Day (13/

1439 Kata
Alana menegakkan tubuh Geisha, sambil dilihatnya kedua mata perempuan yang berdiri di depannya itu. "Sya, stop untuk meledek ledekin gue sama abang lo ya. Lo tau sendiri abang lo itu sudah punya perempuan lain, dan gak mungkin banget gue jadi kakak ipar lo," Alana dengan halusnya yang memberi pengertian kepada Geisha. Geisha tampak terkekeh, "Semuanya bisa terjadi atas kehendak Tuhan. Biarpun Abang Richard sudah punya perempuan lain, pacar lain, atau apapun yang lain itu, ujung-ujungnya lo sama Abang cari jodoh ya bakal jodoh juga kali!" Gesya masih saya meledek Alana. "Udahlah Sya, daripada ngomong nggak jelas kayak gini, mending kita lanjutin kerjaan kita yuk! Satu jam lagi kita bisa dapatin 2 busana yang terbaik," ucap Alana yang berusaha mengalihkan pembicaraan. Gesya pun mengangguk seperti tidak menyangkal apa yang diajak Alana. Gesya pun tidak keberatan untuk mengerjakan apa yang disebutkan oleh Alana. "Yuk ah! Sebentar lagi kerjaan gue selesai tuh, gara-gara tadi ribut aja jadi gue terhenti," Gesya seraya menarik tangan Alana menuju meja kerja masing-masing. Alana pun tersenyum dan mengikuti kemana Geisha mengarahkannya. Gesya dan Alana kembali duduk di atas meja kerjanya. Mereka berdua adalah perempuan yang pekerja keras, tapi masih kerasan kerjanya Alana, sih, hehe. Namun, mereka berdua memiliki tekad yang kuat untuk mewujudkan mimpi mereka masing-masing, yakni menjadi pebisnis terkenal melalui dunia fashion. *** Hari kerja sudah mencapai ujung jam operasional. Bisa dikatakan, kurang lebih 20 menit lagi Richard sudah bisa meninggalkan kantor dan beristirahat untuk esok harinya. Dan seperti biasanya, Richard selalu menghubungi kekasih tercintanya itu Sebelum pulang ke rumah. Seketika saja, Richard langsung mengetuk kontak yang mengatasnamakan "Marsha tersayang." Tut ... tut ... tut ... Dan tidak seperti biasanya, Marsha tidak mengangkat telepon itu. Padahal, tanda online di perangkat Marsha itu nyala. "Kok nggak diangkat sih? Emangnya Marsha sibuk apaan ya? Perasaan dia juga nggak ada kesibukan. Apalagi kalau ponsel online kayak gitu, pasti dia lagi pegang HP lah," terka Richard dan mencoba menelepon Marsha sekali lagi. Dan nyatanya, hasilnya sama. Marsha juga tidak mengangkat telepon Richard itu. Richard jadi mengerutkan dahinya, dan tanpa basa-basi ia langsung capcus ke apartemen Marsha. Richard mengangkat tas yang sudah dirapikan beberapa menit yang lalu, dan mengunci rapat ruangannya. Setelah itu, ia bergegas menuju apartemen Marsha untuk bertemu kekasihnya. Sementara itu, Marsha yang sedang mengutak-atik hp-nya untuk berkomunikasi dengan Tom, merasa kesal karena Richard berkali-kali menelponnya. "Aduh berisik banget sih! Udah tahu gue lagi sibuk, kenapa Jodi telepon-telepon segala!" gerutu Marsha. Sampai akhirnya bel pintu apartemen itu berbunyi, menandakan lain yang akan masuk. Dengan perasaan yang berbunga-bunga dan senang sekali, Marsha langsung membuka pintu apartemennya. Dan Taraaaaaa! Orang lelaki asal Inggris alias Tom itu sudah melengkungkan senyumnya ke arah Marsha. Marsha pun membalas senyuman itu sambil tersipu-sipu malu. "Sekarang yuk berangkatnya!" ajak Marsha yang sudah tidak sabar jalan-jalan dengan Tom. Bu Alin yang mengintip sedikit kegiatan itu, mengangguk-anggukan kepalanya memperhatikan Tom dan Marsha yang sedang mengobrol di depan pintu apartemen. "Oh ternyata itu yang namanya Tiffany-- Eh salah maksudnya itu yang namanya Tom. Orang yang akhir-akhir ini membuat Marsha jadi klepek-klepek, senyum-senyum sendiri, seperti mendapatkan angin segar dalam dunia percintaannya. Apakah Tom lebih kaya daripada Richard???" tanya Bu Alin di dalam hati kecilnya. Kemudian, Tom pun menganggukkan kepalanya juga dan menerima ajakan Marsha itu. Marsha membalikan badannya dan berpamitan kepada bu Alin, "Maaaa! Gue pergi sebentar ya, bentar aja kok enggak lama," Seru Marsha. "Oh iya ... Pulangnya jangan sampai kemalaman kayak dulu ya. Soalnya nggak enak aja sih dilihat sama tetangga," Balas Bu Alin. "Ya elah, pakai nggak enakan sama tetangga, biasanya juga pada nggak peduli pedulian," Seru Marsha. "Ya emang gak peduli sih, tapi kan--" "Udah ya ma gue berangkat dulu, bye bye!" Pungkas Marsha yang segera keluar dari pintu apartemennya. "Jangan lupa pakai seat beltnya ya. Polisi di Indonesia ini galak-galak, nggak pakai set bel aja, bisa kena bayaran!" seru Tom. Marsha pun terkekeh, "Mereka melakukan razia di manapun dan kapanpun mereka mau. Padahal, dari atasan mereka sendiri tidak mewajibkan itu atau bukan jadwalnya," balas Marsha. Tom pun menghela nafasnya, "Ya itu artinya aku dimarah-marahin polisi Indonesia, tidak dengan izin dong?" "Bisa jadi. Udah ahh gak usah bahas polisi Indonesia, yuk kita langsung jalan aja!" Marsha mengalihkan lagi pembicaraan itu. BREM! Tom pun menstarter mobilnya, dan memainkan sedikit gas mobil dengan menginjak rem kaki. "Kita pergi ke klub baru itu ya? Yang tadi kamu share location di w******p?" Tanya Tom perihal tujuan mereka berdua sore ini. "Yup! Untuk sore ini kita makan di klub Laz Vegaz aja. Kedengerannya menarik dan makanannya di sana enak-enak," Timpal Marsha. "Ah! Sounds good! Aku selalu excited dengan makanan yang enak! Mari kita pergi ..." Seru Tom. Marsha dan Tom berhasil meninggalkan parkiran mobil apartemen. Sementara mereka berselisihan dengan mobil Richard yang kini memasuki parkiran mobil apartemen. Richard yang menyimpan segudang tanda tanya pada Marsha kenapa ponselnya tidak diangkat, langsung mempercepat langkah kakinya untuk keluar dari dalam mobil. Sambil membawa tas kerjaannya, langkah kaki Richard yang cepat itu menemaninya dalam situasi kekhawatiran. Segera lari cara memasuki lift dan menekan lantai di mana Marsha dan Bu Alin tinggal. Tok ... Tok ... Tok ... Eh salah kan pintu apartemennya si Marsha dan Bu Alin ada belnya. Yang melihat ada tombol bel di sebelah pintu kamar apartemen itu, langsung menekannya. Richard berpikir dengan ditekannya tombol bel ini, atau Bu Alin bisa dapat mendengar dan membukakan pintu itu lebih cepat. KLEK! Pintu itu terbuka sempurna. Dengan kedua matanya yang mengharapkan kabar dari Marsha, Richard langsung bertanya. "Maaf Tante, ada Marsha di dalam?" Bu Alin membuka lebih lebar pintu apartemen itu. "Masuk dulu, Chad." Pinta Bu Alin. Richard pun masuk dan duduk di sofa. "Mau dibikinkan minuman apa? Yang dingin manis atau hangat manis?" Tawar Bu Alin secara tiba-tiba. Penawaran Bu Alin yang begitu lemah lembut itu membuat Richard mengerutkan dahinya. Penawaran dan kata-kata sopan seperti ini tidak begitu dilihat Richard selama ini. Bahkan ketika Richard berkunjung ke apartemen ini, Bu Alin lah orang yang tampak sewot dengan kehadiran Richard. Padahal ya Richard juga yang biayain semuanya. "Tante kenapa ya?" tanya Richard. "Oh tante nggak kenapa-kenapa kok. Sejatinya kalau ada tamu kan memang harus disuguhkan minuman atau makanan. Nah berhubung di apartemen ini tante gak punya stok makanan, makanya tante menawarkan kamu minuman yang dingin atau yang hangat," jelas bu Alin yang membuat Richard makin diselimuti pertanyaan. Richard berdiam diri sebentar sambil melihat yang berdiri tersenyum. Dalam batin Richard pun berkata, "Itu kenapa sih tante Alin Kok tiba-tiba kayak gini? Ini baru pertama kalinya loh tante Alin langsung menawarkan minuman. Biasanya malah Marsha yang ujug-ujug datang menemui gue duluan." "Richard ... Kok malah bengong aja sih? Masih mikirin kerjaan di kantor ya? Sampai-sampai pertanyaan tante enggak dijawab tuh," Timpal Bu Alin kembali. Richard itu menggelengkan kepalanya dengan cepat dan membuyarkan lamunannya itu. "Ah nggak ada apa-apa kok tante ... Santai aja. Gue mau teh es aja deh," akhirnya Richard menjawab penawaran dari Bu Alin. "Oke tunggu sebentar ya. Tante bisa pastikan bahwa tante membuat teh es itu lebih cepat dari restoran-restoran terkenal!" Seru Bu Alin langsung mengarah ke dapur. Spontan saja, hal ini membuat Richard makin diselimuti rasa curiga. Dan curiga itu memuncak ketika Marsha tak kunjung menemui dirinya di ruang tamu ini. "Ini es tehnya pesanan dari Richard. Silakan diminum, pasti kamu capek ya setelah seharian bekerja," kata Bu Alin yang datang dari dapur membawa 1 gelas es teh di atas nampannya. Bu Alin pun segera duduk di sofa, tepat dihadapan Richard. Sembari melengkungkan senyumannya, Bu Alin bertanya, "Bagaimana kerjaan hari ini di kantornya? Apa semua tugas-tugas sudah terselesaikan?" ujar Bu Alin, yang diketahui Richard itu hanya omongan palsu. "Sluuurppp!" Richard menyeruput efeknya terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan dari Bu Alin. "Lumayan capek sih, semua tugas yang mangkrak dari 2 hari yang lalu bisa terselesaikan Te ..." "Oh ya baguslah kalau begitu. Tante yakin kamu itu pandai menyelesaikan apapun, jadi biar diberi tugas sebagai manapun banyaknya, pasti selesai juga kan?" Ungkap Bu Alin tak lupa dengan senyumannya. "Hehehe, tapi kalau dikasih tugas banyak-banyak juga saya bisa pingsan Te," Lawak Richard. Bu Alin ikut tertawa. Dan ketika tertawaan Bu Alin itu usai, Richard langsung menodong pertanyaan yang terus berputar di kepalanya. "Tante Alin maaf, apa ada Marsha ya di sini? Saya mau bertemu dengan Marsha Te, tadi saya telepon bolak-balik nggak diangkat," Tutur Richard. Tampak wajah Bu Alin yang tadinya tersenyum lebar, kini menutup senyumnya secara cepat. Sontak saja hal ini membuat Richard semakin mengerutkan keningnya, "Te? Kenapa tiba-tiba mimik wajahnya berubah seperti itu?" todong Richard dengan pertanyaannya pada Bu Alin. Bu Alin terus menelan ludahnya, tanpa menjawab pertanyaan dari Richard soal Marsha. Yang ada di dalam kepala Bu Alin adalah ... "Astaga bisa bahaya ini kalau Richard tau si Marsha malah jalan-jalan sama Tom!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN