Dan keesokan harinya, Bu Vivian kembali menanyakan hal yang dikabarkan oleh Geisha tadi malam. Ketika Geisha sedang siap-siap untuk pergi ke butiknya, Bu Vivian menghampiri Geisha.
"Kejadian yang tadi malam itu kamu lihat dengan mata kepala kamu sendiri, atau hanya omongan omongan orang lain?" tanya Bu Vivian.
Sedang memakai sepatu itu langsung menengok ke arah Bu Vivian, "Ya jelas gue lihat sendiri lah Mi. Ini mata gue salah 100%. Minus aja nggak ada," Ceplos Gesya.
"Sebenarnya dia kalau hal itu benar-benar terjadi, Mami adalah orang yang benar-benar akan merayakan kebahagiaan. Karena sebentar lagi kedekatan Richard dan Alana akan terealisasikan," ujar Bu Vivian.
Gesya ikutan tersenyum, dan Geisha langsung memberikan sebuah sinyal untuk tos kepada bu Vivian. "Kita rayakan kecil-kecilan dulu yuk mami."
Bu Vivian dan Geisha pun saling melempar senyum. Itu artinya sebentar lagi rencana yang akan dikerjakan selanjutnya, akan berbuah manis. Tak lama kemudian, suara Richard terdengar mengalunkan sebuah lagu ... Baru kusadari, cintaku bertepuk sebelah tangan ... Kau buat remuk seluruh hatiku ...
Mendengar suara Richard yang datang tiba-tiba seperti rezeki, Gesya dan Bu Vivian langsung berlagak biasa-biasa saja seolah tidak terjadi apapun. "Bang, hari ini gue pakai mobil gue sendiri ya. Males banget pakai mobil bututnya Papi, klakson gak bisa dibunyiin," Seru Gesya sebelum Richard mengambil kunci mobil.
"Iya, iya ... Ini gue pakai mobil gue sendiri kok. Bawel amat!" Timpal Richard.
"Bagus lah kalau begitu. Gue sebenernya gak suka kalau mobil gue dibuat numpangin orang-orang yang suka selingkuh, ups ..." Dengan beraninya, Gesya mengatakan hal itu pada Richard.
Richard menyorot kan kedua matanya ke Gesya. "Maksud lo apaan?"
Gesya melengos ke lain arah, bukan ke wajah Richard. "Hmm, ya paling lo tau sendiri nanti maksudnya apaan," Balas Gesya santai.
Richard makin mengerutkan dahinya ketika mendengar ucapan yang disebutkan oleh Gesya itu. "Apaan sih? Kalau ngomong itu yang jelas deh. Lo memang masih bocah, kalau ngomong juga jangan sampai kayak bocah kali," gerutu Richard karena Geisha ngomong setengah-setengah.
Gesya tidak begitu menghiraukan gerutuan dari Richard, "Ya udahlah ya enggak usah mancing-mancing emosi gue pagi-pagi. Enggak ada waktu nih buat ngeladenin orang yang suka marah-marah sendiri," seru Geisha.
Gesya menatap ke jam dinding yang ada di ruang tamu. Rupanya sisa 20 menit lagi Geisha harus sudah ada di Queen's boutique. "Mami, gue pergi ke butik dulu ya. Doakan hari ini targetnya akan tercapai, dan pastinya akan banyak pelanggan!" pamit Gesya tak lupa mencium punggung tangan Bu Vivian.
Bu Vivian pun mengelus rambut Geisha, "Iya, anak mami yang paling cantik lucu sedunia! Mami yakin banget kok kalau kamu mampu mencapai target yang kamu buat sendiri. Dan pastinya dengan bantuan--"
"Alana! Calon menantu mami!" celetuk Gesya dengan sengaja.
Seperti halnya dikucurkan sebuah pernyataan tidak benar, Richard langsung menyela, "Hah? Calon menantu? Emangnya anaknya mami yang mana yang mau sama Alana???"
"Kamu!" Timpal Bu Vivian dengan cepat.
Richard membelalakan kedua matanya kaget, "Idiiiiih ... Kagak mau ah gue sama orang begituan. Mending sama pacar gue yang sekarang, bisa banget bikin bahagia," Seru Richard.
"Iya, pacar lo yang sekarang itu ya Bang, tukang selingkuh! Hahahaha," Geisha cekikikan geli.
"Heh jangan sembarangan ya kalau ngomong!" Sahut Richard dengan kedua mata yang memerah.
"Bye bye! Mau pergi ke butik duluuu, mwah mwah!" Geisha langsung kabur dari pembicaraan itu dan izin ke butiknya. Richard menatap Geisha dengan penuh emosi, ingin sekali mencubit lehernya. "Dasar ya lo, pagi-pagi malah lo yang bikin gue emosi!" Pekik Richard.
Geisha pun sudah masuk ke dalam mobilnya dan memanasi mobilnya di garasi. Sementara Richard Masih bersama Bu Vivian di ruang tamu.
"Mi, apa sih maksud omongan kalian berdua pagi ini? Gue bingung deh, seperti ngomongin gue," Tanya Richard pada Bu Vivian.
