Tom menekan tombol yang tertera di pintu kamar hotelnya, untuk memasukan kata sandi. Kata sandi itu dihapal oleh Tom dengan cepat, sehingga ia dengan mudahnya masuk ke dalam kamarnya. “Ahhh … hari yang cerah untuk jiwa yang sepi …” seru Tom ketika masuk ke dalam kamarnya. Ahai, udah kayak lagunya Peter—pan, ya?!
Tom langsung melepas sepatunya dan menaruh di bawah lemari, tempat sepatu lainnya tersimpan. Setelah sepatu itu tersimpan rapi, karena Tom adalah laki-laki yang rapi, ia juga menyimpan baju dan celana yang telah ia pakai ke dalam lemari. Setelahnya, ia tidak langsung mandi, melainkan hanya cuci tangan dan kakinya. Udah kayak budaya Indonesia aja ya, ketika pulang dari luar rumah harus cuci tangan dan kaki dulu, hehehe.
Tom menyelonjorkan kaki dan tubuhnya di atas tempat tidur empuk, lengkap dengan selimut tebalnya yang berwarna putih bersih. Sambil menyembunyikan tubuhnya di bawah selimut, Tom menyalakan air conditioner dengan suhu dua puluh satu guna menciptakan suasana yang sejuk nan menyegarkan. Ealah, udah kayak atas puncak gunung aja ya cari suasana yang sejuk dan menyegarkan.
TING! Ponsel Tom berbunyi, sebuah pesan masuk atas nama Marsha di sana.
Tom, terima kasih atas hari ini. Lo sudah mau nurutin ke mana gue pergi. Next, lo mau kemana lagi nih? Telpon gue aja kalau butuh teman jalan.
Tampak senyuman manis terlukis di bibir tipis Tom. Tom pun segera menjawab pesan Marsha.
Sama-sama. Besok akan saya kabari kemana kita mau pergi. Kamu jangan kemana-mana, ya!
Hanya pesan singkat seperti itu, pembicaraan Marsha dan Tom terhenti. Seperti biasanya untuk menggugah rasa sepinya, Tom membuka smartphonei-nya. Ia mengusapkan jarinya ke layar ponsel dari bawah ke atas. Tom yang menggemari model perempuan berpakain seksi, segera memberi tanda love di foto itu.
“Di Indonesia jarang sekali saya melihat perempuan begini, mungkin harus ke pantai dulu …” seru Tom yang merindukan akan pemandangan wanita-wanita seksi berpakaian minim dengan tank top dan rok mininya.
Tidak hanya memberikan tand love di foto itu, Tom pun membuka komentar yang tertulis di kolom komentar model perempuan asal Belgia itu. Semua komentar mengarah pada kekaguman sang model dengan gaya, pakaian, dan kulit eksotisnya. Baru saja Tom ingin mengetikan beberapa kata di kolom komentar itu, satu komentar baru juga masuk, yang bunyinya sama seperti apa yang ingin Tom ketikan.
Nice shoot, and nice sexy dress! I wan’t make a clothes like yours!
Melihat komentar yang baru terkirim dua detik yang lalu, membuat Tom mengerutkan keningnya. Tom membaca nama pemilik akun itu, “Saya seperti kenal namanya …” seru Tom dalam hati.
Tom membuka kembali pesan yang ada di media sosial Instagramnya. Ia mencari nama pemilik akun tersebut, dan TARA! Kedua mata Tom melebar dan mengetuk nama akun Gesya Amarta Nicholas. “Saya sampai lupa namanya, orang yang pernah ngobrol soal busana yang lagi nge-hits di Inggris,” ujar Tom.
Merasa penasaran dengan sosok Gesya yang pernah ngobrol ngalur-ngidul dengan Tom, akhirnya Tom membuka profile milik Gesya. Terlihat jelas foto-foto Gesya berpakaian elegan dengan desain yang zaman now banget. Dan senangnya Tom, Gesya memiliki ketertarikan yang sama dengan Tom, menyukai warna-warna peach dalam setiap pakaiannya. Terlebih, di bio media sosial gadis bernama Gesya itu, ia tinggal di satu kota bersama Tom saat ini.
“Gadis ini ada di kota ini! Saya harus segera menemuinya untuk melanjutkan obrolan yang sempat terputus!” seru Tom yang begitu antusias.
Dengan sergap, Tom mengirimkan pesan kembali ke Gesya.
Hello, apa kabar? Apakah kamu masih ingat saya?
Tom menunggu balasan pesan dari Gesya sambil berguling-guling di atas tempat tidurnya. Dih, emang ada ya bule yang suka guling sana guling sini kayak si Tom? Ckckckc.
***
“Terima kasih banyak ya, Mbak. Ini baju pesanannya sudah jadi, sesuai dengan permintaannya waktu itu,” Gesya memberikan satu buah paperbag berwarna cokelat muda dengan sablonan Queen’s Boutique di depannya.
“Terima kasih kembali ya, Mbak. Pokoknya kalau pesan baju atau bikin baju di Queen’s Boutique ini bener-bener bagus, desaignernya oke banget bikin yang pakai bajunya kayak Ratu!” balas pelanggan yang sedang berdiri di depan Gesya.
“Hehehe, semua ini demi kepuasan pelanggan kami. Mohon kalau suka dengan desain di Queen’s Boutique, bisa rekomendasikan teman-teman Mbak yang lain untuk berkunjung ke sini …” ujar Gesya.
“Siap! Pasti akan saya rekomendasikan ke teman-teman saya. Baik Mbak, saya balik dulu ya,” pungkas pelanggan tersebut dan Gesya melambaikan tangannya sambil tersenyum.
Kemudian di belakang Gesya sudah ada Alana yang berdiri sambil menyilakan kedua tangannya di depan dadanya.
Hari ini menjadi hari yang lebih baik daripada kemarin. Kemarin, Gesya dibaluti dengan rasa-rasa kekesalan yang membara karena melihat Richard dan Marsha. Sekarang, hati Gesya merasa sedikit tenang. Selain karena Alana berhasil merampungkan emosi Gesya, Gesya juga disibukan dengan program-program kerja yang harus dijalankan di butiknya.
“Oh ya, dari tadi ponsel lo bergetar mulu noh. Tumbenan,” seru Alana.
Gesya mengarahkan pandangannya ke ponselnya yang tergeletak di atas meja kerjanya. Ponsel berwarna biru muda itu memang sedang menyala. Itu artinya, ada satu pesan atau telepon yang masuk untuk Gesya.
“Oh iya, doain semoga yang hubungi gue itu pelanggan yang bakal ngeborong baju-baju kita!” seru Gesya dan mempercepat langkahnya menggapai ponselnya.
“Iya iya! Pokoknya terserah lo, lah!” timpal Alana sembari menggelengkan kepalanya.
Gesya mengetuk layar ponselnya, terlihat tanda kamera kotak berwarna merah muda di pojok kiri atas layar ponsel Gesya. “Ada yang ngirim pesan ke gue di i********:? Tumbenan banget, gue juga lagi gak ada bikin cerita apa-apa,” batin Gesya.
Tanpa menunggu waktu lama, Gesya segera membuka pesan tersebut. Pesan itu datang dari seorang pengguna akun bernama Tom. “Tom temennya Jerry bukan ya?” celetuk Gesya.
Awalnya Gesya mengerutkan dahinya setelah membaca pesan tersebut. Namun, Gesya cepat-cepat mengusap layarnya ke bawah untuk membaca pesan-pesan sebelumnya antara dirinya dan Tom. “Tom???? Eh, ini beneran Tom yang dulu?!” serunya antusias.
Terpancar wajah-wajah berseri dari Gesya setelah mendapat pesan dari akun i********: bernama Tom. Alana yang melihat Gesya cengar-cengir, segera mendekati Gesya. “Ada apa sih? Kok kayaknya lagi bahagia gitu??”
Gesya pun menjauhkan layar ponselnya dari pandangan Alana, “Bentar-bentar Al, jangan ajak gue ngomong dulu,” serunya seraya mengetuk beberapa bagian di layar ponselnya.
Tom!! Jelas banget lah gue masih ingat sama lo. Gue baik-baik aja di sini, lo gimana kabarnya? Lama banget gak komunikasi … SEND.
Setelah membalas pesan untuk Tom di i********:, Gesya menyimpan ponselnya di kantong celana jeansnya. “Nah, sekarang lo boleh ngajak gue ngomong …” ucap Gesya yang langsung merekah senyuman di bibirnya.
“Balesin siapa sih? Kok kayaknya lo bahagia banget … udah kayak emak-emak dapat sembako?!” celetuk Alana.
“Hmm, nanti gue ceritain deh. Ini baru permulaan,” jawab Gesya.
“Lo lagi fall in love, ya?!” tebak Alana.
Gesya makin melebarkan senyumannya, dan mengangkat kedua bahunya. “Entah ya, ini sulit dijelaskan.”
“Uluh … uluh …” Alana mencolek dagu Gesya. “Bocah cilik lagi jatuh cinta nih, tiap hari bakal senyam-senyum mulu kayak gini.”
Gesya menepis pelan tangan Alana dari dagunya. “Lo kok bilangin gue bocah cilik, sih? Kayak Bang Richard aja. Sebel gue dibilang bocah cilik, padahal gue sekarang ini tumbuh menjadi perempuan dewasa cantik.”
“Bercanda, bercanda … abisnya gue pertama kalinya nih ngelihat lo senyum-senyum merekah kayak gini,” balas Alana. “Siapa sih yang bikin lo senyum kayak begini?” tanya Alana yang lagi penasaran.
“Udah udah, lupain deh Al. Kepo banget sih lo …” seru Gesya.
“Sombong amat lo gak cerita-cerita sama gue …” balas Alana.
“Ntaran aja Al, tunggu ceritanya banyak. Kalau gini mah baru dikit, gak seru kalau diomongin cepet-cepet,” tutur Gesya sembari menyembunyikan pipinya yang merah.
“Hnmm, susah ya ngomong sama perempuan yang lagi berbunga-bunga, semuanya disembunyiin,” ledek Alana.
“Apaan sih lo, Al,” Gesya malu-malu. “Lanjutin deh kerjaan lo di meja, ntar gak selesai …”
“Kapan sih kerjaan gue gak selesai? Pasti selesai, laaaah,” balas Alana.
“Ya udah sih …”
Ddddrrrrt … ddrtttt … ddrrtttt …
Gesya cepat-cepat meraih ponselnya, dan ternyata ada balasan dari Tom.
Saya baik, dan sekarang saya sedang berada di Indonesia. Berhubung saya berada di negara kamu, mungkin kita bisa bertemu.
“HAH?! YEY!!!” Gesya auto melompat setelah membaca habis pesan dari Tom. Alana yang baru pertama kalinya melihat Gesya senang bukan kepalang, langsung mengambil ponsel Gesya dari tangan Gesya.
“Eh, Al! Al!” seru Gesya yang berusaha meraih kembali ponselnya, namun Alana tetap bisa menangkis tangan Gesya yang berusaha merebut.
“Tunggu … tunggu …” Alana menyipitkan kedua matanya menatap layar ponsel Gesya yang masih menyala terang itu. “Tom???? Lo pacaran sama Tom temennya Jerry?!” ledek Alana kemudian.
HAP! Gesya berhasil mengambil ponsel dari tangan Alana. “Sialan lo ya, bisa-bisanya ngebaca pesan gue!!” gerutu Gesya.
“Habisnya lo bikin gue penasaran sih, soalnya baru kali ini gue lihat lo kayak berbunga-bunga bangeeet!” balas Alana yang menyenggol bahu Gesya, ketika Gesya sedang membalas pesan dari Tom.
Gesya tersipu malu karena penyebab kesemseman Gesya hari ini ketahuan sama Alana. “Lo diem-diem deh ya Al, jangan ember dulu. Ini gue pertama kalinya diajak keluar berdua sama cowok.”
“Hah? Lo suruh gue diem-diem? Percaya gak lo sama gue?!”
“Ya percaya, kan kita udah temenan lama, pasti lo mau bantuin gue, kan?”
“Kata siapa?! Kalau mau minta mulut gue diem, ada ini dong …” ujar Alana yang langsung menggesek-gesekan jari telunjuk dan ibu jarinya ke arah Gesya. “MONEY!”
Gesya menghela napas dan geleng-geleng kepala, “Sejak kapan lo berubah jadi preman pengkolan?!” timpal Gesya.