Marsha yang sudah berbersih diri dari dalam kamar mandinya, kini keluar dengan handuk yang menyelimuti tubuhnya. Handuk merah muda itu menambah keharuman aroma sabun yang dibasuhkan ke kulit putih milik Marsha.
“Hmm … perasaan kemarin aroma sabun kamu itu bunga Jasmine deh, Mar … lah kenapa sekarang berubah jadi aroma bunga mawar begini?” seru Bu Alin yang menyadari adanya perbedaan aroma badan milik Marsha hari ini dan hari-hari yang sebelumnya.
Marsha kesemsem sendiri. “Karena untuk hari ini, gue jalan sama laki-laki yang berbeda dari biasanya. Nah kalau biasanya gue jalan sama Richard, kali ini ini akan jalan sama Tom,” tutur Marsha yang memutarkan badannya, membuat hidung Bu Alin makin mencium aroma dari bunga mawar di tubuh Marsha itu.
“Tom? Kamu mau jalan sama Tom?” Bu Alin mengerutkan dahinya.
Marsha mengangguk dan tak menyadari kalau kedua pipinya memerah.
“Siapa dia? Kamu baru pertama kali ini jalan sama Tom? Itu nama aslinya Tom atau Tommy?” tanya Bu Alin.
“Idiiiih Mama pasti kepo banget sih ya tiap gue punya gebetan baru. Namanya itu beneran Tom, Mam. Bukan Tommy! Gue gak mau ya Ma, Tom di sama-samain sama Tommy, anak juragan empang di kampung kita dulu. Tom yang gue kenal ini cakep abis gak ada tandingannya. Gak kayak Tommy yang ada di kampung noh, bau ketek, hitam pekat, terus itu kalau ngomong, mulutnya bau. Dih, gak banget deh!” beber Marsha.
“Tom itu cakep bin ajaib?! Seriusan tuh lo dapat cowok yang model begituan?” tanya Bu ALin yang masih meragukan soal Tom dan Marsha.
“Mama kok gak percayaan gitu, sih? Ya udah kalau masih gak percaya nih ya, nanti gue bakal bawa Tom ke sini, atau minimal video call bareng lah ya,” jawab Marsha begitu santainya.
Bu Alin manggut-manggut. “Ya terserah kamu saja lah ya. Mama mencoba berdoa yang terbaik aja buat kamu. Semoga selalu dikelilingi dengan lelaki baik hati dan tidak sombong, dan tidak bikin kamu sakit hati,”
“Iya Ma, aamiin aamiin aamiin! Ya udah gue mau siap-siap dulu ya, Ma,” seru Marsha yang langsung berbalik ke kamarnya.
BRAK! BRAK! BRAK! Marsha membuka lemari bajunya yang memiliki tiga pintu itu. Susunan baju yang rapi berkat Bu Alin itu, membuat Marsha lebih mudah mencari baju mana yang hendak ia kenakan hari ini untuk pertemuan pertamanya dengan Tom.
“Pakai baju yang mana ya? Gue gak boleh tampil kayak badut Ancol di depan Tom. Tom harus melihat gue layaknya Lady Diana, ratu inggris yang terkenal cantik dan berwibawa di seluruh dunia. Ya, walaupun gue hanya versi Lady Diana lulusan sekolah menengah atas.”
Jemari cantik milik Marsha menelik satu per satu baju yang tergantung rapi itu. Marsha yang kebanyakan memiliki baju berwarna ungu muda dengan bahan dasar yang minim, membuatnya bosan. “Gak mau ah gue pakai tank top lagi, tadi kan sama Richard sudah pakai tank top, eh kok sama Tom pakai baju yang satu tipe sih? Enggak enggak!” Marsha menggelengkan kepalanya setelah mendapatkan baju yang menurutnya tidak cocok untuk dikenakan untuk bertemu dengan Tom.
Kurang lebih sepuluh menit bergelayut dengan ide untuk mencocoklogikan suatu penampilan, akhirnya Marsha sampai jua pada titik akhir pemilihan baju yang akan dipakainya. Marsha pun mengambil blouse selutut berwarna hijau muda, lalu ia juga meraih satu buah celana jeans yang panjangnya hanya seatas lututnya.
“Kayaknya pakaian ini cocok untuk nge-date sama Tom! Gue harus bisa bikin Tom punya rasa sama gue di saat pandangan pertama ini. Dan yang paling penting dalam sebuah pertemuan pertama adalah penampilan,” tutur Marsha yang langsung mengenakan baju dan celana yang telah dipilih di tangannya.
