“Ah elah, Al … ternyata dibalik keseriusan lo di bidang akademik dan inovasi-inovasi yang lo keluarkan dari otak lo, lo juga punya sisi kelemotan ya,” ledek Gesya.
“Maaf ya Sya, kelemotan gue ini selalu muncul ketika lo suka bikin rencana-rencana yang gak masuk akal di otak gue. Pliss, stop bikin rencana yang bakal mempermalukan gue tujuh turunan, Sya!” peringatan pun keluar dari mulut Alana. Biarpun Alana adalah orang yang sabar dan legowo dalam menerima suatu hal, bukan berarti dirinya juga mau disetir oleh orang lain, apalagi yang tidak sesuai dengan kehendaknya.
“Al, ini gak bakal bikin lo malu tujuh turunan kok, bokap dan nyokap gue pun turut meminta tolong sama lo buat ngejalanin rencana ini,” Gesya masih berusaha mendapatkan persetujuan dari Alana.
“Kagak ah, Sya. Maaf ya, salam sama bokap dan nyokap lo, kalau gue gak mau ngelakuin atau ngebantu lo dalam urusan ini. Ini sudah sangat jauh dan lebih mengarah ke merusak hubungan orang lain, Sya!”
“Tapi Al, sebenarnya ini sebuah kesempatan buat lo untuk—”
“Gak Sya! Menurut gue, gak ada kesempatan yang dipaksa, direncanakan, atau merugikan orang lain.” Pungkas Alana yang kemudian meninggalkan Gesya sendirian di kafe tersebut.
Gesya syok, baru kali ini Alana benar-benar menolak mati soal kerjasamanya untuk merusak hubungan Richard dan Marsha. Gesya menggelengkan kepalanya, dan wajahnya murung karena tidak berhasil menjalankan misi selanjutnya. Tiap hal-hal yang berhubungan dengan rencana, Gesya selalu menghubungi Bu Vivian, guna melaporkan apa saja yang berjalan dan tidak.
TUT … TUT … TUT … “HALOOO MAMIIIIII!” seru Gesya dengan nada yang kesal.
“Gimana, Sya? Aman sentosa, gak!?” tanya Bu Vivian.
“Hmm, kalau menurut Mami gimana? Mami bisa loh tebak dari suara gue!” jawab Gesya.
Bu Vivian sudah tidak enak hati, apa mungkin rencana Gesya gagal untuk kesekian kalinya? “Hmm, semoga dugaan Mami salah, sih.”
“Gimana dong menurut Mami?!”
“Gagal, ya?” tebak Bu Vivian dengan ragu tapi pasti.
“Ho oh, Mi. Gagal total! Baru saja gue ngejelasin di permukaannya, Alana sudah gak mau duluan,” jelas Gesya gemas.
“Lagian sih kamu bikin rencananya begitu. Masa iya gak ada angin, gak ada hujan, tiba-tiba Alana ngaku jadi tunangannya Richard. Yang ada, Richard juga ikutan Ilfeel sama Alana,” ucap Bu Vivian yang dari awal juga sudah curiga kalau tidak akan berjalan sesuai ekspetasi.
“Jadi gimana dong, Mi? Masa iya ketika Alana gak setuju sama rencana kita, kita berdua gak ada alternatif lain??” rengek Gesya.
“Ya udah lah nanti kita pikirkan saja. Ini Papimu juga lagi galau karena akhir-akhri ini kerjaannya abang kamu gak beres di kantornya,” seru Bu Vivian yang rupanya mengundur untuk merencanakan soal Richard dan Alana.
“Hmm, ya udah deh, Mi,” Gesya yang sudah pasrah, kini menutup teleponnya. Dan sekarang hanya ada Gesya di dalam kafe itu dengan makanan dan minuman di hadapannya yang belum dibayar.
Gesya yang jadi ikut-ikutan soal hubungan Richard itu, harus membalikan pikirannya lagi demi menemukan rencana yang paling mujarab. “Gue harus bisa nyatuin Bang Richard sama Alana walaupun kehalang sama Marsha …” pikir Gesya.
Tidak lama kemudian, saking asyiknya Gesya berpikir, tiba-tiba mendapatkan sebuah petunjuk yang menakjubkan. Gesya yang duduk di paling pojok ruangan kafe dan hampir tertutupi pohon hias kertas, tidak tertampak oleh Marsha yang juga memasuki kafe tersebut.
Gesya lebih memiringkan tempat duduknya agar seluruh wajahnya tidak terlihat oleh Marsha. Gesya memperhatikan dengan fokus, gelagat Marsha di dalam kafe itu. “Kalau di sini ada Marsha, itu artinya sebentar lagi kan pasti ada Bang Richard. Ya maklum mereka berdua udah kayak ketan, kemana-mana selalu berdua,” ujar Gesya dalam hati.
Namun, satu hal yang membuat Gesya terkejut adalah kedatangan Marsha ke kafe itu tidak dengan seorang Richard. Melainkan, datanglah dari arah kamar mandi kafe, seorang laki-laki berperawakan bule dengan pakaian kasualnya, menghampiri meja Marsha.
Laki-laki yang sangat asing di mata Gesya itu, duduk di hadapan Marsha dan melengkungkan senyum. Dan disitu pula Marsha ikut meliukan senyuman di bibirnya dan jelas sekali kedua pipi Marsha mulai memerah. “Ada sesuatu yang seru nih! Marsha jalan dengan laki-laki lain, selain dengan bang Richard!” batin Gesya dengan senyuman liciknya. Gesya merasa akan ada sebuah kejadian istimewa yang paling ia tunggu-tunggu.
***
“Tom, lo mau makan apa?” tanya Marsha dengan lembutnya, kepada laki-laki bule yang kini duduk di hadapannya.
“Apa ya …” Tom tampak membaca menu-menu yang tersaji di kafe tersebut. “Lebih baik disamain saja sama pesanan kamu, saya baru kali ini di Indonesia dan gak tahu mana makanan yang enak.”
“Oh baik lah, kita samain saja ya makanan dan minumannya,” ucap Marsha seraya membolak-balikan buku menu itu untuk mencari makanan dan minuman yang tepat untuk disantap di sore hari yang cerah ini.
“Kita makan soto ayam lamongan aja ya, Tom? Kalau untuk minumannya, gue sih rekomendasiin jus strawberry caramel di sini,” cakap Marsha memberi tahu menunya,
“Boleh, pesan saja,” Tom menyetujui.
Di sela-sela waktu menunggu pesanan makanan dan minumannya itu datang, Marsha dan Tom sama-sama tidak ingin membiarkan suasana di sana begitu sepi. Akhirnya, mereka berdua sama-sama membuka obrolan.
“Tom, apa pendapat lo tentang Indonesia? Dari sudut pandang pertama lo deh!” tanya Marsha.
“Indonesia sangat panas! Hehehe,” jawab Tom dengan singkatnya.
“Selain itu?” Marsha tak ingin obrolannya berhenti di situ saja.
“Banyak orang jualan di pinggir jalan pakai motor, hehe,” jawab Tom kembali, “Tapi sejauh ini saya juga sangat suka Indonesia karena orangnya yang ramah dan baik sekali,”
“Hehehe syukurlah kalau begitu. Semoga lo betah di Indoensia ya,” harap Marsha.
“Betah kalau sama kamu, hehehe,” ujar Tom yang mulai mengirimkan sinyal kerayu-rayuan. Hmm, baru pertama ketemuan sudah main ngegombal aja nih si Tom. Ayo dong Tom, main pelan-pelan aja dulu. Kayak lagunya Tantri Kotak itu loh, bila berat melupakan aku, pelan-pelan saja. Eh maaf ternyata lagunya gak sesuai dengan konteks!
Bukan namanya Marsha kalau tidak kesemsem ketike digombalin. Apalagi digombalinnya sama abang-abang bule yang diimport langsung dari Inggris. Rasanya, ah mantaaaaap.
“Kok lo bisa gombal gitu sih? Belajar dari mana, Tom?” tukas Marsha yang mencoba untuk tidak kecepetan salah tingkah.
“Ada deh, kamu mau tau saja urusan saya. Yang penting saya sudah berhasil bikin kamu senyum kayak begitu,” Tom langsung menunjuk pipi Marsha yang memberikan warna merah, tapi bukan blush on-nya.
Marsha spontan memegangi kedua pipinya, ia malah tidak menyadari kalau kedua pipinya itu memerah. “Oh ya? Pipi gue merah? Ah kayaknya ini karena faktor kedinginan, deh,” Marsha beralasan agar tidak dikira dirinya salah tingkah karena sudah dirayu oleh Tom.
“Iya merah, kalau kata orang-orang di Inggris, perempuan yang pipinya memerah ketika ngobrol sama laki-laki, itu artinya dia lagi salah tingkah alias bahagia,” jelas Tom yang masih mengingat ciri-ciri di tempat asalnya.
