“YEY! GUE BERHASIL AL!!!” seru Gesya kesenangan sambil memperlihatkan hasil desain bajunya hari ini ke Alana.
PROK … PROK … PROK … Alana menepuk tangan ketika melihat buah karya dari tangan Gesya itu. “Nah, itu bakal jadi salah satu desain lo yang paling mantap betul, Sya! Gak kaleng-kaleng itu mah!” balas Alana.
“Gimana? Gue udah bisa nyamain kemampuan lo, belom? Haha,” canda Gesya.
“Lama lama bakal bisa, sih, tapi memang perlu waktu yang lama,” tepis Alana.
“Eleeeeh! Pakai acara waktu yang lama, padahal lo gak mau kan kalau kemampuan lo gue langkahi?” tukas Gesya.
“Ya bukan gitu sih Sya, tapi … ah sudahlah gak usah dibahas, yang penting kan sekarang ini kita berdua adalah rekan kerja, yang sama-sama akan mengembangkan queen’s butik, jadi apapun diantara kita harus bisa jos gandos!” ujar Alana.
“Iya sih setuju! Lo dan gue itu satu jiwa dan harus bareng-bareng ngerjain ini dengan baik. Semua ini demi nama butik kita!” balas Gesya yang kedengarannya begitu bijak.
“Tumben lo bijak, Sya,” timpal Alana.
“Duh, giliran gue emosi terus, lo gak suka, giliran gue bijak, lo malah begini. Sebenarnya mau lo apa sih, Al?!” tukas Gesya.
“Hehehehe bercanda, bercanda,” ucap Alana.
“Oh iya, Al. gue masih penasaran soal surat yang ada di pintu kaca tadi. Perusahaan PT. Anaconda Konveksi yang dimaksud di dalam surat itu, adalah perusahaan yang pernah mecat lo dengan cara sepihak kan?” tanya Gesya yang tiba-tiba membuka obrolan soal surat misterius itu. Eh gak misterius deh, kan ada tulisannya tuh kalau surat itu dari Dera, rivalnya Alana semasa bekerja di PT. Anaconda Konveksi.
“Iya bener, Sya. Itu perusahaan yang pernah bikin hidup gue setengah hilang,” balas Alana lirih.
“Setengah hilang gimana maksud lo, Al? kalau martabak manis bisalah hilang karena dimakan, lah kalau hidup lo gimana tuh?” tanya Gesya yang kurang begitu paham.
Alana menghela napasnya seraya menunduk.
“Eh Al, tapi kalau lo gak mau cerita ke gue, gak apa-apa juga, sih …” timpal Gesya yang melihat wajah Alana itu auto murung.
“Gue mau cerita kok, Sya, karena lo teman terbaik gue yang gue kenal. Jadi waktu itu gue dipecat sepihak di kantor itu karena Dera memfitnah gue. Katanya, desain baju gue yang terakhir itu hasil copy paste desaigner ternama Firlandia. Nah berhubung di kantor gue itu sangat mengharamkan copas-mengopas, akhirnya dipermasalahkan oleh Dera, dan diumumkan di seluruh kantor. Hal itu terdengar sampai telinga manajer dan direktur. Entah kenapa kok semuanya pada percaya sama omongan Dera, yang buktinya gak begitu konkrit menurut gue. Dan ya keesokan harinya kartu pekerja gue sudah gak aktif waktu mau masuk ke kantor,” jelas Alana secara rinci.
“Jadi, semua itu gara-gara desiner baju yang lo buat itu dituduh plagiat sama Dera?” respon Gesya.
Alana mengangguk, “Yap! Padahal gue sama sekali gak pernah mau plagiatin hasil karya siapapun. Lo kan kenal gue banget, kan Sya? Lo sendiri paham kenapa gue gak mau ngikutin karya orang lain …”
“Iya, karena lo tipe orang yang menghargai orang lain dan gak ingin mencuri ide,” timpal Gesya.