CLING! Bukan sulap bukan sihir, rupanya outfit yang tadi diambil oleh Marsha itu benar-benar selaras dan menciptakan sebuah penampilan yang catchy. “Nah kan, pilihan Marsha gak pernah salah!” ujar Marsha yang puas dengan penampilannya sore ini.
Karena sudah siap sedia, Marsha langsung menghubungi Tom sesuai dengan perintah Tom. Seperti biasa, Marsha mengetuk nama Tifanny di kontak telepon digitalnya. “Hello, Tifanny a.k.a Tom!!” seru Marsha yang kemudian menaruh ponselnya ke depan telinganya.
“Hallo, Tom?” ucap Marsha.
“Hei, Marsha. Gimana? sudah siap dijemput?” tanya Tom.
“Iya, gue siap kok. Lo langsung ke apartemen gue aja gak apa-apa,” jawab Marsha.
“Oh baik, kebetulan saya juga sudah siap mau pergi. Kamu bisa memberikan alamat kamu pada saya? Kirimkan peta!” pinta Tom.
“Peta? Gak usah repot-repot pakai peta kali, Tom, pakai share location aja kan bisa. Habis ini gue kirimin deh,” ucap Marsha.
“Oke, saya tunggu,” Tom pun menutup teleponnya.
Perasaan suka cita makin terasa di dalam diri Marsha. Pertemuan pertama kalinya pada Tom, bule asal Inggris itu harus bisa menjadikan sebuah memori yang indah untuk Marsha dan Tom. Bahkan kalau bisa sih, harapan Marsha itu bisa lebih dekat dan intim dengan Tom. Lalu, bagaimana dengan Richard ketika Marsha dekat dengan Tom? Ah nanti aja dipikirin, toh jalan ceritanya masih panjang, cyin.
“Yap! Selesai! Tinggal tunggu kedatangan Tom aja,” seru Marsha ketika share location apartemennya sudah terkirim lewat w******p milik Tom.
***
“Gimana Al, lo mau gak nerima rencana gue?” tanya Gesya dari balik telepon. Gesya juga tampak menggigit telunjuk kanannya sebelum mendengarkan jawaban dari Alana.
“Gile lo ya Sya! Bikin rencana kok kayak gitu banget sih? Kalau kayak gini caranya, bakal kelihatan kalau gue yang malah ngebet!” pekik Alana yang jalan pikirannya tidak sejalan dengan Gesya.
“Duh, untuk kali ini doang kok Al. Jujur Al, gue udah gak ada pikiran lain buat mikirin rencana lain. Menurut gue, ini rencana yang sudah bagus banget,” tampak Gesya meyakinkan Alana.
“Iya, bagus banget di lo, tapi gak bagus banget di gue. Gue tetep gak mau ah, Sya! Emangnya gue perempuan apaan yang harus pura-pura jadi tunangannya abang lo!” lagi-lagi Alana mengulang penolakannya pada Gesya.
Gesya menghela napasnya. “Kok lo gak mau kooperatif gini sih, Al? lo kok gak kasihan sama gue yang keponya kebangetan.”
“Bukannya gue gak mau kooperatif sama lo, Sya. Tapi dimana harga diri gue kalau gue harus akting manja-manjaan sama abang lo juga?! Bisa-bisa gue dicap jadi perempuan gatel, centil, dan segala apapun itu,” pekik Alana.
“Eh Al, seriusan deh lo gak mau nolongin gue? Pliss … banget dong, Al!” rengek Gesya.
Alana menghela napasnya. Untuk kali ini, gue minta maaf banget sama lo Sya, karena gak bisa ngebantuin lo untuk rencana ini. Menurut gue ini konyol aja gitu dan ditakutkan gue digadang-gadang sebagai penyebab hancurnya hubungan abang lo sama pacarnya,” Alana pun masih memikirkan resikonya.
“Al, menurut gue sih ini cara yang sudah bagus untuk bikin diri lo deket sama abang gue!” Gesya jadi keceplosan.
“Hah? Bukan deket ke abang lo? Emangnya kenapa kok gue harus deket sama abang lo, sih?” tanya Alana tak paham.
Gesya menepuk wajahnya karena berkali-kali Gesya dan Bu Vivian melakukan hal ini, Alana tak kunjung peka. “Jadi selama ini lo gak paham maksud dan tujuan gue untuk mempertemukan lo sama abang gue?!”
Alana menggelengkan kepalanya.