Akan tetapi, bukannya Bu Vivian membalas pertanyaan Richard, Bu Vivian malah berbalik badan. "Udah lah nanti aja dibahas. Yang penting kamu segera siap-siap ke kantor, jangan bikin Papimu marah kedua kalinya," Ujar Bu Vivian sembari berjalan.
Richard pun berdecak, ia merasa tidak puas dengan obrolannya pagi ini. Terlebih lagi, mendengar cerita dari Gesya tadi. Ahh mengesalkan!
***
Pagi ini, Marsha belum juga bangun dari tidurnya. Bu Alin yang sudah bolak-balik ke kamar Marsha untuk mengecek apakah Marsha sudah bangun atau tidak, hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Aduh anak perawan, tetap aja jam segini belum bangun. Kebiasaan dari zaman sekolah nggak bisa ditinggalin nih! Ckckck," Ujar Bu Alin.
Bu Alin pun masih mencari cara bagaimana agar si Marsha ini mau bangun lebih cepat, selain dengan kedatangan Richard loh ya. Kalau Richard datang mah, si Marsha emang langsung bangun, tapi buat minta duit hehehe.
Dreeeet ... Dreeeet ... Dreeeet .... Ponsel Marsha berbunyi. Namun, Marsha masih berada di bawah alam sadarnya untuk istirahat. Bu Alin yang kebetulan masih ada di kamar Marsha, langsung meraih ponsel Marsha yang sedang diisi daya di meja samping tempat tidurnya.
"Tifanny?" Bu Alin mengernyitkan keningnya melihat nama seorang perempuan di layar ponselnya. "Sejak kapan si Marsha punya teman perempuan? Disimpan lagi nomornya ... Biasanya kan si Marsha kagak mau tuh nyimpen nomor kerabat perempuan di ponselnya."
Bu Alin mengusap layar ponsel Marsha untuk membuka kunci di paling depan aplikasinya. "Aisss! Sudah diganti sama si Marsha!" gerutu Bu Alin.
Selang beberapa menit lagi, sebuah pesan masuk atas nama Tiffany. Bu Alin pun menepuk-nepuk pelan pipi milik Marsha, untuk meminta Marsha bangun.
"Mar ... Mar, bangun Mar. Ini sudah jam berapa???" kata Bu Alin.
Marsha pun terlihat menggeliat di atas tempat tidurnya, namun kedua matanya masih tertutup.
"Duh Mama ... Kenapa sih pagi-pagi sudah ngebangunin? Gue tuh capek banget tahu tadi malam jalan lama banget!" seru Marsha.
"Siapa suruh jalan sampai kemalaman kayak tadi malam. Pulang kok jam 2 pagi, cepetan bangun bangun! Ini ada teman kamu dari tadi nelpon dan ngirim pesan," Bu Alin.
"Hah teman? Laki-laki atau perempuan tuh?" Tanya Marsha.
"Perempuan nih namanya Tiffany," jawab Bu Alin sambil menyodorkan ponselnya ke Marsha.
Dengan sigap seperti ingin perang gerilya, Marsha langsung membuka kedua matanya lebar-lebar, dan duduk di atas tempat tidurnya.
"Mana mana mana?!" seru Marsha seraya mengambil ponselnya itu, dan senyum-senyum mau buka kode ponselnya.
Bu Alin yang menyaksikan perbedaan yang sangat signifikan, merasa aneh. Kontak yang diberi nama Tiffany di ponsel Marsha itu, membuat Bu Alin tanda tanya. Dalam hati pun Alin pun berkata, "Kok bisa temen perempuannya itu bikin Marsha excited? Perasaan Marsha yang pernah bilang sendiri kalau sampai kapanpun dia ogah temenan sama perempuan, eh mau sih tapi gak begitu dekat."
Kekepoan Bu Alin itu membuat Bu Alin berani bertanya ke Marsha. "Tifanny itu siapa? Teman sekolah kamu?" Bu Alin sambil duduk di tempat tidur, samping Marsha.
Namun, Marsha masih sibuk mengutak-atik ponselnya dan tampak senyum yang merekah di bibirnya. "Mar ... Siapa sih nama Tiffany itu? Kok Mama gak pernah kamu ceritain kalau kamu punya temen perempuan sedekat itu."
Marsha menatap Bu Alin. "Mama pengen tau aja atau pengen tau banget???"
"Ya elah kenapa pakai pilihan begitu amat sih. Pengen tau banget banget deh!" Balas Bu Alin.
"Nah, ini loh Ma, orang yang pernah gue ceritain. Namanya Tom!" Tukas Marsha.
"Tom? Tom itu nama aslinya Tifanny? Jadi, Tom yang kamu ceritakan itu adalah perempuan?" Bu Alin sedikit terkejut.
Marsha tertawa. "Dih bukaaaan dong. Jadi gini, Ma. Nama Tiffany yang ada di kontak ponsel gue ini adalah namanya Tom. Gue sengaja ngasih nama Tiffany, biar kalau suatu saat nanti ketahuan Richard, gue bisa mengelak," Beber Marsha yang membuat Bu Alin mengacungkan jempol tangan kanannya.