Kedua mata Pak Niko melirik tajam ke arah dalam ruangan Richard. Tidak ada satu pun orang yang berada di sana, walaupun orang yang memiliki nama di atas meja itu. Pak Niko memperhatikan seluruh sudut ruangan itu, tampak masih rapi sekali seperti habis dibersihkan.
“Tumben rapi, biasanya juga si Richard gak pernah serapi ini tiap meninggalkan ruangannya. Jangan-jangan …” pikiran Pak Niko mulai kemana-mana. Mulai dari ada seseorang fiktif yang membersihkan ruangan Richard, atau selama dua hari terakhir si Richard memang tidak masuk ke kantornya.
“Permisi, maaf, apa benar Bapak ini Pak Niko?” suara seorang perempuan membuyarkan Pak Niko. Pak Niko spontan saja membalikan badannya ke belakang, dan di belakangnya sudah ada perempuan berambut sebahu, dengan senyuman lebar di bibirnya.
“Oh, Mbak Dera, ya?” seru Pak Niko.
“Iya benar Pak Niko, saya Dera, yang tadi menghubungi Bapak, saya ke sini atas perintah dari Pak Robert,” balas Dera.
“Oh oke, silakan kita mulai bahasannya di ruangan saya. Mari saya antar,” kata Pak Niko. Pak Niko segera menutup pintu milik Richard dan menguncinya kembali.
Dera menganggukan kepalanya dan mengikuti arah jalan dari Pak Niko.
“Maaf banget ya Mbak saya tadi gak ada di ruangan. Padahal kita janjiannya di ruangan saya ya, ehehe,” ujar Pak Niko.
“Gak apa-apa kok, Pak. Syukurnya ketika saya keluar dari ruangan Bapak, saya langsung melihat ada Bapak berdiri di ruangan itu,” balas Dera.
***
Meja yang berada di hadapan Alana dan Gesya itu sudah dipenuhi dengan pesanan-pesanan mereka tiga puluh menit yang lalu. Alana yang sudah menghabisi setengah bungkus nasinya, memandang Gesya yang sama sekali belum membuka bungkusan nasi itu.
“Sya, mending lo makan dulu deh, nanti nasinya dingin kan gak enak.” Tegur Alana yang melihat Gesya tak melepas pandangan dari layar ponselnya.
“Bentaran deh Al, entah kenapa gue jadi salah fokus terus dan kepikiran sama perempuan yang jalan sama abang gue tadi. Gue penasaran sama perempuan itu, kok bisa banget abang gue nempel banget kayak ketan!” seru Gesya.
Alana menghela napas, “Ngapain lo ikutan kepo, sih? Itukan urusan pribadi abang lo dan perempuan itu. Ya udahlah, kalau memang mereka saling mencintai, gak usah lo kepoin lebih lanjut, yang ada lo dapat sia-sia doang!” nasihat Alana.
“Al, yang gue tahu itu dari zaman sekolah, abang gue gak pernah yang namanya deket atau pacarana sama perempuan. Nah tiap gue tanyain kenapa gak pernah pacaran, dia bilang—”
“Suka laki-laki, gitu?” sela Alana.
“Kagak woi! Abang gue masih normal ya, catet! Nah ketika gue tanya kenapa begitu, abang gue bilang gak ada perempuan yang masuk dalam kriterianya dia. Itulah kenapa abang gue males banget pacaran waktu sekolah. Dan sekarang, kok bisa abang gue pacaran?! Dan sebucin itu sampai beliin jam mahalan!” beber Gesya yang sudah gossip kayak ibu-ibu warga kampung.
“Sya, sebenernya hal yang kayak gini gak perlu lo pikirin berat-berat, sih. Cukup aja lo pakai logika, ya mungkin aja abang lo mencoba membuka hati dan perasaannya dia ke perempuan yang kriterianya sudah diubah. Sya, kriteria pendamping itu gampang banget diubah, apalagi kalau dilihat dari umur abang lo. Abang lo butuh orang yang bisa nemanin dia di dalam kesepiannya,” jelas Alana yang bertolak belakang dengan pikiran Gesya.
“Gak Al! gue gak bisa berpikir yang terlalu positif kayak lo itu. gue yakin banget deh abang gue itu seleranya bukan perempuan yang dandanannya kayak begono, udah gitu latar belakang keluarganya juga burem. Ah kagak kagak! Pikiran gue yang enggak-enggak mulai muncul, kan!” pikiran Gesya mengacau, ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
“Dah ya daripada lo pusing-pusing mikirin abang lo, mending lo makan dulu. Lo itu butuh asupan gizi di otak dan hati lo biar gak kotor-kotor begitu mikirnya,” Alana yang geregetan karena Gesya yang gak makan-makan dari tadi. Alana pun membukakan bungkusan nasi milik Gesya. “Makan tuh ya makan! Biar kita gak kelamaan di sini.”
“Ah, Alana! Lo gak seru ah, kan gue stalknya belom selesaiiii,” pekik Gesya dengan raut wajahnya yang murung.
“Heee lo inget ya, kita tadi itu keluar cuma mau beli es krim biar badmood lo ilang. Eh nyatanya melipir ke sini. Gimana sih lo?! Itu di butik juga masih tutup gak ada yang jagain. Mau lo konsumen-konsumen pada ngantri?!” tutur Alana yang mengemukakan sedikit penegasan pada Gesya.
Gesya berdecak kesal, disamping itu juga perutnya juga ikut keroncongan. “Iya deh iya, gue makaaaan!” Gesya menarik bangkunya lebih maju.
Kini Gesya sudah dihadapkan dengan makanannya. “Tuh, sudah ditunggu sama kentang goreng dana yam kentuckinya, mereka mau masuk ke perut lo!” seru Alana.
Dengan perasaan yang berat hati karena gagal mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai perempuan yang akhir-akhir ini menjadi perempuan yang selalu dibawa Richard, jadinya Gesya makan saja deh.
“Pokoknya kalau misalnya ketemu abang gue lagi, kita berdua harus—”
“Sssst! Makan dulu ya, Sya. Gak boleh tuh makan sambil ngobrol! Bisa-bisa mulut lo pindah ke perut!” celetuk Alana.
“Ih serem amat lo kalau bercanda!” timpal Gesya.
Gesya pun memasukan kembali sesendok nasi yang sudah dicampurkannya dengan kentang goreng yang ayam tepung. “Nih nih gue makan nih!” seru Gesya ke Alana.
Alana yang kebetulan sedang mengunyah nasi, hanya mengacungkan kedua jempol kakinya tangannya pada Gesya sembari tersenyum lebar.
***
“Oh berarti PT. Anaconda Konveksi yang sekarang sudah dimanajeri oleh Pak Robert, ya?!” seru Pak Niko ketika berbincang dengan Dera di dalam ruangannya.
“Iya, Pak, sudah sekitar enam bulan yang lalu sih,” kata Dera.
“Oh begitu …” Pak Niko mengangguk.
Pak Niko mulai membaca berkas-berkas yang tadi dibawa oleh Dera. Kedua kerlingan mata Pak Niko menjelajahi tulisan-tulisan yang dianggap penting bagi Dera dan Pak Niko.
“Penawarannya berapa banyak, ya?” tanya Pak Niko.
“Hmm, sekitar empat ratus buah busana, Pak. Perusahaan kami ingin bekerja sama dengan perusahaan Bapak yang terkenal memiliki marketing yang hebat-hebat. Nah, dari empat ratus busana ini, jika delapan puluh persen saja yang terjual, Bapak akan mendapatkan keuntungan yang lumayan banyak,” timpal Dera kemudian.
“Begitu ya, sebentar saya baca-baca penawarannya lebih dulu. saya juga cukup tertarik dengan desain bajunya. Apalagi yang ini …” balas Pak Niko. Pak Niko pun menunjuk ke arah gambar baju yang berwarna kuning, dengan rompinya yang berwarna kuning tua.
“Oh iya, itu baju memang model andalan kami tahun ini, Pak, jadi sangat wajar sekali jika banyak yang menyukainya,” kata Dera.
“Iya, saya juga suka. Siapa yang mendesain baju ini, Mbak Dera?” tanya Pak Niko.
“Saya, Pak,” jawab Dera dengan cepat.
Pak Niko tersenyum dan menganggukan kepalanya, “Perempuan muda yang berbakat sekali, hehe. Saya doain semua busana baru yang keluar tahun ini bisa laku semua dan booming di mana-mana!”
“Aamiin, aamiin, terima kasih banyak ya Pak atas supportnya,” bibir Dera merekah lebar.
Desain yang barusan ditunjuk oleh Pak Niko, adalah desain yang cukup kontroversial pada zamannya. Di saat itu, saat Dera dan Alana sama-sama berjuang dan berkompetisi mendesain sebuah baju yang akan diterbitkan akhir tahun ini. Siapapun pemenangnya, akan mendapatkan keuntungan banyak, salah satunya menjadi ketua designer. Kedua desaigner itu juga berkesempatan mendapatkan kontrak di brand manapun.