“Baik, Mbak Dera. Setelah melihat proposal Mbak Dera dengan desain baju yang seperti ini, perusahaan saya seratus persen mendukung. Dan saya pun juga memberikan diskon sebanyak tiga puluh persen,” seru Pak Niko diakhir kesimpulannya usai membaca dan menilik berkas-berkas proposal milik Dera.
“Terima kasih banyak, Pak, karena sudah diberikan banyak peluang di perusahaan pemasaran ini. Semoga langkah kita kedepannya terus dipermudah ya, Pak,” balas Dera yang lalu mengulurkan tangannya ke Pak Niko. Pak Niko pun menjabat jemari tangan Dera dengan senyuman.
“Semoga kabar baik terus menyertai kerja sama kita, ya Mbak Dera,” tukas Pak Niko.
Perasaan puas nan bahagia melekat terang di dalam diri Dera. Dera yang baru kali ini proposalnya bisa tembus di perusahaan milik Pak Niko itu, patut berbangga pada dirinya sendiri. “Robert dan seluruh jajarannya harus lihat kinerja gue yang berhasil menembus perusahaan Pak Niko. Mereka-mereka yang sudah mem-bully dan hanya membanggakan Alana, akan diam bungkam karena perjalanan gue lebih melejit dari Alana …” ungkap Dera seraya tersenyum licik sedang menuruni anak tangga di kantor tersebut.
Langkah kaki Dera yang terasa diberi baterai lebih itu, membuat dirinya antusias untuk melakukan rencananya yang kedua. Dan saat berada di dalam mobil, Dera mengeluarkan sebuah kertas dan pulpen hitam. Ia kemudian menuliskan sebuah kalimat-kalimat yang saling menyatu membentuk paragraf. “Semoga lo baca dengan mata kepala lo sendiri ya Al, jangan jangan sekali-kali lo remehin gue!” ucap Dera dan melipat kertas itu menjadi empat lipatan.
Setelah itu Dera melajukan mobilnya keluar dari parkiran kantor Pak Niko. Bukannya kembali ke kantornya yaitu PT. Anaconda Konveksi, Dera malah membelokan stir mobilnya ke kanan di mana kantornya itu lebih jauh.
***
“Udah ya, karena hari ini sudah makan yang lumayan enak, lo gak boleh badmood lagi. Lo harus selesaiin semua program kerja bulan ini,” seru Alana dengan cocotannya di dalam mobil Gesya.
“Ho oh. Akan gue coba selesaiin semuanya dengan jurus seribu bayangan gue, tapi kalau misalnya kerjaan gue berhasil, lo harus bantuin gue lagi buat—”
“Pasti nguntitin abang lo lagi, kan? Astaga Sya. Lo tau gak sih lagu zaman old yang lirik lagunya itu begini, semakin ku kerja semakin kau jauh?” tutur Alana.
“Iya tau, itu lagu pernah dinyanyiin cowok gue zaman SMA,” balas Gesya dengan santainya,
“Dan lo ngerti arti dari lagu itu, kan? Apapun yang lo kejar dengan mati-matian, semakin jauh juga hasil dari pengejaran itu. Artinya, gak usah lah lo repot-repot ngejarin abang lo ke sana kemari sama ceweknya. Toh, di lain waktu pasti bakal kebongkar juga soal abang lo dan ceweknya,” jelas Alana yang selalu mengedepankan rasa let it flow.
Gesya menghela napasnya. “Apa yang lo bilang itu ada benernya juga sih, Al. Tapi mau sampai kapan kedoknya terbongkar? Sedangkan abang gue juga gak pernah cerita soal ceweknya ke nyokap dan bokap gue.”
“Kan gue bilang let it flow gitu loh. Ya udah, ya udah, kalau lo masih keukeh mau ngikutin abang lo, gue gak ikut-ikutan ya. Gue lebih milih nyelesaiin program kerja kita di butik,” ujar Alana dengan simplenya.
“Duh Al, hidup lo emang penuh dengan kerja keras ya. Sekali-kali bantuin gue napa,” ketus Gesya.
“Kagak, kagak mau. Udah ah Sya, sekarang kita ke butik aja, masa setengah hari tutup terus, ntar malah lari semua pelanggan kita,” kata Alana.
“Iya bawel, ini gue ke butik!!” pekik Gesya.
Rasa penasaran Gesya terhadap perempuan yang menemani Richard itu memuncak pada hari ini. Gesya yang selalu ingin tau urusan abangnya, berusaha sebisa mungkin mendapatkan informasi lebih.
