Bu Alin mendongak lebih dekat lagi ke arah ponsel milik Marsha. Marsha tampak membalas isi pesan si pengirim yang diberi nama “Tiffany” itu. “Asik amat, ngebales isi pesannya kok lebih bahagia daripada ngebales chatnya Richard sih …” ledek Bu Alin.
Marsha menyimpan ponselnya di punggungnya, “Gimana gak seneng, Ma. Tom itu orangnya perhatian banget, royal, dan kayaknya sayang banget sama perempuan. Jadinya tuh ya, gue makin klepek-klepek!”
“Hmm, perasaan Mama nih ya, omongan itu juga pernah kamu omongin ketika pertama kali bertemu dengan Richard deh,” balas Bu Alin.
“Tapi kali ini bedaaaa! Tom lebih tampan, Ma …” seru Marsha lagi seraya membayangkan malam itu bersama Tom.
Bu Alin menghela napasnya, “Sebenarnya Mama gak melarang kamu suka sama siapa saja. Yang penting kamu gak cinta mati sama si Richard itu, Mama masih gak sudi.”
“Gak boleh cinta mati sama Richard? Oh iya, gue penasaran banget deh Ma. Kenapa Mama sama Richard itu kayak ada batasannya? Gue lihat nih ya, Mama gak terlalu welcome sama Richard. Apa Richard itu bukan tipe menantu seperti yang Mama harapkan?” tanya Marsha yang sudah lama ingin menanyakan hal ini pada Bu Alin.
Bu Alin melengos ke arah jendela. “Karena ada sebab lain yang sulit banget Mama jelaskan.”
“Dih, tinggal ngomong doang ah Ma, apa sulitnya?” Marsha memaksa.
“Kalau Mama ceritakan ini sama kamu, itu sama artinya Mama membuka luka lama lagi. Dan, Mama gak mau ingat-ingat itu lagi,” tukas Bu Alin.
Marsha mengernyitkan dahinya, ia menatap wajah Bu Alin yang memurung menatap jendela. “Ya udah deh kalau Mama gak mau cerita ke gue soal itu.”
“Jadi pesan Mama hanya satu, kamu jangan begitu cinta dengan Richard, karena sampai kapan pun Mama gak akan ngerestui hubungan kalian berdua sampai ke jenjang pernikahan. Tapi, Mama meminta kamu mendekati Richard, untuk menopang hidup kita berdua saja,” jelas Bu Alin.
“Tapi, kalau memang seperti itu, itu artinya kita hanya memanfaatkan hartanya Richard saja dong, Ma?” tanya Marsha.
“Iya, benar. Memang itu kan yang kita rencanakan dari awal?” jawab Bu Alin.
Marsha manggut-manggut ragu, ia memang masih mengingat perjanjian awal dengan Bu Alin. Soal Richard, yang hanya dijadikan sebagai pemenuh ekonomi mereka. Akan tetapi, Marsha sedang dirundung rasa kegalauan yang berlebih. Apa tega ia hanya merogoh harta Richard tanpa memberikan rasa cinta sedikitpun?
“Pokoknya begitu lah ya, Mama gak sudi kamu dan Richard ke jenjang yang lebih serius. Lebih baik kamu sama siapa gitu, atau sama Tiffany saja—eh maksud Mama sama Tom saja,” terang Bu Alin yang beranjak dari duduknya. Bu Alin lalu keluar dari dalam kamar Marsha.
Marsha mengangkat kedua bahunya. Ia langsung fokus ke layar ponselnya yang masih ada nama Tiffany di sana. Satu pesan lagi masuk ke dalam kotak pesan Marsha, yang jelas-jelas pesan itu adalah dari Tom alias Tiffany.
Marsha, apa bisa hari ini kita jalan-jalan lagi?
Dengan sigap dan dibumbui api-api asmara, Marsha langsung mengiyakan ajakan Tom itu.
Hai, Tom. Pasti bisa dong, kira-kira nanti sore saja ya sekitar jam lima sore lo jemput gue di apartemen tadi malam. Oke?
SEND. Pesan itu terkirim sebagai tanda persetujuan Marsha dan Tom untuk keluar bareng sore nanti. “Yes! Yes! Yes! Sepertinya Tom sudah mulai masuk ke dalam permainan gue, deh. Gue harus cepat-cepat dapatin hatinya Tom! Mumpung dia masih di Indonesia. Dan ada waktu dua mingguan lagi sebelum dia balik ke Inggris,” tutur Marsha yang merasa ia harus memaksimalkan waktu ini.
***
Richard dan Pak Niko sudah memarkirkan mobilnya di parkiran khusus atasan perusahaan. Tanpa mengeluarkan sedikit kata pun, Richard mempercepat langkah kakinya untuk masuk ke kantor dan menuju ruangannya. Sementara Pak Niko, dibiarkannya jalan sendirian di belakangnya, tanpa dibukakan pintu mobil.
“Hmm, dasar si Richard keras kepala. Biasanya ini pintu mobil dibukakan untuk Papinya. Pasti gara-gara masih ngambek nih, ya elah Richard gak professional banget, sih …” ujar Pak Niko seraya menggelengkan kepalanya.
