Tidak hanya satu kali menghubungi Marsha, rupanya nomor yang tidak dikenal itu terus menelpon Marsha hingga kelima kalinya. Richard yang penasaran siapa pemilik nomor telepon tersebut, menyuruh Marsha cepat-cepat mengangkat teleponnya. “Kalau sampai sekali lagi nomor itu telepon lo lagi, cepetan angkat gih, kayaknya penting banget deh sampai nelpon lo berkali-kali gitu,” seru Richard.
“Iya, Sayang, ntar gue angkat kalau ada telepon lagi,” balas Marsha.
Di wajah Marsha pun timbul rasa kepanikan, di mana ia tidak ingin adanya masalah baru lagi yang timbul. Pasalnya, Marsha yang keseringan baca postingan online di media sosial, selalu mendapatkan berita-berita buruk tentang nomor yang tidak dikenal. Yang paling menyeramkan sih ketika mantan pacar kembali dan ingin nagih utang hehe. Eh, emang ini si Marsha dari dulu kerjaannya ngutang, ya.
Akan tetapi, setelah ditunggu selama lima belas menit, nomor tak dikenal itu tidak menelpon kembali. Marsha berkali-kali scroll menu panggilan masuknya, dan jelas saja tidak ada siapapun yang menghubunginya. Padahal, tiap dua setengah menit sekali, nomor tadi selalu mampir di panggilan masuk milik Marsha.
Dalam hati Marsha berkata, “Giliran ditungguin malah gak telepon. Gimana sih?! Emangnya siapa sih yang bolak-balik nelponin gue ini?”
Tak lama kemudian ponsel Marsha kembali bergetar. Kali ini getarannya tidak begitu panjang seperti panggilan yang masuk. Tetapi, bergetar satu kali saja yang menandakan ada satu pesan yang masuk di pesan Marsha. Marsha mengusap layarnya untuk melihat siapa pengirimnya. “Sayang, nomor yang tadi hubungi gue lagi, tapi ini lewat chat,” ujar Marsha yang memberi tahukan pula pada Richard yang asyik nyetir di sampingnya.
“Ya udah baca aja, siapa tau penting, Yang ...” cakap Richard.
Marsha pun menganggukan kepalanya. Ia lalu membuka pesan yang masuk satu menit yang lalu. Setelah membuka pesan itu, rupanya Marsha mengerutkan dahinya.
Dari: nomor yang tidak dikenal.
Hai, Marsha. Kok kamu gak angkat telepon aku sih dari tadi? Padahal, aku sudah menunggu kamu di bandara, sekalian kita makan siang berdua. Tapi, mungkin saja kamu sibuk, jadi aku tidak menelpon kamu kembali. Oh ya, kalau untuk nanti sore, gimana kalau kita ketemuan? Kita ketemuan sampai malam hari sekalian dinner gitu. Gimana, apa kamu setuju?
Tertanda, teman kamu. Tom Antonio.
Membaca isi pesan dari Tom, membuat Marsha tertegun. "Gak mungkin dong gue angkat telepon dari Tom sementara gue lagi sama Richard. Huh untung aja gue gak langsung angkat teleponnya itu tadi. Kalau sampai gue angkat dan Richard tau kalau yang mengubungi gue adalah laki-laki lain, bisa jadi orang ketiga ini mah ... " Seru Marsha dalam hati. Ia juga cukup lega karena satu keputusannya berhasil.
Mengetahui nomor Tom sudah mendarat di ponselnya, hal itu membuat Marsha untuk cepat-cepat menyimpan nomor tersebut. Anehnya, Marsha tidak menyimpan kontak Tom itu dengan nama "Tom" melainkan dengan nama "Tifany". Duh ya ini sudah dipakai dari zaman Batu, dimana orang-orang yang menyimpan nomor orang spesial di ponselnya (bukan pacar) pasti akan dinamai bohongan. Kalian pernah begini juga tidak?!
Tanpa ingin Tom menunggu lama balasan dari Marsha, Marsha sesegera mungkin mengirim balik pesan untuk Tom.
"Hai Tom. Maaf ya gue lagi ada di luar dan gak bisa angkat telepon. Mungkin bisa lain kali ditelpon kembali, atau lo bakal gue hubungi kalo gue udah gak sibuk. Thanks."
"Siapa tadi yang ngechat, Sayang?" Tanya Richard yang rupanya menunggu informasi lebih lanjut dari Marsha.
"Huh ternyata nomor salah sambung! Untung aja tadi gue gak angkat. Bisa-bisa waktu gue terbuang sia-sia. Huh!" Timpal Marsha yang langsung menyimpan ponselnya di dalam tasnya.
"Oh ternyata orang salah sambung ya? Ya kalau bgitu gak apa-apa gak diangkat," Ujar Richard.
Marsha mengangguk, "Nah iya, makanya itu."
"Tapi kok tadi gue lihat, lo kayak ngebalas chat orang yang salah sambung tadi?" Tanya Richard yang sempat melirik jemari tangan Marsha mengusap-usap di bagian kolom pesan.
"Hah? Enggak ada kok Sayang. Gue hanya chat salah sambung doang ..." Jawab Marsha yang belum kehabisan alasan.
"Oh begitu ... " Richard manggut-manggut dan langsung percaya pada Marsha.
Marsha memaksakan bibirnya untuk tersenyum, sembari menikmati kembali pemandangan yang ia liat lewat jendela mobil Richard. Sembari Marsha memikirkan cara agar bisa ketemuan sama Tom sore nanti. "Apa ya alasan yang gue buat biar Richard batalin janjinya untuk jalan sama gue? Gue pengen banget ketemu sama Tom ..."
Cukup dua belas menit memikirkan cara memanipulasinya, Marsha sudah dapat caranya. "Aha!" Marsha riang dalam hati.
"Sayanggggg ... Gue kok lama-lama di mobil jadi sakit perut ya." Ujar Marsha sambil memegangi perutnya.
"Ada apa, Yang? Kok tiba-tiba jadi sakit perut?" Tanya Richard heran.
"Entah ya, mungkin karena badan gue gak selera sama aroma di mobil ini. Lihat tuh!" Marsha menunjuk pengharum ruangan yang terdapat gambar biji kopi di sana.
"Loh, kok baru sekarang mulesnya? Bukannya dari tadi itu kita berdua jalan pakai mobil ini ya?" Balas Richard.
"Ya gak tau ya. Mungkin saja badan gue baru bereaksi sekarang. Namanya mules kan bertahap Yang, mungkin saat ini gue telah ngerasain puncak-puncaknya," Ucap Marsha yang masih punya cara untuk mengelabui Richard.
"Kenapa ngomongnya kebanyakan pakai mungkin?" Richard makin mengerutkan dahinya. "Ah sudahlah, paling itu efek dari sakit perut kali ya. Ya udah sekarang lo mau ke mana? Mau tetep lanjut jalan atau pulang?" Kemudian Richard memberikan pilihan.
"Kalau perempuan lagi sakit perut kayak gini dan mules dadakan, lo pasti tau apa jawabannya, Yang!" Ungkap Marsha.
"Oh baik lah kita langsung pulang ..." Richard segera melajukan mobilnya dan mencari tikungan terdekat untuk balik arah ke apartemen Marsha.
Sementara Marsha yang sedang memasang mimik muka yang kesakitan sambil memegangi perutnya dengan kedua tangannya, dalam hatinya itu juga lega karena alasannya ini berhasil. "Yeah ... Gampang banget bohongin Richard."
Ketika sampai di depan apartemen yang tinggi memiliki dua puluh lima lantai itu, Marsha langsung pamit sama Richard. "Yang, Terima kasih ya atas hari ini dan tumpangannya. Maaf banget gak bisa nemenin lo jalan-jalan lebih lama lagi."
"Oh iya gak apa-apa kok Sayang. Kan sudah setengah hari jalan bareng lo mulu. Udah deh habis ini lo masuk ke kamar terus kasih minyak kayu putih di perut lo. Minum yang hangat-hangat juga karena biar perut lo tenang lagi dan gak tegang," Richard membubuhi kata-kata yang seperti dokter saja. Untung aja Richard cakep, jadi gak ketahuan kalau hoax wkwkwk.
"Iya iya, sampai jumpa besok ya Yang!" Pungkas Marsha.
Marsha pun keluar dari mobil Richard dan berlari kecil hingga sampai ke depan pintu lobi apartemen. Marsha membalikan badannya lagi dan memberikan lambaiannya pada Richard. "Dadaaaaaaaaah!" Seru Marsha yang bisa dilihat dari gerakan di bibirnya.
TIN! Satu klakson dibunyikan oleh Richard guna memberi tanda perpisahan. Richard pun mengeluarkan mobilnya dari lobi apartemen. Hingga akhirnya mobil Richard sudah tidak tampak dari pandangan Marsha. "Yes! Yes! Yes!" Seru Marsha kesenangan dan di dalam benaknya sudah terbayang-bayang rencananya dengan Tom nanti sore.