Pertemuan pertama kalinya dengan Tom, membuat Marsha mempunyai pengalaman baru, yakni kencan berduaan dengan bule tamvan. Bule-bule tamvan yang biasa dilihat Marsha lewat film atau drama, kini ia berhadapan langsung dengan sosok tamvan itu. Bagaimana rasanya? Ya tra tak dung ces! Rasanyaaaaa ah mantap.
Seperti ciwik-ciwik pada umumnya ketika melihat cowok tamvan di depannya, Marsha juga tak ketinggalan untuk memandang puas wajah si Tom. Kayak gini langka bung di Indonesia. Sekali ada, pasti playboy.
Dalam hati Marsha bergumam. "Uh, cakep banget sih ini manusia. Kok bisa punya wajah tampan mirip Justin Bieber gini?!"
Saking kebanyakan lihat paras Tom yang menawan bagi Marsha, sampai-sampai Marsha salah memasukan makanan ke mulutnya. Bukannya memasukan nasi dan lauk, Marsha malah memasukan sambal ijo yang terkenal super pedas.
"HUH HAH HUH HAH!!" Marsha gelimpungan menahan rasa pedas yang tersebar di dalam mulutnya. Ia terus mengipas mulutnya yang serasa terbakar itu dengan angin-angin yang dihasilkan dari tangannya.
Dengan spontan, Tom mengambilkan air minum jus strawberry itu dan diserahkannya pada Marsha. "Minum dulu ... Biar kamu tidak kepedasan," Seru Tom.
Tom memegangi gelas tersebut di depan Marsha, lalu Marsha meraih sedotannya untuk menyedot jus. "Sluuuurppppp!" Marsha menaik turunkan napasnya guna mengontrol diri agar tidak konyol saat kepedesan.
"Kamu nggak apa-apa kan Marsha?" tanya Tom ketika Marsha mulai kelihatan memerah wajahnya.
Marsha pun menggelengkan kepalanya dengan cepat dan langsung tersenyum ke arah Tom, "It's Okay It's okay! Gue nggak apa-apa kok hanya saja sedikit kepedesan hehehehehehe," jawab Marsha yang layaknya tak begitu mempermasalahkan.
"Oh baguslah kalau begitu, lagian Kok bisa sih kamu malah makan sambal ijo? Padahal kan sudah jelas jelasnya itu sangat sangat pedas!" tukas Tom.
"Hmm gimana ya ..." Marsha jadi cengar-cengir sendiri seraya menggaruk-garuk kepalanya tidak gatal.
Tom makin menatap Marsha, "Apakah kamu gugup? Atau ada yang salah dengan aku?"
Tatapan mata Tom itu makin membuat Marsha tersentak. "Astaga! Lo bisa-bisanya sih ngeliatin gue kayak gitu. Gue kan jadi ... Ah sudahlah!!"
Tom mengerutkan dahinya karena Marsha tidak menyelesaikan pembicaraan yaitu. "Ngomong aja Marsha, apa kamu tidak nyaman makan malam denganku malam ini?"
"Ah enggak enggak kok! Nggak mungkin gue nggak nyaman. Ini buktinya gue makan dengan lahap! Hap! Hap!" Marsha langsung melahap makanan yang tersisa di atas piringnya.
Seraya melengkungkan senyuman di bibirnya yang tipis itu, Tom ikut tersenyum dan melupakan permasalahan seketika. Ya, hanya sekedar permasalahan tipis-tipis aja sih.
Trang ... Trung ... Trang! Suara pedang-pedang alias suara sentuhan benda kaca dan alumunium seperti piring dan sendok itu terdengar diantara Tom dan Marsha. Mereka berdua melahap makanan dan minuman yang tersisa itu tanpa ada obrolan sedikit pun. Dan yang terdengar hanyalah sentuhan-sentuhan itu disambut dengan musik jazz yang ada di cafe tersebut. Setelah semua makanan minuman itu habis, Tom dan Marsha sama-sama menyenderkan badan mereka di kursi.
"Bagaimana makanannya malam ini, enak?" Tanya Marsha.
Tom menganggukan kepala dan tersenyum. "Enak, aku belum pernah makan ini sebelumnya dan ini rasanya enak sekali. Aku yakin sekali kalau semua makanan di Indonesia ini kaya bumbu dan enak-enak semua!"
"Nah lo benar! Semua makanan di Indonesia ini rata-rata memiliki banyak rempah di dalamnya. Dan fungsi dari rempah-rempah itu sendiri adalah untuk meningkatkan nafsu makan yang makan makanan itu," jelas Marsha sesuai pengetahuannya yang minim itu.
"Rempah-rempahnya apa saja ya? Mungkin aku bisa menjual rempah-rempah itu di negaraku agar orang-orang lebih baik masaknya!" sebuah ide receh itu muncul dari pikiran Tom.
Hal itu membuat Marsha ketawa. "Jadi lo, lulusan magister itu mau jualan rempah-rempah?! Nggak salah lo Tom?"
Tom mengangkat kedua alisnya, "Apa yang salah? Lulusan magister jurusan bisnis internasional tuh, Pastinya aku harus mengembangkan banyak bisnis untuk disuplai ke negara-negara lain," terang Tom.