Pak Niko pun langsung menuju ruangannya, yang mana ia harus melewati ruangan Richard dulu. Pak Niko mengintip sedikit aktivitas Richard lewat kaca yang ada di atas pintu Richard. “Hmm, syukurlah …”
seru Pak Niko ketika melihat Richard yang sudah sibuk dengan layar komputer di depannya, dan beberapa berkas-berkas di atas mejanya.
Pak Niko lalu berlanjut jalan ke ruangannya sendiri. “Baguslah kalau Richard bisa bersikap professional. Kemarin dia ada masalah sama Papinya, tapi sekarang ia masih mengerjakan tugas-tugas yang memang harus dipertanggung jawabkan olehnya,” ujar Pak Niko dengan rasa lega
Pak Niko juga segera mengerjakan tugas-tugas kantornya yang membludak itu, Pak Niko adalah orang yang tidak suka menunda-nunda pekerjaan, apalagi menunda pernikahan. Menurut Pak Niko, sesuatu yang dikerjakan dengan cepat dan tanggap itu akan bisa selesai dengan waktu singkat. Dan Pak Niko adalah tipe orang-orang yang seperti itu, jika tidak ada orang yang bisa menyelesaikan pekerjaan sesuai waktu yang sudah ditentukan, artinya orang itu tidak bertanggung jawab.
***
“Tut … turut … tut … tut … turut!” Gesya membunyikan senandung nada dari mulutnya, sambil keluar dari dalam mobilnya.
Gesya melihat Queen’s Boutique itu sudah berganti dari closed menjadi open. Gesya tersenyum, “Hmm, calon kakak ipar gue memang udah paling rajin, deh! Cocok banget kan di-klopkan sama gue yang lemot-lemotan gini! Ahahaha,” seru Gesya dan langsung memasuki Queen’s Boutique tempat dirinya mencari nafkah.
KRING. Gesya sudah masuk ke Queen’s Boutique. Terdengar sahutan dari Alana, “Selamat datang di Queen’s Boutique, ada yang bisa saya bantu?!”
Dan dengan isengnya Gesya menjawab sahutan itu, “Halo, saya ingin mencari gaun paling mahal di butik ini.”
“Baik, sebentar, Mbak—ahelah! Ternyata elo!” Alana membalikan badannya dan melihat Gesya sudah cengar-cengir di depannya. “Sudah jam berapa nih? Kok ke sini telat mulu lo ah!” ujar Alana.
“Namanya juga kejebak macet, Al. Wajar aja kali,” Gesya membalas santuy, sembari melangkahkan kakinya ke meja kerjanya, dan menaruh tas selempangnya di atas meja.
“Macet? Emang lo gak bisa nimbus macet? Gue aja biarpun jalanan semacet apapun, tetep bisa jalan, kok,” ucap Alana yang mengikuti Gesya dari belakang.
“Ya jelas lo bisa lah! Lo kan pakai sepeda motor, lo bisa seenaknya nyalip sana nyalip sini. Gak kayak gue yang pakai mobil harus sabar dan nunggu mobil di depannya lewat,” balas Gesya.
“Halah alasan! Memang lo-nya aja yang gak mau berangkat lebih pagi!” ketus Alana.
“Nah, kalau masalah berangkat lebih pagi itu memang masalah gue dari zaman sekolah, Al! hihi,” kekeh Gesya.
Alana menggelengkan kepalanya, “Coba aja kalau pas kuliah itu lo gak satu kontrakan sama gue, pasti lo telat mulu karena gak bisa bangun pagi!” sahut Alana yang masih mengingat kebiasaan buruk Gesya saat masih mengontrak bersama.
“Aahhaha, gak usah diingat lagi ah masa lalu. Tapi kan pernah gue bangun pagi! Gak selamanya bangun siang mulu, keles!” Gesya masih membela dirinya.
“Iya, lo pernah bangun pagi, kok buat nyalin tugas gue, kan?!” Alana menimpali.
“Hahahaha, nah masih inget aja lo!” Gesya mencolek dagu Alana.
KRING! Pintu butik terbuka lagi. Kali ini pasti pelanggan yang hendak melihat-lihat koleksi baju yang ada di Queen’s Boutique. “Lo deh yang handle pelanggan itu, gue baru dateng,” pinta Gesya ke Alana.
“Uh dasar! Mager aja kerjaan lo!” pekik Alana gemas pada Gesya.
Alana pun langsung menemui pelanggan itu, sementara Gesya cekikikan di atas kursinya. Gesya melihat punggung Alana yang sedang berjalan itu, "Enak juga rekanan bisnis sama Alana, selain dia pintar, dia juga gak neko-neko orangnya. Kayak gini kok Abang Richard kagak mau!" batin Gesya.
“Selamat datang di Queen’s Boutique. Ada yang bisa saya ban—”
Sekejab saja perkataan Alana ini terhenti. Kedua mata Alana terbelalak kaget melihat seseorang itu masuk ke dalam butiknya. “Lo mau ngapain ke sini?” tanya Alana dengan mata yang menyorot tajam ke orang tersebut.