“Nah itu dia! Tapi, sebagian besar pihak kantor gak mau dengerin penjelasan gue dan langsung mecat gue. Ya udah deh, gue hanya bisa nerima kenyataan dan bersabar aja semoga kedepannya gue tetap baik,” harap Alana. “Dan dari situ juga setengah hidup gue kayak hilang gitu aja, gue yang sudah mati-matian kerja di sana siang malam sampai rela lembur gak dibayar, malah dibeginiin. Gue yang rela ngerjain tugas anggota-anggota gue dan gak negur Dera karena suka bolos kerja, malah dijulidin sok bijak. Ah, intinya karir dan financial gue hancur gitu aja sih.”
Gesya yang mendengarkan cerita Alana di masa lalu itu, cukup terenyuh. Gesya jadi bersyukur lahir dari kelurga yang langsung membiayai dirinya berbisnis, tidak dengan Alana yang lebih dulu terjun ke dunia kerja yang begitu pelik. “Yang sabar ya, Al. tiap orang yang pernah didzolimi, mental dan jiwanya akan terbentuk kokoh. Lo harus berterima kasih sama orang-orang yang pernah bekerja sama lo, karena sudah menjadikan lo ini orang yang hebat!” lagi-lagi Gesya membunyikan sebuah kata bijak. Kalau kayak gini ceritanya, Gesya bisa jadi motivator dadakan, nih …
Alana melengkungkan senyumnya. “Terima kasih ya, Sya, sudah memberikan gue pemahaman yang luar biasa. Gue yakin deh, bertemunya kembali lo dan gue di sini adalah jawaban Tuhan dari doa-doa gue yang minta dipertemukan dengan orang-orang baik, dan sekarang gue dipertemukan sama lo dan keluarga lo yang supeeeer baik.”
“Alhamdulillah. Semoga lo bisa buktiin ke perusahaan lo yang dulu itu, kalau mecat lo itu adalah hal yang buruk. Jadi, di sini barengan sama gue, lo harus buktiin itu! Kita bekerja sama ya, Al!” ujar Gesya.
“Iya, pasti!” Alana mengepalkan tangan kanannya, mengirimkan sinyal yang kuat untuk kedepannya.
“Oh ya Al, gue penasaran deh sama desain baju lo yang dianggap plagiat itu. Boleh lihat gak sih?” pinta Gesya.
“Boleh, gue nanti buka-buka berkas gue dulu ya. Ada gue simpan di kamar gue, gue tumpuk biar gue gak keinget itu lagi,” ujar Alana.
“Oke, oke, gue mau lihat aja sih, siapa tau designer lo itu kekinian banget dan bisa kita buat jadi busana utama tahun ini untuk fashion year,” ucap Gesya.
Alana tertegun, “Haaa? Serius lo? Gue aja sudah gak ada feel mau lihat gambaran gue sendiri. Lah lo malah mau jadiin busana utama tahun ini, ada ada aja sih lo Sya …”
“Kenapa enggak, Al? daripada ide lo yang cemerlang itu pupus dan terkubur begitu aja, mending kita langsung jadiin baju aja. Gimana nih? Gue sih nunggu persetujuan lo aja,” ungkap Gesya.
Alana berpikir sebentar, ia masih sakit sekali dengan cerita dibalik terbentuknya gambar tersebut. “Ntar gue pikir-pikir lagi deh ya, Al. nanti gue kabarin lagi, yang pasti besok gue akan bawa gambar gue yang dituduh plagiat itu.”
Gesya manggut-manggut. “yup! Dan satu lagi, Al, lo jangan mau balik lagi ke perusahaan itu lagi, selain perusahaan itu gak bikin karyawannya makmur karena gak ada uang lembur, ternyata karyawan-karyawannya yang lain pun kelakuannya racun semua,” pesan Gesya.
Alana terkekeh, “Tau gak sih Sya, awalnya itu gue seneng banget bakal diterima kembali bekerja di sana, gue udah punya niatan mau balik ke sana waktu nelpon lo malem-malem. Tapi, lama-lama gue mikir lagi buat apa gue balik untuk perusahaan yang pernah ngebuang-buang gue?”
Gesya menjentikan jarinya, “Nah, betul. Tuh lo udah bisa mikir sendiri apa yang harusnya lo pilih. Yang terpenting dari manusia itu adalah kebahagiaan. Lo harus bisa bikin diri lo bahagia di mana saja.”
Alana tersenyum, “Asli deh Sya, lo kayaknya habis makan kentang goreng sama kulit ayam, jadi encer ya otak lo!” ledek Alana dan membuat Gesya tertawa.
***
"Sayang terima kasih ya hari ini lo sudah ajak gue jalan-jalan makan bareng dan beliin semua yang gue pengen hari ini," ucap Marsha berterima kasih kepada Richard yang hari ini sudah membuatnya bahagia sekali karena menghambur-hamburkan uang Richard adalah kebahagiaan Marsha tersendiri.
"Iya sama-sama sayang ... kalau lo mau belanja ngomong aja sama gue, Gue bakal siap sedia dua puluh empat jam untuk ngantar lo ke mana aja," balas Richard.
"Wah lo romantis banget sih sayang. Udah habis ini kita mau kemana lagi pulang atau mau lanjut jalan-jalan?" tanya Marsha.
"Kalau lo gimana Sayang, gue sih ngikut aja yang penting sama lo terus," jawab Richard dengan simple.
"Emangnya kalau kita jalan sekarang, Lo nggak ke kantor dong hari ini?" tanya Marsha lagi. "Soalnya kan seharian ini kita sudah jalan-jalan eh tengah hari deh, masa lo nggak ada balik ke kantor sih?"
"Udahlah sayang enggak usah ngomongin soal kantor. Gue mau mencoba melepas penat ini pelan-pelan. Kalau gue ngerjain tugas kantor mulu, yang ada otak gue ini bakal ancur," ucap Richard sambil terkekeh.
"Ya udah sih terserah lo aja ... Ya kalau kita jalan seharian ini dan habisin banyak uang, terus uang untuk kursus bahasa Inggris gue tetap jalan, kan?" tanya Marsha yang tidak ingin uang khususnya lenyap begitu saja.
"Tetep dong Sayang, itu kan sudah jadi janji gue di pagi tadi. Masa iya gue mau batal batalin janji seenak jidat gue?!" Seru Richard.
"Uuuuu baik banget sih lo Yang. Gue makin cinta deh klepek-klepek," Marsha langsung bergelayut manja di lengan kiri Richard.
"Heheh, membahagiakan lo adalah tugas gue!" balas Richard sembari mengacak-ngacak rambut Marsha.
"Ya udah deh sekarang ini, Ayo kita jalan!" ucap Marsha.
"Yuuuuuuk jalan!" Balas Richard.
Richard pun langsung mengegas mobilnya dan keluar dari parkiran Mall. Suasana siang menjelang sore itu cukup hangat karena matahari tidak terlalu terik. Sembari menikmati pemandangan adapula lagu yang disengaja diputarkan oleh Richard khusus untuk Marsha. Lagu yang menceritakan tentang pandangan pertama seorang perempuan dan laki-laki yang saling jatuh cinta, menggambarkan kisah cinta yang persis dengan Richard dan Marsha.
"Lo masih ingat lagu ini nggak sayang?" tanya Richard.
"Ya jelas gue masih ingat lah sayang, itu kan lagu waktu di bar kita ketemuan. Dan lagu pertama yang kita dengerin bareng-bareng sambil senyum-senyum sendiri kan?!" jawab Marsha yang ternyata masih mengingat lagu tersebut.
"Iya bener bener bener. Tapi sayangnya waktu di baru itu gue kayak canggung banget sama lo. Gue malah duduk disamping lo nggak ngomong apa-apa, sampai akhirnya malah lo yang buka obrolan duluan. Asli sih gue baru pertama kali ketemu perempuan waktu itu .... Eh maksudnya jalan berdua sama perempuan deh," ungkap Richard.
"Eh serius chad? Jadi ibaratnya gue ini adalah perempuan pertama yang ngajak lo ketemuan dan pacaran sama lo, gitu?" tanya Marsha lebih lagi.
Richard pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum malu. "Ya benar sekali! Selama ini dan sampai umur gue yang menginjak kepala tiga ini gue sama sekali belum pernah pacaran. Makanya ketika gue ketemu sama lo dan gue nyaman, gue langsung aja pacarin hehehe ..." Beber Richard tentang asal mula mengapa dirinya memacari Marsha.
Marsha terkekeh hingga menutupi mulutnya dengan tangan kanannya. "Oh jadi ceritanya begitu toh? Gue baru paham astaga hahaha. Berarti gue pacaran sama orang yang belum pernah pacaran." Ujar Marsha.
"Ya bisa dibilang begitu. Dan berhubung lo adalah pacar pertama dan perempuan pertama yang bikin gue klepek-klepek, gue mohon sama lo untuk jangan sakitin hati gue. Karena gue ini kalau sudah cinta banget ya susah di lepasin," ungkap Richard memberi permohonan ke Marsha.
"Udah tenang aja sayang, gue nggak bakal nyakitin lo apalagi sampai ninggalin lo kayak orang-orang lain tuh. Yang ada di hati gue nih ya, cuma Richard seorang!" kata Marsha yang dibumbui dengan rayuan maut.
"Beneran ya? Sampai lo ninggalin gue, atau main di belakang gue sama laki-laki lain, gue nggak segan-segan akan--"
"Sayaaaaaang, Enggak boleh ngomong begitu ah. Lo harus percaya sama gue, dan yakin kalau gue itu selalu bikin lo bahagia. Ingat ya, kita berdua yang harus jaga hubungan ini, walaupun .... Gue masih agak sangsi sama keluarga lo," ucap Marsha yang lama-kelamaan nadanya melirih.
"Tuh kan sekarang giliran lo yang enggak boleh ngomong begitu. Gue yakin banget bokap nyokap gue nerima Lo apa adanya. Bukan ada apa-apanya!" celetuk Richard yang membuyarkan lirihan Marsha.
Mereka berdua pun melanjutkan perjalanan entah mau kemana. Yang pasti ketika dua orang saling bertemu dan jalan-jalan, yang tersisa hanyalah keinginan untuk berdua saja.
Richard menyetir mobil diiringi dengan nada-nada yang dinyanyikan oleh Marsha. Sesekali Marsha melirik manis ke arah Richard yang sedang tersenyum mendengarkan alunan yang keluar dari mulut Marsha. "Bagus juga ya suara lo. Kenapa nggak ikut Master Chef Indonesia?" Celetuk Richard yang kembali membuka candaan.
"Eh apaan sih, lo mau ngelawak lagi? Yaelah Chad, lucu amat sihh!" Ujar Marsha sembari mencubit pipi Richard.
"Hehehe bercanda kok Sayang ..." mengelus pipinya yang telah tercubit itu.
Ddrrrtrrr ... ddrrrtrrr ... dddrrtttt .. Marsha bergegas melihat ponselnya karena bergetar. Di sana tertera nomor tidak dikenal, masuk ke ponselnya. Marsha mengerutkan keningnya, dan tidak langsung angkat telepon itu.
"Siapa yang nelpon sayang? Mama lo ya?" tanya Richard yang melihat Marsha tidak langsung mengangkat telepon itu.
Marsha pun menggelengkan kepalanya. "Bukan nih, tiba-tiba ada nomor nggak dikenal masuk," Ucap Marsha.
"Mungkin aja itu nomor barunya mama, atau orang lain yang penting gitu ... Angkat aja kali sayang," Kata Richard.
Marsha menggelengkan kepalanya lagi. "nggak berani ah, Nanti orang yang ngaku-ngaku polisi dan minta tebusan. Atau, rentenir pinjaman online!" Marsha manyun dan membuat Richard tertawa kembali.
"Lo ada pinjem uang di situs online emangnya?" Tanya Richard.
"Hehehehe dikit aja kok, Sayang," Jawab Marsha sambil cengengesan.
"Dikitnya seberapa, tuh? Nanti malah dikit-dikit tapi jadi bukit." Seru Richard.
"Ah enggak kok!!!!" Pekik Marsha.