Richard menenguk lagi teh yang disediakan oleh Bu Alin itu, sambil menatap wajah Bu Alin yang melengos tak mengarah ke Richard. “Tante? Marshanya ada di sini, gak?” tanya Richard sekali lagi karena pertanyaannya yang pertama itu tidak digubris oleh Bu Alin.
“Hmm …” Bu Alin masih tidak menatap ke Richard. “Kayaknya dia lagi ada kegiatan di luar sama teman sekolahnya dulu,” ujar Bu Alin dengan ucapannya yang mengalir begitu saja.
“Kegiatan sama teman sekolahnya? Loh, Marsha bukannya lulusan dari kota sebelah, ya? Berarti sekarang dia lagi di kota sebelah?” tanya Richard kembali.
“Eng … engg, enggak, bukan begitu Richard. Teman sekolah Marsha lagi ngadain reuni gitu di kota ini, mumpung Marsha lagi gak sibuk ya dia ikutan aja ngumpul,” jelas Bu Alin walaupun itu semua hanya omong kosong.
Richard menganggukan kepala mencoba mempercayai apa yang diucapkan oleh calon ibu mertuanya itu. “Kalau boleh tau di mana ya reuniannya, Te? Mungkin saya bisa nyusul atau menjemput Marsha nanti.”
“Kurang tau ya, nanti Tante suruh Marsha menghubungi kamu,” balas Bu Alin.
“Mendingan saya telepon Marsha sekarang aja kali ya, daripada tunggu-tungguan,” sahut Richard. Richard pun mengambil ponselnya dari dalam kantong jasnya, ia menekan nama perempuan yang paling sering dihubunginya via w******p.
TUT … TUT … TUT … Richard mengetukan kelima jemarinya di atas meja kaca itu sambil menunggu sapaan Marsha dari balik telepon. Namun, hingga bunyi “tut” itu berhenti berdering, Marsha belum juga mengangkat teleponnya.
“Kok gak diangkat, ya?” Richard menarik ponselnya dari telinganya, dan menatap layar ponselnya kembali. “Gak biasanya Marsha online tapi gak ngangkat.”
Sementara itu Bu Alin yang melihat Richard berusaha menghubungi Marsha, ikut-ikutan panik. Pasalnya, ini pertama kalinya Marsha jalan dengan laki-laki lain selain Richard. Bagaimana jika Richard tau semua hal ini? Walaupun Tom adalah teman bagi Marsha, tapi Marsha menyembunyikan Tom dari Richard.
“Richard, kira-kira kamu masih lama gak di sini?” tanya Bu Alin.
“Kenapa memangnya, Te? Paling saya nunggu sampai Marsha pulang ke apartemen,” jawab Richard yang sontak saja mengangetkan Bu Alin.
“APA?!” seru Bu Alin dengan mata yang melotot.
“Iya, Te, saya mau nunggu Marsha sampai pulang. Emangnya ada apa ya, Te?” timpal Richard ketika melihat reaksi Bu Alin yang seperti itu.
“Eh enggak apa-apa, kok … maksud Tante … Tante itu mau keluar sebentar ada acara. Kamu yakin sendirian di sini?” ujar Bu Alin yang rupanya tak habis akal membuat alasan.
“Ya gak apa-apa kok, Te. Toh juga kalau saya di sini, gak ada satpam yang ngusir, kan?” balas Richard yang membuat Bu Alin tidak mampu menyahut. “Kenapa emangnya, Te?”
Bu Alin mencoba mengontrol kepanikannya, ia mengulurkan senyuman di bibirnya. “Oh gak apa-apa, kok. Ya udah kalau kamu mau nunggu Marsha di sini. Tante mau keluar ya …”
“Iya, silakan, Te,” pungkas Richard.
Kemudian Bu Alin segera pergi dari hadapan Richard, menuju kamar tidurnya. Dengan cepat Bu Alin mengirimkan sebuah pesan kepada Marsha.
Marsha, di apartemen ada Richard yang menunggu kamu pulang. Jangan sampai Richard tau soal kencan kamu dan Tom. Itu sangat berbahaya. Segeralah kamu pulang, jangan membuat Richard curiga atas semua hal ini.
Bu Alin kembali menuju ruang tamu apartemen, ia sudah memakai topi bundar dan kacamata hitam yang dua-duanya hadiah dari Richard. “Tante pergi dulu ya, jangan lupa dikunci kalau kamu mau keluar,” pungkas Bu Alin yang lalu meninggalkan Richard sendirian di apartemennya. Tak lupa Bu Alin menggantungkan kunci pintu apartemen di gagang pintu.
Bu Alin mempercepat langkah kakinya menuju ke parkiran apartemen. Namun, sampai di parkiran mobil itu, langkah Bu Alin terhenti. “Ngapain aku jadi heboh pakai acara keluar segala, ya? Harusnya kan, kalau aku sudah memberi tahu Marsha, tidak perlu keluar gini …” Bu Alin merasa salah sikap.
Tak lama kemudian ponselnya berdering. Dengan cepat Bu Alin langsung mengangkat telepon itu, dari anak semata wayangnya, Marsha. “Halo, Marsha, kamu di mana?” sahut Bu Alin.
“Lagi di klub sama Tom, ada apa emangnya, Ma?” balas Marsha lengkap dengan gangguan musik jedag-jedug di telinga Bu Alin.
“Astaga Marshaa! Masih sore begini kamu sudah di klub ya!” omel Bu Alin. “Jadi jam berapa kamu pulang?”
“Gak tau ya, Ma. Mungkin malam kali ya …” balas Marsha.
“Heh! Enak betul kamu kalau bicara. Coba lihat pesan Mama, dibaca baik-baik, kamu jangan bikin Richard curiga sama sikap kamu hari ini,” seru Bu Alin.
“Aduh, gak sempat baca pesan, Ma. Lagi asyik banget di sini …” sahut Marsha yang masih terdengar musik keras itu.
Bu Alin menghela napasnya dan sedikit meninggikan omongannya, “Richard lagi ada di apartemen, dia sedang menunggu kamu pulang! Jangan sampai ketika kamu pulang, Richard menyaksikan kamu bersama Tom!”
“Haaaa? Serius Ma!?” tampak suara juga membesar dari Marsha.
“IYA!!” dan tak lama suara Marsha sudah tidak terdengar lagi dari telepon karena lebih keras musik klubnya daripada suara Marsha. Padahal, Marsha sudah menaruh mulutnya dekat dengan speaker ponselnya.
Bu Alin menatap ponselnya, ia menggelengkan kepala karena obrolan di telepon itu belum seutuhnya usai. "Marsha ini kebiasaan deh, Mamanya belum selesai ngomong, tapi dianya udah cepet-cepet nutup telepon!" gerutu Bu Alin.
Bu Alin pun mengirimkan pesan sekali lagi pada Marsha, mengingat banyaknya musik yang keroyokan ketika Bu Alin menelpon Marsha.
Marsha ... kamu dengar kan yang tadi Mama ucapkan? Jangan memunculkan gelagat yang aneh, yang bisa membuat Richard curiga. Segera pulang dan temui Richard di apartemen.
Rupanya, tidak perlu menunggu waktu yang lama, Marsha langsung membalas pesan Bu Alin itu.
Iya, Ma. Gue denger dan ngebaca pesan-pesan dari Mama kok, sesegera mungkin gue pulang cepet ke apartemen. Lima belas menit lagi gue sudah sampai di apartemen.
Bu Alin mengelus dadanya, ia merasa lega karena Marsha mau mendengarkan ucapan dari Bu Alin. “Huh, untungnya … gini dong Mar, gampang kalau dikasih tau!” seru Bu Alin pelan.
Wajah Bu Alin pun langsung diselimuti rasa bahagia. Ia langsung membalikan badan dan cukup terkejut karena Richard sudah berdiri di belakang Bu Alin. “Richard? Kamu kok … di sini?” tanya Bu Alin dengan hati yang deg-degan dan kedua matanya yang membesar.
“Iya, Te. Saya tadi mau ngambil pesanan online di lobi, dan lewati parkiran mobil,” jawab Richard dan mengangkat kantong plastik putih yang di dalamnya berisi buah alpukat.
“Kamu baru aja di sini, atau sudah lama?” tanya Bu Alin lagi.
“Hmm, sekitar tiga menit yang lalu sih, Te, gak lama-lama banget,” jawab Richard sembari melengkungkan senyumannya.
Bu Alin ikut membalas senyuman Richard, guna menghilangkan rasa curiga. “Oh gitu … lain kali kalau ketemu Tante, negur-negur lah. Kamu kayak gak kenal aja sama Tante, Tante kan jadi gak enak ngacangin kamu, hehe …” alasan Bu Alin.
“Iya, tadi hanya lewat kok, Te, dan saya juga gak tau kalau ternyata Tante di sini. Oh ya, kok belum berangkat ke acara?” tanya Richard.
“Acaranya dibatalin dadakan nih, yang bikin acara malah sakit. Ya udah deh, Tante gak jadi pergi. Yuk kita balik ke kamar aja nungguin Marsha pulang,” ajak Bu Alin yang langsung merangkul tangan kanan Richard.
Aneh saja. Hari ini Bu Alin terus bersikap manis dan lemah lembut pada Richard. Mulai dari memberikan welcome drink di apartemen, dan sekarang mengajak ke kamar sambil merangkul. Ada apa gerangan?! Apa ini yang namanya ada udang dibalik tembok batu?
Melekukan senyuman manis di bibirnya, Bu Alin terus menggandeng Richard hingga masuk ke dalam lift. Richard tidak langsung melepas tangannya, malah mengikuti saja bagaimana Bu Alin memainkan permainan ini. Yang pasti, Richard sudah punya firasat kalau ada sesuatu yang disembunyikan dari Bu Alin. “Kayaknya ada yang gak beres nih, apalagi tadi gue denger Bu Alin bawa-bawa nama gue dan Tom di telepon. Tom itu … siapa ya?” batin Richard yang sinyal dikepalanya ikut berpikir.
TING! Pintu lift terbuka, berhenti di lantai tempat Bu Alin dan Marsha tinggal. Richard masih menerima kalungan dari tangan Bu Alin, serta kresek putih yang masih menggantung di tangan kirinya.
“Hari ini kamu belum makan, ya? Mau Tante buatkan pasta Bolognese?” tawar Bu Alin ketika sedang melewati koridor apartemen di lantai tersebut.
Richard tak langsung menjawab, malah berpikir. “Tuh kan, kenapa tiba-tiba mau bikinin gue makanan ya? Perasaan dulu itu waktu gue minta tolong kupasin kulit apel, Tante Alin kagak mau deh.”
“Richard … kok diam aja sih?” timpal Bu Alin yang melihat Richard bengong. “Kunci kamarnya di mana ya?” tanya Bu Alin ke Richard.
“Oh iya, ini …” seru Richard yang merogoh kunci itu dari kantong celananya dan langsung diserahkan pada Bu Alin.
Ciiiitttt! Pintu kamar itu terbuka lebar, dan mampu dilewati oleh tubuh Bu Alin dan Richard. Richard langsung menaruh kresek putih itu di atas meja yang paling dekat dengan dapur. Dan tak lama kemudian, suara Marsha nan manja terdengar di telinga Richard, “Sayang … sudah lama ya nunggu di sini?”
Richard terkejut kekasihnya itu sudah ada di dalam apartemen, “Kok lo gak ngabarin gue sih kalau mau pulang? Kalau ngabarin kan gue bisa jemput …”
Marsha mengubah posisi berdirinya tepat di belakang Richard, sementara Bu Alin memilih menghidar dan cepat-cepat masuk ke kamarnya.
“Sekali-kali gue gak ngerepotin lo, Chad. Kasihan juga kan kalau lo terus-terusan antar jemput kemana pun gue pergi,” balas Marsha sembari memijit bahu Richard dengan kedua tangannya.
“Santai aja kali, siapa tau setelah dari acara reuni, lo mau kemana gitu … atau mau minta beliin apa, kayak biasanya,” seru Richard.
“Ah gak usah, lagian waktu itu udah beli jam tangan mahalan. Masa mau jajan lagi sihhh?” nada suara Marsha makin melembut. “Lapar gak?”
Richard mengangguk, “Lapar, tapi ini sudah pesan makanan online. Yuk makan bareng, gue beli pizza daging campur jamur kesukaan lo.”
“Waaaaah! Terima kasih ya, Sayang …” Marsha langsung mengambil kotak yang ada di dalam kresek putih itu dan diangkatnya menuju meja ruang tamu. “Makan bareng, yuk …” Marsha pun menarik tangan kanan Richard untuk duduk bersamanya.
Richard melengkungkan senyuman manis ke kekasihnya itu. "Tadi seru banget ya reuninya? Sampai-sampai telepon aku gak diangkat?" seru Richard.
Marsha pun menepok jidatnya, dan menatap Richard, "Astaga Sayang ... gue bener-bener lupa nyalain nada deringnya! Jadi dari tadi itu semua yang masuk ke ponsel gue itu cuma bergetar ..." Marsha mengaku.
"Oh ya?" timpal Richard seraya mengambil satu potongan pizza yang terpotong sempurna.
Marsha mengangguk cepat, seperti tidak ada kekeliruan diantara dirinya dan Richard.
"Lo yakin kalau ponsel lo hanya getar doang?" tanya Richard lagi sambil mengigit ujung pizza itu.
"Ya yakin dooooong, seratus persen nih. Kan itu ponsel gue, pasti gue yang paham dong," jawab Marsha masih dengan kesantaiannya yang hakiki.
Richard pun terkekeh mendengar jawaban dari Marsha, "Oh ... hehehe ..."
"Emangnya kenapa sih? Kok kayaknya lo gak percaya sama gue!?" pekik Marsha yang juga berhenti mengunyah pizza yang ada di dalam mulutnya.