“Oh ya? Ya hampir mirip hanya saja—”
“Mirip ya? Apanya yang tidak mirip?” Tom jadi ikutan kepo, kan.
“Ah gak jadi, gak jadi. Lupakan saja soal itu, tuh makanannya sudah datang!” Marsha memutuskan mengakhiri pembicaraan yang berpotensi membuat dirinya diam tanpa kata alias mati kutu. Mati kutu itu kayak cengo, bingung, dan gerogi ya guys, bukan mati kutu di rambut, ah jijay.
“Permisi, ini pesanannya dua porsi soto ayam lamongan dan dua gelas jus strawberry-nya,” seorang karyawan kafe menghampiri meja Tom dan Marsha lalu meletakan makanan dan minuman itu di atas meja.
“Terima kasih banyak, Mas,” sahut Marsha.
“Thank you so much, brother!” timpal Tom.
Marsha dan Tom langsung membuka sendok dan garpu yang masih dibungkus plastik itu. keduanya tampak kompak mencoba makanan itu dengan cara mencicipi kuahnya terlebih dahulu dan mengoreksi apakah ada rasa yang kurang berkenan di lidah mereka masing-masing.
“Enak?” tanya Marsha yang melihat wajah Tom biasa-biasa saja setelah mencicipi soto itu,
Tom pun menganggukan kepalanya. “Enak kok, saya masih memperkenalkan lidah saya untuk mencobanya. Ini pertama kalinya saya makan toso.”
Marsha sedikit terkekeh. “Soto kali Tom. Ini namanya soto ayam lamongan, bukan toso!”
Tom jadi malu, “Maafkan saya yang buruk sekali dalam bahasa Indonesia, semoga kamu bisa mengajari saya lebih banyak lagi tentang bahasa yang sering digunakan di negara ini.”
“Iya, Tom, bisa saja sih gue ajari lo bahasa Indonesia, tapi masalahnya bahasa Inggris gue gak bagus dan butuh belajar lebih lagi,” terang Marsha.
“Gak masalah, kita berdua bisa saling belajar dan memberikan ilmu satu sama lain. Itu malah membuat kita berdua lebih paham bahasa masing-masing,” tukas Richard.
Marsha hanya membalasnya dengan senyuman. Akan tetapi di dalam hatinya itu timbul rasa deg-degan yang begitu luar biasa. “Tom, gue bakal senang banget sih bisa belajar bareng dan lebih dekat sama lo. Tapi, ada dua yang janggal di dalam diri gue nih, satu karena bahasa Inggris gue lebih buruk dari anak-anak sekolah dasar, dan yang kedua karena gue hanya lulusan sekolah menengah atas dengan nilai rata-rata. Gue takut aja gitu gak nyambung waktu ngobrol sama lo yang lulusan magister.”
Di sisi lain, kedekatan Marsha dan Tom yang ada di kafe itu menjadi tontonan yang paling menyenangkan bagi Gesya. Bagaimana tidak, ini merupakan salah satu skandal yang sedang diperbuat oleh Marsha, yakni jalan berdua dengan laki-laki lain selain abangnya Gesya. Udah gitu, Marsha bersama laki-laki itu senyam-senyum kayak remaja pubertas mau pacaran.
“Sempurna … satu video ini akan gue berikan ke Bang Richard, biar Bang Richard tahu sendiri bagaimana kelakuan pacarnya yang bernama Marsha ini. Gue yakin banget dan dapat dipastikan kalau Bang Richard bakal marah besar dan meninggalkan perempuan ini,” batin Gesya sembari merekam pemandangan mesra antara Marsha dan Tom lewat ponselnya. Gesya tetap menutupi dirinya lewat celah-celah tanaman hias kafe yang ada di dekatnya.
KLIK! Tak lupa Gesya menyimpan hasil rekaman itu di folder memori rahasia agar tidak mudah dihapus. Setelah mendapatkan bukti kuat soal Marsha yang bermain cantik di belakang Richard, Gesya beranjak pergi dari duduknya.
Dengan keadaan sadar juga, Gesya tetap membayarkan pesanannya walaupun sambil menggerutu, "Aduh Al ... gara-gara gue sayang aja nih sama lo, sampai-sampai mau bayarin pesanan lo walaupun lo ninggalin gue, hmmm."
Usai membayar, Gesya melirik lagi keadaan sekitar supaya gelagatnya itu tidak diketahui oleh Marsha dan Tom yang masih makan berduaan di meja seberang sana.