Day (12)

1636 Kata
Perempuan yang memasuki Queen’s Boutique itu tampak tersenyum sinis melihat Alana. “Kenapa kok kaget gitu? Biasa aja kali.” Seru perempuan itu. “Dera, lo mau ngapain ke sini?” tanya Alana pada perempuan itu yang ternyata Dera. Dera terkekeh, “Gue iseng aja ke sini, mau lihat-lihat karya lo yang terpampang nyata di butik lo ini. Apakah ada karya yang bagus, atau semuanya malah biasa-biasa aja.” “Lo kalau ngomong pakai otak dong ya. Kalau lo gak ada kepentingan, gak usah ke sini!” tegas Alana yang kesal dengan rival kerjanya dulu semasa bekerja di PT. Anaconda Konveksi. “Alana … Alana, santai dong. Justru gue punya kepentingan ke sini. Ya itu tadi, mau bandingin aja karya lo dan karya-karya gue sekarang,” balas Dera lagi dengan suaranya yang melembut tapi menohok. Alana mulai kesal, ia menyilakan kedua tangannya di depan dadanya. “Gak usah cari masalah Der. Gue aja gak pernah ribut sama lo, tapi malah lo yang nyulut emosi gue!” “Santai, santai …” Dera melambaikan kedua tangannya naik turun ke arah Alana. “Oh iya, gue mau menginformasikan kalau perekturan kembali untuk lo, di ba tal kan!” tegas Dera. Alana pun sempat tersentak. Namun, ia bisa menyimpan perasaannya itu dengan rapi. “Ya terserah aja sih, toh gue gak begitu minat balik kerja di perusahaan itu. Dan yang paling gak minatnya lagi itu ketemu lo!” tukas Alana. Prok … prok … prok … Dera menepuki kedua tangannya untuk Alana. “Boleh juga lo Al, sok sok jual mahal ya. Padahal, kapasitas lo juga gak semahal itu. Dan lo—” “Eh, Dera! Daripada lo bikin emosi gue tambah naik, mendingan lo pergi deh dari sini!” Alana mengusir Dera. Biarpun Alana terkenal seperti peremuan pendiam dan menerima apa adanya, tetapi dia juga bisa tegas kepada orang lain yang mengusiknya. “Hahahah, gak usah galak gitu, Al. Ntar kalau gue galakin balik, lo malah nangis!” balas Dera yang sengaja membuat emosi Alana naik turun layaknya rollercoaster. “Der! Lo itu bener-bener ya, gak pernah berubah dari dulu. Selalu aja cari masalah sama gue. Gue kan sudah resign juga dari perusahaan tempat lo kerja itu, sekarang apa lagi yang mau lo cari dari gue?!” gertak Alana, kesabarannya mulai menipis. Beberapa saat kemudian, datanglah Gesya dengan wajahnya yang tidak tahu apa-apa. “Ada apa sih di sini ribut-ribut?” tanya Gesya seraya menatap kedua perempuan di depannya, Alana dan Dera. “Tuh! Ini loh Sya yang namanya Dera!” jawab Alana sambil menunjuk ke arah Dera. “Oh … lo itu Dera yang ngasih surat gak penting itu, ya?” ujar Gesya pada Dera seraya mengacak pinggangnya. Dera mengernyitkan dahinya. “Lo yang bikin kata-kata menohok buat Alana, ya? Terus, ngapain sih lo malah ke sini?!” kata Gesya dengan pandangan kedua matanya yang sinis. Dera melipat tangannya. “Maaf sekali ya, dan maaf sebesar-besarnya untuk Nona cantik yang ada di depan gue ini. Gue gak ada kepentingan sama lo. Yang gue mau temuin di sini ya Alana.” “Iya, lo ngapain mau nemuin Alana di sini?!” timpal Gesya ketus. “Bukan urusan lo sih. Mendingan minggir dulu deh, gak usah pakai emosi-emosi segala. Gue di sini—” “Eh nyadar ya, lo yang suka mancing emosi orang!!” pekik Gesya mulai mengeraskan