Hingga sampailah Gesya dan Alana di depan butik yang terpajang nama “Queens” di sana. Gesya dan Alana segera turun dari mobil dan Alana mencari kunci di dalam tasnya untuk membuka pintu butik tersebut. Sedangkan Gesya sudah lebih dulu berjalan ke depan pintu butiknya.
“Ada apa nih? Tadi kang pos ke sini?” seru Gesya dan mengambil kertas yang terlipat di depan kaca pintu butiknya.
Gesya membuka surat tersebut. “Itu apaan Sya?” tanya Alana yang ikutan kepo.
“Ini nih, tiba-tiba ada surat di depan kaca pintu,” jawab Gesya.
Alana dan Gesya membaca pelan-pelan surat itu baik-baik.
Untuk: Alana, si karyawan yang dipecat dengan cara tidak terhormat.
Dari: Dera, mantan rival kerja lo.
Al, gue sudah lebih berjalan jauh di atas lo. Lo gak perlu lagi balik ke kantor, berdasarkan surat yang waktu itu gue kasih. Semuanya sudah aman, dan gak perlu bantuan lo lagi. Gue, sebagai ketua designer di PT. Anaconda Konveksi, sudah mampu menghandle jauh lebih baik daripada lo. Mendingan nih ya, lo fokus sama butik lo yang kampungan itu.
Gesya mengerutkan dahinya, ia memandang sinis tulisan yang baru saja dibacanya. “Dera? Pasti orangnya ini mulutnya bau, kan? Terus keteknya hitam. Iya kan?!” gerutu Gesya saking gemasnya.
“Hahaha, ya gak tau. Gue aja gak deket sama orang itu,” seru Alana.
“Oh iya? Ini katanya pernah jadi rival lo di PT. Anaconda Konveksi, udah pasti lo tau dong seluk beluknya ini orang,” balas Gesya.
“Ya walaupun rival dan satu kantor sama orang itu, bukan berarti gue paham semuanya. Gue orangnya simple dan gak suka deket-deket sama orang selain urusan kerja. Ya intinya gue gak deket lah sama orang itu,” tegas Alana.
Alana langsung mengambil surat dari tangan kanan Gesya dan diremasnya sampai hancur menjadi bola. TUING! Sepucuk surat hasil dari tulisan tangan Dera itu sukses masuk ke dalam tong berisi sampah. “Nah, surat itu lebih pantas masuk ke dalam sana!” ujar Alana.
PROK … PROK … PROK … Gesya menepuk tangannya karena terkesima dengan laku Alana. “Bisa juga lo main sinis-sinisan sampai masukin ke tong sampah. Belajar dari mana, lo?!”
“Dari lo lah! Yang kalau dapat hal-hal yang gak sesuai dengan hati lo, bakal lo buang jauh-jauh. Begitu kan?” timpal Alana.
Gesya mengangguk dan terkekeh, “Bagus, bagus. Ternyata ada sesuatu yang bisa lo pelajari dari gue, ya. Bukan hanya gue yang belajar banyak ke lo!”
“Betul betul betul. Udah ah, kita gak usah mikirin apapun yang membuat hati kita kacau, lebih baik tetap berjalan dan fokus sama apa yang ada di depan mata. Betul gak?!” kata Alana.
“Apapun ya lo katakan itu selalu betul, Al! kali ini gue setuju dua ratus persen!” ujar Gesya yang langsung merangkul Alana. “Yuk buka pintu butiknya, kita fokus mengerjakan apa yang ada di depan mata kita!”
“Nah, itu baru pilihan yang cerdas untuk seorang perempuan hebat!” balas Alana.
KLEK! Pintu Queens butik sudah terbuka. Alana dan Gesya masuk dan membuka kembali tirai yang menutupi jendelanya. Lalu Alana membalikan kertas yang bertuliskan closed itu menjadi open. Alana dan Gesya kembali mengerjakan tugas-tugas mereka di depan meja kerja masing-masing dengan suka cita. Mereka berdua sudah disambut dengan kertas putih dan alat gambar untuk membuat sebuah busana baru.
Dera yang melihat dari kejauhan soal kelakuan Alana dan Gesya itu, merasa bahwa surat yang tadi ia letakan di kaca butik jadi sia-sia. Dera menggerutu, memukul stir mobil yang ada di hadapannya. “Sialan! Kenapa Alana jadi sok jagoan begitu, sih? Dia dengan songongnya ngebuang surat gue! Udah gitu tampangnya fine fine aja lagi! Kan maksud gue kirim surat itu supaya dia ke-trigger!”
Dengan perasaan hati yang tak sesuai harapannya, Dera memutuskan untuk pergi dari tempat itu dan pergi ke kantornya.