"Ya tapi jangan juga dong jualan rempah-rempah, yang ada nanti lo di sama-samain sama ibu-ibu yang jualan di pasar hahaha," balas Marsha yang begitu kurang menyukai soal pasar.
Pasar di mana Marsha selalu kena tipu! Ketika Marsha berbelanja sendirian di pasar, dan kebetulan Marsha tidak tahu harga dan barang-barang yang bagus itu seperti apa, Marsha ditipu oleh penjual penjual nakal di pasar. Contohnya saja, wortel yang harganya Rp5.000 mendapat 3 malah dikasih 5 ribu dapat 1, udah gitu wortelnya jelek lagi ada item-itemnya uh jelek! Makanya Marsha males banget kalau sudah ke pasar.
Sembari memperlihatkan giginya ketika tersenyum, Tom geleng-geleng kepala ketika mendengar ucapan Marsha itu. "Ada saja kamu ya, tapi seriusan deh aku lagi mencari bisnis yang bisa menunjang karir aku kedepannya. Barangkali kamu mempunyai saran yang bagus gitu ..." Ujar Tom.
Ah elah Tom, kamu kayaknya salah orang deh kalau mau ngomong soal bisnis. Kalau kamu ngomong bisnis ke Marsha, yang ada dia Terus mikirin gimana caranya dapat untung yang cepat, dan balik modal yang cepat. Tanpa memikirkan apa saja resiko-resiko kedepannya dan bagaimana cara mempertahankan konsumen. Kamu mau bisnis yang telah kamu bangun itu malah ancur secara percuma?!
Marsha pun hanya tertawa, "Mending lo cari aja sendiri di internet referensinya, lo kan sudah paham bagaimana cara menganalisa suatu bisnis, pastinya kalau bisa sendiri lah bagaimana pilihan lo," ucap Marsha yang kelihatannya malah mencoba kabur dari pembicaraan itu.
Tom hanya menganggukkan kepalanya, dan menghargai apa yang menjadi perkataan Marsha. Dan tak lama kemudian, sekarang tidak ada pembahasan yang begitu intim. Tom menawarkan sesuatu. "Marsha, ini kita sudah selesai makan malam, dan malam ini apa kamu ada kegiatan lain?"
Dengan cepat Marsha menggelengkan kepalanya, "Kenapa memangnya Tom?"
"Ya kalau kamu tidak ada kegiatan lain, Aku mau ngajak kamu jalan-jalan ke tempat lain gitu, masa Malam ini kita keluar hanya untuk makan sih?" jawab Tom yang membuat kedua pipi Marsha makin memerah, uhuy uhuy.
Senyuman mendarat di bibir Marsha, dengan perkataan Tom yang barusan itu membuat Marsha langsung capcus, " Oh gak ada dong! Nggak ada kegiatan apa-apa aku ini ... Lo mau jalan ke mana? Biar gue deh yang nganterin!" dengan sigapnya Marsha tawarkan jasanya.
"Kira-kira kamu sampai jam berapa bisa keluar? Apa ada jam malam di keluarga kamu?" tanya Tom sebelum menyebutkan lokasi yang ia ingin tuju.
Marsha terkekeh, mengingat soal jam malam yang berlaku di keluarganya. "Di keluarga gue nggak ada tuh yang namanya aja malam. Ketika gue keluar, mau jam berapa pun itu pulangnya ya oke-oke saja. Yang pasti, harus bisa jaga diri dan bertanggung jawab aja atas diri sendiri."
"Oh begitu, berarti aman saja ya kalau kita pulang jam berapa aja?" tanya Tom lagi memastikan.
Dan Marsha pun mengangguk.
"Sip! Ayo kita jalan ke tempat selanjutnya," Tom pun beranjak dari duduknya dan ikuti oleh Marsha.
***
Gesya yang sebelumnya meminta izin keluar makan malam bersama Alana, kini sudah tiba di rumahnya. Gesya celingak-celinguk mencari keberadaan Bu Vivian, dan ya! Seperti biasa kalau malam-malam gini, Bu Vivian dan Pak Niko sedang kencan simple di taman belakang rumah.
"Mamiiii mamiiii mami!" Teriak Gesya dari ruang tamu hingga taman belakang rumahnya.
Pak Niko dan Bu Vivian yang beneran lagi berduaan di taman belakang rumah, langsung membalikan badan menghadap ke Gesya. Pak Niko dan Bu Vivian menyimpan tanda tanya ketika melihat Gesya lari terbirit-b***t ke arah mereka.
"MAMIIIII ADA KABAR BAGUS!!" seru Gesya menepuk-nepuk pundak Bu Vivian.
"Apa kabar bagusnya? Kamu jangan ngeprank Mami malam-malam loh ya!" Balas Bu Vivian sebelum mendengarkan penjelasan dari Gesya.
"Iya, gak ngeprank ini mah! Sini sini gue bisikin sesuatu yang luar biasa!" Ungkap Gesya dan segera mendekatkan bibirnya ke telinga Bu Vivian.
Gesya pun membisikan sesuatu itu ke Bu Vivian sambil mengerutkan keningnya. "Gimana Mi, kabar yang begitu bagus, bukan?!"
Bu Vivian terdiam dan malah melengos ke arah Pak Niko. Pak Niko yang kayak orang cengo gak paham apa-apa, hanya menaikan kedua bahunya.