gigi-giginya yang putih. “Kayaknya nih ya lo dan Alana sama-sama keras kepala deh ya. Lo gak—“ “Udaaah! Lo keluar deh dari sini! Butik gue gak nerima orang gak jelas kayak lo!” Gesya memegang kedua bahu Dera, dan mendorongnya menuju pintu keluar. Namun, Dera berhasil menahan badannya itu. “Ih, kenapa sih gue diusir-usir gini? Kalau niat gue ke sini mau ngeborong, gimana? masa lo ngusir-ngusir pelanggan sih?” Dera menepis kedua tangan Gesya dari bahunya. “Abisnya lo yang bikin ribut di butik gue. Pantes aja pelanggan belum ada yang datang, lo bawa sial sih!” Gesya gak kalah sinis dari Dera. “Dih, malah nyalahin gue. Ya emang dasarnya aja butik lo gak laku!” Dera gak mau kalah menimpali. Gesya sudah mengepalkan tangan kanannya sambil komat-kamit di bibirnya. Mungkin saja dalam hitungan sekian detik, kepalan tangan itu mendarat sempurna di atas wajah Dera. Namun, Alana yang melihat pertama kali gelagat Gesya itu, segera memegang tangan Gesya yang mengepal itu. “Jangan lakukan ya, Sya. Santai … orang ini biar jadi urusan gue,” bisik Alana menenangkan. “Tapi—” “Sssst, biar gue aja. Ini urusan gue berdua sama Dera. Lo gak usah ikut-ikutan, yang ada lo malah makin naik darah,” seru Alana lagi. Alana kembali menormalkan tangan Gesya, dengan membuka kepalan tangan Gesya. Setelah itu, Alana mengarah ke Dera yang masih berdiri, tak mau keluar-keluar dari Queen’s Boutique. “Dera … gue sudah muak ya ribut sama lo untuk kesekian kalinya. Plis jangan usik-usik hidup dan bisnis gue saat ini. Gue juga gak bakal usik hidup lo. Mendingan kita berdua saingan secara sehat aja deh, gak usah pakai urat-uratan gini, apalagi ribut di tempat kayak gini,” Alana mencoba berkata pada Dera dengan nada suara yang halus. Dera menatap dalam ke kedua mata Alana. Dera ingin sekali menumpahkan emosinya sekali lagi, namun sadar kalau dirinya sendiri sedangkan Alana bisa saja dibantu Gesya. “Kali ini lo aman, Al! tapi inga aja suatu saat nanti!” bisik Dera. “Der … gue udah tegasin ya. Gue aja gak mau ngurusin hidup lo, tapi kenapa lo selalu bikin ribet di hidup gue, sih?!” tanya Alana yang gak habis pikir dengan pikiran Dera itu. “Gue mau ngebayar semua yang lo lakuin saat masih bekerja di PT. Anaconda Konveksi sama gue!” balas Dera. “Hah? Maksud lo apa, sih? Selama gue kerja di PT. Anaconda Konveksi, gue selalu ngerjain sesuai arahan atasan, gue gak pernah bikin lo kesel, Der!” tegas Alana. “Gak pernah bikin gue kesel, yakin lo?” timpal Dera. “Iya kan … gue ngerjain sesuai porsi gue, kok!” Alana yakin. “Yakin? Emangnya lo gak pernah cari muka di hadapan Robert dan atasan-atasan yang lain buat nyingkirin gue?!” timpal Dera lagi. Alana mengerutkan keningnya, “Lo ngomong apa sih? Kebiasaan lo itu ya, suka negatif thinking aja sama gue. Dan sampai gue dipecat secara sepihak pun, lo masih aja dendam sama gue. Gak habis pikir sih gue sama lo, Der!” gerutu Alana yang memang mengetahui kalau Dera ini adalah tipe orang yang pendendam. “Pura-pura gak tahu, lagi!” pungkas Dera dan langsung membalikan badannya ke arah pintu keluar. KRING. Kini Dera benar-benar keluar dari Queen’s Boutique setelah sebelumnya ia bersikeras terlebih dahulu dengan Alana dan Gesya. Gesya masih menatap tajam kepergian Dera, ujung bibirnya terangkat seolah melukiskan rasa tidak suka pada Dera. “Oh jadi itu yang namanya Dera? Rekan kerja lo selama kerja di PT. Anaconda Konveksi?!” tanya Gesya ke Alana. “Yup! Gimana menurut lo? Keras kepala, bukan?” jawab Alana. Gesya menganggukan kepalanya, “Gue gak bisa bayangin waktu lo masih kerja di perusahaan itu. Pasti setiap hari lo ribut ya sama dia?” tanya Gesya lagi. “Sebenarnya gue gak pernah cari ribut sih sama dia. Gue kan orangnya let it flow gitu, Sya. Gak mau punya dendam sama orang lain. Tapi … Dera-nya sendiri yang cari masalah sama gue,” jelas Alana. “Udah kelihatan sih dari wajah sama tingkah lakunya, itu perempuan selalu bikin orang resah, dan mau menang sendiri,” simpul Gesya. Alana berdecak, “Ya begitulah dunia kerja, kita pasti bertemu dengan orang-orang yang berusaha menjelekan dan menjatuhkan kita. Bahkan gak ketika kita sudah tidak  bekerja di situ lagi, orang yang benci sama kita itu terus nyimpan dengki. Gue juga bingung apa yang harus gue lakukan …” “Lo gak ada rencana mau ngebales Dera, gitu?” Gesya menawarkan. Alana menggeleng cepat. “Gak sih, gue coba tegas aja sama dia lewat kata-kata, kalau ngebales kayaknya enggak.” “Tapi Al, dia loh yang sudah bikin nama baik lo di PT. Anaconda Konveksi itu jelek sampai akhirnya lo dipecat, kan? Emang lo terima aja digituin?!” Gesya makin memanas-manasi. Alana terkekeh, “Lo ngerti sendiri kan, Sya … kalau api dibalas dengan api, jadinya kebakaran dan gak bakal selesai. Mending gue jadi air yang tenang aja.” “Ini bukan masalah api dengan api, api dengan air, Al. Tapi ini masalah harga diri lo! Lo harus mempertahankan harga diri lo yang sengaja diinjak-injak sama Dera itu!” lah malah Dera yang kebakaran jenglot jenggot. “Biarin aja, ada saatnya orang kayak Dera itu dibalas. Mungkin enggak melalui gue, tapi bisa jadi melalui orang lain yang gak suka sama sikapnya dia selama ini. Gue main santai aja, Sya. Toh, ngebisnis barengan sama lo untuk besarin Queen’s Boutique ini, gue sudah tenang kok …” Gesya menghela napasnya, “Sabar banget sih lo! Gue gak bisa deh kalau punya sabar-sabar yang tinggi kayak lo itu. bawaannya pengen nonjooook aja!” “Hahaha, lo harus bisa atur emosi lo, Sya. Kedepannya, ketika bisnis kita ini makin besar, akan banyak orang-orang yang berusaha ngejatuhi kita. So, kita harus bersiap-siap menghadapinya. Seperti kata pepatah, semakin tinggi pohon, semakin banyak pula angin yang menerpanya,” kata Alana yang tadinya sempat murka dengan kedatangan Dera, tapi ia berhasil mengatur emosinya. “Terima kasih banyak ya Al, dari lo ini gue banyak belajar hal baru. Salah satunya adalah di mana gue harus bijak mnegatur emosi dan tingkah laku gue. Gue senang deh sama lo!” balas Gesya yang begitu tersipu-sipu dengan nasihat Alana. Pak Niko dan Bu Vivian aja belum pernah memberi nasihat seperti ini, apalagi abangnya si Richard itu. Spontan saja Gesya memeluk tubuh Alana dan berbisik, “Lo baik banget deh, Al, bijak juga. Kayaknya lo pantes jadi kakak ipar gue.” Alana tersendak, kedua matanya terbelalak lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN