Day (3)

1129 Kata
“Noh! Coba lo baca baik-baik hasil kerja gue!” Dera melempar berkas-berkas hasil diskusinya dengan Pak Niko. Disitu pula terdapat surat kerjasama yang mengatasnamakan Dera sebagai leader PT. Anaconda Konveksi dengan perusahaan milik Pak Niko. Robert yang bersantai di ruangan kerjanya saat itu, segera melihat berkas yang tadi dihempaskan Dera di atas meja kerja Robert. Robert membaca sampai tuntas sampai menjadi kapas (?) berkas yang dibawa oleh Dera. “Ini seriusan lo berhasil kerjasama di perusahaan Pak Niko? Punya orang dalem?” tukas Robert yang meragukan Dera. “Gak lah! Ini pure hasil diskusi gue sama Pak Niko. Gue nih yang bisa menggiring Pak Niko hingga mau mensponsori baju-baju keluaran konveksi kita. Bagus banget kan kerja gue!?” seru Dera. Robert menaruh kembali berkas ke atas meja kerjanya, sembari merapikan berkas tersebut agar menjadi satu tumpukan. “Kali ini gue akuin kinerja lo untuk memproses pemasaran busana, sangat baik. Seperti yang kita ketahui, perusahaan Pak Niko adalah perusahaan yang selektif sekali memilih klien. Mereka tidak mau mengambil klien ecek-ecek untuk dipasarkan. Dan lo berhasil membuat PT. Anaconda Konveksi menjadi selera Pak Niko,” tutur Robert. “Nah gitu dong! Baru kali ini gue dengar lo bener-bener muji gue. Jadi gimana, Rob, penawaran gue yang waktu itu, diterima kagak?!” Dera menagih janji Robert. “Yang mana ya?” balas Robert. “Masa lo lupa?! Cepet amat lo lupanya, padahal umur juga masih muda. Itu Rob, soal perekrutannya Alana. Kan lo pernah ngasih surat ke dia untuk nawarin kerja di sini lagi, itu gimana? Jadi lo batalin, kan?” tanya Dera yang menggebu hal itu harus diamini. Robert menghela napasnya, lagi-lagi dirinya belum membicarakan hal ini lebih lanjut kepada atasannya. “Sebenernya belum gue omongin ke atasan sih soal itu, dan kalau pun gue memohon untuk membatalkan perekrutan Alana, dapat dipastikan atasan bakal nolak. Kan lo tau sendiri gimana atasan keukeh minta kembalinya Alana,” terang Robert. Mendengar hal itu, Dera merasa tak enak hati. Ia melipat kedua tangannya di depan d**a dan melirik Robert begitu tajam. “Lo ngomong apa barusan? Jadi lo gak mau cari cara biar atasan nerima penawaran lo?! Lo mikir dikit deh, Rob! Bisa-bisanya lo seorang manajer di perusahaan ini yang gampang banget disetir. Lo gak malu?!” tukas Dera yang mana ia lebih menjadi jahat dibanding Robert. Robert yang memiliki jabatan di atas Dera itu tak berkutik. Pasalnya, Robert memiliki sebuah rahasia besar yang dapat menyeret nama Robert menjadi buruk di mata karyawan-karyawan yang lain. Salah satunya soal Mirna yang dipergoki oleh Dera sendiri di ruangan Robert. “Lo masih ingat kan sama skandal-skandal lo di kantor ini? Ya … kalau lo tetep gak berusaha batalin oprecnya si Alana, gue akan membeberkan semua skandal lo dan lo dengan mudahnya dipecat dengan cara tak terhormat!” ancam Dera yang hobi banget ancam mengancam kayak begini. “Hah? Gak mungkin gue langsung dipecat, yang ada hanya dapat sanksi sosial,” sela Robert. “Hah?! Hanya sanksi sosial doang? Hello, Robert! Lo ini manajer PT. Anaconda Konveksi yang membudayakan gemar membaca, kan? Lihat noh! Di papan madding ruangan lo, sudah ada aturan bagaimana seorang karyawan akan dipecat dengan cara tidak terhormat!” gerutu Dera sembari menunjuk ke arah papan baca madding yang ada di belakang meja Robert. Robert menghadapkan wajahnya ke papan madding yang dimaksud oleh Dera. Satu buah poin yang menunjukan adanya pemecatan dengan cara tidak terhormat untuk para karyawan PT. Anaconda Konveksi. Papan pengumuman khusus untuk seluruh karyawan PT. Anaconda Konveksi, baik untuk level junior maupun senior. Dengan hal ini kami sampaikan, adanya peraturan baru dari kami selaku atasan PT. Anaconda Konveksi sebagai upaya menghindari pencemaran nama baik perusahaan ini. Salah satunya adalah tidak adanya skandal negatif yang terjadi antara karyawan satu dengan lainnya, seperti perkelahian, saling musuh hingga menyebabkan kematian, dan skandal perselingkuhan bagi karyawan yang sudah menikah. Jika kalau ada karyawan yang melakukan hal ini, maka kami pihak atasan tidak segan-segan memecat dengan cara tidak terhormat. Walaupun, karyawan tersebut memiliki kedudukan dan peran di penting di PT. Anaconda Konveksi. Robert manggut-manggut dan berusaha menutupi kepanikannya. Dengan kata lain, jika pekerjaannya tetap ingin bertaut padanya, Robert harus waspada dengan ancaman-ancaman Dera soal skandal Robert dengan Mirna. Kalau tidak, Dera yang notabene memiliki sifat pelapor yang licik, akan memberitahukan hal ini pada atasan. “Gimana, lo sudah baca dengan baik dan benar, belom?!” ujar Dera. “Sudah, dan ya … yang gue pahami adalah posisi gue di sini terancam karena skandal gue waktu itu sama Mirna,” respon Robert. “Nah, pinter. Akhirnya lo bisa mikir juga ya Rob, bagaimana seorang Robert bisa terancam karena kehadiran Dera,” tukas Dera seraya tersenyum licik di bibirnya. Robert menghela napasnya, “Ya ya ya, lo punya kartu AS gue di kantor ini, dan gue harus waspada aja sih sama lo.” “Waspada itu perlu, tapi lo juga harus nempati janji lo yang itu. Cuma itu kok yang gue mau, bukan yang lain,” pinta Dera yang terus mengulang-ngulang permintaannya soal Alana. “Sebenarnya untuk membatalkan itu gak seperti membalikan telapak tangan sih Der, gue harus berusaha untuk menjelaskan pada atasan dan—“ “Gue gak mau denger alasan lo yang ini itu lagi, ya. Yang penting lo cepetan batalin oprec-nya Alana, titik. Udah kok simple, hanya itu yang gue mau!” sela Dera yang sudah tidak berminat lagi mendengarkan cap cip cup dari Robert. “Ya tapi kan gue itu harus—“ “Eits! Gak usah banyak omong, lo tinggal pilih aja sih, mau skandal lo tersebar ke penjuru perusahaan ini sampai dipecat dengan cara tidak terhormat, atau membatalkan perekrutan Alana? Itu cukup mudah sih pilihannya, pilih mana yang menguntungkan bagi diri lo! Udah ya, daripada habis ini gue ngedengerin alasan lo yang gak penting, gue pamit dulu mau ke ruangan gue sendiri, merayakan keberhasilan gue hari ini!” pungkas Dera yang tidak mau memberikan Robert celah untuk beralasan lagi. Dera melangkahkan kakinya ke arah pintu ruangan Robert, sembari melambaikan tangan kanannya. “Sampai jumpa Robert, gue harap lo bisa mikir mana yang menjadi pilihan lo. Lo juga gak perlu takut kehilangan pekerjaan lo, kalau lo milih penawaran yang kedua!” ungkap Dera yang langsung mempersilakan badannya keluar dari ruangan Robert. Robert jadi merasa tertekan dengan adanya peraturan itu, plus skandal yang menimpa dirinya. “Padahal, dengan merekrut Alana kembali ke PT. Anaconda Konveksi ini, bisa meningkatkan penjualan tiga kali lipat, dan inovasi desain yang dikerjakan oleh Alana juga bagus, beda banget kerjaannya kayak punya Dera yang asal jadi. Gue bimbang banget sih ini! Lebih memilih mempertahankan kebutuhan kantor, atau menyelamati diri gue sendiri!” seru Robert. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, bingung bagaimana yang harus dilakukannya. Sementara, Robert yang menjadi manajer utama di PT. Anaconda Konveksi ini, harus terus meningkatkan mutu kualitas dan penjualan agar perusahaannya aman dari collaps.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN