Day (6)

1366 Kata
Hariku indah, dua hati menjadi satu. Andai aku dan kamu, bersama selaluuuu~~~ Marsha menyanyikan sebuah lagu zaman dahulu yang menceritakan soal kebahagiaan di hati. Mungkin, ada sebuah perasaan yang tidak biasa ketika Tom mengajak Marsha keluar. Apakah Marsha auto baper? Lah, kan baru sekali diajak, kecuali berkali-kali. Marsha berjalan melewati koridor apartemen sembari menekan kontak bernama Tifanny di buku kontak digitalnya. Tut ... Tut ... Tut, telepon itu langsung tersambung dan Marsha menunggu Tom menyapanya. "Halo, Marsha?" Ujar Tom di awal telepon. "Hai, Tom!! Maaf ya tadi gue gak angkat telepon lo. Lo lagi di mana nih sekarang?" Tanya Marsha. "Lagi di penginapan sih, yang gak jauh dari pusat kota. Kamu sendiri lagi di mana?" Jawab Tom. "Lagi di apartemen nih baru aja sibuk dari luar. Eh iya, soal ajakan lo di SMS tadi apa bensr?" Tanya Marsha. Sebenernya sih Marsha gak pengen konfirmasi lagi, pengennya langsung bilang, "Iya buruan ah jalan!" "Oh itu, ya kalau kamu gak sibuk, bisa aja kita keluar," Kata Tom memberi konfirmasi ulang. "Boleh boleh, sekarang gue langsung siap-siap ya?" Cakap Marsha yang sudah ngebet sekali ketemu sama Tom. Ya gimana gak ngebet, Marsha dan Tom yang hanya berhubungan lewat aplikasi pencari jodoh itu, membuat Marsha penasaran bagaimana sosok Tom. Tom adalah laki-laki perjaka asal Inggris yang memiliki umur tiga tahun lebih tua dari Marsha. Tom sendiri sengaja mampir ke Indonesia karena ingin liburan setelah menyelesaikan kuliah magister nya di London. Mendengar laki-laki bule, perjaka, dan pintar, adalah kriteria Marsha banget. Lah terus Richard gak termasuk kriterianya Marsha, gitu? Ya tetep masuk lah. Kan Richard kaya, hehehe. "Oke ... kalau kamu sudah siap berpakaian, langsung hubungi aku saja. Nanti aku akan jemput," Kata Tom diakhir teleponnya. "Okay Tom. See you," Pungkas Marsha. Marsha memeluk ponselnya, diletakan di depan dadanya. Ia tidak menyangka kalau Tom akan mengunjunginya ke Indonesia. Marsha bahagia bukan kepalang dan sudah besar kepala karena Tom. "Gue yakin banget deh tujuan Tom ke Indonesia itu untuk ketemu sama gue!" Marsha mulai menebak-nebak halu. Iye Mar, Tom ke Indonesia memang mau ketemu lo. Tapi tujuannya bukan ke cinta-cintaan, melainkan mau ngajakin lo masuk ke tim MLM-nya!? Marsha mempercepat kembali langkah kakinya menuju kamar apartemen karena mau berbersih diri. Tok .. Tok .. Tok .. Marsha mengetuk pintu kamarnya dan dibuka langsung oleh Bu Alin. "Udah kelar sayang-sayangannya sama Richard?" Tanya Bu Alin pertama kali, padahal Marsha belum saja masuk ke dalam apartemen. "Anaknya baru pulang, kok nanyanya langsung begitu sih, Ma?" Marsha geleng-geleng kepala melihat kelakuan Bu Alin. Udah gitu Bu Alin memasang wajah sewot. Itu Bu Alin mau sambut kedatangan anaknya atau kedatangan musuh, sih? "Ya habisnya kamu yang belum mandi itu langsung kabur. Emang gak malu apa, ketiak kamu bisa berdaki kalau gak mandi. Mana keluar pakai tank top, lagi ckckck," Decak Bu Alin yang juga menggeleng kepala. Marsha terkekeh. "Astaga Mamaaaa! Ngakak banget sih tau Mama ngomong begini ..." "Habisnya kamu begitu. Udah sana cepetan mandi! Udah mau sore tapi belum mandi pagi. Dasar anak Mama!" Tegur Bu Alin yang kemudian membuka pintu apartemennya makin lebar hingga Marsha masuk ke dalamnya. Marsha masuk dengan langkah kaki yang dipenuhi suka cita. Dengan hentakan kaki yang berirama dengan heelsnya, Marsha masuk ke dalam kamarnya. "Mamaaa, sore nanti gue mau keluar lagi ya." Ujar Marsha. "Mau kemana lagi? Kamu seharian jalan sama Richard gak puas apa?!" Balas Bu Alin. "Mamaaaa, kali ini gak jalan sama Richard, tapi sama seseorang yang tampan rupawan bakal pangeran di negeri dongeng-dongeng," Balas Marsha. "Hah?! Apa?! Negeri doggie-doggie?! Yang bener kamu, Mar!" Kata Bu Alin yang telinganya agak soak juga karena jarang dibersihin. "Apaan sih Ma, kalau punya telinga itu coba dibersihin tiap hari. Maksud gue itu negeri dongeng, bukan doggie!!" Pekik Marsha dari dalam kamarnya. "Oh iya maaf maaf, maklum aja lah ya faktor umur. Jadi kamu jalan sama siapa lagi kalau bukan sama Richard? Cewek apa cowok, Mar?" Tanya Bu Alin yang juga penasaran. Pasalnya, selama ini Marsha yang terkenal introvert dan tidak punya teman perempuan, ia tidak pernah keluar kecuali sama Richard. "Sama cowok Ma, ntar kalau misalnya dia mau ke sini, ya gue ajak." "Kamu mau ngajak temen cowokmu ke apartemen ini? Emangnya kamu gak takut ketahuan sama Richard?" Tanya Bu Alin sebelum Marsha benar-benar melakukan tindakan itu. "Ya dilihat nanti lah, Ma. Udah jangan bawel ngajak ngomong terus soalnya mau cepet nih," Sahut Marsha. Dengan begitu Bu Alin langsung diam tak mengajak Marsha ngomong. *** "Siang menjelang sore ..." Seru Richard dari depan rumahnya, sembari melepas sepatu yang dikenakan. Bu Vivian yang sedang bersantai membaca majalah di depan ruang tamu, menengok Richard. "Sudah pulang, Nak?" Tanya Bu Vivian yang mencoba menganggap semuanya aman-aman saja. Padahal kan sudah dapat informasi dari Pak Niko kalau Richard melakukan sebuah kesalahan di kantor. Richard masuk ke dalam rumah menghampiri Bu Vivian. "Tadi gak ke kantor Mi, tapi nemuin Marsha." Ujar Richard dengan santainya. Bu Vivian tidak begitu kaget, karena memang Richard tidak masuk ke kantor. "Jadi kamu memilih pacaran di banding ke kantor, gitu?" "Gue gak ke kantor karena gak mood aja habis ribut sama Papi," Tukas Richard. Bu Vivian tidak melanjutkan lagi pembicaraan dengan Richard. Terlihat sekali wajah Richard masih kesal, mungkin mengingat kejadian tadi pagi di kantornya. Richard langsung pergi menuju lantai dua, ke kamarnya. Sementara Bu Vivian hanya menatap anak sulungnya itu yang tidak mengungkapkan kata apapun. Bu Vivian menghela napas. "Gimana caranya biar bisa meluluhkan hatimu ya, Nak?" Ujar Bu Vivian mengingat sosok Richard. Bu Vivian kembali membaca majalah yang sempat terjeda. Tak lama kemudian satu salam terdengar di telinga Bu Vivian. "Hallooooo Mamiiiiiii," Suara perempuan melengking manja yang muncul dari pintu rumah. Bu Vivian segera menoleh ke arah pintu rumahnya, dan terlihat anak perempuan memakai baju biru muda melambaikan tangan ke arah Bu Vivian sambil tersenyum. "Gesya Sayang, sudah pulang???" Sapa Bu Vivian dengan senyumannya juga. "Ya sudah dong Mamiii buktinya ini gue udah sampai rumah ..." Balas Gesya yang masuk ke dalam rumah dan segera duduk di samping Bu Vivian. "Mamiiiii, sini dulu gue bisikin!" Ucap Gesya yang lebih mendekatkan wajahnya ke Bu Vivian. "Apa?" Bu Vivian juga menggeser duduknya mendekati Gesya. "Abang Richard sudah pulang dari kantor, belum?" Tanya Gesya sebelum melanjutkan bisikannya. "Tuh!" Bu Vivian mendongakan kepalanya mengarah ke rak sepatu. Gesya yang mengetahui tanda dari Bu Vivian, segera menengok ke rak sepatu. Di sana sudah tersusun rapi sepatu kerja milik Richard. "Ooooh sudah." Kata Gesya. "Emang mau ngomongin apa sih, Sya? Tentang abang kamu kah?" Tanya Bu Alin. Gesya menganggukan kepalanya. "Tadi bang Richard ke kantor gak, Mi?" "Tadi sih bilang sama Mami, enggak. Dia gak ke kantor dan malah ke tempat Marsha. Marsha itu ceweknya bukan?" Balas Bu Vivian. "Nah berarti apa yang gue liat itu bener!" Gesya menjentikan jarinya. "Tadi pagi gue sama Alana nguntitin Abang Richard sama perempuan. Dan ternyata benar si Marsha ya. Dan dari situ gue penasaran aja gitu sama sosok Marsha yang bisa bikin abang Richard milih dirinya dibanding kerjaannya." Tutur Gesya. "Makanya itu ... Setau Mami, abangmu itu gak pernah deket sama perempuan. Dan mami kaget banget ternyata pacarannya sama perempuan kayak begono!" Pekik Bu Vivian. "Gimana kalau kita berdua kerja sama untuk cari tahu soal perempuan itu, Mi? Kan target kita berdua ini mau menjodohkan Alana dan Bang Richard, bukan Malah Bang Richard sama Marsha itu!" Pekik Gesya. "Nah bener banget! Kamu ada rencana gak? Kali ini harus yang paling mujarab loh, ya ..." Pesan Bu Vivian karena selama ini rencana Bu Vivian dan Marsha gak ada yang bener dan berhasil. "Mami, sejak kapan sih anakmu yang paling cantik sejagat raya dunia ini tidak punya rencana? Gesya Pasti sangat punya rencana dong Mam. Tapi tinggal tau hasilnya saja berhasil atau tidak hehehe," jawab Gesya. "Iya deh mami percaya. Coba jelasin apa rencana kamu sekarang ini, Mami nggak mau ya gagal gagal lagi karena malu di depan Richard," balas Bu Vivian yang sudah mewanti-wanti di awal. Gesya pun mengacungkan Dua jempol tangan kanan dan kirinya, "Aman sentosa kok mami ... Tapi tinggal doanya aja yang harus dikencengin hahaha," Pinta Gesya. "Tuh kan Mami jadi was-was nih mau ikut rencana kamu yang selanjutnya," Ucap Bu Vivian. Geisha terkekeh. "Jangan negatif thinking mulu dong mami, mami ini menyerah sebelum berperang deh. Gak seru gak seruuu!" gerutu Gesya pada Bu Vivian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN