Waktu operasional Queen's Boutique sudah hampir usai. Alana dan Gesya merapikan mannequin yang terletak di teras butik, lalu dimasukkannya ke dalam butik. Asyik merapikan, rupanya wajah bisa masih berseri-seri seperti tadi pagi. Alana mengintip sedikit, ia geleng-geleng kesaja. melihat perempuan yang jauh lebih muda darinya itu sedang dimabuk asmara. Eh nggak jauh-jauh amat sih, bedanya cuma 2 sampai 3 tahun saja. Mungkin begitu kali ya potret ketika Alana juga sedang Falling In Love.
"Ehem ... Senyumnya emang nggak bisa tuh di-stopi-in?" tegur Alana ketika semua mannequin sudah masuk ke dalam butik.
"Gimana ya Al, pasti lo paham sendiri lah kalau lagi suka atau senang sama suatu keadaan. Lo itu kayak ngerasa di awan-awan gitu deh," Timpal Gesya yang sedang tidak konsen ditanya itu.
"Emang susah ya kalau ngomong sama orang yang lagi berbunga-bunga hatinya, banyak banget konotasi yang disebutkan, ckckck," Decak Alana.
"Ah lo kaya nggak ngerti gimana rasanya jatuh cinta aja sih Al!" seru Geisha sambil menyenggol bahu kiri Alana.
"Pernah sih, cuma karena terlalu lama jadinya gue lupa tuh bagaimana rasanya jatuh cinta," balas Alana.
Geisha spontan memandang kedua mata Alana dan dengan kata yang lembut ia berbisik ke Alana, "Lo mau ngerasain jatuh cinta lagi nggak?"
Alana langsung menjawab, "Gimana mau ngerasain jatuh cinta Sya, objek yang dibuat jatuh cinta aja nggak ada. Alias--"
"Lo jomblo gitu?! Jadi lo mengirimkan sinyal ke gue buat cariin jodoh gitu?" Gesya sambil menyipitkan kedua matanya.
"Ya kagak lah! Kalau mau cari jodoh ya cari sendiri," Timpal Alana.
"Kalau lo mau gue bantu cariin jodoh, ya enggak masalah sih. Itu ada abang gue yang lagi nganggur," Celetuk Gesya seperti tidak ada masalah.
"Hussss!" Alana spontan menepuk pelan bahu kanan Gesya. "Ngomong itu yang bener kali, dikit-dikit Abang lo, dikit-dikit Abang lo, orang sudah pacaran masih aja lo ledekin sama gue!" gerutu Alana yang rupanya sudah terbiasa mendengar celetukan itu keluar dari mulut Gesya.
Gesya langsung cekikikan, "Biasanya kan emang begitu kalau mau comblangin, harus dibiasakan diledekin terus."
"Tuh kan makin kesini omongan lo makin ngelantur, udah ayo kita pulang!" Seru Alana yang tidak ingin melanjutkan perbincangan tidak penting itu.
"Ceileh ... Tiap ngomongin abang gue, lo selalu menghindar sih, Al. Awas lo ya benci Jadi cinta kayak di FTV SCTV," seru Gesya sambil mengerlingkan kedua matanya ke Alana, dan memutar-mutar telunjuknya membentuk lingkaran.
"Nah kan, lo makin gak jelas ngomongnya," Kata Alana sambil geleng-geleng kepalanya.
Alana pun langsung pergi ke meja kerjanya dan membereskan bawaannya sendiri. "Cepetan beresin barang-barang lo, ntar kalau telat, lo gue kunciin di sini."
Gesya menghela napasnya, ia bisa melihat kegelisahan Alana tiap kali dicerca soal Richard. Gesya yang memang sengaja memberi celetukan soal Richard itu, hanya menikmati rencananya untuk menyatukan Alana dan Gesya.
***
Gesya dan Alana meninggalkan butiknya, dan tidak lupa mengunci. "Sore ini lo pulang sendiri atau bareng gue?" tanya Gesya.
"Ya pulang sendirilah! Emangnya gue anak SD yang diantar jemput!" Jawab Alana kemudian.
"Dih, perasaan anak SD jalan kaki deh," Timpal Gesya.
"Kan ada juga yang diantar jemput, kayak lo tuh!" Balas Alana.
Alana segera menuruni anak tangga teras butiknya, dan menaiki motornya. Sayangnya, ketika Alana ingin men-starter motornya itu, tampilan pengisian bahan bakar di motor Alana menunjukkan panah ke bagian merah terbawah.
"Astagaaaaaaa!!!!" Alana menepuk jidatnya, tampak menghela napas dalam-dalam.
Tanpa sepengetahuan Alana, Gesya sudah berada di sampingnya. "Gimana, lo mau jadi kayak anak SD enggak?" Sahut Gesya.
Alana melengos ke arah Gesya, ia tersenyum lebar sembari giginya terlihat. "Kalau lo kehabisan bensin, dan lo pengen banget pulang ke rumah untuk istirahat, apa yang lo lakukan?"
"Beli bensin lah! Gitu aja kok repot," jawab Gesya simple sembari mengacak pinggangnya.
"Oh ya satu pertanyaan lagi, misalnya bensin lo habis dan jarak pom bensin itu jauh sekali, apa yang lo lakukan?" Tanya Alana lagi.
"Lo orangnya makin kesini makin banyak alasannya ya, Al. Lo kalau mau nebeng sama gue, minta dianterin pulang sama gue, tinggal ngomong aja kali!" Jawab Gesya yang sudah tau gelagat Alana itu.
"Heheheheheh ... Anak pintar," Balas Alana yang kali ini melebarkan senyumnya makin lebar. Selebar apa tuh?!
"Ya udah buruan ikut gue!" Gesya membalikan badannya yang mengarah tak lain ke mobilnya sendiri. "Motor lo jangan lupa dikunci stang, di-standar tengah. Gue gak mau tanggungjawab kalau motor lo lenyap," Lanjut Gesya.
Alana langsung menjalankan apa yang dikatakan Gesya itu. Dengan langkah yang dipercepat, Alana segera menyusul Gesya yang berjalan ke arah mobilnya.
DEG! DEG! DEG! Pintu mobil Gesya sudah tertutup semua di mana Alana dan Gesya sudah masuk ke dalam mobil. Sebelum mobil berjalan, seperti biasa Alana dan Gesya memakai sabuk pengaman terlebih dahulu. Gunanya adalah untuk keselamatan mereka berdua, dan guna lainnya adalah biar gak kena tilang aja hehehe ...
Tak lama kemudian, spedometer yang tertera di depan Gesya itu mulai mengarah ke atas, seraya Gesya menginjak gas yang ada di bawah kakinya. Mobil itu berjalan halus dan santai, tidak seperti ketika Gesya mengejar Richard. Nah kalau itu sungguh membuat Alana senam jantung.
"Semoga gue sampai ke rumah tanpa senam jantung lagi ya, Sya. Gue gak mau lo ngebut!" Seru Alana terlebih dahulu sebelum Gesya benar-benar menginjak gas lebih dalam dan cepat.
"Aman ... Hari ini perasaan hati gue sedang baik-baik saja kok. Gue lagi gak pengen emosi dan ngerusak mood," Balas Gesya.
Jawaban itu pun tampak membuat Alana tak menyangka, "Gitu dong namanya Gesya, seorang pebisnis muda terkenal, yang pandai mengatur emosinya ... Eh by the way lo jadi kalem begini karena mau jalan sama Tom, kan?"
Gesya menyeringai tidak memperlihatkan giginya. "Kayaknya itu deh faktor utama kenapa gue seneng banget hari ini!"
"Oh jadi gara-gara mau first date sama Tom?!" Alana manggut-manggut.
Gesya pun ikut menganggukkan kepalanya tanpa menjawab.
"Oke oke ... Gue turut senang sih lo fall in love lagi, jadi nanti malam nih acaranya?" Tanya Alana.
Gesya menganggukan kepalanya sambil tersenyum.
"Hmm, lo harus bikin penampilan lo menarik dan menawan sih, Sya. Biar kencan pertama lo ini lancar dan gak bikin Tom ilfeel sama lo," Saran Alana.
"Tanpa lo omongin kayak gitu, gue udah mikir kok mau pakai baju apa nanti malam. Secara, gue kan designer baju terkenal, soal penampilan mah nomor wahid!! (Baca: satu)," Tutur Gesya.
"Baguslah kalau gitu. Jangan pakai baju yang nabrak-nabrak warnanya dan jangan juga pakai yang heboh. Kalau untuk kencan pertama, ada baiknya nunjukin sisi kalem dan kesederhanaan lo dengan elegan," Kata Alana.
"Gue gak perlu ocehan lo, Al. Gue ngerti sendiri kok," Balas Gesya yang tampak ngeselin ya, bund.
"Ya terserah lo lah, Al. Gue berdoa aja semoga kencan pertama lo ini jadi kencan yang paling menyenangkan dan berakhir baik," Harap Alana.
"Aamiin ... Aamiin. Dan semoga Tom beneran ada ketertarikan sama gue, ya. Soalnya kan dia mau ketemu gue tuh, pasti dia ada rasa sama gue," Celetuk Gesya yang kayak besar kepala.
"Heh! Kepedean banget sih lo! Tapi gue aminin aja deh ya ..." Seru Alana.
"Nah gitu dong, kakak ipar ..." Timpal Gesya yang membuat Alana spontan menepuk bahu kiri Gesya.