong amat lo, Sya! Emang lo pernah olahraga?! Waktu kuliah aja bangun lo jam sembilan terus, gimana mau olahraga!” balas Alana. “Nah justru itu, gue olahraga di atas kasur! Hahaha,” kata Gesya geli. “Ahelah! Kalau gitu mah gue juga olahraga artinya!” timpal Alana. “Bikin kepala gue puyeng aja lo! Ayo dong cari posisi yang enak buat nguntitin abang lo. Jangan begini terus! Seriusan ini keram kaki gue!” pekik Alana. “Ayo deh, kita pergi ke sana sebentar,” Gesya menunjuk sebuah warung makan cepat saji yang serba merah kuning hijau itu. Alana mengangguk, “Yes, teraktiran makan enak lagi!” Akan tetapi, ketika Gesya dan Alana melangkah ke arah restoran tersebut, insting Gesya pun merasakan sesuatu. “Eh Al, gue ngerasa ada hal yang gak enak, deh …” ujar Gesya. “Apaan tuh? Lo ini hari ini full dengan overthinking, jadi kayaknya ngaruh ke semuanya, deh,” ujar Alana lagi. “Kagak! Kagak! Bukan itu!” balas Gesya lagi. Gesya mengarahkan lirikan mataya ke arah samping kanannya, dan ternyata … “Tuh kan bener dugaan gue!” seru Gesta lagi. “Apaan sih, Sya? Kalau ngomong itu yang jelas dong, yang rinci dan gak bikin gue bertanya-tanya gini!” ujar Alana. “Tuh! Abang gue sama perempuan itu hilang!!! Kan terakhir kita lihat di situ!” teriak Gesya. Gesya pun menghentak-hentakan kakinya karena kesal, “Kesal banget gue! Udah capek-capek ngikuti, eh malah hilang lagi!” “Sya, sabar ya sabar, kayaknya lo musti makan dulu deh, beneran. Yuk makan aja ke restoran yang tadi lo mau,” ajak Alana. “Hmm, tapi kan—“ “Sya, kalau lo lagi lapar, semua tubuh lo akan merespon semua kelelahan itu. Jadi bawaannya bakal marah mulu. Ayo deh kita makan, kentang gorengnya enak loh, apalagi kulit ayamnya sluuurrrpr!” Alana begitu menarik-narik Gesya untuk makan di sebuah rumah makan itu dengan omongannya. “Iya deh!” seru Gesya yang akhirnya mengiyakan ajakan Alana. “Nah, syukurlah, makan enak hari ini masih rejeki gue!” timpal Alana kesenangan. Alana pun merangkul tangan Gesya menuju restoran yang khas dengan ayam kriuknya itu. Alana sengaja merangkul tangan Alana itu biar si Gesya gak belok kemana-mana lagi. Pasalnya, perut Alana sudah merengek minta dimasukan kentang goreng dan kulit ayam itu! *** “Papi balik ke kantor dulu ya, Mami. Doakan semua kerjaan hari ini bisa selesai dan makin banyak klien kita yang pakai jasa kita,” kata Pak Niko. “Iya, Papi. Mami selalu mendoakan apapun yang menjadi kerjaan Papi di kantor. Oh ya Papi, kalau misalnya nanti ketemu Richard, jangan pakai emosi ya, berusahalah tenang terlebih dahulu dan gak mencak-mencak kayak warga yang heboh gebukin maling,” seru Bu Vivian. Pak Niko terkekeh, “Ya enggak lah, Mami. Masa iya sama anak sendiri kayak gitu? InsyaAllah Papi bakal ngelakuin sesuai dengan petuah dari Mami,” jawab Pak Niko. “Oke deh kalau gitu. Hati-hati di jalan ya, Papi sayang …” seru Bu Vivian. Tak lupa tiga kecupan mendarat di pipi Pak Niko, mulai dari pipi, kening, dan bibir. Sebuah kecupan yang menandakan kasih sayang yang mendalam, kedua pasangan tersebut. Walaupun umur mereka tidak muda seperti anak-anak mereka, tetapi pasangan ini bisa terus harmonis dan romantis. Begitulah rumah tangga yang sepatutnya, saling mencintai dan menghargai tanpa ada satu pihak yang tersakiti. Pak Niko pun sudah memasuki kantor yang menjadi saksi perjuangan Pak Niko di bidang bisnis property ini. Para karyawan yang mengedepankan rasa hormat antar sesama itu, ikut memberi sapaan yang manis pada Pak Niko. “Selamat siang Pak,” “Selamat bekerja Pak,” “Siang Pak,” “Have a nice day, Sir!” Dan masih banyak lagi. Ucapan-ucapan yang sering dilontarkan para karyawannya itu. Beginilah suasana di kantor Pak Niko yang membuat Pak Niko sangat suka menjalani hari-hari di sini walau kerjaannya bikin pusing tujuh keliling. Tapi tak mengapa, adanya tim dan karyawan yang terus memperhatikan toleransi, rasa berat di kantor ini pelan-pelan akan memudar. Sampai akhirnya Pak Niko berdiri di depan ruangan milik Richard. Pak Niko menatap sebentar pintu yang tertutup itu. Pak Niko mendekatkan telinganya ke pintu ruangan Richard, “Hmm … kok ada suara-suara apapun ya? Biasanya kan Richard nyalain musik tiap dia kerja. Dan suara ketikan dari jemari tangannya itu ikut bersuara. Ini malah tidak kedengeran sama sekali,” seru Pak Niko. Pak Niko yang tak ingin membuang-buang waktu di depan pintu ruangan Richard itu, segera mengambil tindakan. Pak Niko yang juga mempunyai kunci serep seluruh ruangan di kantor ini, memutuskan untuk dirinya membuka ruangan Richard, yang auranya itu tidak seperti biasanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN